Ingat, Aku Mencintaimu

Ingat, Aku Mencintaimu
EPISODE 11


__ADS_3

Malam pun tiba, senyum yang biasa terkembang di bibir manis Bilqis kini pudar, Bilqis sadar ia sudah melewati batas untuk mengagumi bos nya, ia pun paham, Erick tidak mungkin akan membalas perasaan nya, sedangkan ada wanita cantik, elegan, dan juga kaya yang mencintainya dan juga dekat dengan nya. Bila di bandingkan dengan dirinya, Bilqis merasa semua nya bagaikan langit dan bumi. Sangat jauh berbeda, Dinda gadis yang baik hati dan juga cantik, Dinda berhak mendapatkan apa yang Dinda sukai, dan Bilqis akan dengan berat hati merelakan semua nya kepada Dinda. Ia hidup sampai sekarang pun sudah sangat bersyukur, ia pun sudah bahagia dengan keberadaan kedua anak nya, jadi ia tidak ingin serakah, merasakan kebahagiaan berlipat ganda, sedangkan orang yang sangat banyak membantu nya harus menelan pahit nya cinta. Biqlis tidak mau Dinda merasakan apa yang ia rasakan dulu.


"Baiklah, lebih baik aku menyerah," gumam nya.


"Bunda!" tegur Dery saat melihat Bunda nya tengah melamun.


"Hah, iya ada apa sayang?" tanya Bilqis yang tersenyum sesenang mungkin, ia tidak mau jika anak nya melihat ia bersedih.


"Bunda kenapa?" tanya Dery khawatir.


"Bunda tidak apa apa, memang nya kenapa?"


"Bunda, apa Bunda seperti ini gara gara Aunty Ana?" tanya Dery yang membuat Bilqis tersedak dengan sendirinya. Nafas nya terasa tercekat saat mendengar nama Ana.


"Hei ada apa dengan Aunty Ana, Bunda tidak apa apa sayang sungguh," ucap Bilqis meyakinkan Dery. "Sebaiknya kamu tidur besok harus sekolah oke," ucap Bilqis sambil mencubit pipi Dery gemas.


"Baiklah Bunda, selamat malam," ucapnya.


"Malam juga sayang, semoga mimpi indah," cup. Bilqis mengecup kening Dery dengan kasih sayang.


Saat Dery sudah masuk ke dalam kamar nya, Bilqis kembali merenung, ia berada di meja makan, ia hanya mendentingkan sendok kemeja dengan berulang ulang, Zora yang melihat kondisi Bunda nya langsung menghampiri Bunda nya.


"Bunda," sapa Zora yang membuat Bilqis tersentak kaget.


"Hah! ada apa sayang?" tanya Bilqis.


"Bunda kenapa? sepulang dari mall Bunda tiba tiba diam," ucap Zora.


Bilqis menghela nafas nya dalam, ia berusaha menghilangkan semua beban nya, ia pun berusaha untuk menghapus rasa yang tumbuh di hatinya. "Sayang, Bunda tidak apa apa, Bunda hanya sedikit pusing," jawab nya asal.


"Bunda, jangan bohong kepadaku, Bunda masih bisa berbohong kepada Dery, tapi mata Bunda tidak bisa berbohong Bun." Zora menarik tangan Bilqis agar bangkit dari duduk nya.


"Mau kemana?" tanya Bilqis.

__ADS_1


Zora tidak menjawab pertanyaan Bunda nya, ia membawa Bunda nya keluar rumah, mereka duduk di bangku taman yang memang berada di depan rumah Bilqis.


Dorrr...


Terdengar suara petasan yang menyala dan menunjukan pemandangan istimewa, Bilqis tersenyum bahagia saat melihat prmandangan itu. Di saat letusan ke dua, Bilqis merasa ada yang memegang pundak nya, ia menoleh ke samping nya. Mata Bilqis terbelalak saat melihat siapa yang berada di samping nya.


"....."


●●●●●


Saat Bilqis akan meninggalkan meja mereka, Erick memberikan sesuatu kepada Zora tanpa sepengetahuan siapa siapa, saat Bilqis sudah benar benar pergi dari Cafe nya, Erick langsung berpamit kepada Dinda agar bisa pulang lebih awal.


"Din sorry, aku harus pulang terlebih dahulu, ada pekerjaan yang aku lupakan," ucap Erick yang bangkit dari duduk nya.


"Ya sudah," jawab Dinda pelan.


