
Nicholas hanya tersenyum sambil menepuk bahu Nero, " Aku menunggu bagaimana ekspresi ayah kita saat kau membawa nya kesini " Ujar Nicholas.
Nero hanya diam dan mengalihkan pandangan nya, dan tak sengaja pandangan nya terhenti di Viola yang saat itu tak sengaja juga memandang nya, mereka bertatapan saat itu, sama-sama tanpa ekspresi. Namun, Viola lebih dulu menyudahi nya dan ia pergi.
Saat itu acara perkenalan itu sudah selesai dan tentu semua karyawan kembali ke pekerjaan nya masing-masing.
Namun tidak untuk Nero, setelah sesi tatap menatap antara kedua nya, ia masih berdiri memandangi Viola yang tengah kembali untuk bekerja, hingga akhirnya ia tersadar ketika Anne menyapa nya.
" Nero, sudah lama tak bertemu dengan mu " Kata Anne
" Oh Anne.. senang dapat bertemu dengan mu lagi " Ujar Nero sambil memeluk Anne.
" Kalian berdua sungguh sudah dewasa dan tampan " Kata Anne sambil tertawa kecil.
" Benarkah? Tentu aku lebih unggul daripada Nero bukan ?" Ujar Nicholas bercanda.
Anne hanya tertawa " Tentu " ujar Anne .
" Sudah ku bilang kan, Aku ini lebih tampan darimu " Kata Nicholas meledek Nero.
" Biarkan orang lain saja yang menilai " Kata Nero.
" Hey, perkataanmu tadi kalah telak Nick " ujar Anne.
Nero menyunggingkan senyum nya ke Nicholas.
" Kau " Kata Nicholas.
Anne dan Nero terkekeh melihat Nicholas.
" Baiklah aku permisi dulu ya " Ujar Anne. " Jaga saudaramu ini " Kata Anne lagi.
" Tenang saja, ia jinak " Kata Nero sambil tertawa.
" Oh ya nyonya Lauren, bisakah kau menyampaikan salam ku untuk Viola " Kata Nicholas.
Nero yang tadi nya tertawa, mendengar kata-kata dari Nicholas langsung diam dan kembali memasang wajah datar.
" Bukan kah kau masih bisa bertemu dengan nya nick, dia masih ada di kantor ini " ujar Anne
" Aku ingin kau menyampaikan salam ku ketika ia sudah berada di rumah " Ujar Nicholas.
" Baiklah Nick, Apa aku harus menyampaikan salam darimu juga Nero?" Kata Anne.
" Untuk apa, itu tidak perlu " Kata Nero acuh.
Anne hanya diam, lalu pergi.
Anne bingung, mengapa nero bersikap seperti itu, bukan kah dulu mereka pernah dekat seperti yang di ceritakan oleh Viola.
Anne menghela nafas, " Perkiraan ku seperti nya benar " Gumam Anne.
" Kenapa banyak sekali berkas yang harus di tanda tangani oleh nya hari ini " gumam Viola.
Dia tengah menyusun berkas yang hendak di berikan nya kepada Nero.
" Aku jadi sedikit menyesal telah menerima tawaran tuan Alexandre mengenai jabatan ini " Gumam nya lagi.
Mau tak mau ia pun segera menuju ruangan Nero.
__ADS_1
" Ini ada berkas yang harus di tanda tangani lagi pak " Kata Viola.
Nero tak menatap nya, ia sibuk dengan berkas lain di meja nya. " Taruh saja di situ " Kata Nero.
Viola menaruh semua berkas nya di meja Nero, " Saya permisi " Kata Viola.
" Tunggu " Ujar Nero tiba-tiba membuat Viola kaget.
" Iya pak " Kata Viola dengan wajah bingung nya, sungguh seperti anak kucing yang bingung, terlihat menggemaskan.
Wajah Nero pun merah dibuat nya, karena ia sadar ia tersipu, ia menutupi wajah nya dengan tangan nya, " Kau.. Ada yang ingin ku bicarakan kepadamu " Ujar Nero.
Viola pun mendekat, siap mendengarkan.
" Sebutkan nama lengkap mu " Kata Nero.
" Viola givanna dakota " Ujar Viola, ini persis seperti ingin wawancara kerja saja.
" Apa kita pernah bertemu sebelum nya ?" tanya Nero.
Viola hanya diam, dan tak lama ia menjawab " Sepertinya tidak pernah pak, "
Jauh di dalam lubuk hati Viola ia merasakan kecewa kembali, ingin ia meneriaki kalau ia bukan hanya pernah bertemu, bahkan lebih dari itu.
Nero diam sesaat.
" Baiklah, kau boleh pergi " Ujar Nero.
Viola pun berbalik dan dilihat nya sekali lagi wajah Nero, sesungguh nya ia sangat merindukan laki-laki itu.
Ketika Viola telah pergi, Nero pun memegang dada nya dan berkata " Rasa nya ada yang menganjal disini " Lalu ia pun menutupi kedua wajah nya dengan telapak tangan nya, " Mengapa ia cantik sekali " gumam Nero. " bahkan dari yang dulu " gumam nya lagi.
Didepan pintu, Viola tertunduk lesuh dan tak sengaja ia menabrak seseorang yang tak lain adalah Nicholas, " Hai Nona Viola " Kata Nicholas dengan senyuman nya.
