
«cemburu memang hal yang sulit dihindari oleh seluruh insan yang tengah dilanda cinta»
°°°°
Suara riuh pun kembali membahana ke seluruh penjuru lapangan, bahkan sampai terdengar ke ruang guru dan OSIS yang berada di lantai 1 dan 2.
kekalahan seorang Bad Boy benar-benar mengejutkan bagi mereka, bahkan ada beberapa dari mereka yang mengabadikan momen tersebut dengan ponsel mereka.
jangan lupa yang paling senang di antara semuanya adalah para siswa kelas 1, akhirnya mereka pun terbebas dari bullying kakak kelas mereka,
bahkan ada sebagian dari mereka yang saling berpelukan,
mungkin setelah Kejadian ini Silvi akan dianggap sebagai pahlawan penyelamat oleh mereka.
Silvi melepaskan kuncinya pada Leo, Leo pun segera bangun.
Yora pun menyuruh keduanya saling membungkuk sebagai terima kasih, lalu Leo langsung melesat pergi, sebelum Leo benar-benar pergi, Silvi mengatakan sesuatu padanya membuat Leo berhenti berjalan.
"gue yang menang, lo harus turutin persyaratan gue" Leo hanya mengangguk kecil kemudian melanjutkan langkahnya.
ini benar-benar penghinaan bagi dirinya mana mungkin seorang Leo yang tidak pernah kalah dalam silat, kini dikalahkan oleh seorang gadis
rasanya Leo ingin menghilang Ditelan Bumi saja, daripada dipermalukan seperti ini
Yora memeluk erat Silvi dengan mata yang berkaca-kaca
"Silvi buat gue takut aja"
"hehehe maaf Yor, habis Gue nggak tahan lihat orang dibully" ucap Silvi panjang lebar, mungkin in pertama kalinya Silvi bicara panjang dengan Yora.
Yora melepaskan pelukannya kemudian menatap Silvi dengan mulut sedikit terbuka
"Sil, lo enggak kesambet kan?, lo kagak apa-apa kan?"
"gue nggak papa"
Yora mengangkat tangannya kemudian menempelkan di kening Silvi
"nggak demam, perasaan lo nggak kena tinjuan Leo deh" ucap Yora yang tengah berasumsi Kenapa Silvi berbicara panjang lebar dan tidak jelas padanya.
"Silvi"
tiba-tiba satu pelukan lagi mendarat di tubuh Silvi, hal itu membuat tubuh Silvi sedikit terhuyung kebelakang.
"Apaan sih lo, kayak Jelangkung aja" kesal Silvi kepada Mika yang memeluknya secara tiba-tiba
"lo nggak papa kan Sil?" tanya Mika yang masih memeluk Silvi
Silvi melihat Yora, Mika dan Daffa yang begitu khawatir dengannya, membuat dirinya sadar.
dia sudah membuat orang-orang terdekatnya khawatir kepadanya.
"maaf Kak, gue udah buat kalian semua khawatir" ucap Silvi yang mulai melembut dan membalas pelukan hangat Mika.
Tanpa mereka sadari ternyata ada sepasang mata yang sedari tadi menatap penuh kebencian terhadap Silvi
"ck, dasar cewek murahan" lalu langsung melangkah pergi.
di tengah-tengah adegan mengharukan itu tiba-tiba datang seorang perempuan berparas cantik ke tempat Silvi, Mika, Daffa dan Yora berada
"ekhem, lo pada masih tau kan, tentang peraturan sekolah" tanya perempuan itu dengan tegas sehingga membuat mereka tersentak
Mika pun cepat-cepat melepaskan pelukannya dan menghadap ke arah asal suara itu
"eh, ada ketos rupanya, Maaf gue nggak liat" ucap Mika yang kembali memasang tampang konyolnya
__ADS_1
perempuan itu menatap datar ke arah mereka, tapi dalam tatapan datar itu ada terselip rasa cemburu.
mungkin mereka tidak menyadari itu, kecuali Silvi dan dan Daffa, karena Silvi dan Daffa mengetahui bahwa saat perempuan itu menatap datar ke arah mereka, diam-diam mata perempuan itu menatap kearah tangan Mika yang menggenggam tangan Silvi
Silvi sedikit melirik ke arah nametag perempuan itu di situ tertulis
~Salsa Mahera Anwar~
Silvi mengerutkan dahinya
"Anwar" Silvi membatin
"Mika lo masih ingat peraturan sekolah ini yang melarang pacaran"
Salsa perempuan itu mulai mengintrogasi Mika lalu berlanjut menatap Silvi
"dan lo anak baru disekolah ini, Jangan karena lo anak baru lo bisa buat semena-mena di sekolah ini"
Silvi hanya diam tampa ekspresi bukan berarti Silvi tidak mampu menghadapi perempuan OSIS itu hanya saja ia malas menanggapi orang Tengah dilanda cemburu akibat cinta
"sensi amat buk, slow aja kali" ucap Daffa yang baru mengangkat suara
"Iya tuh buk ketos jangan terlalu sensi buk" susul Mika
sepertinya ucapan mereka berdua membuat Salsa naik pitam, mukanya udah memerah menahan amarahnya
"sensi, sensi, sensi apaan lo, nggak lihat nih udah jam berapa. nggak dengar bel apa kalian?"
