
Bab 16
Celesthia Federlyn, seorang gadis berusia 17 tahun. Ia adalah satu-satunya pewaris keluarga Federlyn.
Saat itu, adalah hari pertama Celesthia bersekolah. Ia di masukkan oleh ayah nya ke sekolah tersebut.
Ia pun dengan senang hati menuruti permintaan ayah nya yang meminta nya untuk bersekolah di SGS Academy.
Namun, saat upacara penyambutan murid baru usai, ia yang tidak tau apa-apa di giring oleh gadis-gadis yang tidak ia kenal ke bawah pohon apel.
Di bawah pohon itu, ia di siram air kotor. Kemudian wajahnya di coret-coret oleh seorang gadis yang seusia dengan nya. Setelah itu, ia di tampar dan rambut nya di tarik-tarik.
Celesthia menangis agar di lepaskan. Namun gadis-gadis itu hanya menertawai nya.
Tak lama kemudian, penyiksaan itu terpaksa di akhiri karena kedatangan seorang penjaga sekolah.
Karena hari sudah menjelang malam, penjaga berkeliling untuk memastikan keadaan sekitar sekolah.
Dan penjaga itu mendengar suara isak tangis dari arah semak-semak. Betapa terkejutnya penjaga itu ketika melihat seorang gadis terbaring lemah di rerumputan.
Penjaga itu segera menggendong Celesthia dan membawa nya ke ruang UKS.
Setelah Celesthia di obati, penjaga itu pun menanyai nya. Celesthia menceritakan apa yang telah ia alami.
Keesokan harinya, keluarga Celesthia datang ke sekolah itu karena telah di kabari oleh pihak sekolah.
Ayah Celesthia sangat marah ketika mengetahui putri nya di siksa di hati pertama masuk sekolah. Ia khawatir putri nya menjadi trauma.
Celesthia pun di minta untuk menunjuk kan siapa yang telah melukai nya. Celesthia memberitahu kan siapa saja yang telah menyiksa nya saat itu, ia ingat betul siapa-siapa saja yang melakukan perbuatan tak terpuji itu kepada nya.
Setelah gadis-gadis yang melukai nya di bawa ke kantor guru, gadis-gadis pun langsung di pecat secara tidak terhormat.
Dan sejak itu, Celesthia memiliki pengawal pribadi untuk keamanan nya.
...* * *...
"Jadi begitu yah," ucap Catlyn.
Feliscya, Catlyn, Karin, Elena, dan Celesthia sedang menghabiskan waktu istirahat dengan mengobrol.
__ADS_1
Elena mengangguk sembari menghela nafas.
"Gadis-gadis itu jahat sekali! Padahal kak Celesthia tidak melakukan apa pun pada mereka!" ucap Karin dengan mata yang berkaca-kaca.
Catlyn mengelus-elus kepala Karin.
"Sudah lah.. gadis-gadis itu kan sudah di keluarkan dari sekolah, dengan begitu, mereka pasti tidak akan bisa melakukan apa pun kepada Celesthia," ucap Catlyn menenangkan Karin.
Karin pun mengusap wajah nya, terlebih di bagian mata yang hampir mengeluarkan air mata tadi.
"Tapi.. bukankah ini sedikit aneh?" Feliscya tiba-tiba nimbrung.
Semua menoleh ke arah Feliscya.
"Aneh kenapa?" Catlyn memiringkan kepala nya.
"Maksud ku, kejadian ini sedikit aneh, gadis-gadis itu tiba-tiba melakukan tindakan pembullyan kepada Celesthia, sedang kan Celesthia tak ada urusan apa-apa dengan mereka, bahkan Celesthia tidak mengenal siapa mereka, bukankah ini aneh?" ucap Feliscya.
Elena tampak berpikir.
"Iya juga,"
"Aku sangat yakin, mereka pasti adalah orang-orang suruhan," seru Catlyn.
"Kau benar, gadis-gadis itu pasti di perintah seseorang yang memiliki dendam atau benci kepada Celesthia," Feliscya mengangguk.
Elena tiba-tiba berdiri dari tempat duduk nya. Ia mengambil alih kalung permata yang di pegang oleh Celesthia yang sedari tadi hanya menyimak, tidak ikut mengobrol.
"Pinjam sebentar ya Thia,"
Celesthia mengangguk.
Elena mengusap benda tersebut dan tak lama kemudian, Ryan datang dengan berlari.
"Hosh.. hosh.., ada apa, Nona muda?" tanya Ryan dengan nafas yang terengah-engah.
"Ryan,"
"Ya.. nona Elena?"
"Aku memiliki perintah untuk mu!"
__ADS_1
"Apa itu Nona?"
Elena menghampiri Ryan dan membisik kan sesuatu.
"aku ingin kau menyelidiki perundungan yang terjadi pada Celesthia 1 tahun lalu, gadis-gadis yang merupakan pelaku nya itu sangat mencurigakan,"
Itulah yang di bisikkan oleh Elena kepada Ryan.
Ryan yang mendengar bahwa ini bersangkutan tentang Nona muda nya, langsung bersemangat untuk menyelesaikan kasus ini.
"Baik, nona Elena, em.. Nona muda, anda tidak membutuhkan sesuatu?" tanya Ryan menatap Celesthia dengan jantung yang berdebar..
Entah mengapa ia tak bisa menolak pesona yang di pancar kan oleh Nona muda nya itu.
Celesthia menggeleng lalu tersenyum.
"Aku baik-baik saja, Ryan,"
Akh.. rasa nya Ryan ingin memeluk Celesthia dan membawa nya terbang jauh dari sini.
Ia ingin berduaan saja dengan nona muda nya.
"Emh.. Ryan?" tanya Celesthia membuyar kan lamunan sang pengawal.
"Eh..hah? I..iya nona muda?" Ryan tergagap.
Celesthia terkekeh.
"Tidak, kau terlihat sedang melamun tadi," ujar Celesthia.
Ryan tersenyum malu.
"Maaf, nona muda, saya tak akan mengulangi nya," ucap Ryan seraya menunduk sekilas.
"Saya pamit undur diri, nona muda,"
Ryan segera mengundurkan diri dari nona nona itu.
Elena tertawa melihat tingkah laku pengawal sang sahabat nya.
To be continued..
__ADS_1
Maaf baru up.. ada kesibukan di dunia nyata~
Arigatou~