Ice girl vs bad boy

Ice girl vs bad boy
Chapter 10


__ADS_3

«peraturan itu di buat untuk di patuhi, dan janji itu ada untuk ditepati, tapi kenapa kau mengingkarinya?»


*****


SETELAH makan malam dengan keluarganya, Silvi kini duduk termenung di kursi balkon. matanya menatap kearah hamparan langit yang luas itu, banyak bintang-bintang yang berhamburan di sana. entah kenapa tiba-tiba dirinya merasakan perasaan familiar yang mendalam rasanya begitu menyesakkan. tiba-tiba tangannya bergerak untuk memegang kalung yang melingkar indah di lehernya. dengan lionting tulisan yang tertulis.


"promise"


promes berasal dari bahasa Inggris yang berarti janji. sebenarnya ia sudah berjanji dengan siapa?


apa yang sudah dirinya janjikan?


*****


di tempat lain di waktu yang sama.


Sama halnya dengan Leo dia juga sedang menatap ke arah hamparan langit malam. tapi sedikit hal yang berbeda dengan Silvi. yaitu, Silvi duduk sedangkan Leo bersandar di pagar balkon dengan tumpuan kedua tangannya.


tanpa diperintahkannya tiba-tiba otaknya tenggelam ke masa lalu.


**flashback**


*Di sebuah taman yang asri nan indah. tapi sayangnya ke-asrian dan ke-indahan taman itu harus tertutupi karena minimnya cahaya. hanya ada lampu trotoar di sepanjang jalan setapak, tapi lampu trotoar itu sebahagian sudah tidak menyala lagi, hanya beberapa saja yang tampak menyala.


di taman itu tampak tiga orang anak kecil yang sedang menyusuri Jalan Setapak. satu anak perempuan dan dua anak laki-laki, anak perempuan itu berada di tengah-tengah antara kedua lelaki kacil itu.


perempuan kecil itu tampak ceria dan energik, tapi berbeda dengan dua orang anak laki-laki itu, Mereka tampak lesu dan malas berjalan tapi apalah daya mereka, kedua tangan laki-laki kecil itu ditarik oleh tangan perempuan kecil, sehingga membuat keduanya mau tak mau tetap harus berjalan.

__ADS_1


tiba-tiba salah seorang dari laki-laki kecil itu bersuara membuat ketiganya terhenti berjalan.


"Silvi"


yah nama perempuan kecil itu Silvi, dan kedua laki-laki kecil itu adalah Leo dan Stevan. "apa lo beneran mau pergi ninggalin kita?" sambung lelaki kecil itu, Leo. Silvi yang tadinya ceria dan energik sekarang berubah menjadi sedih dan lesu, tapi perubahan ekspresi itu tidak disadari oleh mereka berdua karena Silvi kecil berdiri sedikit ke depan daripada mereka.


Silvi kecil menggigit bibir bawah sambil menahan tangisnya. Ia tidak tahu harus menjawab apa, sejujurnya Ia juga tidak ingin berpisah dengan mereka. Tapi keadaan sudah seperti ini kedua orangtuanya sudah memutuskan untuk pergi. Ia sama sekali tidak bisa membantah apa-apa.


Stevan kecil yang lebih dulu mengetahui tentang perubahan ekspresi Silvi kecil pun langsung bertindak. "kalau emang lo mau pergi, tolong jangan lupain kami ya Sil"


kini tangisnya sudah tidak bisa dibendung lagi, air matanya segera turun membasahi pipinya. Silvi kecil membalikkan badannya kemudian langsung memeluk Leo kecil dan Stevan kecil. "umm, gue janji" jawab Silvi kecil dengan suara seraknya.


"Sil, lo juga harus janji untuk kembali ke sisi kita lagi" kali ini Leo kecil yang mengikrarkan janji. Silvi kecil melepaskan pelukan itu, kemudian menghapus air matanya. Silvi kecil mengangkat jari kelingkingnya menghadap kearah mereka, lalu disusul oleh mereka berdua.


