
Erick mengucek mata nya saat waktu sudah menunjukan pukul 9.00 siang, ia bergegas ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia lebih lama berada di bathtub merasakan aroma terapi yang ia tuangkan sedikit di air itu. Ia merenung memandangi langit langit kamar mandi nya, Bilqis selalu datang di fikiran nya, wanita yang sekarang menjadi pujaan hati nya selalu berada di dalam fikiran nya. Setelah ia selesai dengan acara mandi nya, ia langsung bersiap siap untuk ke rumah Bilqis, dia berencana untuk mengajak maka bersama dengan nya.
"Selamat pagi sayang, sudah rapi saja, mau kemana?" tanya Sarah.
"Aku mau keluar sebentar mah," ucap Erick.
"Keluar kemana? ke rumah Bilqis?" tanya Sarah yang membuat Erick bersemu merah.
"Ah mamah tau aja," ucapnya.
Sedangkan Sarah hanya terkekeh geli melihat anak nya yang seperti ABG baru jatuh cinta.
"Oh iya mah, papah di mana?" tanya Erick
"Biasa, papah mu sedang berada di ruang GYM," jawab Sarah.
"Ohh."
"Ya sudah hati hati, berjuang lah," ucap Sarah menyemangati.
"Terimakasih mah, aku pergi dulu," ucap Erick yang mengecup pipi sang Ibu.
Ia berjalan menuju garasi dan mengendarai mobil BMW nya, senyum tidak pernah pudar dalam dirinya, bahkah seisi rumah nya pun heran ada apa dengan tuan muda nya, yang biasanya mengeluarkan wajah dingin nya dan sekarang bahkan tidak pernah terlihat.
Saat ia di dalam perjalanan, telfon nya berdering, ia pun mengangkat nya.
"Hallo"
"....."
"Baiklah."
Ternyata yang memanggilnya adalah teman lama nya, memang mereka sudah lama tidak bertemu, tapi rencana yang sudah di susun untuk mendekatkan diri kepada Bilqis hari ini punah begitu saja, ia menghela nafas berat dan memutar balik arah kemudi nya menuju Cafe milik nya.
Setelah sampai, ia di sambut dengan hangat oleh para karyawan nya, dia juga sudah hampir satu bulan tidak mengunjungi Cafe itu, ia mempercayakan semua nya kepada orang kepercayaan nya.
Setelah ia melihat sekeliling, ia menemukan wanita yang tadi mengajak nya bertemu.
"Haii," jawab wanita itu saat Erick memperhatikan nya dari jauh.
Erick pun menghampiri meja itu, "Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu," ucap Erick kepada Dinda.
__ADS_1
"Aku baik, bagaimana juga kabarmu?" jawab Dinda.
"Aku baik, bagaimana kulaih mu lulus?" tanya Erick.
"Jelas lulus, mana bisa gadis secantik Dinda tidak lulus," ucap Dinda yangemembanggakan dirinya.
"Ah kau memang seperti dulu, tidak ada yang berubah," jawab Erick yang tersenyum getir melihat Dinda.
Dulu Erick sangat menyukai Dinda, mereka berteman sejak mereka kecil, bahkan orang tua mereka pun menjodohkan mereka saat dewasa nanti, tapi di saat Erick sudah sangat mencintai Dinda, dengan tega nya Dinda berpacaran dengan laki laki lain, tapi Erick tidak patah, ia tidak merusak hubungan Dinda bersama kekasih nya, Erick tetap menjaga Dinda seperti ia menjaga nya dulu, ia sering merasakan sakit hati saat melihat Dinda bersama kekasih nya. Sebenar nya Dinda tau bahwa Erick menyukai nya, tapi sayang nya Dinda belum memiliki perasaan lebih kepada Erick, ia malah menaksir seorang laki laki yang sederhana yang terlihat baik namun asli nya busuk. Dinda di duakan oleh kekasih nya, ternyata kekasih nya itu hanya memanfaat kan Dinda saja karna Dinda cantik dan kaya, di saat terpuruk, Dinda kembali kepelukan Erick, ia memeluk Erick sambil sesegukan akibat patah hati. Tapi sayang nya, Erick sudah berusaha mati matian untuk mengubur rasa cinta nya, dan saat Dinda kembali ke pelukan Erick pun hanya ada simpati dan rasa kasihan saja terhadapnya. Tidak ada lagi kasih sayang seperti dulu, dan tidak ada lagi Erick yang selalu mencintainya, dan di sebabkan itu pula Erick menjadi dingin dan arogan, ia tidak mau mencintai orang yang tidak mencintainya 'lagi'.
"Kau bersama siapa?," tanya Erick.
