Ice girl vs bad boy

Ice girl vs bad boy
chapter 1


__ADS_3

«Terima kasih atas kehadiran kalian, sebagai keluarga terbaikku»


🌸🌸🌸


   Di saat matahari pagi terbit dan menyinari seluruh isi permukaan bumi, buat seluruh insan terbangun dari mimpi indah dan buruk, bagi mereka yg memimpikan mimpi indah, mereka pasti merasa kesal kepada sinar matahari pagi yang membangunkan mereka dari mimpi indah, dan sebaliknya bagi mereka yang memimpikan mimpi buruk, mereka pasti sangat berterima kasih kepada kepada sinar matahari pagi yang membangunkan mereka dari mimpi buruk.


    Suara kicauan burung-burung yg beterbangan di langit bewarna biru cerah ditambah dengan angin sepoi-sepoi pasti cukup untuk menjadi alarm Bagun tidur bagi mereka yang memimpikan mimpi indah. Begitu juga yg dirasakan oleh seorang gadis remaja yang memiliki paras wajah yg cantik nan imut, gadis tersebut bernama Silvi. Dirinya sedikit merasa kesal dengan panasnya sinar matahari yg masuk melalui celah-celah gorden, ditambah dengan suara kicauan burung, sehingga membuat acara tidurnya terganggu. Ingin rasanya untuk tidur kembali, tetapi ia tidak bisa, karena dirinya harus bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah barunya, hari ini. Tidak mungkin kan dirinya membuat kesan buruk dihari pertamanya sekolah, dirinya pun memaksakan kedua bola matanya untuk dibuka, sehingga menampakkan dua bola mata karamel yang sangat indah untuk dipandang.


“hoamm”


  Jujur, rasanya Silvi ingin tidur lagi, karena semalam dirinya tidur telat alias bergadang. Ya.... apa lagi kalau bukan karena menonton anime. Yup, silvi adalah seorang gadis pecinta anime atau yang lebih sering didengar adalah wibu, Silvi sangat suka dengan hal-hal ke jepangan,ini bukan berarti Silvi tidak menyukai budayanya sendiri, hanya saja ia kagum dengan budaya Jepang dan para penduduk Jepang.


    Silvi sudah mengenal anime sejak kelas 1 SMP, saat dirinya sedang mengotak-atik leptop bundanya, dan menemukan sebuah file yg berisi dengan anime, mulai dari situlah Silvi mulai menyukai anime, dan masalah kebiasaan buruk yang bergadang sampai tengah malam di sebabkan oleh anime-anime yg seru.


    Jam masih menunjukkan jam 05,39 pagi, ini masih sangat awal, padahal tadi malam dirinya tidur jam 00,00 malam , tapi ia masih bisa bangun cepat. Silvi tidak ingin ambil pusing, dirinya pun cepat-cepat mengambil posisi duduk dan segera turun dari ranjang nya. Silvi pun memulai ritual paginya. Dari membersihkan tubuh nya hingga memakai seragam sekolah barunya, tak lupa pula  juga dirinya melakukan ibadah salat subuh.


    Silvi sekarang tengah berkaca berukuran sedang yang ada di kamar nya, Silvi menatap pantulan dirinya yg ada di cermin, mulai dari bagian atas yaitu rambutnya yg diikat ke belakang sehingga menambahkan kesan manis baginya, baju putih yang telah ditambah simbol sekolah serta rok abu-abu yang panjang selutut, dan dibawahnya terekspos kulit putih nan indah, dan ditutupi oleh kaus kaki yang panjang nya sebetis.


     Ini yang kedua kalinya dia merasa gugup, seketus, dan secuek nya Silvi, dia juga seorang manusia, dia juga bisa merasakan gugup, dirinya akan merasa gugup ketika ratusan mata menatap kearahnya, begitu juga dengan kali ini, ia tidak bisa membayangkan jika saat perkenalan diri nanti di sekolah barunya.


   "Gue nggak boleh gugup, gue harus hadepin situasi ini, ini pertarungan gue"


    Kali ini kebiasaan buruk Silvi keluar, menyemangati dirinya sendiri adalah salah satu kebiasaan buruk Silvi selain bergadang.


     Silvi tidak ambil pusing, dia pun membalikkan badannya untuk berjalan kearah pintu dan keluar dari kamarnya.


