Ice girl vs bad boy

Ice girl vs bad boy
Chapter 4


__ADS_3

«terjebak dalam masa lalu ada hal yang paling menyakitkan»


°°°°


setelah mendengar berita dari pria seangkatan dengan nya itu. Yora pn cepat-cepat bergegas untuk mrncari Silvi.


Yora terlihat panik, ia berlari-lari sepanjang koridor, tapi hasilnya nihil, Yora tidak menemukan dimana keberadaan Silvi.


Yora kini, tetap masih fokus terhadap pencarian Silvi. tanpa sadar, ia ber tubrukan dengan seseorang. dan hasilnya mereka berdua jatuh terduduk.


"aduh, bokong gua" rintih seseorang itu.


Yora yang juga jatuh terduduk pun segera bangun dari duduknya. lalu langsung menatap ke depan.


Yora sedikit terkejut dengan orang yang ditubruknya adalah Mika.


"duh, gimana sih lo, jalan tuh, juga pake mata, nggak pake kaki doang" bentak Mika kepada Yora


"ma, maaf kk, tadi gue nggak liat ada lo" ucap Yora yang sedikit takut


Mika pun bangun dari duduknya dengan tangan yang masih mengelus pantatnya yang kesakitan.


sama halnya dengan Yora, Mika juga terkejut dengan orang yang menubruk nya ternyata Yora.


"elo..." ucap Mika seraya menunjuk Yora.


"pas, banget, dah, mana Silvi?" tanyanya pada Yora.


"eh, itu kak ... itu... anu..."


"yang jelas kalo ngomong, gue nggak ngerti"


"itu kak, tadi Silvi nya hilang sendiri, gue juga lagi nyari dia nih kak"


"arkh.... kemana sih tuh anak, nyusahin orang aja" kesal Mika sambil mengedarkan pandangan keselilingnya.


"kalo gitu, gue mau minta tolong, buat nge-nyariin dia bentar, kalo, lo ketemu lapor sama gue. gue juga mau nyariin dia nih" pinta Mika pada Yora.


Yora pun mengangguk patuh, kemudian mereka berdua pergi dengan arah berlawanan, meninggalkan koridor itu.


°°°°


sehabis dari kantin kini Silvi tampak berjalan di sepanjang koridor di ikuti dengan seorang cewek yang ia tolong tadi, saat di kantin.


tiba-tiba, dari belakang perempuan itu bersuara.


"kak... soal tadi... makasih ya, dan juga maaf udah buat kakak terlibat" ucap perempuan itu memecahkan keheningan diantara mereka.


tiba-tiba Silvi menghentikan langkahnya, sontak perempuan itu pun menghentikan langkahnya, kemudian Silvi membalikkan badannya dan menatap kearah cewek itu.


"iya, nggak usah dipikirin lagi, oh, ya, itukan kelas lo? masuk gih" kata Silvi seraya menunjukkan sebuah kelas.


"eh, iya kak, sekali lagi, makasih ya kak" ucap perempuan itu, untuk kedua kalinya, kemudian langsung melangkah masuk.


Silvi hanya mengangguk kecil dengan sebuah senyuman menghiasi muka cantiknya.


setelah cewek itu banar-benar sudah masuk kedalam kelasnya, Silvi pun segera beranjak pergi dari tempat itu.


setelah mengantar perempuan itu ke kelasnya yang berada dilantai 1, kini Silvi sudah berada di lantai 3, tempat dimana koridor anak kelas Xll.

__ADS_1


selama di perjalanan, banyak anak kelas Xll yang menatap kearah Silvi.


Silvi tidak mengubris pandangan mereka. ia masih. fokus pada tujuan awal nya kesini, yaitu mencari Mika, kakaknya.


tiba-tiba ada seseorang yang menepuk kecil pundak Silvi.


"Silvi" panggil seseorang itu.


merasa familiar, Silvi pun segera membalikkan tubuhnya dan menghadap ke seseorang itu.


"Kak Daffa" tanya Silvi memastikan.


"Iya, ini gue, lo Silvi kan" Tanya Daffa balik.


Silvi pun tersenyum singkat "iya kak"


"nggak nyangka gue, lo, masuk sini juga, ya"


"kata Papa, biar satu sekolah gitu, sama kak Mika"


Daffa bermanggut-manggut


"Om Tomi memang benar, lebih baik kalian satu sekolah"


"Oh ya Silvi, lo nyariin Mika?"


"Iya, Kak Daffa tau, kak Mika ada dimana?"


"gue juga nggak tau, dimana tu anak, tadi waktu bel, langsung ngilang aja tuh anak" jawab Mika yang tampak kesal dengan Mika, yang langsung meningalkannya sendiri.


kemudian silvi terkekeh pelan, lalu langsung di tatap heran oleh Daffa.


