
«jangan terlalu membenci, karena benci bisa jadi cinta»
setelah pertengkaran adu mulut Leo dan Silvi di rumah Pratama yang notabennya rumah Silvi dan Mika. kini hari-hari mereka lalui hampir setiap hari diisi dengan adu mulut. nggak di kantin nggak di kelas selalu aja beradu mulut, sepertinya mulut mereka memakai baterai ABC sehingga tidak pernah lelah untuk beradu mulut.
Sama halnya dengan sekarang Leo dan Silvi hari ini kena jatah duduk berdua karena di kelas mereka memakai sistem duduk bergantian agar seluruh murid dapat merasakan duduk di depan. dan parahnya hari ini Silvi mendapat jatah duduk dengan Leo di barisan ketiga sedangkan Yora duduk dengan Stevan di barisan pertama. "hah..." ini helaian nafas ke-20 sejak kelas dimulai, Silvi sama sekali tidak bisa mengerti dengan penjelasan dari Bu Irma tentang pelajaran geografis, pelajaran yang paling Silvi gemari.
bukan karena Silvi bodoh atau apa tapi itu semua karena Leo, sejak kelas dimulai lelaki yang pernah ia kalahkan dalam silat itu tidak pernah berhenti untuk tidak mengganggunya, hanya karena siku Silvi sedikit melewati batas yang telah mereka sepakati tadi sebelum kelas dimulai, membuat Leo sedari tadi tidak pernah berhenti mengoceh.
"Silvi sana lagi dikit napa, gue sempit nih nggak bisa tidur"
"Sil, Ayolah sempit gua nih" ucap leo dengan mendesak Silvi.
"lo ga bisa diam apa, ribut amat" balas Silvi dengan nada kecil agar Bu Irma tidak mendengar percakapan mereka. "makanya sana lagi, sempit gua nih enggak bisa tidur"
sempit! kalau dilihat seharusnya Silvi yang sempit. sedaritadi Leo tak henti-hentinya menyuruh Silvi menggeser ke samping, dan hal itu membuat Silvi hanya mendapat sepertiga bagian meja. kalau dirinya menggeser lagi, tentu saja bisa membuat buku Silvi jatuh ke lantai. "eh geser jidat lo ap..." tiba-tiba satu penghapus mendarat ke atas meja Leon dan Silvi. hal itu membuat seluruh siswa yang ada di kelas melihat ke arah mereka.
"Leo, Silvi out" titah Bu Irma dengan tegas. Leo yang awalnya malas-malasan, kini berubah menjadi semangat 45°. Bagaimana tidak, dia sekarang sudah diperintahkan untuk keluar kelas. jadi kalau dia ketemu dengan si ketos galak itu, bisa memberi alasan ini sehingga si ketos tidak ada hak untuk menghukumnya. berbeda dengan Silvi, mukanya yang sedari tadi sudah kusut, kini bertambah kusut. padahal prinsipnya di sekolah adalah 'dilarang bolos pelajaran IPS' ini memang bisa dibilang tidak membolos karena sudah diperintahkan oleh guru.
Tapi tetap saja hal ini membuatnya ketinggalan pelajaran geografisnya. "tapi Buk..."
" out, atau saya tambah hukuman kamu Silvi"
hah, mau nggak mau Silvi tetap harus keluar kalau tidak hukumannya ditambah. dalam perjalanan ke luar kelas Silvi tidak henti-hentinya menggerutu memaki-maki Leo. sehingga terbesit sesuatu ke dalam otaknya "sepertinya gue harus lo beri pelajaran"
*****
akibat diusir oleh Bu Irma karena Leo. Silvi pun menghabiskan waktunya di kantin ia telah memesan satu porsi mie ayam untuk disantapnya selagi Silvi menyantap mie ayamnya, tak sengaja Silvi mendengar suara dentuman sepatu mendekat ke arah kantin, Silvi menduga bahwa itu petugas dari OSIS tiba-tiba suara dentuman itu berhenti tepat di belakangnya tapi agak berjauhan. tak sengaja otaknya teringat akan mulut bawel Yora, sangking bawelnya Yora membuat ia bercerita dari a sampai z mengenai sekolah national high, hal itu mrmbuat Silvi merasa sudah lama bersekolah disini.
