
Hallo🤗 sebelum baca. tolong baca note ini bentar y, supaya ga bingung.
Note: Zia \= sebutan bibi untuk bahasa Italia
___
Selesai pesta pernikahan nyokap Silvi dan bokap Mika, besoknya Silvi langsung disibukkan dengan berbagai acara untuk menjawab rasa penasaran publik mengenai keberadaannya sebagai salah satu ahli waris Pratama group. Mulai dari melakukan pers, sampai menghadiri acara-acara yang diadakan oleh rekan bisnis Pratama group.
Silvi benar-benar kesal dengan papa barunya itu. Tapi ia lebih kesal dengan Mika. Jika bukan karena Mika yang memberi tahukan masalah mengenai dirinya di sekolah, bahwa diri sering dibully mungkin papanya tidak akan bersikeras untuk mengumumkan keberadaannya pada publik. bahkan bundanya juga ikut mendukung rencana ini. Silvi mendegus kesal.
Mika yang tengah menyetir mobil itu tersenyum simpul melihat kekesalan adik tirinya itu. Saat ini mereka berdua dalam perjalanan ke sekolah. Sebenarnya Mika tidak tega melihat adiknya yang baru saja pulang dari Bandung itu, tanpa istirahat langsung pergi lagi le sekolah. Mika sudah memaksa Silvi untuk tidak pergi ke sekolah hari ini. Tapi sifat keras kepala Silvi membuatnya harus mengalah.
"Udah lah dek, jangan ngambek lagi donk!" akhirnya Mika memutuskan untuk buka suara, daripada pertengkaran konyol ini terus berlanjut.
Silvi memalingkan wajah keluar, melihat jalanan yang sedikit sepi itu. wajar, karena saat ini masih tergolong awal untuk kariawan kantoran. jadi banyak anak sekolah yang berangkat pagi-pagi untuk menghindar kemacetan tak berujung.
"Salah siapa coba?"
"Iya, gue tau, gue salah! Tapi kalo papa engga umumin ke publik, yang ada nanti cacian mereka berubah jadi tindakan pembulian untuk lo dek!" Mika menjelaskan kekhawatirannya pada Silvi, pandangan matanya sesekali melirik Silvi yang tengah mengacuhkannya.
"Ga ada yang jamin kak!"
"Setidaknya kemungkinan terjadi tindakan itu kecil dek!"
"Seterah lo deh kak!" Silvi memilih mengalah. lagian semuanya sudah terlanjur, berita-berita itu sudah tersebar keseruluh pelosok negeri, saat ini berita itu menjadi trending topik di sosmed.
drrtt...drrtt....
Dering ponsel itu mengalihkan pandangan Silvi. Ia langsung mengambil ponselnya yang berada di jok mobil. Sebelum mengangkat panggilan itu, Silvi sempat membaca nama yang tertera disana.
Zia Chiara is calling....
Silvi langsung menekan tombol hijau, lalu medekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo, ada apa Zia?!" tanya Silvi langsung to the point, membuat seseorang diseberang sana langsung tertawa renyah.
"Hahaha...Emang kamu banget ya Sil, selalu langsung to the point. Emangnya Zia ga boleh telepon kamu kalo gada apa-apa"
Silvi mendegus kesal "Biasanya Zia emang gitu"
Senyap-senyap Mika merasa penasaran dengan obrolan Silvi dengan seseorang diseberang sana yang dipanggil Silvi dengan sebutan Zia. Karena rasa penasaran yang begitu besar, Mika langsung mematikan musik yang mengisi keheningan mereka tadi. Mika memfokuskan pendengarannya pada pembicaraan Silvi.
Sekali lagi suara tawa kembali mengisi pendengaran Silvi "Zia mau nelpon Silvi bukan untuk ketawa aja kan? pasti ada sesuatu yang mau Zia bilang!"
"Kamu emang pintar nak! turunan siapa itu?"
"Turunan bunda lah, masak pria itu!" ada nada tak suka saat Silvi menyebutkan pria itu. Dan hal itu membuat alis Mika bergelombang.
