
I LOVE YOU, KAK GURU
BAB 2
(Salah Sasaran)
***
Panik nggak?
Panik nggak?
Paniklah, masa enggak?
"Hapus woiiyy..!!"
"Cepetan hapus..!!"
"Hapus.. hapus..!!"
Bukannya cepat bertindak mereka malah cuma teriak-teriak, memangnya penghapus bisa jalan sendiri kalau cuma diteriakin?
Seketika kepanikan melanda seisi kelas, terutama anak-anak yang tadi bersekongkol membuat tulisan tadi di papan. Ada juga yang menertawakannya seolah ini menjadi sebuah hiburan gratis.
Gimana gak panik, seharusnya yang datang adalah Kak Fahri karena saat ini adalah jam pelajarannya, namun ternyata yang datang malah Kak Adam.
Entah kenapa malah guru jutek itu yang masuk kelas, apa mungkin kami yang salah jadwal atau dia yang salah masuk? Atau memang jadwalnya sudah diganti?
Terlanjur, kini nasi sudah menjadi bubur ayam. Guru jutek itu kini sudah duduk dibangku guru dengan jumawa, meletakkan laptop dan LKS yang ia bawa di atas meja. Tidak ada yang berani maju ke depan untuk menghapus tulisan itu.
Ia menatap pemandangan di papan tulis yang bagi kami indah namun sepertinya buruk baginya.
"Memalukan," ia berdecak. Ia menggumam namun aku masih bisa mendengarnya meski lamat-lamat.
"Salah masuk Kak!!" Teriak Hilman yang duduk di bangku paling belakang.
"Hari ini saya dan Kak Fahri bertukar jam pelajaran karena Kak Fahri sedang ada urusan mendadak. Jadi nanti jam terahir yang ngisi Kak Fahri." Terang Lelaki beralis tebal itu, membuat kami ber 'O' ria.
"Siapa yang nulis ini?" Kak Adam mengacungkan telunjuknya ke arah papan tulis. Seketika suasana berubah menjadi mencekam. Aku melirik ke arah bangku anak-anak yang menulis di papan tadi, terdengar mereka saling kasak kusuk.
"Shela Kak!" Hilman berteriak lagi, sontak membuat orang yang disebut namanya melotot ke arah Hilman sambil mengacungkan kepalan tangan.
"Mana yang namanya Shela?"
"Tapi saya cuma disuruh Kak," kata Shela membela diri.
"Ayo maju kedepan!" Titah Kak Adam.
"Tapi Kak.."
"Silahkan maju ke depan!"
Shela pun bangkit dari duduknya, ia melangkah dengan kaki yang sengaja dihentak-hentakkan, raut wajahnya kusut dan bibirnya mengerucut bagai tutup dandang.
"Hapus!" Kak Adam menyodorkan sebuah penghapus papan pada Shela yang kemudian disambar oleh Shela.
__ADS_1
Entah harus ikut prihatin atau gimana tapi jujur aku dan Milka sejak tadi menahan tawa setengah mati. Tapi kasihan juga dia, harus berhadapan dengan guru jutek itu.
"Jangan galak-galak Kak, nanti gantengnya ilang lho..!" Celetuk salah satu siswi, dari suaranya itu seperti suara Jenny. Dia merupakan rivalku dalam hal rangking di kelas. Meski dia agak bar-bar tapi dia cukup cerdas. Nilainya selalu diatas delapan.
Kak Adam abai, Mahasiswa yang satu ini memang sejak awal sudah menunjukkan sikap juteknya itu. Sebenarnya dia ini memiliki wajah yang lumayan handsome dengan kulit bersih dan juga alis yang tebal, tapi karena kejutekannya itu membuat raut wajahnya terlihat datar, gak ada manis-manisnya gitu.
Dan satu lagi yang membuatku malas dengan guru satu ini. Waktu itu saat pertemuannya yang pertama di kelas ini, aku tidak sengaja tertidur saat ia sedang menerangkan pelajaran.