"Aku bersama teman ku, tunggu saja dia sedang berada di toilet," ucap Dinda.
Tak berapa lama kemudian ada seorang wanita yang menghampiru mereka, saat wanita tersebut dekat dengan meja mereka Dinda pun bangun dari duduk nya.
"Qis, ini teman ku," ucap Dinda kepada Bilqis.
Erick langsung menoleh ke samping nya dan melihat wanita yang di panggil 'Qis' oleh Dinda.
Bilqis pun menoleh ke samping nya dan mata nya terbelalak saat melihat siapa laki laki itu.
"E- eh Pak Erick?"
"Kalian kenal?" tanya Dinda.
"Dia salah satu OG di perusahaan ku" jawab Erick.
"Jadi kamu kerja di perusahaan Erick? wah kebetulan sekali yah,"
Bilqis mencoba menetralkan detak jantung nya, ia mencoba bersikap biasa di depan Dinda, ia perlahan duduk dan tersenyum kepada Dinda.
"Haii paman," ucap bocah kecil berdua itu.
Dinda sungguh terkejut melihat keakraban Zora dan Dery kepada Erick, tapi Dinda mencoba biasa saja, karna Erick pun tidak terganggu sama sekali.
Bilqis menatap Dinda dengan nanar, saat mata nya bersitatap, Bilqis tersenyum getir.
Ana, jadi ini pria yang kau sukai?
Bilqis menunduk lesu, ia mencoba mengumpulkan semua tenanga nya untuk tersenyum kepada Erick dan Dinda.
__ADS_1
"Oh iya, kalian berteman?" tanya Erick.
"Iya, kita berteman sejak dulu," jawab Dinda.
"Oh iya Ana, aku duluan yah, pekerjaan ku belum selesai semua," ucap Bilqis yang ingin beranjak.
"Pekerjaan apa?" tanya Erick kaget, setau dia, Bilqis hanya bekerja sebagai OG di perusahaan nya, dan ini weekend, dia bekerja apa? begitu pikirnya.
"Dia bekerja..." ucap Dinda terpotong saat Zora mengaduh.
Aduhh...
Zora terjatuh karna di senggol seseorang, sengaja atau tidak yang menyenggolnya, karna Zora pun tidak menghalangi jalan.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Bilqis kahwatir.
"Zora kamu tidak apa apa?" ucap Erick yang langsung berjongkok mensejajari Zora.
Dinda hanya melihatnya heran, setau dia Erick bukan tipe cowo yang perhatian, Erick akan perhatian jika orang yang di perhatikan adalah wanita yang di sukai nya.
Bilqis langsung mengangkat Zora untuk kembali berdiri, "Anna, lebih baik aku pulang saja yah," ucap Bilqis yang sudah tidak tahan ingin keluar dari tempat itu.
"Qis, nanti saja kita barengan pulang nya," ucap Dinda seperti memohon.
Dery seakan mengerti dengan keadaan Bunda nya, ia pun bersuara. "Bunda, aku belum mengerjakan tugas ku, ayo kita pulang saja," ucap Dery menatap kakak nya penuh arti.
"Iya Bunda, aku sudah tidak mau disini," rengek Zora.
"Baiklah, ini untuk kalian," ucap Dinda yang berdiri dan menyodorkan segepok uang yang pasti nya bukan jumlah yang kecil.
"Tidak Ana, aku sudah sangat merepotkan mu, aku tidak mau kau terbebani karna aku," jawab Bilqis.
"Heii Bilqis, jangan sungkan kepadaku, aku juga ikhlas memberikan ini semua," ucap Dinda yang tangan nya masih menyodorkan uang itu.
Bilqis mendorong tangan Dinda pelan, "Ana, kumohon, simpan saja uang mu, aku tidak mau merepotkan mu," itulah yang di sukai Dinda di dalam diri Bilqis, Bilqis tidak pernah memanfaat kan harta nya, bahkan Bilqis selalu menolak semua pemberian nya. Dan Bilqis pun merasa sudah sangat cukup dia di bantu oleh Dinda, ia tidak mau terus merepotkan Dinda.
Setelah itu Bilqis pun langsung pulang, ia mencari angkutan umum agar harga nya lebih murah, di dalam perjalanan, ia merenung.
Rasanya aku ingin membencimu Ana, tapi kamu sudah terlalu baik kepadaku, rasanya aku ingin egois Ana, tapi aku tidak bisa, aku tidak bisa menghianatimu Ana, aku sayang kepadamu Ana, tapi kenapa, kenapa kamu suka dengan orang yang juga aku sukai? Ahh...
Bersambung...
__ADS_1