Ingat, Aku Mencintaimu

Ingat, Aku Mencintaimu
EPISODE 3


__ADS_3

Getaran getaran takut masih membayangi nya, apalagi melihat CEO nya tersenyum kepada nya itu membuat nya takut. Ia masih menggenggam tangan nya erat, ia masih tidak bisa menetralkan detak jantung nya.


Ini pertama kali aku menginjak ruangan nya, ini pertama kali aku melihatnya sedekat itu, ini pertama kali aku bertatap mata dengan nya, dan ini pertama kali aku melihat nya tersenyum, apa aku harus bersyukur atau takut, ahh sial dia menakutkan tapi membuatku terus terbayang dengan wajah tampan nya. gerutu nya dalam hati membuat nya tak sadar bahwa lift sudah berhenti.


Setelah itu Bilqis bergegas keruangan nya, ternyata teman teman yang sering menyuruh ini itu sedang menunggu nya, entah apa yang mereka tunggu, kabar baik, kabar butuk, atau kabar mengejutkan, Bilqis hanya menatap mereka dengan datar.


"Mba kenapa kau sampai di panggil ke ruangan CEO. Apa kau membuat masalah?" tanya salah satu staf itu yang mewakili pertanyaan semua nya.


Apakah mereka kahawatir, ah aku tidak peduli.


"Hanya ada kesalahan kecil," jawab nya malas.


"Apa Mba di pecat?," tanya lagi salah satu staf itu yang membuat mimik wajah Bilqis berubah.


Ah benar, mereka hanya ingin aku keluar.


"Tidak."


Semua orang yang ada di sana bernafas lega, entah mereka belum bisa kehilangan seorang Bilqis, atau mereka takut tidak ada orang sebodoh Bilqis yang mau saja di suruh ini itu oleh mereka.


Bilqis hanya menatap mereka dengan sinis, ada rass kesal di dalam hati nya, tapi ia tidak bisa berbuat apa apa. Mereka kembali melanjutkan pekerjaan nya. Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 18.00 kantor sudah sangat sepi, hanya beberapa petugas kebersihan sedang membersihkan beberapa ruangan begitupun Bilqis, ia sekarang sedang berada di lift, ia di perintahkan untuk membersihkan ruangan meeting, orang yang biasa membersihkan nya sedang tidak masuk karna sakit, ini pertama kali Bilqis masuk ke ruangan meeting itu, ia sedikit bergetar takut, ini ruangan sangat penting, bagaimana jika ada barang hilang dan semua orang menuduh nya. Ah tapi Bilqis mencoba biasa saja, ia dengan perlahan membuka pintu dengan terbuka lebar.


●●●●●


Erick masih bergulat dengan kertas kertas yang ada di meja nya, ia tau jam sudah menunjukan pukul 18.00, tapi ia pun tidak terlalu ingin pulang ke rumah nya, jadi ia mencoba menyibukkan diri agar Mamah nya bisa mengerti bahwa dirinya memang sedang sibuk.


Kemudian, ia mengambil telfon genggam nya dan menelfon sekertaris nya.


"Vid, kau pulang saja dulu, biar mobil aku yang bawa."


"Baik tuan."


Kemudian ia menarik nafas dalam, rasanya dunia tidak semenyenagkan ekspetasi nya. Di saat waktu kecil ia sering membicarakan tentang kebahagiaan, tapi sayang nya saat ia tau ia mempunyai penyakit yang lumayan mematikan, harapan semua yang ia bangun dari kecil itu musnah, ia sudah tidak bisa berharap lagi, mungkin umur nya sudah tidak lama lagi.


Erick keluar dari ruangan nya dan ia memasuki ruangan meeting yang tak jauh dari ruangan nya, barang nya ada yang tertinggal di sana, tapi saat ia masuk ternyata ia melihat wanita yang tadi memasuki ruangan nya.


Bilqis hanya menundukan kepala nya, ia membungkukkan kepala nya tanda ia menyapa sopan.


"Maaf mengganggu,"


Bilqis mengerutkan dahi nya, kenapa seorang CEO angkuh sepertinya bisa meminta maaf kepada staf yang paling rendah, kata maaf itu sangat menyeramkan di dengar nya.


Kemudian tanpa sadar Bilqis memperhatikan Erick yang sedang mencari barang, ingin sekali membantu tapi ia masih mempunyai akal sehat untuk menawarkan dirinya.


"Ini sudah sangat gelap, apa kau tidak pulang?" tiba tiba pertanyaan itu terlempar begitu saja yang membuat Bilqis semakin gugup di buat nya.


"Pe-pekerjaan saya ma-masih ada," gugup Bilqis.


Tiba tiba Erick sangat tertarik untuk mendekatkan diri kepada wanita yang sedang menatap nya dengan ketakutan.

__ADS_1


"Kenapa kau sangat takut jika berhadapan dengan ku," ucap Erick yang membuat Bilqis merinding.


"P-pak, lebih baik sa-saya keluar dulu, bapak cari saja dulu yang mau di cari. Permisi." Bilqis meninggalkan Erick tanpa menoleh lagi kebelakang, ia sudah sangat gugup.


Bilqis memutuskan untuk beres beres dan ia langsung pulang. Jam sudah menunjukan pukul 18.20 ia berdiri di pinggir jalan, menunggu angkutan umum agar bisa cepat cepat pulang dari kantor itu.


