Ice girl vs bad boy

Ice girl vs bad boy
Chapter 12


__ADS_3

MALAM ini pesta pernikahan nyokap Silvi dan bokap Mika diadakan. Pesta itu berlangsung dengan sangat meriah di salah satu hotel bintang lima yang telah di-boking jauh-jauh hari oleh Tomi.


Hampir rata-rata tamu undangannya adalah rekan bisnis Tomi. Luna dan Tomi kini dibuat sibuk oleh para tamu yang hadir di acara mereka. Bayak tamu yang hadir secara bersamaan, dan sebayak itulah mereka menebarkan senyum dan ucapan terima kasih kepada tamu yang hadir.


Disalah satu meja, tampak figur Silvi dengan balutan dress sabrina bewarna hitam ditubuhnya, dan dipadukan dengan tataan rambut yang digerai tanpa poni. Di samping Silvi tampak figur Mika dengan style kombinasi kemeja jas semi formal, dengan crop pants.


"Kak, ini perasaan gue aja ato emang bener. kok mereka nge-liat kearah kita?" tanya Silvi yang sedikit merasa risih. "Bukan persaan lo sil, ini emang nyata" jawab Mika yang juga merasakan risih.


"Tapi kenapa kita yang jadi objek pandangan mereka? seharusnya kan bunda sama papa?"


"Gue juga kagak ngerti"


Percakapan mereka kini terhenti oleh suara asing yang tiba-tiba menghampiri mereka.


"Mika!?"


Merasa terpanggil, Mika pun refleks menoleh ke sumber suara. "Iya." Silvi pun juga ikut menoleh karena penasaran. Tapi hanya dengan menoleh tetap tidak bisa menjawab rasa penasarannya, sehingga Silvi pun menyikut pinggang Mika.


Silvi menatap Mika dengan pandangan seolah bertanya 'Siapa'. Lalu di balas dengan pandangan Mika 'Mana gue tau'.


Pria paruh baya dengan style jas kerja yang menghampiri Mika dan Silvi, tampak mengerti dengan aksi tatapan mereka. Pria paruh baya ini pun kembali mengangkat suaranya.


"Ah...maaf, aya belum memperkenalkan diri saya. Saya Jono Dininggrat, salah satu pemengang saham diperusahaan Pratama group" pria paruh baya itu menjulurkan tangannya di udara. Kemuduan di sambut oleh Mika, layak disebut menjabat tangan. "Saya Mikaela Pratama"


Lalu keduanya pun melepaskan jabat tangan mereka. "Anda sudah semakin besar ya, ketampanan anda pun makin bertambah. Pasti banyak yang mengidolakan anda. Bahkan anak saya juga sangat mengidolakan anda"


Mika hanya membalas dengan senyuman kikuknya. Mika tampak risih dengan keberadaan pria paruh baya itu. Sementara itu Silvi yang sedari tadi hanya menyimak percakapan mereka, Kini sudah tahu jelas apa motif ptia paruh baya itu menghampiri Mika.


Pria berkepala botak tengah itu melirik kearah Silvi "Apakah gadis cantik ini pacar anda?" kalau disimak, kepada siapa pria bernama Jono itu mengajukan pertanyaan? tentu saja Mika. Tapi belum sempat Mika menjawab, tiba-tiba Silvi langsung menganding tangannya sambil berkata "Ya, saya adalah pacarnya" ada sebuah senyuman yang tercetak dibibir ranum gadis itu. Tapi sayangnya senyuman itu hanyalah sebuah kamuflase.


Mika benar-benar dibuat terkejut bukan main oleh Silvi, begitu juga dengan Jono. Mika menatap Silvi dengan pandangan yang seolah menyiratkan 'Lo gila' tapi Silvi tidak mengubris pandangan kakaknya itu. Silvi hanya membalas dengan senyuman tulus, ralat. Tapi senyuman devilnya 'Jawab iya, ato lo gua bunuh' kemudian Mika dengan gugup kembali menoleh kearah Jono.


"Iy...iya...dia pacarku" jawab Mika terbata-bata. Silvi tersenyum puas saat melihat perubahan ekspresi Pak Jono itu. "Pacar anda sangat cantik" puji Jono dimulutnya tapi didalam malah mengumpat kesal, munafik.


Mika hanya tersenyum kikuk. Pasalnya ia tidak tahu harus membalas seperti apa. Mika tidak tahu jalan pikiran Silvi, adiknya itu bagaimana. Dia tidak bisa menebak apa yang ada dikepala Silvi. Seakan-akan ada tembok besar antara dirinya dan Silvi. Tembok itu menghalangi dirinya untuk memahami Silvi

__ADS_1


"Ah...sepertinya saya sudah menganggu waktu kalian. Kalau begitu saya permisi dulu" pamit Jono lalu dibalas anggukan kecil dari Mika dan Silvi.


Selepas pria paruh baya itu pergi. Sopvi langsung melepas gandingan tangannya ditangan Mika, lalu kembali memasang tampang dinginnya. Mika langsung menghadap kearah Silvi.


"Gue ga pernah ngajarin dan contohin lo buat berbohong!"


Silvi sudah memprediksikan tentang hal ini, bahwa Mika akan menceramahinya. Tapi ia tidak memperdulikan hal ini. Silvi melirik malas kearah Mika "Emang ga pernah"


"Ka...."


Belum sempat Mika membuka mulut, Silvi langsung menyela. "Kalo emang ga mau, kenapa lo jawab iya?, kan bisa lo jawab enggak!"


