
Saat di perjalanan, Bilqis hanya diam tidak bertanya atau pun apa, dan semenjak Erick berpacaran dengan Bilqis, David tak lagi mengantarkan tuan nya pulang, karna Bilqis masih bekerja di kantor Erick. Setiap hari Erick mengantar jemput Bilqis, dan mungkin sudah sangat membuat para orang yang ada di kantor penasaran, ada apa hubungan CEO mereka dengan Bilqis yang pekerjaan nya adalah seorang OG. Dan sudah pasti nya David sudah membungkam semua staf dan karyawan agar tidak membicarakan apa apa di depan maupun di belakang tentang bos nya, dan tentu saja semua staf mengikuti perintah dari David yang bahkan sahabat pemilik perusahaan itu. Jadi tidak heran jika David pun tak kalah di takuti oleh para staf di sana.
Erick tak henti henti nya memperhatikan Bilqis yang membuat Bilqis risih sendiri di buat nya.
"Fokus saja menyetir, aku belum siap untuk kehilangan mu dan kehilangan nyawaku," ucap Bilqis datar, sedangkan Erick langsung fokus dan tertegun dengan apa yang Bilqis katakan.
Sayang, maafkan aku.
"Kamu kenapa? ada masalah? Mamah dan Tasya tidak menyakitimu bukan?" tanya Erick sambil menoleh ke arah Bilqis singkat.
"Mana mungkin wanita sebaik ibu mu menyakitiku, dan mana mungkin juga gadis secantik dan sebaik Tasya menyakitiku, aku di perlakukan baik oleh mereka kok, dan aku pun senang bertemu dengan mereka," jawab Bilqis dengan senyum nya yang tulus, walaupun hatinya sakit saat teringat perkataan Sarah, tapi ia tidak mau membicarakan semua nya kepada Erick, Bilqis takut keluarga Erick akan runyam karna nya.
"Syukurlah jika mereka baik kepadamu, bahkan mereka ingin sekali bertemu dengan mu, dan Tasya pun merengek ingin bertemu dengan mu, dan setelah kelulusan ia langsung pulang ke indonesia hanya untuk mengetahui yang mana calon kakak ipar nya itu," ucap Erick sambil mencubit hidung Bilqis lembut.
Kemudian Bilqis pun tertawa, dan mungkin hanya Erick yang akan membuat nya tertawa kembali setelah tersakiti. Tapi sekilas ia ingat dengan sikap manja Tasya kepada Erick, ia sedikit merasa sakit dengan apa yang di lakukan Tasya kepada Erick, bahkan mereka saling cium kening di depan orang banyak, dan mungkin jika mereka berdua jalan jalan akan terlihat seperti pasangan kelasih karna umur Tasya tidak jauh dari umur Erick. Mereka hanya selisih 3 tahun, yang hampir sama dengan umur kedua anak nya yang hanya selisih 2 tahun.
Tapi ia kembali berfikir,
Benarkah Tasya dan Ibu sangat ingin bertemu dengan ku, dan kenapa saat kedatangan ku mereka seperti tidak menginginkan ku, bahkan mereka sudah melihat semua foto ku dan bahkan kedua anak ku sekalipun. Tapi apakah mereka hanya akan baik saat aku berada di samping Erick saja, huh biarkan lah mereka bersikap apa kepadaku, aku tidak bisa berbuat apa apa, aku juga tidak bisa mengadu kepada Erick, aku takut keluarga mereka renggang hanya karna keberadaan nya.
"Sayang, Bilqis," tegur Erick saat Bilqis tenggelam dalam pikiranya nya.
"Ah, iya," jawab Bilqis terkejut.
"Kenapa?" tanya Erick.
"Ah, aku tidak apa apa, memang nya kenapa?" Bilqis malah balik bertanya kepada Erick.
"Kenapa melamun? ada apa? ada yang kamu pikirkan sayang?" tanya nya lagi.
__ADS_1
"Aku tidak apa apa Erick, aku hanya ingin cepat cepat bertemu Zora dan Dery." Bilqis pun menjawab nya dengan datar, ia hanya melihat gedung gedung yang tinggi dan sangat indah saat malam.
Apa benar kamu baik baik saja?