     Dari arah kejauhan, Silvi melihat bundanya yang sedang menata meja makan sambil bercanda gurau dengan papa nya, Silvi yang melihat dari arah kejauhan hanya tersenyum kecil, sudah sangat lama Silvi tidak melihat senyum bundanya yang semeriah ini, ia tidak pernah menyesal menerima papa Tomi sebagai papa barunya, dan pendamping baru bagi bundanya.


     Tomi yang sedang bercanda gurau bersama istrinya melihat putri bungsunya yang sedang berdiri di ruangan keluarga sambil menatap mereka dengan senyuman kecil terukir jelas di muka cantiknya.


" kamu sudah bangun ya sayang sini gabung bareng sama bunda dan papa"


mendengar ucapan sang suaminya Luna pun menghentikan sendalnya dan menggantikan dengan senyuman tulus seorang ibu.


"Eh, Silvi sayang mari gabung" ajak Luna kepada Putri bungsunya


"bentar lagi aja Bun...Pa... Silvi bangunin Kak mika aja dulu ya"


Silvi pun langsung membalikkan badannya untuk mendekati kearah tangga.


"benar juga, kalau begitu tolong kamu bangunkan kakakmu Bentar ya, sayang"


"Iya Pa."


      Silvi membuka pintu kamar kakaknya yang berada di ujung lantai 2, kamar tersebut benar-benar hening,karena pemilik kamarnya kamar tersebut sedang tertidur pulas di atas ranjang, Silvi pun memaksakan dirinya untuk masuk ke dalam kamar Kakak barunya itu


"puas banget tidur nya, ni, manusia.."


melihat muka kakaknya yang tertidur pulas tiba-tiba di otak Silvi mendapatkan sebuah ide.


"Kalo gue bangunin dia dengan cara biasa, pasti nggak bakalan bangun, mending gue bangunin pakai jurus andalan gue"


kali ini ini seringai jail Silvi tercetak jelas di muka cantiknya. Silvi pun langsung menggerakkan tubuh dan tangannya sehingga membentuk kuda-kuda, setelah memastikan kuda-kuda nya sudah pas, Silvi pun langsung melancarkan tinju andalannya, tepat di perut kakaknya


"Aakh"


   Kini suara hening tersebut terganti oleh suasana rintihan Mika yang sedang kesakitan akibat tinjuan dari Silvi.


Silvi yang mendengar suara rintihan tersebut pun langsung menyeringai puas.


    Mika yang mendapatkan tinjuan dari Silvi jika pun langsung membuka matanya sambil memegangi perutnya yang sedang kesakitan itu.


     Mika mendapati adik yang tengah berdiri disamping ranjangnya dengan seringai mengejeknya


"Lo mau nge-bangunin gue atau mau nge-bunuh, hah"


"Mau nge-bunuh lo"


"Tega lo, ya, sama Kakak lo sendiri"


     Silvi tidak menggubris perkataan kakaknya itu, dia langsung ke tempat meja belajar kakaknya yg terletak disamping lemari pakaian kakak nya, untuk duduk di kursi belajar itu.


      setelah memastikan duduknya sudah pas dia langsung menggerakkan tangannya untuk membuka laci meja belajar kakaknya dan mengambil sesuatu benda yang  berukuran sedang di dalamnya


" hei hei ngapain lu ambil laptop gua"


mika beranjak bangun dari ranjang nya dan langsung menghampiri adiknya itu, yang tengah berada di meja belajarnya

__ADS_1


"bentar gue mau periksa apa anime kesukaan gue udah update atau belum"


" oh bilang lagi tadi"


" apa passwordnya"


" pratama"


mendengar jawaban dari kakaknya Silvi pun langsung mengetik password tersebut.


"Lo, ngapain masih disini, sana mandi!"


ucap Silvi yang menyadari kalau kakaknya tersebut masih berada di samping dirinya


"iya iya gue mandi sekarang"


    Mika memilih untuk mengalah tanpa ada perdebatan, ia merasa kalau adiknya Itu tengah  PMS


“ kalau cewek lagi PMS sering nya minta ampun ya” gumam Mika di dalam benaknya


Mika pun langsung melangkah pergi meninggalkan Silvi yang tengah mengotak-atik laptopnya, dan masuk ke dalam kamar mandi.


    Butuh beberapa menit untuk Mika menyelesaikan ritual mandi paginya, Mika pun langsung melangkah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya, ia mendapati adiknya yang tengah tertidur pulas di atas meja belajarnya dengan laptop masih menyala.