Sayang nya angkut tidak juga datang, ia sudah menunggu selama 5 menit tapi angkut tak kunjung datang.


Tid.Tid...


Suara mobil mengejutkan Bilqis, ia menoleh ke belakang dan mata nya terbelalak saat melihat mobil siapa yang mendekatinya.


●●●●●


Erick degan cepat memberskan semua dokumen dokumen nya dan di masukkan semua ke tas kerja nya, ia langsung menaiki lift dan turun ke lantai paling bawah, ia berjalan keluar dan masuk ke besment kantor itu lalu mengendarai mobil nya pelan, saat ia ada di depan kantor, para security menyapa nya sopan, tak senagaja ia melihat sosok wanita yang lumayan familiar. Saat ia mengklakson mobil nya ternyata benar, wanita itu yang seharian ini bertemu dengan nya.


Tid.Tid...


Wanita itu menoleh ke belakang dan mata nya terbelalak saat melihat mobil siapa yang mendekatinya.


Bilqis masih tidak bisa menyembunyikan semue ekspresi terkejut nya.


Ada apa lagi ini, pikirnya.


Kenapa dia hari ini terus bertemu dengan bos nya. Apa dia harus bersyukur atau menyesal.


Erick kembali mendekatkan mobil nya di samping Bilqis, ia membuka kaca mobil dan wajah nya di dekatkan dengan pintu mobil.


"Saya sedang menunggu angkutan umum," jawab nya malas.


"Rumah mu di mana?" tanya Erick.


"Hah! untuk apa?!" teriak Bilqis dan langsung menutup mulut nya yang sudah lancang kepada Bos nya.


"Rumah mu di mana?" tanya nya lagi.


"Di-di jalan x pak dekat dengan kantor ini," ucap nya gugup.


"Naik!" ucap nya tanpa menatap wajah Bilqis yang mengerutkan dahi nya karna dia berfikir mimpi apa semalam sampai sampai ia di ajak oleh bos besar di perusahaan tempat ia bekerja.


"Apa pak?" tanya nya lagi memastikan, dia halu atau ini kenyataan.


"Saya tidak mau mengulangi kata kata lagi."


Cih. Bilqis hanya berdecih kesal, kenapa bos yang terkenal dingin dan angkuh sangat menyebalkan seperti itu.


Bilqis menarik pintu belakang, tapi dengan cepat Erick mengunci mobil nya.


"Pak kenapa di kunci?" tanya nya heran.

__ADS_1


"Mau apa?" tanya Erick yang membuat Bilqis semakin bingung dengan pertanyaan pertanyaan Erick yang tidak jelas, hanya kata kata setengah mana bisa membuat orang mengerti.


Erick yang melihat kerutan di dahi wanita itu langsung berdecih kesal.


"Cih, begitu saja kau tidak mengerti!" gerutu nya. "Kenapa naik ke belakang, memang aku supirmu?" tanya Erick dengan senyum jahat.


"Huh! baiklah." Bilqis dengan kasar membuka pintu mobil nya dan masuk.


"Puas kau," gerutu Bilqis.


Erick hanya tersenyum jahil, ia langsung melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang.


Di dalam mobil hanya ada keheningan, tidak ada yang bicara sama sekali, sedangkan Bilqis hanya memandangi pemandangan yang sangat indah di saat malam hari.


"Ekhem..." dehem Erick.


Tidak ada respon apapun dari Bilqis, ia kembali fokus melajukan mobil nya, saat hampir sampai Erick tidak tahu di mana letak rumah karyawan nya.


"Rumah mu di mana?" tanya Erick.


"Disini saja," jawab nya.


"Memang di mana rumah mu, memang apa salahnya jika bos ingin mengantarkan karyawan nya pulang," ucap Erick yang memberhentikan mobil nya.


"Rumah ku juga sudah kelihatan dari sini." Bilqis sambil menunjuk salah satu rumah sederhana ber-cat putih.


"Tolong buka pintu nya," ucap Bilqis dengan lemas.


Erick turun dan membukakan pintu untuk Bilqis, kemudian Bilqis turun dan tiba tiba ia lemas tidak bisa menompang berat badan nya lagi, dan pingsan.


Dengan sigap Erick menangkap tubub wanita di depan nya dan langsung di bawa ke rumah yang tadi di tunjukan Bilqis.


Tok..Tok..


Kemudian seorang anak kecil berumur 7 tahun membuka kan pintu itu langsung berteriak memanggil bunda nya.


"Bunda!" teriak nya yang membuat adik nya pun ikut keluar.


"Ayo tolong buka pintu nya sayang," ucap Erick kepada Zora.


Erick memang sudah terbiasa memanggil seperti itu jika ada anak kecil yang menggemaskan.


"Kakak, ada apa dengan Bunda?!" Dery pun tak kalah panik, ia langsung berlari dan membuka kamar Bunda nya.


"Huh!." Erick meletakkan Bilqis dengan nafas terengah engah.


Di antara panik kedua bocah itu, ia melihat Erick dengan penasaran, apa paman yang dia lihat adalah yang menyakiti Bunda nya sampai seperti itu. Mereka terus menatap Erick dengan tajam.


Erick...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2