
\*\*\*\*
di tempat lain, di waktu yang sama.
Di sebuah kelas yg berada diujung koridor anak IPS, suasana didalam lokal tersebut yang awalnya ribut, tiba-tiba menjadi hening ketika seorang guru masuk lalu diikuti seorang perempuan dibelakangnya.
"selamat pagi anak-anak"
"selamat pagi buk"
"anak-anak, hari ini kalian kedatangan teman baru, jadi ibuk harap kalian bisa berteman baik ya"
perkataan sang, hanya 50% yang menjawab, dan 50% lainnya, hanya menjawab dengan suara kecil alias berbisik
"berteman baik gimana, mukanya aja jutek
subhanallah"
"rugi punya muka cantik, tapi jutek"
"iya tuh, nggak ada senyum sedikit pun"
"eh, itu bukannya cewek yang jalan sama Mika"
karena tidak ingin memperpanjang urusan, sang guru yg bernama —buk endah–pun menyuruh perempuan tersebut memmperkan diri.
"perkenalkan, nama gue Silvia Zahra Pratama, pindahan dari sekolah SMAN 1 Bandung" singkat padat dan jelas, itulah kesan pertama mereka terhadap Silvi.
Tepat di mana Silvi menyelesaikan perkenalan singkatnya tiba tiba terdengar dua pasang suara langkah kaki masuk ke dalam lokal tersebut.
"Leo, Stevan, berhenti kalian di situ!" ucap bu endah dengan nada memerintah
"dan kamu silvi silahkan duduk di samping Yora"
Yora yang merasa namanya disebut, ia pun langsung mengangkat tangan kanannya setinggi-tinggi mungkin, sebagai penanda untuk teman barunya itu.
Silvi pun langsung pergi ke tempat duduknya yakni di sebelah Yora paling pojok, kelas. tampa sadar, mata caramel milik Silvi dan mata hitam kelam milik Leo bertemu. Silvi tidak menggubris hal itu pun langsung melesat pergi menuju kursi barunya.
berbeda dengan Silvi Leo justru merasakan rindu dengan mata karamel itu, bola mata karamel milik Silvi membuatnya teringat dengan masa lalunya bersama gadis itu
"bola matanya sangat mirip dengan dia Apakah cewek tadi itu dia, nggak mungkin dia itu orangnya periang sedangkan cewek tadi jutek mana mungkin cewek itu dia"
Leo menghela nafas frustasi, hanya karena beberapa persamaan Silvi dengan si dia membuatnya terjadi perang pendapat di dalam hatinya.
"Leo, Stevan kalian berdua silakan ikut saya ke ruang BK" suara tegas milik Bu Endah berhasil membangunkan Leo dari lamunannya
"oke, buk" jawab Stevan antusias, Leo yang melihat tingkah Stevan yang begitu antusias hanya menggeleng-gelengkan kepala, leo benar benar aneh melihat karakter gila sahabatnya itu.
*****
dring....... dring .......
Bel telah berbunyi menandakan waktu istirahat pertama bagi setiap murid.
silvi membereskan buku-buku nya yang berserakan di atas meja, tiba-tiba terdengar suara aja kan dari teman sebangku barunya, Yora.
"mau ke kantin nggak sil?, sekalian gue kenalin sekolah ini sama lo, gimana?"
"Hmm, oke"
setelah berpikir beberapa detik akhirnya silvi menyetujui ajakan teman barunya, yang baru berkenalan dua jam yang lalu.
Silvi dan Yora kini beranjak keluar jelas dengan tujuan ke kantin untuk mengisi perut mereka yang telah mendemo sedari tadi untuk diisi makan.
selama di perjalanan Yora berceloteh ria tentang para siswa-siswi dan sekolah yang menampung mereka untuk menimba ilmu pengetahuan mereka.
__ADS_1
"SILVI"
panggil seseorang yang ada di belakang mereka
Silvi yang merasa namanya dipanggil langsung menghadap ke belakang.
silvi mendapati Mika yang sedang cengengesan tidak jelas kepadanya
"sori, gue telat" ucap Mika yang masih setia dengan cengesan tidak jelasnya.
kemudian Mika memasukkan tangannya ke dalam saku celananya lalu mengeluarkan selembar uang berwarna biru dan memberikannya kepada silvi.