Tak lama pun mereka sampai di depan rumah Bilqis, Erick pun langsung turun dan langsung membukakan pintu untuk Bilqis.
"Silahkan tuan putri," ucap Erick yang langsung menganggap tangan Bilqis dan kembali menggandeng nya.
Setelah sampai di rumah, mereka langsung di sambut habgat oleh kedua anak Bilqis, Zora dan Dery senagaja tidak di bawa oleh Bilqis, dengan alasan takut rewel ingin pulang, ya nyatanya bukan seperti itu, ia merasa sedikit gensi untuk membawa kedua anak nya, apalagi yang akan ia kunjungi bukan keluarga sembarangan, dan sangat terbukti Sarah dan Tasya tidak menyambutnya dengan hangat, semua nya hanya akan manis jika di depan Erick.
"Bunda!" teriak kedua nya yang langsung memeluk Bilqis.
Kemudian kedua bocah itu pun turut memeluk Erick, mereka sudah sangat nyaman saat di pelukan Erick, ingin rasanya Erick cepat cepat menjadi ayah mereka, mungkin hidup mereka akan tambah bahagia.
"Sayang, kalian tidak apa apa di rumah?" tanya Erick.
"Jangan khawatirkan kami paman, kami baik baik saja," jawab Zora.
Tak lama kemudian suara ponsel Bilqis berbunyi, ia langsung memeriksa ponsel nya, dan ternayata ada pesan dari no yang tidak ia kenal, lalu ia membiarkan nya saja, Bilqis langsung merebahkan dirinya karna kedua anak nya sudah tertidur di kamar lain nya.
●●●●●
Di sebuah taman yang indah dan asri, Bilqis sedang menunggu seseorang yang sudah mengajak nya bertemu, ia menunggu sudah cukup lama, dan tak lama kemudian gadis itu datang.
"Kak," tegur nya.
Bilqis langsung melirik ke arah suara tersebut,
"Iya, duduk Ya," jawab Bilqis.
__ADS_1
"Kak, sebelum nya aku minta maaf, aku sudah bersikap seperti itu kepada kakak." ucap Tasya yang merasa bersalah kepada Bilqis.
"Iya tidak apa apa Aya, terus ada apa mengajak kakak bertemu?"
"Kak, boleh aku minta tolong?"
"Jika kakak bisa, kakak akan memenuhi permintaan mu Ya," jawab nya.
"Tolong jaga kak Erick kak, jangan sampai kakak meninggalkan nya, walaupun kami bersikap seakan akan membenci kakak, kumohon kakak jangan tinggalkan kak Erick dalam keadaan apapun," ucap Tasya yang langsung berlalu meninggalakan Bilqis yang masih merenung dengan apa yang di katakan Bilqis.
"Ya!" Bilqis menoleh ke arah nya dan ternyata Tasya sudah tidak ada di samping nya.
"Apa maksudnya?" guamam nya pelan.
●●●●●
Pagipun tiba, seperti biasa ia mengerjakan semua tugas nya termasuk mencuci pakaian tetangga, walaupun ia sudah mempunyai pacar yang kaya raya, bahkan dia adalah pemilik perusahaan tempat ia bekerja, perusahaan terbesar dan terkenal di kota nya, ia tetap mengerjakan pekerjaan nya seperti biasa, di sela sela pekerjaan nya ia merenung atas mimpi nya tadi malam, ada apa dengan Erick? kenapa Tasya mengatakan seperti itu, Bilqis sungguh di buat bingung oleh pernyataan Tasya di dalam mimpi nya. Jam sudah menunjukan jam makan siang, Zora pun sudah pulang dari sekolah nya.
"Bunda," tegur Zora.
"Iya Sayang, oh iya ayo kita makan?" ucap Bilqis gugup.
"Bunda, kenapa?" tanya Zora saat melihat kegugupan di dalam diri Bunda nya.
"Tidak sayang. Dery! ayo makan sayang," teriak nya karna Dery tak kunjung datang ke meja makan.
"Iya Bunda!" balas nya.
Mereka pun makan bersama seperti biasa, tapi kedua bocah itu menyadari perbedaan sikap Bunda nya, mereka pun saling tatap memperi jawaban atas pertanyaan di dalam hatinya lewat sorot matanya.
__ADS_1
Dery, Zora...