"Udah Zia, ga usah bertele-tele lagi! Silvi mau sampe ke sekolah ni!"
"Iya, Zia cuma mau ucapin selamat ya nak"
"untuk?"
__ADS_1
"karena kamu sudah jadi salah satu pewaris pratama group!"
"Bunda bilang ya Zia?"
"Iya, tadi bunda kamu nelpon Zia"
Silvi menghelai napas sejenak. Silvi jelas tahu, Zia tengah berbohong saat ini. Dia yakin pasti Zia-nya meng-hack situs indonesia. Jika Zia tahu maka sudah jelas kalau mereka juga akan tahu. Cepat atau lambat mereka pasti akan tahu mengenai keberadaannya!.
"Aku tau Zia! Ga usah sembunyiin lagi! Meraka sudah pasti menemukan keberadaan ku! Cepat atau lambat, dan itu pasti!"
Mika melirik sekilas wajah Silvi, raut wajah sedikit sendu. ucapan Silvi tadi membuatnya sedikit bingung. Siapa mereka yang Silvi maksud? apa maksud kata-kata itu tadi?. Penuh pertanyaan tak terjawab dikepalanya.
"Kamu jangan khawatir nak! Kamu udah Zia anggap sebagai anak Zia sendiri! Zia ga bakalan izinin mereka untuk ambil kamu lagi sayang!"
Mata Silvi berkaca-kaca mendengar penuturan itu. Dia sangat tersentuh. Silvi tak menyangka jika ada orang lain yang masih peduli padanya. "Makasih Zia" ucap Silvi yang sedikit bergetar karena menahan tangis.
Mika mengamati Silvi dalam diam. Hatinya bertanya-tanya, ada apa? Rasa penasarannya semakin meningkat dengan seseorang diseberang sana itu.
"Sama-sama nak. yaudah Zia tutup dulu ya. kamu harus fokus sama sekolah kamu! masalah mereka biar Zia yang ngurus. ngerti?!"
"Iya Zia"
"bagus"
Silvi menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Lalu memasukkan benda itu kedalam tasnya. Silvi menatap Mika yang juga menatapnya. Silvi menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa berhenti?"
"Udah sampe!"
"Lo asyik telopanan tadi, sampe-sampe ga nyadar kalo udah sampe!" sinis Mika tampa dihiraukan oleh Silvi.
"Yaudah, gue turun sekarang!" Silvi langsung membuka tali pengamannya, kemudian beralih membuka pintu mobil Mika.
Silvi hendak melangkah masuk kedalam gedung itu, tapi suara Mika berhasil menunda niatnya.
"Dek, kalo ada yang gangguin lo langsung lapor aja sama gua!!"
"Bukannya tadi lo bilang kalo gue udah di umumin sebagai pewaris Pratama group, ga bakalan ada yang gangguin gua lagi!!" Sinis Silvi sebelum melanjutkan langkahnya lagi
"Kok gue punya adek mulutnya tajem gini ya?"
***
Silvi berjalan menyusuri koridor sekolah nya. Banyak pasang mata yang tertuju padanya serta ucapan yang mereka bisikan dengan sesama teman mereka terdengar di telinga nya. Walaupun samar-samar tapi pendengaran nya bisa sedikit menangkap pembicaraan mereka.
"Eh...lo tau ga?"
"Apa?"
"Ternyata perusahaan Pratama group punya dua ahli waris!"
"Eh yang bener lo"
"Bener lah. Lagian tuh, beritanya udah jadi trending topik tau ga sih"
__ADS_1
"Tapi bukannya pewaris Pratama group itu cuma Mikaela aja. Kan CEO nya punya satu anak"
"Iya, ini anak dari bini ke duanya. Kan pernah dikabarin kalo dia nikah lagi"
"Iya juga sih. Emang siapa sih anaknya?"
"Silvi si anak baru itu, yang dikabarin dekat ama Mika"
"What"
Silvi terkekeh geli mendengar salah satu bisikan itu. Wajarlah dia dekat dengan Mika, secarakan Mika itu adalah abangnya sendiri. Masih banyak lagi bisikan yang Silvi dengar. Dari semua bisikan itu Silvi sedikit bersyukur karena tidak ada kata cibiran lagi yang dilontarkan oleh mereka.