"nih"
Silvi pun mengulurkan tangannya yang bermaksud mengambil uang tersebut.
tanpa sadar mata Mika menangkap seorang cewek bertubuh kecil yang tampak gugup, Mika melihat name tag gadis itu, bernama —Yora Syakira Anwar—, tiba-tiba Mika mendapatkan sebuah ide dari otaknya.
"muka lo, benar-benar seram ya sil, sampe-sampe lo dapat temen cuman satu, cungkring lagi ...."
belum sempat mika menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba sebuah tinjuan mendarat mulus di perutnya.
"arkh, sakit tau Sil"
rintih sambil memegangi perutnya.
"heh, sakit?, lo kagak liat, hati anak orang lo sakitin"
marah Silvi, kemudian langsung berbalik pergi dari hadapan Mika, sambil menarik pergi tangan Yora.
Jujur, sebenarnya Silvi tidak marah atas ejekan Mika kepadanya, tapi bagaimana dengan Yora, Silvi tidak mengenal bagaimana sifat Yora. apakah Yora tersinggung dengan candaan ejekan yang dilontarkan Mika?. Silvi tidak tahu.
sementara ditempat Mika
Mika masih memegangi perutnya, yang masih terasa sakit akibat tinjuan tadi.
"tu, anak, tenaganya kuli banget, sakit perut gue" ucap Mika lalu langsung melangkah pergi.
****
sesampai Silvi dan Yora di kantin, Yora menawarkan diri untuk memesan makanan, dan menyuruh Silvi, untuk mencari meja kosong untuk mereka tempati.
karena rasa penasaran nya yang sudah begitu memuncak, Silvi pun menerobos masuk ke dalam kerumunan itu.
Betapa terkejutnya Silvi melihat pemandangan di depannya.
di depannya ada seorang perempuan yang duduk di kursi, perempuan tersebut terlihat ketakutan, mukanya tertunduk.
di depannya terdapat beberapa lelaki diantara lelaki itu hanya dua orang saja yang Silvi kenal, yaitu Leo dan Stevan —teman sekelas Silvi— Silvi mengerti maksud pemandangan di depannya itu.
Silvi tidak menyangka di sekolah yang unggul mereka tempati ini juga aja orang yang suka membully.
Silvi melihat ke kiri dan ke kanan, tidak ada satupun orang yang membantu perempuan yang tengah menjadi bahan bullying sekelompok Bad Boy itu.
"heh, lo gue bilang baik-baik, tapi lo malah nyewot, lo tau aturan nggak sih" bentak salah satu dari mereka.
"gue tahu kok kak, tapi dalam aturan nggak ada yang tertulis kalo kakak kelas boleh nge-bully adik kelas"
jawab perempuan itu.
Silvi kagum dengan perempuan itu, di saat seperti ini
dia tetap berani membela dirinya, walaupun sebenarnya iya ketakutan, silvi melihat perempuan itu seperti ia melihat bayangan masa lalunya, saat di mana ia berdebat dengan papa kandungnya, demi membela dirinya dan bunda.
"berani melawan lo, ya"
Silvi pun cepat-cepat tersadar dari lamunan nya, saat ia melihat situasi di depannya semakin parah Silvi melihat lelaki tersebut hendak menampar perempuan itu,
dengan cepat silvi pun langsung melangkah ke depan dan langsung mencekal tangan lelaki itu,
tiba-tiba ada sebuah naluri yang masuk ke dalam otak Silvi, seakan-akan menyuruh silvi melakukan yang lebih kepada lelaki itu,
silvi pun mengikuti naluri itu. silvi memajukan tubuhnya selangkah, kemudian mengambil ancang mengambil lancang kuda-kuda dan langsung membanting tubuh laki-laki itu sontak seluruh siswa dan bad boy yang ada di kantin dibuat terkejut dengan aksi Silvi.
setelah meluncurkan sebuah aksi kepada laki-laki itu, Silvi pun berjalan mendekat kearah perempuan yang terduduk di kursi kantin itu,
Silvi mengulurkan tangannya ke arah perempuan itu.