"janji"


benar-benar masa lalu yang mengesankan. rasanya Leo ingin kembali ke masa-masa sebelum Silvi pergi meninggalkannya.


"kreet"


suara pintu terbuka membuyarkan lamunannya. kemudian Leo membalikkan badannya. tampak seorang perempuan usia 20 tahunan di pintu kamarnya.


ya, perempuan itu adalah kakaknya, Kak Nisa. "Hei habis di masa lalu lagi?" tanya-tanya Nisa kepada adik kandungnya itu. Kini Nisa sudah berada di dalam kamar Leo, tepatnya sekarang ia sudah duduk di tepi ranjang Leo.


Leo pun berjalan masuk ke kamarnya dan mendekat ke arah kakaknya itu "gitu lah Kak"


Nisa menatap iba ke arah adik semata wayangnya itu. Nisa memang tidak pernah memaksa Leo untuk menganggap Silvi sudah tiada, ia juga tidak melarang Leo untuk menunggu janji Silvi. Tapi ia tidak tega melihat keadaan adiknya yang terus-menerus terjebak masa lalu.

__ADS_1


"Leo... Leo sayang Kakak kan?" tanya Nisa dengan mata yang berkaca-kaca. sedangkan Leo ia hanya tidak mengerti kemana arah pembicaraan Nisa.


"Kak Nisa kok ngomong kayak gitu sih, Leo udah tentu sayang kok sama Kak Nisa" balas Leo sambil menatap ke arah Nisa. bagi Leo, Nisa adalah segalanya. jika seluruh laki-laki di dunia ini me-NOMOR satu kan ibu. maka Leo akan me-nomor satu kan kakaknya itu. sejakLeo tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu. ibunya duluan meninggal saat berjuang mempertahankannya saat melahirkannya. dan melalui Nisa lah, Leo bisa merasakan kasih sayang ibu. bagi Leo, Nisa sudah seperti ibu baginya.


Leo dapat melihat mata Nisa sudah berkaca-kaca menahan tangisnya. melihat hal itu, Leo jadi merasa bersalah kepada kakaknya itu.


"kalau gitu..." ucap Nisa terputus. tiba-tiba sebutir air mata mengalir di pipi putihnya. Nisa tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya, rasanya mulutnya sangat kelu untuk melanjutkan ucapannya. tapi ia lebih tidak sanggup lagi melihat Leo yang terus-menerus terpuruk.


tangan Leo bergerak menghapus air mata Nisa. dia tidak sanggup melihat orang yang ia sayangi menangis. tiba-tiba tangan Nisa juga ikut bergerak memegang tangan hangat Leo yang masih berada di pipinya, lalu menarik tangan hangat itu menjauh dari pipinya. tapi tangan Leo masih berada dalam genggaman tangan Nisa.


Nisa mengelus pelan tangan Leo lalu mengucap pelan. setelah itu baru beralih menatap Leo. "kalau gitu, kakak mau kamu lupain Silvi. bukain hati kamu untuk yang lain"


setelah mengucap kata-kata itu, Nisa langsung keluar dari kamar Leo dengan air mata terus membasahi pipinya.


Leo terdiam mematung. Ia tidak tahu harus mengekspresikan mukanya bagaimana.


apakah dirinya harus benar-benar melupakan Silvi? dan membukakan hatinya untuk yang lain? apakah harus?.


*****


***hai guys, jumpa lagi kita. hehehe😄😂


apa kabar para Reades tercinta ku😘, kabar baik kan?, author juga kabar baik nih😅 (abaikan)


guys, author bingung nih, sebenarnya cerita author ini seru apa ga sih?, bosan apa menyenangkan sih?, author ga tau, krna ga banyak yang komen.


memang ada sih yang komen, dan author sangat berterima kasih untuk para reades yg udah baca, like, coment, dan follow. dan krn mereka juga author bertahan, untuk ngebuat buat ini. author harap kalian mau nyumbangi like, and coment y.

__ADS_1


see you in the next chapter, bye bye 😘😄😊***


__ADS_2