
Aku sudah pulang dari kantin dan membawa beberapa jinjingan untuk dimakan di ruang inap mas anthon. Aku membawa siomay dan air mineral. Aku masuk ke ruang inap mas athon, ku lihat mas anthon sedang tertidur pulas. Aku buka pintu pelan-pelan dan seegera masuk ke dalam soalnya takut membangunkan mas anthon. Setelah di dalam aku ke dapur mini ruang inap untuk mengambil piring dan sendok.
Aku membuka siomay yang tadi dibeli di kantin, wah kayanya enak nih. Kamu ngiler ya sayang? sambil ku elus perut datarku dan berbicara sendiri dengan baby di perut. Kamu sekarang pasti sebesar biji kacang ya sayang? ibu udah gak sabar ingin bertemu kamu. Saat sedang asyik-asyiknya ngobrol dengan baby sambil makan siomay yang tadi di beli, tiba-tiba mas anthon bangun.
"Sayang lagi makan apa?"
"Makan siomay mas, mas mau?".
"Pedes gak?".
"Ngga kok mas."
"Bohong ya?."
"Beneran mas sayang, kalau gak percaya sini andin suapin. Ku hampiri tempat tidur mas athon, dan A.. mas buka mulutnya."
"Mana mas cobain dulu siomaynya A..."
"Enak kan mas?."
"Ukhuk..ukhuk.. ini pedas banget sayang, gak baik tau buat calon anak kita."
"Maafin mas, ini minum dulu."
"Kalau sekali lagi ketahuan makan yang pedas lagi, mas hukum kamu gak boleh ke luar kamar dan harus tetap berduaan bareng mas."
"Itu sih enak di mas gak enak di andin huh wlee."
"Mas andin cuci piring dulu ya, mas gak apa apa kan ditinggal sebentar cuman ke dapur kok. Jangan kangen ya hehe."
"Ishh istri mas yang lucu ini udah pandai gombal ya. Iya sok tuntaskan dulu tugasnya, habis itu tidur bareng mas disini (sambil menunjukan sisi tempat tidur yang luas dan cukup untuk tidur berdua)."
"Sulatan mah bebas mau ngambil ruangan paling bagus di Rs juga gak akan bangkrut hehe."
"Iya dong sayang, cepetan kelarin kerjaannya mas udah gak kuat mau makan kamu."
"Mas...."
"Canda sayangku cintaku padamu."
Setelah beres membersihkan bekas makan tadi, aku langsung naik ke ranjang tempat tidur mas anthon.
"Sayang..."
"Iya mas?"
"Kalau kita sudah punya baby lagi kamu bakalan tetap sayang alana kan?"
"Kok kamu ngomong gitu sih mas?."
__ADS_1
"Bukan begitu sayang, mas takut aja kasih sayang kamu terbagi."
"Tenang aja mas, andin gak akan membedakan kasih sayang andin untuk anak-anak andin karena semuanya sama dimata andin gak ada perbedaan sedikit pun termasuk kepada alana."
"Terima kasih sayang kamu memang istri dan ibu yang sangat baik. Mas yang banget sama kamu."
"Andin juga sayang banget sama mas."
Setelah pembicaraan singkat tadi, kami saling peluk rasanya sangat nyaman memeluk sambil menyusup di ketiak mas anthon karena wangi mas anthon yang khas jadi candu buat aku. Rasanya tiap hari ingin memeluk mas anthon dan tidak mau lepas.
Tidak terasa lama-lama aku mengantuk dan akhirnya aku tidur di pelukan mas anthon.
Tapi pukul delapan aku bangun karena aku ingat mas anthon belum makan malam dan meminum obat.
"Mas..mas.. bangun dulu, kamu belum makan dan minum obat."
"Iya sayang."
Aku ambil makanan yang disimpan di atas makas.
"Andin suapin ya mas?."
