
"Ketahuan gak ya, kalau aku ngintip?"
Aku beringsut dan berdiri berjalan diatas kasur mendekati jendela kamarku yang letaknya berada diatas tempat tidurku.
Aku merundukkan kepalaku agar tak kelihatan kalau aku lagi ngintip, kuintai keadaan kamar rumah sebelah yang dihuni oleh kakak-kakak Mahasiswa itu, memastikan siapa gerangan yang belakangan ini suara merdunya membuatku selalu penasaran.
Dan betapa kecewanya aku yang terlihat hanyalah pintu dan lemari saja, mungkin karena posisi jendelanya agak tinggi sehingga kalau orang yang ada didalam sana sedang duduk pastilah tidak kelihatan.
"Hayoooo!! Lagi ngapain?!"
Suara Umar mengagetkanku, hampir saja aku berteriak saking kagetnya. Dasar adik gak ada akhlaq!!
"Lagi ngintip ya?! Hahaha!!" Serunya lagi. Uuhh dasar, ini anak apa gak bisa pelan-pelan apa ya ngomongnya.
"Ssttttt!!" Aku menyentuhkan jari telunjukku dibibirku, memberi isyarat agar anak nakal itu mengecilkan suaranya.
"Ahaha...!! Kakak ketahuan ngintip lagi. Ntar aku bilangin lho ke Mas-mas itu." Celetuknya lagi.
"Umar!!" Aku sudah tak tahan lagi, aku melompat terjun dari atas kasur dan bersiap untuk menjewer telinga adikku itu. Sayangnya Umar langsung berlari ketika melihatku yang bersiap mengejarnya.
Kenapa sih, tiap kali mau ngintip selalu saja dipergokin sama adikku yang super usil itu. Huhh!!
"Kesini anak nakal!! Awas aja ya kalau kena. Habis kamu!!" Gerutuku sambil berlari mengejar Umar, sayangnya anak itu keluar ke teras rumah sedangkan aku masih memakai kaos lengan pendek dan tanpa jilbab dengan rambut yang acak-acakan karena baru bangun tidur. Gak mungkin kan, kalau aku keluar dengan keadan aurat terbuka ditambah lagi dengan rambut yang berantakan.
Umar menjulurkan lidahnya meledekku, pasti ia paham kalau aku tak mungkin melangkah keluar rumah mengejarnya.
"Umar!! Kesini cepet, nakal banget sih kamu. Aku aduin ke ibu ya nanti."
"Aduin aja. Nanti juga aku aduin ke ibu kalau kakak suka ngintip mas-mas itu. Wweekk!!" Umar menjulurkan lidahnya lagi.
Aku melototinya sembari mengacungkan kepalan tanganku. Berani-beraninya dia mengancamku.
"Assalamu'alaikum dek."
Degg!!
Umar menoleh dan menjawab salam.
Bukankah itu suara Kak Fahri? Mau ngapain dia datang kesini?!.
Seketika aku jadi panik, segera aku berlari terbirit-birit masuk lagi kedalam kamar agar tidak terlihat oleh Kak Fahri. Jangan sampai dia lihat aku dengan penampilan seperti ini.
Dengan nafas yang masih ngos-ngosan dan dada yang naik turun, aku menempelkan daun telingaku dipintu kamar, bermaksud untuk mencari tau ada apa Kak Fahri sampai datang kesini.
Masih terdengar suara pria idamanku itu didepan, namun aku tak bisa mendengar dengan jelas apa yang ia bicarakan.
Sesaat kemudian suaranya sudah tidak terdengar lagi, mungkin sudah pergi.
Kubuka sedikit pintu kamar dan melongokkan kepalaku, mengintai situasi didepan apakah Kak Fahri sudah benar-benar pergi atau belum. Nampaknya Kak Fahri memang sudah pergi, kini yang terlihat hanya Umar yang berjalan menuju kebelakang melewati kamarku.
"Heh!!" Aku melototinya dan bersiap menyergap adikku yang nakalku itu.
"Apa!! Jangan macem-macem ya!" Ia mengacungkan sebuah kunci inggris berukuran lumayan besar ditangannya.
Sial!! Dapat senjata dari mana dia. Kenapa Umar bisa tiba-tiba bawa benda itu.
Owh, apa jangan-jangan Kak Fahri tadi kesini karena mau balikin benda itu ya. Tapi kapan pinjamnya, kok aku gak lihat. Apa pas tadi aku lagi tidur ya?
__ADS_1
Umar menjulurkan lidahnya lagi meledekku dan melenggang pergi menuju ke belakang.
Aku mengancungkan kepalan tangan sambil mendelik kearahnya.
"Awas!!" Ancamku padanya, Umar terus saja melangkah tak memperdulikanku lagi.
"Yah..! Kak Fahri tadi balikin ini nih," teriak Umar memanggil Ayah.
Ternyata benar dugaanku.
Kutarik tubuhku untuk masuk lagi kedalam kamar dan mengunci pintu, jaga-jaga supaya adik durhaka itu tidak menggangguku lagi.
Saat aku mengambil ponsel diatas nakas, seketika mataku tertuju pada novel yang beberapa hari lalu kupinjam, eh bukan aku yang pinjam, tapi Kak Adam yang meminjamkannya untukku.
Aku baru ingat kalau aku belum selesai membacanya, gak enak juga kalau minjemnya kelamaan. Apalagi yang punya buku ini adalah manusia abstrak itu.
Kusebut abstrak karena sikapnya yang gak jelas banget tadi siang, saat dia menolongku dari bahaya Andra, dia seolah datang seperti Superman dengan segala kekuatannya namun setelah itu dia pergi begitu saja tanpa sepatah katapun. Ya..minimal nanyain 'kamu gak pa-pa' atau 'ada ya g sakit gak' atau apalah pokoknya jangan main pergi gitu aja. Jadi sebenarnya dia itu peduli atau cuek sih? Kan gak jelas banget. Abstrak.
