Ice girl vs bad boy

Ice girl vs bad boy
Chapter 13


__ADS_3

MIKA menyandarkan tubuhnya di dinding, pandangan matanya mengarah kedepan. disana banyak para tamu yg tengah berbicara dengan tamu lainnya. Kemudian Mika menundukkan pandangannya.


Ditangannya Mika menimang gelas yang berisi minuman bewarna merah. Mika menggoyang pelan gelas tersebut, sehingga minuman merah tersebut juga ikut bergoyang dan menimbulkan kesan elegan.


"*Seharusnya lo berterima kasih ke gue, karena udah bantuin lo"


"Bantuin apa?"


"Ck, emang lo ga risih apa? dengan keberadaan Pak Jono itu?"


"Risih sih"


"Kalo risih*...."


Percakapan antara dirinya dan Silvi masih terekam jelas di otak Mika. Penjelasan Silvi tadi bagaikan orang yang sudah berpengalaman. Sebenarnya apa yang terjadi di masa lalu adiknya itu?


"Lagi nge-lamunin apa sih lo? Serius bener, cewek ya?"


Sebuah suara yang sangat dikenali Mika, sukses membuyarkan lamunannya. Reflek Mika pun mengangkat pandangannya ke sumber suara.


Mika mendapati teman-temannya didepannya, tapi tak lengkap, karena penglihatannya tidak menangkap figur Stevan disana. Entah kemana bocah itu, fikir Mika.


"Gue lagi ga niat ladenin lo Vin!" jawab Mika yg tak bersemangat. Sepertinya semangatnya tentang acara pesta ini sudah terkuras habis selepas percakapan dirinya dan Silvi tadi.


"Yaaah, jangan nyerah gitu donk. masak cuma aku yang berjuang, kamu juga donk. nggak seru tau berjuang sendiri" ucap Navin yang mulai dramatis.


Mika menatap kesal kearah Navin, sahabatnya yang satu ini memang selalu ber-dramatis. Entah ngidam apa, ibunya dulu saat mengandung si curut yang satu ini. "Kalo lo gamau gue terbangin ke pluto sana, tutup mulut lo!"


"Iih, acut!" seru Navin yang nada dibuat bak seorang anak kecil yang dimarahi ibunya. Sedangkan Mika langsung melempar tatapan sengit kearah Navin.


"Ni dua bocah, kayak Tom and Jarry aja, ga pernah akur" sela Dani sambil mengambil salah satu minuman yang telah disediakan di atas meja, lalu meminumnya. "Siapa yang bocah?" tanya Mika yang mengalihkan tatapan sengit kearah Dani.


"Lo lha, emang siapa lagi?"


" yee... lu ya, ngatain gua bocah, gua kutuk lo kayak 'Malin kundang' nanti"


"Emang lu emak gua?, emak gua aja gabisa ngutuk gua"


"Kayaknya lu emang perlu gua kutuk deh, biar lo bisa tobat"


"Hadeuh Mik. Gini ya, lo mau ngutuk gue kayak 'Malin Kundang'. Malin kundang aja dikutuk ama emak nya. lo kan bukan emak gue, gimana lo mau ngutuk gue"


"Gue ngutuk lo sebagai orang yang lebih tua, bukan sebagai emak lu"


"Emangnya lo orang tua"


"Udah, ga usah pada berantem, udah sama-sama bocah...." sela Daffa yang berusaha menghentikan pertikaian Dani dan Mika. Tapi sepertinya usaha Daffa tidak berhasil. Belum selesai Daffa berbicara, Mika dan Dani pun langsung menyerangnya.


"Lo yang bocah!" serbu keduanya


Leo dan Ricky yang melihat kejadian itupun langsung memberikan tatapan iba kepada Daffa. Sedangkan Navin sudah pergi sedari tadi, untuk menjalankan misinya datang ke pesta ini, yaitu mencari gebetan baru. Dasar jiwa playboy!


****


Sementara itu ditempat Silvi.


Beberapa menit yang lalu Silvi sudah memutuskan untuk kembali kedalam. Berlama-lama diluar bisa mmemperburuk mood-nya. Baru beberapa menit Silvi kembali kedalam, tiba-tiba ada sebuah suara yang cukup Silvi kenal.


“Silvi!”


