
Fahri baru sampai dirumah, tampak para Assistent rumah tangga tengah membereskan rumah setelah arisan. Fahri betanya kepada salah satu diantara mereka, kemana Aisyah dan Baby Cel, mereka pun memberitahu Aisyah ada di kamar. Tak menunggu waktu lama Fahri langsung berjalan menuju kamar.
Ceklekkk
"Assalamualaikum" Ucap Fahri perlahan
"Wa'alaikumsalam mas" Jawab Aisyah yang baru saja keluar dari kamar mandi bersama Baby Cel
"Anak papa habis Pup yaa? hehe" Tanya Fahri
"Iya pa hehe" Ucap Aisyah. Aisyah menggantikan popok baby Cel. Aisyah tak berani menatap mas Fahri karena matanya yang masih merah dan sembab akibat menangis. Tangisnya pecah saat ia masuk kedalam kamar setelah kejadian tadi siang saat arisan.
Aisyah meringkuk badannya di bawah ranjang dan meluapkan kekesalan hatinya dengan terus menangis, hingga saat terdengan ketukan pintu yang ternyata mbak Tut dan juga Baby Cel yang datang menghampirinya baru Aisyah mengakhiri tangisnya. Aisyah pun harus pura-pura bahagia dihadapan baby Cel dan mas Fahri.
"Sayang, kenapa nunduk terus?? gak kangen apa sama mas??" Tanya Fahri
"Kangen juga mas" Jawab Aisyah
Fahri mengangkat dagu Aisyah dan mengarahkan wajah Aisyah untuk menatapnya
"Lihat mas sekarang" Ucap Fahri sedikit keras, dan Aisyah pun dengan takut-takut menatap suaminya
__ADS_1
"Kamu habis nangis?? kenapa?!" Tanya Fahri dengan cemas
"Gak papa mas, cuma keculek dikit aja tadi" Ucap Aisyah menutupi
"Jangan bohong! mas gak sudah istri mas bohong!" Ucap Fahri
Aisyah tak mampu untuk bercerita, ia pun kemudian menunduk dan menangis. Kemudian Aisyah menceritakan semuanya kepada Fahri tanpa ada yang di kurangi ataupun di tambahi. Aisyah bukanlah wanita yang pandai menjaga rahasia, apalagi dengan Fahri, ia tak bisa berbohong sedikitpun.
Meski terlihat seperti istri yang suka mengadu, namun Aisyah sebenarnya tidak ingin ada kesalahpahaman antara mas Fahri dan mamanya. Mendengar cerita Aisyah membuat darah Fahri mendidih.
"Kita kemasi barang-barang kita dan kita pulang kerumah kita sendiri!" Ucap Fahri lugas.
"Tapi bagaimana dengan papa mas??" ucap Aisyah
Setelah selesai membereskan pakaian mereka, Fahri menarik koper kecil mereka turun ke bawah. Melihat Fahri membawa koper, membuat papa Fahri kaget
"Fa, kalian mau kemana??" tanya papa
"Pulang pa kerumah. Sepertinya mama belum bisa menerima Aisyah dengan sepenuh hatinya pa. Jadi lebih baik kami pulang kerumah" ucap Fahri
Mama Zulfa yang baru keluar tiba di ruang tamu pun kaget bukan main. Ia begitu gugup dan ketakutan saat mama Zulfa menatap papa Fahri
__ADS_1
Deg!
"Ya sudah, kalian pergilah. Papa merasa gagal menjadi kepala keluarga ini. Papa tidak bisa mendidik istri papa dengan baik. Apa guna kekayaan sebanyak ini, rumah sebesar ini jika semua keluarga tidak bisa hidup bersama didalamnya! lebih baik kita tinggal di gubuk tapi penuh kebahagiaan!" Ucap papa
Ucapan papa Fahri benar-benar menusuk didalam hati Semuanya, terutama mama Zulfa. Matanya merah menahan marah dan tangis yang bersamaan, perasaannya berkecamuk.
" Pa! mama merasa malu saat teman-teman mama menghina mantu kita! mama malu pa!! Kita ini keluarga terpandang, bagaimana bisa kita dihinakan seperti itu?!" Sarkas Mama Zulfa dengan keegoisannya.
" Gengsi mama yang terlalu tinggi! harusnya mama itu bersyukur Aisyah yang menjadi mantu kita bukan Zee anaknya pak Suryabrata! Asal mama tau saja, Zee dan Jonathan itu ternyata bekerjasama untuk menghancurkan perusahaan kita!" Sarkas papa
"Papa jangan asal nuduh pa! Zee itu anak yang baik! dari keluarga terpandang! dia lebih baik dari pada Aisyah!" Ucap mama.
"Ya sudah kalau mama gak percaya! terserah mama!dan suatu hari nanti, papa akan buktikan kebenarannya didepan mama!! dan sampai kapanpun papa hanya menganggap Aisyah adalah mantu papa! Fahri, Aisyah cepat tinggalkan rumah ini!" Ucap papa.
Fahri langsung menggandeng Aisyah dan keluar dari rumah keluarganya.
.
.
.
__ADS_1
.
.