Untung saja ada Kak Fahri tadi yang datang dan sangat perhatian sampai mengantarku pulang dengan selamat dan memastikan si Andra nggak balik lagi untuk menggangguku.
Aku menghela nafas, urung mengambil ponsel dan beralih mengambil novel tersebut dan membawanya diatas tempat tidur. Mengambil posisi tengkurap dan mulai membuka halaman yang kemarin sudah kutandai.
***
"Bu, Aku berangkat dulu." Kuhampiri Ibu yang tengah sibuk mencuci piring dan hendak mencium tangannya.
Ibu mengelap tangannya yang basah lalu kuraih punggung tangannya untuk kucium.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Iya-iya bawel."
Ku ambil sepatuku di atas rak sepatu dan membawanya ke teras lalu memakainya sambil duduk di kursi.
Dari ekor mataku, aku menangkap seperti ada seseorang yang sedang duduk di teras rumah Mbah Idris, saat kutoleh ternyata Kak Adam yang sudah berpakaian rapi sedang duduk sendiri dan sibuk berkutat dengan ponselnya.
Bukannya langsung berangkat malah main Hp, atau mungkin dia lagi nunggu yang lainnya ya.
"Ekhem.. Kak!" Sapaku padanya.
Kak Adam menoleh lalu kepalanya malah celingukan. Dikira aku manggil orang lain mungkin, padahal udah jelas-jelas cuma dia yamg ada disitu.
"Iya Kakak. Siapa lagi." Kataku lagi.
Ia menatapku, mimik wajahnya seoalah sedang bertanya 'ada apa?'.
"Btw terimakasih ya, untuk kemarin. Untung Kakak datang tepat waktu, kalau nggak.."
"Makanya jangan bikin masalah kalau gak mau dapat masalah." Ucapnya memotong perkataanku yang belum tuntas.
Dahiku berkerut, maksudnya apa dia bicara seperti itu. Memangnya apa dia tau penyebab masalah kemarin, tau darimana? Perasaan kemarin dia langsung pergi deh. Aku juga gak cerita ke Kak Fahri.
"Ayo!" Ujar Kak Rasyid yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah Mbah Idris. Kak Adam pun bangkit dari kursi dan melangkah bersama Kak Rasyid disusul Kak Fahri yang baru saja keluar dan menutup pintu.
Ada sedikit debaran dalam dada ketika melihat lelaki pujaanku itu muncul didepan mata.
__ADS_1
Kak Fahri melempar senyum padaku dan berkata, "belum berangkat?"
Kubalas dengan senyunan juga, semakin kencang saja jantung ini berdetak saat mendapat senyuman darinya. Lumayan lah, buat mood booster di pagi ini.
"Yuk, bareng." Ajak Kak Fahri. Aku tersenyum tersipu lagi.
Kak Adam yang berjalan didepan sempat menoleh lalu melanjutkan jalannya kembali bersama Kak Rasyid meninggalkan Kak Fahri yang masih berdiri di teras.
Sejurus kemudian Kak Rasyid juga ikut menoleh lalu berdehem disertai senyuman penuh arti.
Wah, pasti lagi ngeledekin aku dan Kak Fahri nih. Semakin bersemulah pipiku saat ini, kerasa hangat banget.
Kulangkahkan kakiku keluar dari teras rumah seiring dengan langkah Kak Fahri yang juga keluar dari teras rumah Mbah Idris hingga kami bersama dalam satu jalan beriringan.
Entah kenapa kami sama-sama melangkahkan kaki dengan sangat lambat sambil sesekali mencuri pandang hingga tertinggal jauh dari Kak Rasyid dan juga Kak Adam.
"Emm.. Kak Fahri suka nyanyi ya?" Aku membuka percakapan setelah beberapa menit hening, hanya terdengar suara gesekan sepatu yang beradu diatas tanah yang kami tapaki.
"Nyanyi?" Ucapnya mengulang pertanyaanku. Aku mengangguk mengiyakan.
"Suka," katanya lagi.
Wah, berarti dugaanku bener dong kalau yang biasa main gitar dan nyanyi dikamar sebelah itu Kak Fahri.
Aku tersenyum kegirangan mendengarnya.
"Memangnya kenapa? Kok kelihatannya seneng banget?"
"Um.. nggak..! lagi keinget sesuatu aja. Hehe." Jawabku sembari mengusap tengkuk.
***
"Assalamu'alaikum Kak Fahri."
"Selamat pagi Kak Fahri."
"Kak Fahri hari ini cakep banget sih."
"Kak Fahri senyumin dong."
"Saranghae Oppa!!"
Ish..!! Apa-apaan sih, ini anak-anak. Mereka gak sungkan apa ya lagi ada aku disamping Kak Fahri gini masih aja digodain.
Eh, sebentar. Memangnya kamu siapanya Kak Fahri, Ghisna?!!
"Ya, sudah. Saya duluan ya Ghisna."
"Iya." Aku mengangguk, melihat punggungnya yang semakin menjauh menuju kantor guru.
Kulanjutkan langkah kakiku menuju kelas. Sepanjang perjalananku ke kelas dapat kudengar kasak kusuk siswi lain yang sepertinya sedang membicarakanku.
Hmm, biarkan sajalah. Gak usah diambil pusing.
*
Sesampainya di kelas, kutemukan lagi sebungkus coklat yang diikat dengan pita warna pink di dalam laci mejaku. Nampak secarik kertas yang tertindih coklat itu tadi.
__ADS_1
Kuambil coklat dan kertas tersebut dan membaca isi pesannya.
Bersambung..