"Bye"


Erick dengan cepat pulang ke Mansion nya, ia di sambut hangat oleh satpam yang menjaga Mansion nya itu, dia langsung memarkirkan mobil nya di depan pintu, ia langsung turun dan berlari ke kamar nya, ia merenung melihat langit langit kamarnya.


Ia sesekali mengecek ponsel nya menunggu notif yang ia tunggu, tapi notif tidak terdengar sama sekali, ia di buat prustrasi dengan diam nya, ia tidak tahu hatinya serasa sesak saat melihat Bilqis bersikap gugup saat di depan Dinda, bahkan Bilqis mengubah kembali panggilan nya. Dan tak lama ponsel nya pun berbunyi. Ia dengan cepat mengangkat telpon itu walaupun tanpa nama.


"Hallo ini siapa?" tanya nya antusias.


"....."


"Baiklah sayang," jawab nya seraya langsung tersenyum.


Ia langsung menghubungi sekertaris nya.


"Hallo Vid, tolong ke rumah," ucap Erick yang langsung mematikan ponsel nya sepihak.


Tak berapa lama kemudian sekertaris nya datang dan membawa barang barang yang memang sudah di perintahkan oleh tuan nya.

__ADS_1


"Barang sebanyak ini untuk apa tuan?" tanya David heran.


"Kau sudah lama bekerja dengan ku, kau pasti tahu apa yang aku rasakan." David mengerti apa yang tuan nya bicarakan, ia pun mengangguk dan menjalankan semua perintah nya.


Seharus nya malam ini dia bersantai karna besok dia harus kembali bekerja, tapi sayang nya, bos nya memanggil di saat waktu yang tidak tepat. Tadinya ia berencana untuk mendekatkan diri kepada teman nya, tapi rencana itu harus ia kubur terlebih dahulu.


Setelah semua nya selesai, David langsung menghubungi tuan nya, dan Erick pun langsung bergegas melajukan mobil nya menuju rumah Bilqis.


Ya, dia yang menyiapkan semua nya, Erick menyadari perubahan sikap Bilqis saat dirinya tengah bersama Dinda.


Ia langsung merencanakan semua nya dengan matang, saat Bilqis sudah keluar, Erick memyuruh sekertaris nya untuk menyalakan kembang api itu. Erick langsung mengambil langkah saat melihat Bilqis sedang fokus dengan kembang api itu.


Erick perlahan memegang pundak Bilqis yang membuat Bilqis menengok ke arah nya. Bilqis sangat terkejut dengan kedatangan bos nya, ia mencoba menetralkan detak jantung nya agar tidak berpacu dengan cepat.


"Pa-pak Erick?" gugup nya.


"Suttt" Erick menempelkan jari telunjuk nya di bibir Bilqis agar Bilqis tidak memanggil nya 'pak'.


"Jangan pernah memanggilku seperti itu jika sedang di luar, cukup di kantor saja." Erick pun melepaskan jari nya saat melihat Bilqis diam tak bergerak. Mata mereka saling mengunci, petasan tidak membuat fokus mereka buyar, saat mereka sadar, Bilqis langsung meminta maaf kepada Bos nya karna sudah lancang menatap bos nya seperti itu.


Kemudian Erick memegang kedua tangan Bilqis dengan mesra, Erick menggenggam nya seperti tidak mau berpisah dengan pujaan hatinya.


"Bilqis, sejak pertama kali aku bertemu dengan mu, aku sudah merasakan kau berbeda dengan perempuan perempuan di laur sana, tidak tahu kenapa aku sangat tertarik dengan mu. Bilqis, aku menyukaimu, maukah kau menjadi pacarku?" ucap Erick yang berlutut di hadapan Bilqis.


Kemudian Bilqis menarik tangan Erick agar berdiri, ia mentap mata Erick lekat. "Erick, jujur aku juga menyukai mu, tapi aku tidak mau menyakiti Dinda." Bilqis tertunduk saat mengatakan itu, hatinya terasa sakit saat melihat orang yang di sukai nya juga menyukai nya.


"Dia hanya teman ku," jawab Erick seperti memohon kepada Bilqis agar menerima cinta nya.


"Aku tau, tapi dia menyukai mu, aku tidak mau menyakiti sahabat ku sendiri, aku tidak mau persahabatan ku hancur hanya karna masalah laki laki, jadi maaf..." ucapan nya terputus saat Bilqis mendengar suara yang sangat familir di telinga nya.


Dinda...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2