
Erick memebalas pelukan itu dengan hangat, sedangkan Bilqis merasa tidak enak dengan Erick, ia mencoba memegang tangan Zora tapi Erick menahan nya.
"Biarkan saja, aku melihat nya semua." ucap Erick lembut, tak terasa mereka saling pandang, tangan mereka masih berpengangan satu sama lain. Bahkan saat Dery dan Zora melepaskan pelukan nya pun mereka belum tersadar dengan lamunan nya, yang membuat kedua anak itu melahirkan senyum nya.
"Der, lihat lah Bunda, sepertinya Bunda juga suka kepada paman Erick." ucap Zora.
"Iya kak, aku sangat setuju jika paman Erick menjadi ayah tiri kita." jawab Dery.
Tak lama kemudian mereka sadar, mereka saling berdehem untuk mencairkan kecanggungan, Bilqis menunduk malu, bagaimana dia bisa selancang itu menatap bos nya. Sedangkan kedua anak nya tersenyum melihat tingkah sang Bunda.
"Paman, aku merindukan mu." ucap Zora yang langsung memeluk Erick.
Erick pun rasanya tidak keberatan dengan sikap manja Zora dan Dery, malah sebaliknya ia sangat senang jika Zora dan Dery bisa akrab dengan nya.
"Heii sayang, jangan terlalu berlebihan kepada paman." ucap Bilqis khawatir jika Erick tidak nyaman dengan sikap kedua anak nya.
Kemudian Zora dan Dery melepaskan pelukan nya, mereka kembali melanjutkan bermain dan membiarkan Bunda nya berbincang dengan Paman Erick.
"Apa tadi mantan suami mu?." tanya Erick.
Bilqis hanya mengangguk pelan sambil menundukan kepala nya tidak berani menatap mata Erick.
"Kenapa dia dulu meninggalkan mu?." tanya nya lagi.
"Dia berselingkuh dengan teman ku." ucap Bilqis pelan, saat ini ia butuh seseorang untuk menumpahkan semua unek unek nya, ia ingin sekali bercerita tentang semua kehidupan nya kepada Erick.
"Lalu?."
"Dia meninggalkan kami bertiga tanpa memberi sepeser uang pun, bahkan dulu Dery dan Zora masih sangat kecil." ia mencoba menahan tangis nya agar tidak tumpah di hadapan Erick.
__ADS_1
Bilqis menceritakan semua nya tentang mantan suami nya yang berselingkuh dengan teman nya sendiri, sampai ia benar benar di tinggalkan.
"Menangis lah jika ingin menangis." ucap Bilqis sambil menatap mata Erick.
"Orang sepertinya tidak perlu di tangisi." ucapnya pelan tanpa mengalihkan pandangan nya. Begitupun Erick, ia menatap mata Bilqis lekat.
Tak lama tangan Erick sudah mengusap pipi nya yang basah karna air mata, dengan tidak sadar Bilqis tengah meneteskan air mata entah karna masih terasa sakit bekas luka yang di goreskan oleh mantan suami nya atau ia merasa bahagia bisa bertemu laki laki sebaik Erick dan ia sedikit berharap agar mereka bisa bersatu.
"Maafkan aku." ucap Bilqis yang langsung menundukkan kepala nya malu.
Erick tersenyum melihat tingkah Bilqis, ini lah pertama kali nya ia merasakan hati nya menghangat kepada seorang wanita. Walaupun ia terkenal tampan, tapi ia sangat susah untuk jatuh hati kepada perempuan, dia hanya mementingkan pekerjaan tanpa menguruskan tentang wanita atau pernikahan.
"Tidak apa, kau berhak menangis." ucap Erick sambil mengelus pundak Bilqis pelan.
Bilqis merasa nyaman saat di sentuh oleh Erick, tapi ia berusaha sekuat mungkin untuk menjaga hati nya agar tak merasakan lagi apa itu patah hati.
Saat waktu sudah menjelang sore, mereka pulang, Erick mengantarkan Bilqis kerumah nya, dan bermain sebentar di rumah Bilqis.