kemarahan Salsa sudah tidak bisa ditahan lagi, kemudian Salsa menatap kearah siswa yang masih berperan sebagai penonton
"ngapain disini masih disini sana masuk"
Mika mengelus pelan dadanya kemudian berucap
"untung nggak pakai microphone kalau nggak pasti udah pecah gendang telinga gue"
"lo murid baru..."
Salsa menunjuk ke arah Silvi
"karena lu udah buat keributan ini, sebagai hukumannya, lo harus bersihin seluruh koridor sekolah sewaktu pulang selama seminggu"
kemudian Salsa pun meninggalkan
Mika yang mulutnya setengah terbuka
Yora menahan nafas
Silvi dan Daffa yang masih santai.
°°°°
Leo membasahi mukanya dengan air di wastafel yang berada di toilet pria, kemudian mengumpat kesal
"sial"
sambil meninju dinding yang ada di samping kaca
"marah?" tanya Stevan yang berada di belakang Leo sambil bersandar di dinding toilet dekat pintu.
Tadi saat Leo pergi meninggalkan lapangan, Mika, Daffa dan para teman-temannya yang lain juga hendak mengejar Leo
tapi ditahan oleh Stevan dengan
alasan Silvi juga butuh lo Kak
__ADS_1
padahal Stefan tahu Silvi bukanlah gadis lemah, buktinya dia bisa menang melawan Leo.
Steven memang baru mengenal Silvi, mereka bahkan tidak dekat sama sekali, bahkan bertegur sapa saja belum pernah mereka lakukan
tapi bagaimana Stevan bisa mengetahui sifat gadis itu?.
simpel jawabannya, yaitu melalui kejadian yang mereka lalui.
Leo sedikit melirik Stevan kemudian menatap dirinya di pantulan kaca wastafel itu.
dalam hati Ia bertanya-tanya Bagaimana Stefan ada di situ.
"tadu gue ikutin lo dari belakang" jawab Stefan yang yang seakan-akan tahu apa isi hati Leo
"dia cenayang apa?" Leo membatin
"bukan cenayang, gue cuman Tebak aja"
"tuh kan dia cenayang" Liu membatin lagi
Stevan menghela nafas panjang kemudian berkata
"huft, gue ikutin lo karena ada yang gue tanyakan sama lo"
"tanya apa?" potong Leo sambil menghadap Stevan
"jangan potong, didengarin dulu napa"
"iya gue denger"
"gue cuman mau mastiin, apa yang lulo rasain saat lo berduel dengan Silvi, selain marah dan malu. mungkin cuma gue yang rasain atau mungkin lo juga"
Leo menyerngit bingung
"Maksud lo?"
bukannya membalas perkataan Leo, tapi Stevan malah bergumam tidak jelas yang makin membuat Leo bingung
"nggak ngerasain apa-apa ya, mungkin cuma gue yang rasain" lalu langsung melangkah pergi meninggalkan Leo yang masih kebingungan
"lha, malah pergi tuh anak, gueb aja kagak ngerti sama pertanyaan dia"
jangan salahkan Leo yang lambat mengerti dengan pertanyaan Stevan, tapi Salahkanlah otaknya yang tergolong lemot.
mungkin kali ini Leo harus berterima kasih kepada Stevan karena telah membantunya meredakan amarahnya, tapi mungkin dia juga harus marah sama Stevan karena membuatnya kebingungan.
¤¤¤¤
***hay guys jumpa lagi kita,
gimana novel author seru nggak?
guys author minta like and komennya lah, please.
oh... y guys, author mau umumin sesuatu,
yaitu, untuk kedepannya mungkin author akan jarang update dulu, gpp y,
soalnya author kan udah kelas 9, kami lagi ujian,
dan lagi, di kelas 9 kan udah byk ujian2 nya nantik, author mohon kalian yang menyukai novel author mohon bersabar,
kalo udah siap ujiannya, author janji buat sering nge-up nya.
mohon bersabar ya guys.
__ADS_1
sampe ketemu di chapter berikutnya ya guys😊😉😘***