Spontan Silvi membalikkan tubuhnya menghadap keasal suara. Silvi tidak terkejut melihat Yora yang tengah melambaikankan tangannya kearah dirinya tapi, ia cukup terkejut mendapati Salsa disebelah Yora. Bukan Silvi namanya kalau tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya, jadi ekspresi terkejutnya ia sembunyikan sedalam-dalamnya. Sehingga yang tampak adalah ekspresi dingin andalannya.


Otaknya bertanya-tanya kenapa ada Salsa disini? Perasaan dirinya tak pernah mengundang Salsa. Apakah Mika yang mengundangnya? Tapi tak mungkin, mengingat hubungan Mika dan Salsa yang bagaikan api dan air, pasti tak mungkin. Jadi kenapa ketos bucin itu ada sini?

__ADS_1


Silvi menggeleng kepalanya. Beban dikepalanya sudah banyak, kini ditambah lagi. Tentu saja itu membuat kepalanya semakin nyeri. Silvi memutuskan untuk berfikir positif saja.


“Hai. Capek gue cari lo, lo kemana aja sih?” tanya Yora saat sudah berada didepan Silvi. “ga kemana-mana” kemudian Silvi mengalihkan pandangannya ke arah Salsa.


“Perasaan gue ga ngundang lo, lo stalker gue? Fans gue ya?”


Silvi tersenyum menyeringai kepada Salsa. Sementara Salsa yang memiliki pengontrolan emosi yang rendah pun langsung terkena serangan marah pitam akibat pancingan dari Silvi. Yora menatap keduanya bergantian. Ekspresi Yora berubah panik saat melihat muka Salsa yang sudah memerah menahan amarahnya. Dengan cepat Yora langsung mengambil alih peranan Salsa.


“Ah, itu... karena kak Salsa juga anggota keluarga Anwar, makanya kak Salsa juga hadir di acara ini”


Silvi kembali melirik Yora, sepertinya penjelasan Yora sedikit menarik perhatiannya.


“Maksud lo, keluaga Anwar adalah keluarga kolega dari keluarga Pratama?” tanya Silvi sekedar memastikan.


Yora mengangguk tanda mengiyakan. Tak berselang lama kemudian salsa langsung angakat suara.


“Huh, itu aja lo ga tau. Lo yakin, lo itu pacarnya Mika?” tanya Salsa sarkastik, dan tentu saja hal itu makin membuat yora panik tujuh keliling. Salsa menar-benar bodoh, pikirnya. Ia menjebakkan diri dalam lubang hariamau.


Silvi tersenyum simpul kearah Salsa.


“emangnya itu wajib diketahui oleh pacar?” tanya Silvi balik, sepertinya Silvi tahu kemana arah pembicaraan ini.


“ya” karena tidak mau kalah, Salsa membalas senyuman Silvi.


Yora yang melihat percakapan mereka semakin memanas langsung pusing tujuh keliling. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Yora mengkhawatirkan Salsa, tapi bukan berarti Yora tidak mmengkhawatirkan Silvi. Hanya saja Salsa itu tipikal orang yang mudah terpancing emosi, berbeda dengan silvi yang dingin.


Sebenarnya bisa saja Yora mengatakan pada Salsa kalau Silvi itu adik mika, tapi mengingat Silvi tidak mengizinkan tentang hal itu membuat Yora pasrah. Yora menghelai nafas pasrah. Haizz, tunggu saja keajaiban yang menghetikan mereka, batin Yora.


“Tapi kalo gue tau akan hal itu, berarti gue juga sama donk kayak kalian, hanya seorang fans” senyuman Silvi kini berganti menjadi seringai mengejek.


Wajah Salsa berubah masam. Ia tidak terima dirinya di katai fans. Walaupun kenyataan dirinya memang seperti seorang fans, karena akhir-akhir ini ia sering men stalker Mika.


“Emang sih kayak fans” aku Salsa “tapi lo ga tau soal ini berarti Mika ga terbuka dengan lo”


Salsa menyerngit bingung saat Silvi mengucapkan dua kata itu. Memangnya apa yang salah?, kan betul seperti yang dirinya katakan.


“Lo salah. bukan berarti kalo Mika ga cerita ke gue, tandanya dia ga terbuka dengan gue, tapi dia ingin memberikan suprize ke gue, kalo lo itu cuma sebatas anak kolega keluarganya” sambung Silvi dengan menekan kata kolega.


