
«masa lalu adalah senjata yang sangat mempengaruhi masa depan seseorang»
****
Setelah termenung cukup lama di balkon kamar. Kini Silvi sudah beralih duduk diranjang.
Bosan....
Itulah yang dirasakan Silvi. Tiba-tiba terlintas sebuah ide di otak briliant nya.
Tangannya pun bergerak menuju keatas nakas. Lalu mengambil ponselnya yg tergeletak disana. setelah itu jari jempolnya mengetuk sebuah aplikasi, yaitu Whatsaap. Lalu membuka ruang obrolannya dengan sahabatnya di bandung.
**Silvi: Miraaa....
Mira: Tuaaan... paan?
Silvi: Rindu....
Mira: Me to sil😘
Silvi: Raa kesinilah
Mira: Kok gue? lo lah!
Silvi: Ih...lo pasti lupakan?
Mira: Lupa apa?
Silvi: Tuhkan lupa. kesel gue!
Mira: Iya2 gue lupa. makanya bilangin bentar.
Silvi: Dasar nenek pikun! Malam minggu ini, ada pesta nyokap-bokap gue nek!
Mira: Lama2 ngeselin juga lo. Malam minggu ini?? Astagfirullah gue lupa.
Silvi: NENEK PIKUN!!!
Mira: Dasar sahabat durhaka lo**.
__ADS_1
Kesal dan senang.
itulah yang dirasakan Silvi saat ini. Kesal antara Mira sahabatnya itu melupakan acara itu. dan senang karena pesta Nyokap-Bokapnya menjadi acara reuni antara dirinya dan Mira. Entah kenapa tiba-tiba saja kerongkongannya terasa kering. Silvi pun memutuskan untuk turun ke dapur dengan tujuan memanjakan kerongkongannya dengan air-air segar yang ada didapur.
****
Sementara itu di ruang keluarga. Tampak Mika dan Tomi yang sedang menghabiskan waktu malam dengan dunia mereka sendiri. Sedangkan Luna sedang membersihkan piring kotor sehabis makan malam didapur.
Mika yang tengah menonton serial TV favoritnya pun mendadak menjadi tidak fokus. Sebab sedari tadi ada sebuah pertanyaan yang tergantung di otaknya. Ia hendak bertanya kepada papanya, tapi dirinya ragu. Mika menimang-nimang remot TV ditangannya. Otaknya masih memikirkan tentang pertanyaan itu. Setelah sekian lama Mika berfikir. Mika pun memutuskan bertanya kepada papanya.
"pa...." panggil Mika yang tampak ragu
Tomi yang tengah membaca koran pun tampak terusik dengan panggilan Mika. "hmm" papa jawabnya irit banget, gue jadi ragu buat nanya nih
"pa...." panggil Mika sekali lagi.
"Iya Mika, papa dengar" frustasi Tomi kepada Mika yang sedari tadi hanya memanggilnya saja, tapi tidak berbicara.
Mika memantapkan nyalinya untuk bertanya. kemudian langsung mengangkat suaranya "Pa, di pesta nanti... papa ga undang paman William?" huft... berhasil lolos juga ni pertanyaan. batin Mika sambil bernafas lega. Tapi belum beberapa detik. Mika langsung mendapat tatapan tajam dari papanya.
Walaupun tertutupi koran. Tapi Mika bisa merasakan tatapan tajam dari papanya. "Jangan sebut lagi nama itu dikeluarga ini"
Dingin diantara mereka berdua, bukan berarti dingin antara ayah dan anak seperti di novel-novel yang memiliki konflik keluarga. melainkan, sebab Tomi tidak menyukai Mika menyebut nama itu.
Tomi sangat benci dengan nama itu. Nama yang telah menghancurkan kepercayaannya. Nama yang rela meninggalkan keluarga hanya karena seorang wanita. Tomi sangat benci dengan nama itu. Terlebih lagi terhadap sang empu nama William itu.
Suasana hening nan dingin diantara ayah dan anak itu berhasil terpecahkan karena kedatangan Luna dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi. "lagi bahas apaan nih, kok bunda ga diajak?"
****
Sehabis membersihkan piring kotor sehabis makan malam. Luna pun memutuskan untuk bergabung dengan suami dan putranya yang tengah berada diruang keluarga. Luna berjalan sambil menimang nampan di kedua tangannya.
