
Erick Michael adalah CEO ketiga dari perusahaan kakek nya. Erick adalah pemuda tampan yang mempunyai sifat dingin dan sombong. Walaupun terkenal dingin, tapi ia sangat di kagumi oleh para kaum hawa karna ketampanan nya. Dia berumur 23 tahun, sebenar nya masih sangat jauh untuk ia harus menjalin rumah tangga, tapi orang tua nya sangat mendesak Erick agar bisa cepat cepat menikah.
Sekarang dia sedang berada di kursi kebesaran nya, ia sedang menandatangani berkas berkas yang di kirim oleh sekertaris nya itu. Kemudian ia meraih telfon genggam yang ada di meja kerja nya dan menelpon sekertaris nya.
"Datang keruangan ku."
Tak lama kemudian, sekertaris nya datang, ia mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangan direktur utama itu.
Sekertaris itu bernama David, ia adalah sekertaris Erick yang di pilihkan oleh CEO kedua yaitu ayah Erick.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" sekertaris itu menundukan kepala nya sopan.
"Apakah masih ada acara siang ini?" tanya Erick.
"Tidak ada tuan."
"Temani aku kerumah sakit."
"Baik tuan."
Sekertaris itu langsung pamit ke ruangan nya, setelah sekertaris nya itu keluar, Erick menjatuhkan kepala nya dan menatap langit langit ruangan nya.
"Sampai kapan ini akan berakhir," gumam nya. Tak terasa air mata nya keluar tanpa permisi, ia langsung menghapus air mata nya dan keluar dari ruangan nya.
"Vid ayo," saat ia sudah melewati meja kerja David dan langsung keluar.
Setelah mereka berada di mobil, Erick hanya diam tidak berbicara ataupun apa yang membuat David khawatir.
"Tuan, apa ada yang anda pikirkan?."
"Tidak ada," jawab nya singkat.
Tidak lama kemudian mereka pun sampai di rumah sakit miliknya itu. David keluar terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk tuan nya.
Setelah itu mereka masuk kedalam rumah sakit besar itu.
"Tumben jam segini sudah datang," ucap dokter utama itu yang bernama Jack dan sekaligus sahabat Erick.
"Mood nya sedang tidak baik, jadi di tolong dokter jangan terlalu bercanda dengan nya."
"Ah pantas saja aura wajah nya sangat menyeramkan," ucap Dokter Jack kepada David.
"Jack!" kesal Erick sambil menatap tajam Jack. Tatapan itu seakan mencabik cabik raga Jack yang membuat nyali Jack menciut.
"Rick, lo itu harus santai jangan di bawa emosi, gue kan cuma bercanda." Jack langsung mencoba menenangkan Erick agar tidak terjadi keributan di rumah sakit ini.
Setelah pemeriksaan selesai Erick sangat banyak menanyakan tentang penyakitnya, bahkan David di buat bingung dengan sikap bos nya hari ini.
"Terimakasih dokter kau sudah bekerja keras hari ini," ucap David sambil menyalami Jack.
"Ada apa dengan Erick?" rasa ingin tahu Jack lebih tinggi dari pada takut kepada Erick.
__ADS_1
David hanya mengangkat bahu nya pertanda ia pun tidak tahu dan malas untuk membahas itu. Sedangkan orang yang ada di dalam mobil sudah tidak sabaran, Erick menatap tajam Jack, yang membuat Jack bergidig ngeri.
"Sudah sudah, lihat lah tuan mu, tatapan nya saja sudah membunuh ku." Jack sudah tidak bisa melihat tatapan itu.
David hanya terkekeh dengan tingah Jacj yang juga teman nya itu. "Permisi," pamit nya sopan.
Setelah itu David masuk ke dalam mobil dan langsung menancap gas mobil itu.
"Tuan, apa anda akan makan di luar atau saya pesan kan?" tanya David yang sedikit melirik ke arah Erick.
"Di luar saja."
David langsung membawa mobil ke arah tempat yang sering mereka kunjungi. Tidak ada prmbicaraan di antara mereka, semua hening.
Setelah sampai, mereka langsung turun dan di sambut dengan hangat oleh para penjaga restoran itu.
"Selamat datang tuan."
Tidak ada yang menjawab bahkan berekspresi juga tidak.
Setelah itu mereka langsung memesan makanan, dan duduk di tempat biasa mereka makan. Jika orang yang tidak kenal dengan Erick mungkin akan mengira bahwa Erick adalah pemuda dingin yang tidak berperasaan, tapi masih banyak sisi lain seorang Erick, jika dia berada di dalam keluarga nya, ia adalah sosok pemuda yang hangat, dan sangat baik. Sangat berbeda jika Erick sedang di perusahaan ataupun di luar.
"Vid, handle semua jadwal besok," ucap Erick di pertengahan makan nya.
"Baik tuan," tidak ada protes ataupun apa, walaupun ia penasaran stengah mati karna sikap tuan nya, tapi ia tidak selancang itu berani menanyakan nya.
Tringg..Tringg..
Telfon berbunyi dari ponsel Erick, dengan cepat David mengambil benda kecil itu di saku nya dan dengan sopan memberikan nya kepada Erick.