Kebetulan kan, jam pelajarannya itu jam terahir. Kondisi badan yang sudah mulai letih ditambah lagi aku sedang menjalankan puasa sunnah hari senin, tambah lemes dong ya. Apalagi siang-siang begitu semilir angin sepoy-sepoy bertiup menerobos lewat pintu kelas yang terbuka membuatku semakin terbuai rasa kantuk yang tak tertahankan. Letak bangkuku berada paling depan di barisan paling barat yaitu persis dekat pintu. Aku menyenderkan badan pada tembok dan tanpa sadar aku tertidur.
Tanpa disangka Kak Adam melempariku dengan spidol dan mengenaiku, membuatku berjingkat dan seketika terbangun dari tidur singkatku. Langsung diketawain dong ya, sama temen-teman satu kelas. Apalagi dia nuduh kalau aku ileran, padahal kan nggak. Enak aja main fitnah gitu aja tanpa bukti.
Rese banget itu orang, kalau saja dia bukan guru, meski cuma guru KKN, pasti sudah kubalas.
"Baiklah adik-adik, kita mulai pelajaran hari ini." Lelaki itu membuka buku LKS-nya.
"Belum salam Kak!" Protesku.
Sekilas ia melirik kearahku, sinis. biar saja aku masih dongkol dengannya.
"Assalamu'alaikum wr.wb." Kak Adam mengucap salam, lalu dijawab oleh kami murid-muridnya.
"Wa'alaikumsalam wr.wb."
"Kalian buka halaman 27. Disitu ada 4 bait hadits, silahkan hafalkan berserta artinya."
Apa-apaan? Baru aja mulai pelajaran sudah disuruh hafalan.
Lelaki itu mengangkat pergelangan tangannya, melirik arloji yang melekat di tangannya.
"Saya keluar sebentar, 15 menit lagi saya kembali dan kalian sudah harus siap untuk hafalan di depan. Nanti akan saya panggil secara acak." Terangnya lagi. Tegas namun menjengkelkan.
Huft, kenapa gak sekalian aja suruh hafalin Al-baqarah biar kita semua jadi hafidz sekalian. Aamiin !!!
***
"Kantin yuk," ajak Milka.
"Lagi libur Mil," jawabku yang masih sibuk merapikan buku.
"Oh, iya. Lupa. Hari ini senin ya, kamu puasa."
"Hmm.."
"Rajin banget puasa senin kamis, biar dapat jodoh kayak Kak Fahri ya?" Kelakar Milka.
"Ye.. ya nggak lah. Awalnya dulu pas SMP niatnya biar lulus ujian dengan nilai bagus tapi lama kelamaan udah terbiasa aja."
"Owh.. gitu. Kalau puasa biar bisa nurunin berat badan boleh nggak? Kan, sama aja kamu dulu niat puasa biat bisa lulus ujian."
"Boleh nggak ya? Tapi kan, lama-lama aku ikhlas ngejalaninnya tanpa tujuan apapun kecuali ridlo-Nya."
"Terus?"
"Menurutku gak apa-apa sih niat awal buat nurunin berat badan, tapi kalau bisa istiqomah insyaallah lama-lama bisa ikhlas dengan sendirinya Kok. Kayak pribahasa jawa 'witing trisno jalaran songko kulino'. Awalnya berat, tapi lama-lama akan terbiasa. Mengharap pahala itu juga termasuk pamrih loh, belum bisa dibilang ikhlas. Ikhlas itu berat Mil, apalagi ngikhlasin orang yang kita sayang. Hehe."
__ADS_1
Milka manggut-manggut dan membulatkan bibirnya. Entah karena mengerti dengan penjelasanku atau malah tambah bingung.
"Kamu kok bisa pinter banget sih, Ghis?"
"Makanya, baca buku jangan IG-an mulu!" Kutarik ujung jilbab Milka membuat wajahnya setengah tertutup jilban putihnya.
"Ghisna..!!"
***
Selagi masih jam istirahat, Aku memutuskan untuk pergi ke perpustakan, sekalian balikin buku yang beberapa hari lalu aku pinjam.
Akhir-akhir ini aku makin rajin pergi ke perpus, bukan tanpa alasan. Ini karena sering kujumpai Kak Fahri bersantai di perpus, kesempatan dong ya, buat nyuri-nyuri pandang. Ehehe.