Silvi ingat hari ini adalah hari Jumat, berarti yang piket di bagian OSIS adalah si ketua OSIS, Salsa. "kok dia sih gue lagi nggak mood nih ngadepin orang dilanda cinta" Silvi membatin.
Silvi yang tengah menyantap mie ayamnya mendadak jadi bingung, pasalnya Kenapa tidak ada suara galak yang menghampirinya.
*****
Salsa yang tengah bertugas memeriksa siswa yang bolos pun tiba-tiba berhenti di depan kantin. Salsa mendengar suara dentuman sendok dari dalam, Salsa menebak itu pasti orang-orang dari komplotan Mika. Salsa pun melangkah masuk dengan tujuan mengomeli orang yang bolos itu kemudian memberi hukuman.
saat sudah mencapai dalam kantin, tiba-tiba langkahnya terhenti ternyata yang ia asumsikan salah. bukan komplotan Mika yang ada di dalam kantin itu melainkan seorang perempuan, Ya kali di kelompok Mika ada perempuan.
Salsa mengenail perempuan itu walaupun perempuan itu duduk membelakanginya tapi ia tetap tahu siapa dia. itu semua karena insting yang memberitahukannya, entah kenapa hari ini instingnya bekerja dengan akurat.
perempuan itu adalah Silvi si murid baru yang akhir-akhir ini menjadi gosip hangat di kalangan para siswa dan lagi dia juga merupakan yang perempuan yang dikabarkan sebagai pacar Mika, mengingat hal itu membuat dada Salsa terasa sesak. Bagaimana tidak, mengingat bahwa orang yang dicintainya kini sudah bersama yang lain, ia bahkan belum sempat mengungkapkan perasaannya. rasanya bagaikan ada beribu macam benda tajam yang menusuk hatinya.
benar-benar menyakitkan, apalagi perbedaan status keduanya membuat Salsa sulit mendekati Mika. Salsa yang good girl dan Mika yang bad boy. "apa gue kasih dia hukuman sebanyak-banyaknya biar kapok. nggak- nggak gue nggak boleh kayak gini, ini namanya nepotisme" debat Salsa dalam hatinya
"ngapain bengong di situ, mau mabar bareng gue sini duduk" ajak Silvi membuyarkan lamunannya. sontak Salsa terkejut dan bagaikan terhipnotis dengan ajakan Silvi, Salsa mendekat dan duduk di depan Silvi
30 detik
__ADS_1
1 menit
3 menit
Hening! tidak ada percakapan diantara mereka, hanya ada suara dentuman sendok dari Silvi. "dari mana lo tau kalau gue ada di belakang lo tadi" tanya Salsa mencoba memecahkan keheningan antara mereka. "dari suara sepatu lo" jawab Silvi sambil memakan mie ayamnya. Salsa merespon dengan mulut membentuk huruf O.
30 menit
1 menit
hening lagi, rasanya Salsa mau mati gaya, dari tadi Ia hanya memperhatikan Silvi makan. kalau dipikir-pikir tujuan Salsa berada disini untuk apa? untuk ngeliatin Silvi makan? Eh tunggu....
bukannya Salsa ke sini buat nge-hukum orang yang bolos ya. lha ini kok kayak dia jadi fangirlnya Silvi. seorang fangirl yang rela menyita waktunya untuk menonton Idol nya yang lagi makan. eh sial, rupanya dari tadi dia sudah terhipnotis dengan Silvi. "braak"
Salsa memukul meja dengan kedua tangannya dan Hal itu membuat Silvi tersedak mie ayam nya, kemudian tangannya segera meraba gelas berisi jus jeruk lali segera menyeruputnya
"eh gila, lo mau gue mati ya" kesal Silvi. "Kalau bisa sih gitu, jadi Mikanya buat gue aja" batin Salsa
"lo nge-hipnotisin gua?"
"gua ga ngehipnotisin lo, lo aja yang nurut perkataan gua"
"ck, kenapa ga masuk?, mau bolos kayak pacar lo itu" sarkas Salsa mencoba mengalihkan topic.