Langkah Silvi terhenti saat tiba-tiba muncul seseorang didepan nya. Perempuan itu nundukkan pandangannya sehingga membuat Silvi tidak bisa melihat dengan jelas muka perempuan itu.
"Ka-kak Silvi!" panggil perempuan itu dengan nada sedikit bergetar. Silvi tidak bisa menebak kenapa suara perempuan ini seperti ketakutan.
"Apa?" Tanya Silvi dingin. Sebenarnya dia sedang kesal dengan perempuan ini karena menganggu waktu berharga nya.
"I-itu...." Perempuan itu memainkan jari tangannya. Sepertinya dia tampak sangat gugup.
Perempuan itu menghentikan memainkan jari tangannya. Dia menarik nafasnya dalam-dalam lalu dihembuskan kan nya. Kemudian mengangkat kan pandangannya kedepan. Membalas tatapan Silvi yang menatapnya datar "Nama ku Keyla Ananda Putri!" Perempuan itu menjulur tangannya kedepan. Bermaksud menjabat tangan layaknya berkenalan.
Tapi uluran tangan perempuan itu tak kunjung dibalas oleh Silvi. Dia hanya memandang datar tangan itu, tanpa ada minat untuk berjabat tangan.
"Truss?" Silvi menaikkan sebelah alisnya. Seolah-olah tak mengerti maksud perempuan itu. Sebenarnya Silvi cukup mengerti maksud gadis itu. Bukan hanya berkenalan yang diinginkan perempuan itu. Perempuan itu juga meminta bantuan nya.
Jika Silvi menebak, perempuan ini pasti juga korban bullying teman-temannya. Silvi pernah melihat dulu perempuan ini adalah orang yang pertama kali dia tolong dari bullying komplotan Mika.
Muka perempuan itu kembali ditundukkan. Dia benar-benar gugup saat ini. "A-aku mau kenalan sama kakak. Kakak orang yang kemarin itu tolongin aku"
Silvi menghelai napasnya. Dia menerima jabatan tangan perempuan itu "Nama gue Silvia Zahra Pratama" setelah mengatakan namanya itu Silvi langsung melepaskan jabatan tangan itu, lalu beranjak pergi meninggalkan perempuan bernama Keyla itu yang menerbitkan seulas senyuman.
***
Mika berjalan gontai memasuki markas komplotan Fatih tapi sebelum itu Mika masuki kelasnya terlebih dahulu untuk menyimpan tasnya. Disana netranya mendapati Leo yang tengah duduk bersimpuh di lantai dengan kedua tangannya diikat kebelakang. Didepannya berdiri Navin yang menatap tajam Leo.
Mika mengerutkan keningnya dalam. Pemandangan didepannya ini sangat cocok dengan adegan-adegan yang ada di film detektif. Seolah Navin berperan sebagai seorang detektif dan Leo seorang tersangka dalam kasus kriminal. Yang benar saja! Enggak kebalik apa! Pikir Mika heran.
______
**Hallo🤗 ada yang masih ingat dengan cerita ini? kaya nya enggak deh, udah lama aq ga up.
rencananya aq mau up kemarin, tp sebelum up aq ada baca dulu cerita ini dari awal.
malu bat aq tau ga. ini cerita gaje bat!!! kalian kok ga content sih, kalo klian ada coment kan aq bisa tau apa yang salah sama cerita ini. jadinya kan bisa ku perbaiki biar ga jd Boomerang.
ini ya aq mohon sama kalian kalo emang dlm cerita aq ada yang salah, kalian bisa kritik di kolom komentar. jadi setidaknya aq tahu yang mana yang harus ku perbaiki.
jadi kuharap kalian bisa kritik aq jika ada yang salah. tapi ingat!! dalam hal mengkritik jg ada tatacara bahasanya lho
okela, sampe sini dulu. sampai jumpa di chapter selanjutnya.
*bye...bye....🤗***
__ADS_1