__ADS_1
"lo nggak papa?" tanya silvi pada perempuan itu.
perempuan itu hanya mengangguk kecil kepada Silvi, Silvi melihat perempuan itu tampak ketakutan tubuhnya bergetar,
silvi merasa sedikit iba melihat perempuan itu, walaupun Silvi adalah seorang ice girl, tapi Silvi juga punya hati apalagi perempuan itu, membuat dirinya ingat akan masa lalu.
perempuan itu menerima uluran tangan Silvi, kemudian silvi menuntun perempuan itu untuk keluar dari si area kantin.
saat hendak melangkah pergi, tiba-tiba terdengar sebuah suara yang menghadang mereka,
"lo udah sakitin teman gue, lo nggak bisa pergi begitu aja"
Silvi menghadap ke arah bad boy itu. yang Silvi kenal sebagai leo —temannya sekelasnya—
"itu karma baginya"
ucap Silvi bagaikan malaikat kematian. para siswa yang menonton adegan tersebut dibuat ketakutan akan suara Silvi, tidak hanya para siswa bahkan Leo dan teman-teman nya pun dibuat ketakutan, tapi bukan Leo namanya kalau tidak bisa menyembunyikan ketakutan itu.
"Karma?, bagi gue enggak ada yang namanya Karma" sambung Leo
"Selama masih ada bumi maka hukum karma tetap berlaku"
ucap Silvi lalu langsung melangkah pergi, saat hendak keluar dari pintu kantin, tiba-tiba Leo membuka lagi suaranya.
"gue juga terlibat dalam pembullyan ini, seharusnya gue juga kena karma bukan?" tanya Leo.
Silvi tidak menjawab pertanyaan Leo, dia hanya membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Leo.
Silvi merasa pertanyaan Leo tadi tidak membutuhkan jawaban darinya, tapi Silvi merasa dalam pertanyaan Leo tadi ada mengandung maksud tertentu.
"Maksud lo" tanya Silvi sekedar memastikan
"kita duel silat, kalau lo menang berarti pendapatlo tentang Karma benar, tapi kalau gue menang pendapat lo salah, gimana?" tanya Leo.
Silvi tampak berpikir sejenak mengenai tantangan dan pertanyaan dari Leo.
Silvi merasa bukan tantangan itu yang terkandung dalam pertanyaan Leo, melainkan sesuatu yang lain, tapi apa?
Silvi menatap Einstein kearah mata Leo, lalu berkata.
"yakin lo mau duel dengan gue"
Leo merasa tersindir dengan perkataan Silvi. Leo tidak menjawab pertanyaan Silvi, tapi hanya memasang tanpa tampang meremehkan ke arah Silvi.
Silvi melihat tampang meremehkan dari Leo pun langsung pergi meninggalkan ruangan kantin itu.
\*\*\*\*
setelah memesan makanan Yora pun langsung mencari Silvi.
Yora melihat ke sekeliling kantin, tapi tidak menemukan Di mana keberadaan Silvi.
tak sengaja mata Yora menangkap keberadaan Silvi. Yora melihat Silvi hendak keluar dari area kantin sambil memegang tangan seorang perempuan yang diketahui Yora sebagai adik kelasnya.
"eh Silvi, Sil" panggil Yora.
tapi nihil.
panggilan itu tidak didengar oleh Silvi, karena sang Empu namanya sudah menghilang dari kantin.
Yora menghelai nafas pasrah. Ia pun menitipkan makanannya dan Silvi kepada Mbok Susi —pemilik kantin—
saat hendak melangkah pergi, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak Yora.
Yora pun menghadap ke arah orang tersebut,
mata Yora menangkap seorang lelaki yang postur tubuhnya sedikit lebih tinggi darinya
"apa?" tanya Yora dengan nada tergesa-gesa.
"anak baru yang bernama Silvi tadi, itu, kawan lo?" tanya pria itu dengan nada berbelit-belit.
"Iya, kenapa?"
"Tadi, dia..., nantangin Leo yang wakil Badboy itu" terang pria itu.
Yora yang tadinya terlihat biasa aja Tapi kini berubah menjadi panik dan berteriak histeris.
"APA"
__ADS_1
akibat teriakannya itu, kini seluruh warga kantin menatapnya dengan pandangan aneh.