***


Stevan yang baru saja sampai dipesta keluarga pratama, langsung menjumpai om Tomi, papa mika. sebelum membaur diri dengan teman-temannya. Dia ingin mengucapkan selamat kepada terlebih dahulu kepada Tomi. Dan juga permohonan maaf karena orang tuanya tidak bisa hadir diacara yang penting ini.


Saat beberapa langkah lagi Stevan sampai ketempat penyambutan tamu, dia langsung dibuat terkejut dengan wanita paruh baya yang ada ditempat itu.


“Tante...Luna!” panggilnya tak percaya, seolah-olah takdir sedang mempermainkannya.


Luna yang merasa terpanggil, langsung melihat keasal suara. Luna menyergit bingung, kenpa pemuda sebaya putranya itu bisa mengenalinya.


“Kamu...kamu kenal saya?”


***


Di tengah-tengah perdebatan Silvi dan Salsa. Tiba-tiba datang seorang perempuan yang amat dikenali Silvi. Karena kedatangan perempuan tersebut juga menghentikan perdebatan mereka berdua, dan Yora sangat mensyukuri akan hal itu.


"Silvi!" panggil perempuan itu.


Silvibuang merasa terpanggil pun langsung menoleh. Silvi membulatkan matanya saat melihat perempuan itu.


"Mira!"


tanpa aba-aba Silvi langsung memeluk Mira saat perempuan itu sudah berada didekatnya. Mira pun tak kalah memeluk erat Silvi, mencoba meluapkan rasa rindu pada sang sahabat yang sudah lama ia pendam.


Silvi senang bukan main. Ia tidak menyangka bahwa Mira benar-benar hadir. Sangking senangnya Silvi sempat melupakan keberadaan Yora dan Salsa yang tengah kebingungan.

__ADS_1


"Gue ga nyangka kalo lo datang juga mir" ujar Silvi setelah melepaskan pelukan mereka. Mira tersenyum simpul menanggapi ucapan Silvi.


"Iya donk, kan jarang-jarang nanti kita ketemu"


Salsa menyikut pingang Yora lalu bertanya dengan lirih "Siapa?" sedangkan Yora hanya menaikkan kedua bahunya sebagai tanda tidak tahu atas pertanyaan Salsa.


Yora yang melihat keakraban Silvi dan Mira, menjadi iri terhadap perempuan yang bernama Mira itu. Dia juga ingin bisa seakrab Mira. Silvi bersama dirinya sangat tertutup. Tidak seperti dengan Mira yang sangat terbuka.


Yora berteman dengan Silvi karena keinginannya bukan karena paksaan. Ia benar-benar tulus berteman dengan Silvi. Walaupun Silvi tipikal orang acuh tak acuh dengan keadaan sekitar, tapi ia tetap mau berteman dengan Silvi. Bukan karena ada maunya. Baginya, Silvi itu tidak sama dengan yang lainnya, bermuka dua.


"Gue seneng lo pindah ke jakarta, jadi banyak temen" ucap Mira sambil melirik kearah Yora dan Salsa. Yora melempar senyum kepada Mira, tapi tidak dengan Salsa.


"Gue bukan temen dia" sarkas Salsa yang langsung mendapat pelotokan dari Yora, tapi tak dihiraukan olehnya.


"Emangnya gue ada bilang kalo lo itu temrn gue? enggak kan?"


skakmat!!.


Salsa bungkam, ia tak tahu harus membalas apalagi. Padahal petdebatan ini Salsa yang mulai, Salsa juga yang memancing Silvi, tapi hasilnya, ia yang kalah, ia juga yang terpancing. Apapun yang ia katakan Silvi selalu bisa menyangkal semuanya. sebenarnya siapa Silvi?


Sementara itu, Mira menatap Silvi dengan pandangan tak percaya. Silvi berubah!!. dua kata itu terlintas begitu saja diotaknya. Mira benar-benar tidak percaya.


Dulu saat di Bandung Silvi benar-benar tertutup, ia juga jarang berbicara. pernah suatu hari, selepas pulang sekolah, ada seorang siswa yang memancing Silvi berdebat mulut, tapi Silvi malah menghindar. padahal ucapan siswa itu adalah hal yang sangat menyinggungnya. Tapi Silvi malah tidak mengubrisnya.