"Sayang, bisa kah kamu kesini sebentar?" ucap Wanita yang ada di sebrang sana.
"Mamah, jangan pernah mengungkit soal itu lagi, aku tidak mau. Jika aku mau, aku akan mencarinya sendiri" terlihat jelas gurat wajah emosi Erick.
"Erick, kamu itu..."
"Maaf Mah," tut..tut..
Erick mematikan telfon nya secara sepihak, ia sangat muak jika Mamah nya berbicara tentang perjodohan.
Nafsu makan sudah terbakar oleh emosi, kemudian ia langsung berdiri dan akan meninggalkan David.
"Vid, makan saja dulu, aku sudah tidak selera," ucapnya lalu meninggalkan David sendiri.
Dengan cepat David menghabiskan makanan itu, lalu membayarnya dan pergi.
Setelah sampai di perusahaan, dengan gagah nya Erick berjalan dengan raut wajah datar, banyak para karyawan dan staf menyapa nya tadi tidak ada satu pun orang yang di balas oleh nya.
Saat ia akan menuju lift, ia ditabrak oleh seseorang OG yang tidak berhati hati. Air tumpah kemana mana, dan OG itu juga beberapa kali meminta maaf kepada Erick tapi ia diam saja.
"Maaf kan saya tuan, maafkan saya," ucapnya lirih.
__ADS_1
David melambaikan tangan nya kepada seseorang OG lainnya untuk membersihkan air yang ada di tempat itu.
"Ikuti aku!" ucap David.
Dengan gemetar OG itu mengikuti CEO dan sekertaris nya. Mereka menaiki lift bertiga, OG itu berada di belakang dengan terus meremas kedua tangan nya menahan takut.
Setelah sampai, semua staf petinggi di perusahaan itu melirik OG itu dengan penasaran, ada apa dengan nya kenapa bisa sampai berurusan dengan CEO.
David membukakan pintu untuk Erick, dan OG itu pun di perintahkan untuk mengikuti Erick ke dalam. Setelah itu David mengikuti tuan nya dan berdiri di belakang samping tuan nya.
Erick duduk di kursi kebesaran nya menatap OG itu dengan tajam, sedangkan yang di tatap sangat ketakutan karna ini pertama kali nya ia membuat masalah dan pertama kali nya ia melihat wajah sempurna dari CEO nya.
"Siapa nama anda nona." David bersuara.
"Bilqis," gemetar gemetar takut menjawab.
"Kenapa kau tidak berhati hati," ucapnya dengan tegas dan dingin yang membuat Bilqis semakin ciut.
"Maaf," hanya kata itu yang bisa di keluarkan oleh bibir nya. Lidah nya kelu, ia sudah tidak bisa berbicara apa apa lagi.
David melirik bos nya, tapi ekspresi nya tidak marah sama sekali, ia bingung harus memecat OG itu atau tidak.
"Tuan."
"Sudah berapa lama nona bekerja," sekarang Erick yang bertanya, bertanya tapi dengan nada mengancam, pertanyaan itu sangat mengerikan di telinga Bilqis.
"6 bulan," jawab nya pelan. Kaki nya sudah tidak kuat menompang badan nya, ia bergetar ketakutan saat terus di tatap oleh dua orang yang sangat menakutkan.
"Apa nona berjanji tidak akan melakukan kesalahan sama lagi?" pertanyaan yang seharus nya dengan nada lembut, ini nada nya sangat tegas juga mengancam.
"Saya janji, saya tidak akan pernah melakukan nya lagi, saya mohon beri saya kesempatan," ucap Bilqis memohon.
Tak di sangka, Erick tersenyum saat melihat wajah Bilqis yang sangat panik. David pun heran melihat tingkah tuan nya yang sangat aneh hari ini.
"Sudah, silahkan keluar," ucap David dingin.
Dengan cepat Bilqis melangkah kan kaki nya keluar dari ruangan CEO itu.
Apa dia senyum, dia senyum, ah sangat manis dan sangat tampan, aku baru melihat nya sedekat tadi.
Sedangkan di ruangan CEO itu senyum yang berkembang di bibir Erick belum juga pudar, Erick masih membayangkan wajah panik seorang wanita saat di tatap oleh David dan dirinya.
"Tuan, kenapa anda tertawa? apa ada yang lucu?" heran, sangat heran, kenapa bos nya menjadi seperti itu.
"Lihat lah wanita itu, sangat lucu saat panik, aku tidak bisa tidak tawa melihat nya haha."
David melayangkan tangan nya kedepan kening Erick lalu mengecek suhu badan Erick dan di bandingkan dengan nya.
"Tidak panas," ia sangat ingat jika dulu teman teman nya sering berbuat seperti itu jika dirinya tertawa sendirian karna lucu dengan seseorang.
"Sial, kau menganggapku gila. Mau mati kau," kesal Erick.
__ADS_1
David sedikit menyunggingkan senyum nya, kemudian ia pamit untuk keruangan nya dengan tenang tanpa ada rasa takut ketika menghadapi bos nya.
Bersambung...