Mika langsung bungkam, pasalnya ia tidak tahu harus menjawab apa. Mika juga heran dengan dirinya sendiri. Kenapa dirinya tadi menjawab iya. Padahal bisa saja Mika menjawab tidak.


"Seharusnya lo berterima kasih ke gue, karena gue udah bantuin lo"


"Bantuin apa?"


"Ck, emangnya lo ga risih apa? dengan keberadaan Pak Jono itu!?"


"Risih sih"


"Tapi ga kekgitu juga caranya Sil"


Silvi mengerang frustasi. berdebat dengan kakaknya ini benar-benar menguras emosinya. Silvi menyampingkan tubuhnya sehingga menghadap Mika "Emangnya lo tau cara yang lain? coba lo bilang ke gue gimana caranya?."


Lagi-lagi Mika bungkam. Dia juga tidak tahu menggunakan cara apa. Otaknya mendadak lemot jika masalah seperti ini. Mika memang pandai mengatur strategi, apalagi jika masalah strategi penyerangan dan bertahan. Memang terdengar bar-bar, tapi karena alasan itulah dia diangkat menjadi ketua komplotan Fatih.


"Heh... lo aja ga tau motif dia apa. gimana lo mau ngusir Pak Jono itu?" sambung Silvi sarkas.


"Motif?" beo Mika "Emangnya lo tau?"


"Otak lo, emang perlu di ruqyahin kak. Lemot lo udah makin parah tuh"


Mika tidak mengidahkan perkataan Silvi. ia masih menunggu Silvi membuka mulut, bagi Mika, jika ada pembicaraan penting maka dengarkan dulu setelah itu baru berdebat. Itulah prinsip yang Mika pegang.

__ADS_1


Silvi kembali menghadap kearah panggung yang telah didekor rapi. Tapi sebelum itu, ia sempat mengambil minuman merah yang sudah tertata rapi dimeja yang mereka huni.


"Anda sudah semakin besar ya, tambah tampan lagi. Kata-kata itu kalo lo pahami, apa maksudnya?" Silvi menoleh kearah Mika. terlihat jelas kening Mika yang bergelombang itu. "Tentu saja pujian untuk orang yang sudah lama tidak bertemu" kaeab Mika asal tanpa mikir panjang


"You are right"


Silvi kembali memalingkan wajahnya kedepan, tapi pandangannya tidak melirik keatah panggung, melainkan kearah seorang pria baya yang menghampiri mereka tadi. "Tapi dia menambah kata-kata yang membuat kalimat itu melenceng jauh dari pujian...." Silvi memberi jeda di ucapannya.


Silvi menggoyang pelan gelas yang berisi minuman lemon dingin, lalu meminumnya "Jadi makna kata 'besar' dalam kalimat itu, bukan umur lo, tapi harta lo" Silvi kembali menoleh kearah Mika.


"Dan lagi tadi, kalo gue ga ngaku sebagai pacar lo. Pak Jono pasti masih disini dan berniat nganalin anaknya ke elo"


Mika bungkam tak tahu menjawab apa. Mika juga terkejut tak menyangka bahwa adiknya begitu mengerti dengan masalah ini. Tiba-tiba saja otaknya jadi teringat perkataan bundanya. "Karena masa lalu Silvi jadi menutupi dirinya"


Karena perkataan itu, terbesitlah sebuah pertanyaan di benak nya Apa masa lalu lo Sil?. Silvi tersenyum kecut dengan sejuta kepedihan tersirat dalam senyuman itu "Begitulah cara orang-orang keji menaikkan jabatan mereka. Mereka bahkan rela mengajarkan anak nya menjadi seorang PHO" setelah mengatakan kata-kata itu, Silvi langsung melangkah pergi meninggalkan Mika yg termenung di tempat.


****


Kini Silvi berada di balkon ruangan pesta itu. Silvi termenung sambil menatap para bintang yang tampak berkilauan, tak seperti suasana hatinya malam ini. Mood Silvi benar-benar dalam keadaan buruk saat ini. Padahal malam ini adalah malam kebahagiaan bundanya, seharusnya ia senang. Tapi karena munculnya Pak Jono itu membuat suasana hati Silvi kian memburuk.


Silvi benci kepada orang yang bernama Jono itu! dia benci kepada orang bernama Raffa!. Ia benci kepada laki-laki breng**k itu!. Kenapa mereka harus ada didunia ini, kenapa mereka tidak mati saja.


"Kalo kamu terjebak dalam kegelapan, maka aku bakal muncul menjadi cahaya kamu"


Silvi tersentak, kepala mendadak nyeri. Silvi kebingungan dari mana asal suara itu? kenapa bisa terlintas di kepalanya?


Ada setumpuk pertanyaan di kepalanya selepas munculnya suara itu. Suara itu terasa sangat familiar dan hangat. Silvi merindukan suara itu.


Tangan Silvi langsung bergerak menuju dadanya dan mengenggam kalung lionting bertulisan promise itu. Apakah suara itu miik pemilik kalung ini?


Muncul lagi setumpuk pertanyaan. Dan hal itu membuat kepalanya semakin nyeri. Silvi langsung menyandarkan tubuhnya di dinding balkon untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.


I want just to meet you, because i need you, and you are my light.


****

__ADS_1


***hai, ketemu lagi kita. sorry y tlt bangt up nya, aq akhir" ini sibuk banget, tugas aq makin hari makin byk, jd sorry y telat upπŸ˜’πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


maaf sekali lgi krn udah buat klian kecewa beratπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™***


__ADS_2