Memandang wajahnya yang teduh sudah menjadi candu buatku, padahal saat dirumah aku juga sering melihatnya walau dengan diam-diam mengintip dari balik kaca dalam rumahku. Namun itu sudah menjadi kesenangan tersendiri untukku, lumayan buat hiburan biar betah dirumah. Hehe.
Aku berjalan memasuki ruangan yang didominasi buku-buku itu, bau harum lavender menguar berasal dari pewangi yang digantung pada kipas angin besar yang ada dilangit-langit ruangan ini, menambah efek kedamaian di ruangan ini. Inilah salah satu alasanku suka menghabiskan waktu di perpus, suasananya yang tenang membuatku nyaman untuk tidur. Apalagi saat aku sedang puasa sunnah, jam istirahat kugunakan untuk tidur di perpus untuk menghalau rasa lapar, apalagi diluaran sana banyak anak-anak yang jajan. Lebih baik tidur kan, daripada kegoda makanan saat puasa.
Kulangkahkan kakiku dengan pelan sambil mengedarkan pandangan mencari seseorang. Kutelusuri setiap sudut ruang namun tak juga kutemui pria itu.
Aku menghela nafas, kecewa. Ternyata Kak Fahri tidak ada disini. Aku berjalan menuju meja Bu Indah dan menyerahkan buku yang kubawa serta kartu perpus yang berfungsi sebagai bukti tanda peminjaman.
Mau nyusul Milka ke kantin agaknya malas juga, disini aja lah siapa tau nanti Kak Fahri datang.
Ah, iya. Aku baru ingat kalau tadi Kak Adam bilang Kak Fahri sedang ada urusan mendadak makanya mereka bertukar jam pelajaran. Mungkin sekarang ini Kak Fahri belum selesai dengan urusannya.
Aku melihat sebuah buku yang tampak seperti novel tergeletak diatas meja tak jauh dari tempat ku berdiri. Saat kudekati ternyata benar itu novel, judulnya 'Ketika Tuhan Jatuh Cinta' tumben ada novel di perpus, biasanya yang ada cuma buku-buku pengetahuan dan buku pelajaran.
Aku menarik kursi dan mengambil novel tersebut lalu membacanya.
***
"Ekhhem..!!"
Dari ekor mataku terilihat seseorang sedang berdiri di sisi kananku, aku mendongak. Kak Adam?
Ia menengadahkan tangan kanannya, dia minta apa?
"Itu punya saya." Isyarat matanya menunjukkan kalau yang ia maksud adalah novel yang ku pegang.
"Oh," aku mengangsurkan novel tersebut lalu berdiri hendak menghindar.
"Tunggu," cegahnya. Aku tidak jadi melangkah.
Ia tampak mengambil secarik kertas dari salah satu halaman novel tersebut dan memasukkannya ke dalam saku jasnya. Lalu meletakkan novel itu kembali ke meja dekat kami berdiri.
"Pinjam saja kalau mau." Ucapnya lalu berlalu begitu saja keluar dari ruangan perpustakaan.
"Siapa juga yang mau minjem." Gumamku.
Aku hendak beranjak, namun kulirik kembali novel tersebut. Isi ceritanya lumayan seru sih, bikin penasaran untuk baca kelanjutannya. Aku tadi sempat membaca beberapa lembar, tanggung kalau gak sampai tamat.
Kusambar novel tersebut dari atas meja, mengenyampingkan rasa gengsi demi menghilangkan rasa penasaranku. Jangan sampai aku tidak bisa tidur dengan nyenyak gara-gara penasaran dengan kisah lanjutannya.
Anyway tadi kertas apa ya yang diambil, kayaknya mengandung bau-bau kerahasiaan. Kelihatannya sengaja dia ambil supaya aku gak lihat, nyatanya tadi dia cuma ngambil kertas itu lalu balikin lagi novelnya ke Aku.
__ADS_1
Ah, seharusnya tadi aku lihat duluan, jadi kepo kan sekarang.
Au ah!! Bukan urusanku juga.