"gue ga bolos"
"gua terlalu pinter, makanya gue ada disini"
"boong lo, ga percaya gue"
"kalo lo gq percaya, tanya aja sama Buk Irma"
dan Salsa bagaikan terhipnotis lagi dengan perkataan Silvi. Salsa berjalan keluar kantin dan menuju ketempat Buk Irma berada.
"aneh, kok nurut y, perasaan gue ga hipnotisin dia. au..ah... mending gue nge-lanjutin makan aja"
*****
setelah makan dikantin, Silvi pun segera kembali ke kelas, mengingat jam bu Irma sudah habis dan di ganti dengan jam pak Nardi si guru killer itu. jadi mau tak mau Silvi harus kembali ke kelas. kalau tidak, bisa-bisa ia mendapat amukan lagi dari guru killer itu.
sepertinya kali ini keberuntungan berpihak kepadanya. sesampai dikelas Silvi tidak menemukan Leo di kursinya. benar-benar nasip baik baginya.
*****
jam pelajaran pak Nardi kini berlangsung cepat, hal itu di karenakan hari ini adalah hari ini adalah hari jum'at. hari paling cepat pulang dibandingkan hari lain, jadi pelajaran juga diberlangsungkan dengan cepat.
Yora berjalan disepanjang koridor menuju kantin. Silvi? jangan tanya lagi, dia sudah tentu ikut kalau urusan makanan. padahal tadi dirinya sudah makan saat pelajaran buk Irma, benar-benar perut karet.
__ADS_1
kali ini Silvi yang menawarkan diri untuk memesan makanan dan Yora pun menyetujui hal itu.
kini Silvi sudah berada di keranjang roti sandwith. Silvi melihat kedalam keranjang itu, isinya......
tinggal satu. dengan cepat Silvi langsung mengambil sandwith itu, tiba-tiba ada sebuah tangan yang duluan memegang sandwith itu sebelum Silvi. keduanya pun saling menatap.
"lha, dia lagi" batin keduanya bersamaan.
yup, pemilik tangan itu adalah musuhnya, siapa lagi kalau bukan Leo. "ini punya gue" ucap Silvi dengan sedikit menarik sandwith yang tinggal satu itu, tapi tertahan dengan tangan Leo.
"punya gue"
Leo yang merasa tidak mau kalah pun ikut menarik kembali. hingga terjadilah aksi tarik-tarikan dianyara mereka.
"gue duluan yang nemuin"
"gue duluan yang pegang"
"nggak, punya gue"
"punya gue"
" gue"
"nggak, gue"
Mika, Daffa, Stevan, Ricky, dan Dani yang melihat adegan tarik-tarikan Leo dan Silvi pun bengong dengan ekspresi mulut sedikit terbuka.
"gue yakin, hukum benci jadi cinta pasti berlaku bagi mereka" ucap Dani dengan mulut yang asih sedikit ter-nganga. "gue setuju dengan lo, dan" sahut Mika dengan ekspresi mulut yang sama dengan Dani. tapi tidak dengan Navin, ia justru terlihat lesu
"gue ga setuju, padahal gue udah targetin Silvi jadi gebetan gue" ucap Navin yang langsung mendapat
kan seringai iblis dari Mika. "lo mau targetin adek gue jadi gebetan lo!, kayaknya lo mau mati ya"
gue harap dengan kehadiran Silvi, lo bisa move on dengan masa lalu, yo.
*****
**hai guys jumpa lagi kita. maaf y telat kali up date.
kalian pasti kecewa kan sama author. author minta maaf. karena ada sedikit kesibukan, autho jadi sulit untuk nge-up date. author minta maaf y guys. author harap kalian mau memaafkan author ini😢.
sebagai permintaan minta maaf author. author bakal bocorin tentang leo dan silvi, nanti di chapter 10 author bakal ceritain sedikit tentang masa lalu mereka plus Stevan, sayang Stevannya di lupain😄😆
sampai ketemu lagi di chapter selanjutnya. doain aja mudah-mudahan chapter selanjutnya cepat author liris.
author kepo, para reades ada yg kepo ga nih sama masa lalu LeoSilvi, yg kepo silahkan komen and like y guyd😆😆😉😊**
__ADS_1