    Mika berjalan kearah Silvi yang sedang tertidur pulas itu Pandangi muka adiknya yang begitu imut saat tertidur, Mika menggerakkan tangannya, hingga menyentuh bagian puncak kepala Silvi— rambutnya— lalu mengacak pelan.


"Jika kita dipertemukan dalam keadaan yang bukan adik kakak pasti gue udah jatuh hati sama lo"


    Mika hanya tersenyum simpul setelah mengucapkan kata-kata tadi tanpa sadar matanya melirik ke arah jam yang ada di samping laptopnya itu Jam sudah menunjukkan jam 05;45


dengan cepat mika menurunkan tangannya yang ada di kepala Silvi.


"udah telat nih gue harus cepat-cepat keburu Nona Silvi marah"


    Mika hanya tersenyum sambil bergidik ngeri membayangkan dirinya menjadi objek marahnya Silvi, entah apa yang terjadi pada dirinya kalau menjadi objek marahnya Silvi, mungkin Mika tidak akan sempat melihat hari esok.


    Mika langsung menggerakkan kakinya untuk melangkah ke lemari pakaiannya yang berada disamping meja belajarnya butuh beberapa detik Mika sampai di depan lemarinya, Mika pun langsung membuka lembar tersebut kemudian mengambil pakaian sekolahnya lalu menutup kembali lemari itu, Mika langsung meninggalkan lemari tersebut dan kembali masuk ke dalam kamar mandinya,


setelah beberapa menit kemudian Mika keluar dari kamar mandi dengan pakaian sudah melekat di tubuhnya,


mata Mika tertuju ke arah Silvi yang masih tertidur pulas


  tidak ingin mengambil pusing Mika menggerakkan kakinya untuk membawa tubuhnya ke depan cermin berukuran sedang yang ada di kamarnya,


Mika memulai ritual merapikan rambutnya, tangannya bergerak memulai menyisir rambutnya.


tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk ritualnya hanya beberapa menit saja sudah cukup baginya, sekarang Mika sedang memperhatikan dirinya dari pantulan cermin


"udah berapa cewek yang kena tepe-an lu" mika terkejut mendengar suara tersebut, sejak kapan adiknya itu bangun, mika pun cepat-cepat menoleh kearah Silvi


" Lo pikir, cewek tuh, ada, buat dimainin apa?" Sontak suara Silvi meninggi.


"Bukan gitu sil Kakak nggak pernah mainin cewek kok tenang aja"


   Mika berusaha menjelaskan kepada Silvi, dirinya tidak mau adiknya itu salah paham padanya, mungkin Mika memang cowok playboy, tapi dia tidak pernah merusak cewek manapun, karena dirinya Masih menghargai adiknya itu, tidak hanya adiknya, dia juga menghargai mamanya dan Bundanya alias nama barunya.


"Beneran lo" tanya Silvi dengan penuh curiga


    Silvi menatap dalam mata kakaknya itu, dirinya berusaha mencari kebohongan di mata itu. nihil. Silvi tidak menemukan tanda-tanda kebohongan di mata itu Silvi pun menyerah mencari kebohongan tersebut


"ya udah, ayo kita turun Bunda sama papa udah Tungguin kak mika dari tadi"


    Silvi langsung memutar tubuhnya dan langsung bergegas terbuat dari keluar dari kamar Mika.


    Mika mengikuti langkah Silvi dari belakang, dengan pikiran masih hanyut dalam rasa bersalah.


“maafin, gue, Sil, kakak jadi harus berbohong sama lo, kalau lo nggak suka dengan sikap kakak yang player ini, kakak akan berusaha untuk merubah sikap kakak ini, dan kakak akan berusaha menjadi kakak terbaik buat lo” ucap mika dalam hatinya sambil menatap punggung Silvi yang berjalan di depannya.


   Silvi Dan mika sekarang hendak turun ke lantai bawah, menggunakan tangga yang ada di ruangan keluarga


di ruang makan yang bersebelahan dengan ruang keluarga, kini tampak sepasang pasangan paruh baya, yang dimana sang istri sedang berusaha menyajikan makanan diatas meja dengan senyuman menghiasi mukanya, dan dimana sang suami sedang bercanda Ria sang istri tercintanya


"Mas bisa aja"


"Ya bisa dong"


Canda mereka yang menghiasi ruang makan tersebut

__ADS_1


"Wah Bunda sama papa kayaknya punya cerita lucu nih, bagi dong sama kita, ya kan Silvi" ucap Mika yang baru muncul di ruang makan itu lalu disambung dengan kemunculan Silvi yang ada di belakang Mika.


