
Saat Erick pulang, Dinda berniat untuk mengikuti nya, karna semua yang di lakukan Erick kepada kedua anak Bilqis itu tak luput dari pandangan nya. Dinda tau bahwa Erick memberikan kartu nama nya kepada Zora, dan Dinda sangat tau betul sifat Erick. Penasaran pun mulai menyelimuti dirinya, saat Erick sudah keluar, Dinda pun mengikuti Erick, Dinda melihat semua yang di lakukan Erick. Saat Erick merenung melihat rumah Bilqis Dinda berfikir apakah Erick menyukai Bilqis?. Saat Erick pulang pun ia mengikuti nya sampai depan Mansion milik Erick.
"Benarkah dia menyukai Bilqis?" gumam nya saat menatap Erick yang menghilang dari pandangan nya.
Dinda terus memandang gerbang Mansion milik Erick, ia menunggu Erick keluar kembali, dan satu jam lamanya ia menunggu baru Erick keluar dengan tergesa gesa namun wajah nya bahagia. Dinda mengikuti mobil Erick tanpa sepengrtahuan Erick, Dinda mengambil jarak 20 meter dari mobil Erick, Dinda yakin Erick akan menuju rumah Bilqis, dan beberapa menit kemudian Erick meminggirkan mobil nya di jalan yang tak jauh dari rumah Bilqis, sesaat Erick menatap rumah itu, dan tak lama kemudian Erick pun keluar. Dinda meminggirkan mobil nya lumayan dekat dengan mobil Erick, saat Erick keluar, Dinda langsung mengikuti semua langkah Erick.
Semua kata kata yang di ucapkan oleh Erick dan Bilqis sangat jelas di telinga Dinda. Kemudian Dinda menghampiri mereka, mata Bilqis terbelalak saat melihat kehadiran Dinda, spontan Bilqis langsung melepaskan pegangan tangan Erick.
"A-ana" gugup Bilqis, Erick langsung membalikkan badan nya ke belakang, ia tidak terkejut dengan keberadaan Dinda, Erick memang sudah sepenuh nya melupakan cinta nya kepada Dinda, jadi ia berhak memilih orang yang ia juga sukai.
"Ana, aku tidak bermaksud seperti itu, Ana maafkan aku." Bilqis langsung berhambur memeluk sahabat nya.
Dinda membalas pelukan itu dengan hangat, dan berbisik kepada Bilqis. "Bilqis, aku rela kau dengan nya," ucap Dinda yang membuat Bilqis melepaskan pelukan nya.
"Tidak Ana, aku ingin kau bahagia, aku tidak mau merebut kebahagiaan mu," ucap Bilqis yang kembali memeluk tubuh Dinda.
"Qis, kamu berhak mendapatkan kebahagiaan ini, aku rela sungguh," ucap Dinda mencoba meyakinkan Bilqis.
"Ana, aku tidak mau menyakitimu, kau suka padanya bukan? aku tidak mau merebut kebahgiaan mu." Bilqis berusaha untuk tak serakah, walaupun ia di paksa oleh sahabat nya untuk menerima cinta Erick, tapi ia sungguh tidak tega dengan sahabatnya.
"Qis, aku hanya menyukai nya, aku haya menyayanginya sebagai sahabat saja, tidak lebih, ayo terimalah dia, aku akan mendukung mu," Bilqis tertegun dengan semua yang Dinda katakan, ingin rasanya ia langsung memeluk Erick, tapi ia masih tidak enak hati dengan Dinda.
"Bilqis," ucap Erick dengan tatapan memohon agar bisa menerima cinta nya.
__ADS_1
Kemudian, Dinda memegang tangan kanan Bilqis, lalu Dinda pun memegang tangan Erick, "Kita masih bisa bersahabat bukan? jadi lebih baik terima saja Bilqis," Dinda menyatukan tangan Erick dan Bilqis agar berpegangan.
"Bilqis, mau kah kau terima cinta ku?" tanya Erick sekali lagi.
Bilqis melihat Dinda, Dinda yang tau dengan tatapan itu pun mengangguk pelan, kemudian kedua bocah itu bersuara.
"Bunda!" teriak mereka berdua.