Banyak cerita yang di ceritakan oleh Bilqis, orang tua nya yang sudah meninggal sejak ia kecil dan ia sekarang hanya hidup sebatang kara tanpa keluarga dan kedua anak nya lah penyemangat nya untuk bangkit dan hidup kembali. Erick pun sangat serius menanggapi semua yang Bilqis katakan.
Setelah hampir pukul 18.00 Erick melaksanakan kewajiban nya terlebih dahulu, ia shalat berjamaah bersama Bilqis dan kedua bocah itu, seperti keluarga kecil yang bahagia, sangat terlihat doa khusyu yang di ucap kan di dalam hati Erick, begitupun Bilqis, ia berdoa agar hidup nya bisa bahagia, dan ia pun mendoakan agar Erick di beri kesehatan dan keselamatan. Semua ia ucapkan di dalam doa nya, ia sangat berterimakasih kepada Erick yang sudah mau menjadi 'teman' nya, yang membuat kedua anak nya bahagia kembali.
Saat semua nya selesai, Erick pamit pulang karna tidak enak degan tetangga tetangga yang sering berbincang tentang nya dan Bilqis.
Saat di perjalanan pulang, senyum terus mengembang, hati nya sudah mencair di karnakan kehangan sosok seorang Bilqis.
Apakah ini cinta?.
Ia sekarang bukan pulang ke Mansion nya, melainkan ke rumah orang tua nya.
__ADS_1
Sangat jarang Erick berkunjung ke rumah orang tua nya. Sekali nya berkunjung ia hanya di perindahkan oleh sang ibu.
Saat ia sampai di gerbang halaman rumah orang tua nya, ia di sambut hangat oleh satpam yang sudah lama bekerja di keluarga nya.
"Selamat datang tuan." sapa nya.
Erick hanya tersenyum tipis, sedangkan satpam itu mengerutkan kening nya bingung. Sejak kapan tuan muda nya tersenyum ramah kepada orang. begitu pikirnya.
Setelah sampai di depan pintu, ia pun di sambut dengan beberapa pembantu dan orang tua nya.
Erick juga mempunyai adik perempuan yang bernama Tasya Alana Michael. Tasya adalah seorang mahasiswa berprestasi di universitas nya, ia kuliah di luar negri, dan beberapa bulan lagi kelulusan pun hadir, mungkin Tasya akan langsung pulang ke Indonesia dan menjalankan anak perusahaan keluarga Michael di bidang yang ia suka. Tasya berumur 20 tahun, seorang gadis cantik yang memiliki sifat hangat tidak seperti kakak nya dan ibu nya. Ia meniru semua jalan ayah nya, dari sikap, dan semua gaya bahasa.
Erick langsung di sambut hangat dengan kedua orang tua nya, ia memeluk ibu nya dan bergantian memeluk ayah nya.
"Apa kabar mah, pah." sapa Erick.
"Kami baik baik saja. Kemana saja kamu, sudah satu minggu tidak kesini." jawab Ayah.
"Akhir akhir ini Erick sibuk pah, jadi hari ini baru bisa menyempatkan pulang karna Erick tadi tidak masuk kantor." jawab nya.
"Kenapa tidak dari siang kemari, kami merindukan mu sayang." jawab sang ibu.
"Aku baru saja mendekatkan diri dengan seseorang mah." jawab Erick dengan senyum manis nya dan berjalan ke arah kamar nya.
Sedangkan orang tua nya bingung dengan sifat Erick, apalagi Erick berkata sedang dekat dengan 'Seseorang' tapi senyum tak luput dari mereka. Memang sudah saat nya Erick mendapatkan kebahagiaan dari wanita yang di pilih nya, tapi mereka pun takut jika apa yang mereka takut kan terjadi.
Erick berjalan menyusuri tangga dengan senyum yang masih mengembang saat memikirkan sang pujaan hati, hati nya berdetak dua kali lebih cepat, apalagi saat ia membicarakan tentang Bilqis ke hadapan orang tua nya.
Bersambung...
__ADS_1