" Aku ingin dengar, apa kalian cepat akrab ?" Kata Nicholas.
" Seperti nya itu bukan lah hal yang mudah tuan " Ujar Viola.
Nicholas hanya terkekeh,
" Tuan, apa tuan nero pernah mengalami gegar otak, amnesia atau semacam nya " Tanya viola dengan polos nya, ia mengira nero tak mengingat dirinya karena Nero mengalami penyakit semacam itu.
Nicholas membulatkan matanya lalu mengeryitkan dahinya " Kurasa ia sehat saja Nona Viola " Ujar Nicholas.
Viola hanya menganggukan kepala nya.
" Kalau boleh tau, kenapa kau menanyakan hal itu " Ujar Nicholas.
Viola bingung harus menjawab apa, " Ah tidak, tuan, lupakan saja, " Kata Viola pergi.
" Nero bebuat apa, hingga gadis itu bertanya seperti itu " Gumam Nicholas.
*Dirumah Viola
Anne dan Viola tengah duduk di ruang tengah sambil menonton televisi.
" Kau sudah bertemu dengan nya bukan ?" Ujar Anne
" Ya " Kata Viola singkat dengan raut wajah lesuh.
__ADS_1
" Viola, seharus nya kau senang, kenapa kau jadi sedih, kau persis terlihat seperti anak kecil yang permen nya jatuh di jalanan. " Ujar Anne.
" Bi.. dia melupakan ku " Kata Viola dengan mata berkaca-kaca.
Anne tidak kaget mendengar pernyataan itu, karena ia sudah mengira nya ketika ia bertemu dengan Nero tadi.
" Dia tidak mengingat aku bi, bahkan namaku " Kata Viola merengek.
" Dia sungguh keterlaluan, aku berharap pertemuan ini menjadi pertemuan yang menyenangkan, tapi kenapa jadi seperti ini " Viola menitik kan Air mata nya.
Anne sungguh tak tega melihat Viola seperti ini, " Ayolah vio, kau tahu bukan, dia di australia bukan nya hanya bermain-main saja, banyak hal yang ia lakukan, kurun waktu 10 tahun itu sangat lah lama, sangat banyak yang harus ia ingat karena ia belajar menjadi seorang presdir, itu tidaklah mudah Vio, jadi sangat wajar kalau ia tak mengingatmu sayang " Ujar Anne menenangkan Viola.
Viola menghapus air mata nya yang menetes, dia sejenak berpikir.
" Benarkah seperti itu bi " Ujar Viola memastikan.
Anne menghela nafas lalu memeluk dan mengelus kepala Viola, " Iya Viola, cukup dengan bertemu dengan nya setiap hari, ia pasti akan mengingat semua nya " Kata Anne dengan suara yang sungguh menenangkan bagi Viola.
Viola hanya menganggukan kepala nya tanda mengerti.
" Oh ya, Hari ini kau mendapatkan sebuah salam dari penggemarmu " Ujar Anne."
" Penggemar ku ?" Tanya viola yang kebingungan.
" Iya, penggemarmu Vio. Sepertinya ia sangat mengidolakan mu " Ujar Anne seperti tengah meledek.
" Siapa itu bibi Anne "
" Siapa lagi kalau bukan tuanmu, Nicholas pierce " Ujar Anne terkekeh.
" Tuan Nicholas?"
Anne menganggukan kepala nya, " Sepertinya ia menyukaimu "
" Itu tidak mungkin bibi Anne " Kata Viola sambil tertawa ringan dan tersipu malu.
" Bibi, aku mau ke supermarket di depan sana, ada beberapa barang yang harus ku beli " Kata Viola.
" Tapi ini sudah malam, aku akan menemanimu " Ujar Anne.
" Tidak usah bibi, supermarket nya dekat, aku bisa sendirian, kau istirahat saja bi " Ujar Viola.
" Baiklah, jangan terlalu lama Vio " Kata Anne.
Viola berjalan menuju supermarket, ia melewati jalan pintas untuk cepat tiba di supermarket, membeli barang yang ia perlukan lalu kembali.
Namun, di tengah perjalanan Viola di hadang oleh 3 orang berandalan yang terkesima dengan wajah cantik dan tubuh molek Viola.
" Kau cantik sekali nona " Ujar salah satu berandalan itu.
" Bagaimana kalau kau ikut dengan kami saja " Kata berandalan lain nya.
Mereka mencoba mencolek bagian wajah viola yang membuat viola ketakutan.
" Jangan sentuh aku, kumohon biarkan aku pergi " Ujar Viola yang sedikit lagi ingin menangis.
Salah satu dari berandal mencoba mengajak paksa Viola dengan menarik salah satu lenganya, Viola hanya bisa meminta tolong, namun disana terlalu sepi, Viola menangis, memohon kepada berandalan itu untuk melepas kan nya, Namun mereka tak menghiraukan nya, mereka malah semakin memaksa viola untuk ikut bersama mereka.
Tiba-tiba, tangan berandal yang menarik Viola di cengkram oleh seseorang yang entah dari mana datang nya.
__ADS_1
" Lepas kan tangan kotormu ini, Pak tua " Ujar seseorang itu.
Suara itu sangat tak asing bagi Viola, begitu Viola menoleh, Viola terlihat senang dan lega dalam isakan tangis nya.