Bilqis hanya tersenyum kepada kedua anak nya, tangan mereka masih menyatu, Bilqis pun menatap kedua anak nya seperti meminta izin boleh kak bunda menerima nya? dan kedua bocah itu mengerti dengan tatapan Bunda nya, Zora dan Dery mengangguk dengan mantap.
Terlihat Bilqis mengehela nafas dalam, "Baiklah," ucapnya sambil menundukan kepala.
"Benarkah?" ucap Erick dengan berbinar, Bilqis hanya mengangguk malu, dan tiba tiba Erick langsung memeluk Bilqis.
Aku salah telah menyia nyiakan mu Erick, sekarang aku sadar, aku telah jatuh cinta kepadamu, dan mungkin rasa cinta mu sudah lenyap di telan waktu, maaf kan aku yang menyianyia kan ketulusan mu, sekarang kau berhak bahagia Rick.
Dinda menatap kebahagiaan sahabat nya dengan senyuman, lama kelamaan senyuman itu menjadi getir, memang ia salah sudah meninggalkan Erick demi laki laki yang bahkan hanya memanfaatkan nya saja, dan dia sekarang menyerah untuk mendapatkan cinta Erick, ia sekarang sangat mendukung jika Erick bersama dengan Bilqis.
Di malam itu, hanya ada tawa bahagia di antaranya.
Satu bulan pun berlalu, hubungan mereka sangat harmonis, dan ini pertama kali Bilqis masuk ke dalam rumah Erick, karna satu bulan lalu, Bilqis belum siap untuk bertemu dengan ibu nya Erick.
Erick di samhut hangat oleh penjaga gerbang, kemudian Erick memarkirkan mobil nya di luar garasi, kemudian ia langsung keluar dan membuka kan pintu Bilqis dan menggandeng tangan Bilqis mesra.
__ADS_1
Erick pun di sambut dengan hangat di depan pintu, para pembantu berdiri menyambut kedatangan Erick.
Tak lama ada seorang gadis cantik yang langsung menubruk tubuh Erick dan langsung memeluknya, sampai sampai gandengan tangan Bilqis terlepas dari tangan Erick.
"Kakak, aku merindukan mu," seru gadis itu sambil memeluk Erick erat. Ada rasa sakit di dalam hati Bilqis, apalagi saat Erick tidak berusaha melepaskan pelukan gadis itu.
Ternyata gadis itu bernama Tasya Alana Michael yang tak lain adalah adik Erick, Tasya baru saja pulang dari luar negri, ia pun baru lulus kulaih, dan Tasya memutuskan untuk bekerja di perusahaan kakek nya.
Erick membalas pelukan itu dengan hangat, "Aya, aku juga merindukan mu, bagaimana kabarmu disana?" ucap Erick yang juga menunpahkan kerinduan nya kepada adik tercintanya.
Kemudian mereka melepaskan pelukan nya, Tasya mengalihkan pandangan nya kepada wanita dengan usia yang sudah matang, yang tadi mengandeng tangan kakak nya. Tasya menatap sinis kepada Bilqis.
"Kakak, ini siapa?" tanya Tasya.
"Oh iya, kenalkan ini calon kakak ipar mu Aya, dan sayang, ini adik ku yang baru pulang dari Amrik," ucap Erick mengenalkan Bilqis pada adiknya.
Bilqis tersenyum sambil mengulurkan tangan nya sopan, "Bilqis," ucapnya.
Sedangkan Tasya melihat Bilqis dengan tatapan sengit, seperti mengatakan, kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan kakak ku. Begitulah arti tatapan nya.
Tasya dengan perlahan menerima uluran tangan itu, ia menyebutkan nama nya dengan sinis. "Tasya Alana Michael." Tasya sengaja menyebutkan nama marga nya, seperti memberitahu kepada Bilqis bahwa keluarga nya bukan keluarga biasa.
Setelah itu, Erick mengelus pundak Bilqis pelan, ia tau bagaimana perasaan Bilqis, tapi ia pun tak menyangka bahwa Tasya akan seperti itu sikap nya, padahal Tasya sering menanyakan nya lewat ponsel kepada kakak nya. Entah apa yang di rencanakan oleh Tasya, Erick tidak tahu.
__ADS_1
Bersambung...