Tanpa diperintahkan. Tak sengaja indra pendengarannya menangkap pembicaraan kedua lelaki yang telah menjadi pria beharga baginya.
"pa, di pesta nanti... papa ga undang paman William?" tanya seseorang dari ruang yang berseblahan dengan dapur. Yang Luna yakin adalah putra nya.
Luna mengerutkan dahinya yang bertanda bingung. Pasalnya ia tidak lagi mendengar suara sahutan atas pernyaan putranya, Mika. Dan lagi, Luna juga penasaran akan William itu. setelah beberapa saat, terdengar lagi dari ruang sebelah. Tapi kali ini bukan dari putranya. melainkan, suaminya.
"Jangan sebut lagi nama itu dikeluarga ini!"
__ADS_1
Dahi Luna yang tadi sudah berkerut kini tambah berkerut. benarnya siapa sih William itu?
****
"Ga kok bun, kita cuma bahas tentang acara minggu ini. Iya kan pa?" tanya Mika kikuk.
"Iya jawab Tomi sambil melipat korannya lalu di letakkan di atas meja. Mendengar jawaban dari putra dan suaminya, Luna jadi yakin bahwa mereka berdua tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Yang Luna yakin tentang William.
Sejujurnya Luna ingin bertanya. Siapa William itu? tapi di urungkannya, saat melihat wajah suaminya yang tampak tidak bersahabat seperti biasa.
"Dipesta nanti, papa mau buat yang meriah. undang semua teman-teman kamu" ucap Tomi sambil menyesap kopi yang dihidangkan istrinya. Mendengar hal itu, Mika mendadak menjadi senang luar biasa. Matanya juga memancarkan binar-binar bahagia "Sip pa"
Melihat putranya begitu senang dan antusias, Luna mengulas senyum. begitu juga dengan Tomi. "Bun, tolong undang teman-taman Silvi juga ya" pinta Tomi kepada istrinya.
Luna mendadak sedih mendengar permintaan suaminya. Melihat perubahan ekspresi Luna secara mendadak itu, membuat Tomi mengerutkan dahinya. "Kenapa bun?" tanya mereka serempak.
Luna menundukkan pandangannya "Di Bandung, dia hanya punya satu teman. nggak lebih"
"Di National high dia juga punya satu teman" sahut Mika yang tampak bingung. Salahkan otaknya yang lemot ini, jangan dirinya.
Luna mendogak pandangannya kearah Mika sambil tersenyum kecut. Lalu menunduk kembali "Karena masa lalu, Silvi jadi menetupi dirinya." Tomi paham, tapi tidak dengan Mika. Dia masih bingung dengan apa yang dikatakan bundanya. Entah turunan siapa otak lemotnya itu.
Tomi mengenggambtangan mulus Luna, mencoba menyalurkan ketenangan pada istrinya itu. "Sabar bun, cepat atau lambat Silvi pasti berubah"
"Iya bun, Silvi pasti bisa berubah, Mika yakin. Silvi itu bukan cewek lemah tapi dia kuat" susul Mika dengan meyakinkan. Mika mengerti? tidak. Dia tidak mengerti. Tapi Mika mencoba untuk mengerti agar bisa menenangkan bundanya. Dia tidak mau melihat orang yang disayanginya itu bersedih.
Luna mengangkatkan kepalanya kearah Mika. Lalu mengacak pelan rambut Mika sambil mengulum senyum. Kemudian beralih kearah Tomi, suaminya. "Iya pa, papa benar. cepat atau lambat Silvi pasti bisa berubah."
Tanpa mereka sadari, ternyata sedari tadi orang yang mereka bicarakan tengah menguping pembicaraan mereka. Air mata Silvi sudah terjun bebas tanpa bisa ia tahan. Jujur, Silvi juga ingin berubah untuk terbuka. tapi ia tidak bisa, dirinya sangat takut untuk terbuka.
Silvi tidak bisa menjauh, karena ia takut. oleh karena itu Silvi memasang tampang dingin, tak acuh dan sinis. agar mereka yang menjauh, bukan dirinya. tapi tetap saja ia merasa takut. entah takut apa yang menyelimutinya. entahlah dirinya pun tidak tahu.
"Bun...pa...kak Mika. maafin Silvi yang belum bisa berubah, seperti yang kalian inginkan. Silvi takut...."
****
sorry ya karena telat up🙏🙏🙏
mohon like and coment y guys😘😘😘😊
__ADS_1