Seolah-olah ucapan itu bukan ditujukan padanya, tapi kenpa sekarang berbeda. Yang mereka perdebatkan itu adalah hal kecil, tapi kenapa Silvi mau meladeni hal itu?? Apakah karena pria itu?? tanya mira dalam hatinya sambil melirik kerah sekelompok pria remaja, tapi fokus netranya menatap einsten kearah satu pria yang menggunakan jas hitam yang dipadukan dengan celana jeans itu. Dengan sadar Mira menerbitkan seulas senyum terima kasih kepada pria itu.


***


Tak lama setelah itu. Terdengar suara tegas pria paruh baya yang dibantu dengan microfon agar nya memenuhi ruangan itu, sehingga menyita aktivitas para tamu. Ratusan pasang mata kini tertujubkearah panggung. terdapat Tomi yang tengah berdiri disana. Tomi mengucap rasa terima kasih kepada para tamu sebelum langsung ke intinya.


"Seperti yang tertera pada undangan yang kalian terima. Saya menyelenggarakan acara ini memang untuk merayakan pernikahan saya dengan Luna secara resmi. Tapi ada satu lagi yang menjadi alasan acara ini diselenggaran. Yaitu mengenalkan 2 ahli waris pratama group secara resmi didepan publik. Jadi saya harap, para tamu terhormat jangan heran karena saya juga mengundang para waratawan"


Tomi sedikit melirik kearah para wartawan yang kini sibuk dengan tugas mereka menulis laporan lalu sesekali mengambil gambar. Lalu pandangannya tertuju pada putri bungsunya yang juga menatap dirinya dengan pandangan datar. Tomi berani bertaruh, kali ini pasti putri bungsu nya itu sangat kesal padanya, Tomi mengulum senyum simpul saat membayangkannya.


Kini suara riuh menggantikan suara bariton yang mengisi ruangan itu.


Mika berjalan menghampiri Silvi. Lalu mengulurkan tangannya untuk membimbing Silvi menuju panggung.


"Ayo dek"


Silvi menerima uluran tangan Mika, lalu langsung berjalan dengan langkah tertata dibawah bimbingan Mika. Kakaknya itu memang sangat mengerti keadaannya yang tidak bisa berjalan menggunakan sepatu high heels yang tengah ia pakai.


Salsa yang melihat hal ini pun syok setengah mati. Dia mencoba mengingat kembali nametage dipakai Silvi berinisial P. yang berarti Pratama. Salsa merutuki kebodohannya yang menganggap Silvi itu saingannya. Padahal seharusnya Silvi itu yang seharusnya menjadi kunci kedekatannya dengan Mika. Sial!! cinta membuatnya menjadi bodoh, fikir Salsa miris.


Sementara itu Leo yang melihat Silvi berjalan dengan langkah tertata dibelakang Mika membuat jantungnya berdetak tak karuan, tiba-tiba pandangan kedua insan itu bertemu. Walaupun sebentar tapi tetal bisa membuat jantung Leo makin berdetak kencang. Leo benar-benar terpana melihat penampilan Silvi malam ini.


Hingga suara dering ponsel disaku celana jeans nya berhasil membuyar lamunannya. Leo pun bergegas keluar untuk mengangkat panggilannya.


****


hai😀👋 ada yg masih ingat sama novel ini😂😅


sorry kalo saya telat up, telat bagt malah, udah sekitar sebulan saya ga up. sorry y🙏


saya lagi insecure dengan tulisan saya😫 saya ga tau apa reades suka ma novel saya ato pun engga. saya sangat berterima kasih yg sudah mau nge vote, like, and coment cerita ini kemaren, saya benar2 mau berterima kasih yg telah menyumbang suara kalian, setidaknya itu bisa mengurangi rasa insecure saya.


Saya mohon jika like, and comen kalian untuk menambah motivasi saya dalam dunia kepenulisan ini, saya benar-benar berharap bayak dari kalian🙏🙏🙏


setelah bbrp bulan saya meraungi dunia ini, saya jadi mengerti satu hal. yaitu



jd saya harap para reades tercinta mau menyumbangkan like kalian untuk saya mengurangi rasa insecure ini🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2