"Iya nih Bun... Pa... bagi donk"


   Tomi dan Luna tampak terkejut dengan kehadiran kedua anak mereka, tomi yang cepat tersadar dari kagetnya pun, cepat-cepat mengalihkan topik pembicaraan mereka


"Eh Mika, Kamu sudah bangun?, tumben ya kali ini Bangun cepat nggak kayak biasanya"


   Mika yang merasa tersindir dengan ucapan Papanya pun,cepat-cepat membalas perkataan Papanya, sambil berjalan mendekati meja makan, dan disusul oleh Silvi dari belakang


"apaan sih pa emangnya Mika nggak boleh bangun cepat, apa"


"hahaha, boleh kok lebih bagus lagi kalau kamu bangun cepat tiap hari, kayaknya Silvi bisa diandalkan buat nge-bangunin kamu, Iya kan Bun"


"iya nih pa" jawab Luna yang sedang duduk disamping suaminya


   Mendengar perkataan Papanya Mika jadi teringat dengan kejadian di kamarnya, saat silvi membangunkannya dengan sebuah tinjuan, mika mendadak jadi kesal


"bisa diandelin Gimana sih Pa, Mika mendingan bangun telat aja, daripada dibangunin sama Silvi" ucap Mika dengan nada Ketus Ketus nya


"Lho kenapa, kan, bagus dibangunin sama adik kamu, ya kan Silvi, kamu nggak keberatan kan?"


"Iya pa, Silvi nggak keberatan kok"


    kali ini Silvi memasang senyum mengejek ke arah Mika


"nggak, pokoknya Mika nggak mau dibangunin sama Silvi, kalau mika dibangunin sama Silvi setiap hari, yang ada Mika bisa cepat mati"


"kok cepat mati"


"kok cepat mati"


    Tanya Tomi dan luna secara bersamaan, kemudian keduanya hanya memandang satu sama lain, kemudian langsung menghadap ke arah Mika dengan ekspresi bingung.


"Iya Kak kok cepat mati sih, kan Silvi bangunin kak mika, dengan kasih sayang" ucap Silvi dengan memasang tampang polosnya, Mika yang melihatnya Silvi memasang tampang polosnya, kini mendadak jadi kesal


"kasih sayang apaan lo, tinju gitu lo bilang kasih sayang"


"iya" jawab Silvi yang masih memasang tampang polosnya


"durhaka lo"


    kali ini suara percakapan antara Mika dan Silvi Terganti dengan tawa milik Tomi dan Luna


"hahaha"


"Bunda sama papa kok ketawa sih" tanya Silvi yang masih setia dengan wajah polosnya.


    Mika melihat kearah Silvi dengan tatapan kesal bercampur bingung


"ni anak polosnya betulan atau bohongan sih" tanya mika di dalam hatinya


"Silvi, beneran kata Abang kamu kamu bangunin dia dengan tinjuan" tanya Tommy yang masih berusaha memadamkan tawanya


"Iya Pah"


"Bunda ada ide nih" kali ini Luna ikut bersuara


    Mika yang menyadari tadi menatap kesal ke arah pembicaraan Tommy dan Silvi pun langsung menatap Luna dengan penuh harap agar Bundanya itu berpihak padanya.


"ide apa Bun" tanya Tommy sambil melihat ke arah Luna istrinya lalu disusul dengan suara yang bernada polos dari Silvi


"iya, ide apa Bun"


"Gimana kalau Mika dibangunin sama Silvi aja, setiap hari biar Mika cepat bangun gitu, Gimana setuju kan Pa"


"Iya Papa setujuz Kamu setuju kan Silvi, Mika"


"Setuju Pa..." ucap Silvi yang kini memasang saringan jail kearah Mika


"Nggak, aku nggak setuju"


   Berbeda dengan Silvi, Mika saat ini tampak kesal, bisa-bisanya tadi dia berharap kepada bundanya, mana mungkin Bundanya mau berpihak padanya, padahal dirinya saat ini tengah menjadi bahan bullying keluarganya.


"Sudah Sudah, Tidak usah disambung lagi, Mari kita makan, yang ada nanti Pada telat"


   ucap Luna yang menyudahi serangan bullying kepada Putra sulungnya Mika.

__ADS_1


    


__ADS_2