"Gak usah sayang, mas bisa sendiri kok lebih baik kamu lanjut tidur aja di kamar tamu."
"Ngga mas, andin harus temani mas makan dan minum obat."
"Mas gak apa apa kok sayang, mas bisa makan sendiri. Kalau kamu tidak tidur kasihan kamu dan bayi kita kecapean dari tadi nungguin mas."
"Iya gak apa apa sayangku cintaku padamu."
"Dasar om om bucin haha."
"Bucin itu apa sayang?."
"Tuh kan kelihatan sudah tuanya sampai gak tahu julukan anak muda jaman sekarang. Bucin itu budak cinta mas, kaya kamu yang katanya cinta mati sama andin."
"Dih gr kamu sayang, siapa yang bilang kalau mas cinta mati sama kamu?."
"Oh jadi mas udah gak cinta lagi sama andin?"
"Canda cinta."
"Udah ah pokoknya andin marah sama mas, andin mau tidur dadah sayang."
"Kok marah masih tetap manggil sayang."
"Mas...."
"Udah ahh andin mau tidur dadah."
__ADS_1
"Tidur yang nyenyak ya istriku."
"Iya sayang."
Dan akhirnya kita sama sama tidur di tempat yang sama namun jarak yang berbeda. Saat hendak menutup mata aku teringat alana di rumah neneknya apakah dia nyaman tidur tanpa aku? mudah-mudahan nyaman, karena di rumah kan dia terbiasa tidur sendiri. Ku coba pejamkan mata tapi sulit. Sampai akhirnya tidak terasa aku tertidur pulas.
Aku terbangun sebelum adzan subuh berkumandang, aku langsung membereskan tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah bersih-bersih aku membangunkan mas anthon yang sepertinya tidur pulas.
"Mas.. sayang bangun yuk, kita sholat subuh berjamaah."
"Iya sayang, jam berapa ini?."
"Jam 4.10 mas, ayo mas andin lap pakai air hangat terus ganti pakaiannya. Untuk saat ini mas tayamum dulu karena kondisi mas yang masih belum stabil."
"Iya sayangku cintaku padamu. Rasanya aku pengen sakit terus deh biar dimanja kamu terus hehe canda manja."
"Kok mas ngomongnya gitu sih? orang lain yang sakit itu maunya sembuh masa mas mau sakit terus? nanti gimana alana siapa yang jagain kalau kamu sakit?."
"Iya sayangku cuman becanda doang kok."
"Lain kali jangan di ulang ya, andin gak suka mas sakit, andin sayang mas. Andin maunya mas sehat terus."
Setelah beres semuanya tak terasa adzan subuh berkumandang, mas anthon tampan denga. baju kokonya, dan aku memakai mukena putih.
Setelah adzan beres barulah kita sholat bersama. Setelah beres sholat kami langsung membaca Al-qur'an seperti biasanya kalau di rumah.
Waktu menunjukan pukul 5.30 sarapan mas anthon dan aku sudah diantarkan, kita sarapam berdua sambil sesekali tatap-tatapan.
" Mas kalau makan jangan belepotan atuh, malu dong sama alana. Alana aja kalau makan rapih loh hehe."
"Sengaja mas makannya berantakan biar di lap sama kamu."
"Huh om om gombal."
"Walaupun om om tapi kamu suka kan?."
"Ngga huh wlee.."
"Kalau gak suka gak akan ada anthoni junior di rahim kamu."
"Ya udah iya mas menang."
"Jangan cemberut dong sayang nanti cantiknya ilang dimakan kucing hehe canda kucing."
"Kalau kucing suka sama aku nanti kamu sama siapa?."
"Aku cari kucing betina aja buat gantiin posisi kamu."
"Oh jadi mas mau samakan andin dengan kucing? ok mas andin mah selalu sabar, baik hati dan tidak sombong mau dikatain apa aja sama mas."
__ADS_1
"Uluh si sayang marah, sini deketan. Cup cup cup muach."