"enggak, aneh aja, kenapa ya kak Daffa bisa temenan sama kak Mika, padahal kak Mika otaknya rada gresek dikit, gue aja bingung, kok kak Mika sih yang jadi kakak gue, kenapa nggak lo aja" ucap silvi yang masih setia dengan nada bercandanya.


"hahaha iya juga ya, kenapa ya," tawa Daffa.


tiba-tiba ada suara yang mengejutkan mereka dari belakang.


"gue denger, gue denger nih" ucap suara itu yang sedikit berteriak.


kemudian Daffa dan Silvi menghadap ke arah asal suara itu.


"baguslah kalau lo denger, jadi, gue nggak dapat dosa" jawab silvi santai


"teganya kamu Silvi, Daf liat nih, dia nyakiti hatiku" ucap Mika yang mulai dramatis.


"elah, korban drama lo" ucap silvi ketus


"kamu sungguh tega Silvi, kau menyakiti hatiku" kini drama Mika mulai menjadi jadi,


karena malas menanggapi mika yang mulai dramatis, Silvi langsung melangkah pergi sambil berkata,


"kak Daffa, tolong ruqyahin kak Mika bentar ya, gue males nanggapin dia yang dramatis gini"


"oke, serahin aja sama gue Sil, lo tenang aja" ucap Daffa sedikit berteriak,


kemudian dibalas oleh Silvi yang mengangkat tangannya, dengan jari tengah manis dan kelingking terangkat ke atas dan jari telunjuk dan jempol menyatu membentuk huruf O, sebagai maksud oke, lalu silvi menghilang dari pandangan Mika dan Daffa.


°°°°

__ADS_1


di tempat lain di rooftop terdapat Leo dan Stevan yang tengah terduduk di lantai tanpa alas, keheningan menyelimuti mereka berdua.


Stevan mengangkat suara bermaksud memecahkan keheningan diantara mereka.


"lo nantangin Silvi karena dia kan?"


Stevan masih setia menatap kearah langit bewarna biru cerah itu, sama halnya dengan Leo.


Leo sedikit melirik Stevan dengan ekor matanya. kemudian menatap kembali kearah langit biru itu.


Stevan yang melihat Leo hanya terdiam, lalu mengambil inisiatif bahawa pertanyaan nya tadi berjawaban iya.


Stevan menghelai napas gusar, dia lelah dengan masalah ini.


kenapa Leo selalu terjebak dengan masa lalu?


tidak bisakah Leo berpaling dari masa lalu?


banyak pertanyaan dari benaknya.


jujur, Stevan paling benci dengan sifat leo seperti ini, ini membuatnya frustasi


"yo, dia itu udah ga ada, dia itu udah bahagia disana" kata Stevan yang menatap kearah langit.


mendengar perkataan Stevan, Leo merasa tidak terima, ia pun menyergah perkataan Stevan dengan nada meninggi.


"nggak, dia masih disini"


"yo... kejadian 10 tahun silam itu udah jelas, seluruh indonesia juga tau kejadian itu" Stevan menatap kearah Leo.


Leo mengatup keras rahangnya, ia tampak marah, krnpa semuanya malah percaya kepada asumsi polisi yang tidak jelas itu, padahal jelas-jelas mayat nya belum ditemukan, tapi kenapa mereka malah mengklaim bahwa dia sudah tiada.


"mayatnya aja belum ketemu sampe sekarang, mana mungkin dia udah ga ada"


"juustru karena sebaliknya yo, mayat nya udah ga ditemuin selama 10 tahun lebih, mana mungkin masih di bilang hidup" kemudian Stevan menghelai nafas sejenak dan mulai berkata lagi.


"hah.... seterah lodeh yo, gue capek, gue capek dengan masalah ini. tenangin diri lo dulu, gue mau langsung balik. jangan lupa lo, hari ini udah nantangin Silvi"


kemudian Stevan pun beranjak pergi dari tempat itu.


saat satu langkah lagi mencapai pintu, Stevan menghentikan langkahnya, lalu berguman kecil, tapi masih bisa di dengar oleh Leo.


"Silvi dan dia itu beda orang, mereka nggak satu, walaupun ada kesamaan Silvi terhadap dia, tapi sifat mereka beda"


setelah itu Stevan pun langsung melangkah pergi meninggalkan Leo yang masih tenggelam dalam masa lalu.


*ga papa kan, kalo gue berharap dia masih disini*.



\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-


***hai guys, maaf y kalo author kelamaan update, maaf juga y kalo dalam cerita banyak tulisan yg salah, author ngebut soalnya, hehehe.


oh y guys, jgn lupa ikuti author y


vote dan komen juga di perlukan guys, biar author makin semangat update nya.


bye semoga jumpa lagi di chapter selanjutnya😇😉😊***.

__ADS_1


__ADS_2