
Mobil berhenti dilokasi parkir dengan papan putih bertulis "preskom" teduh dan menyendiri. Kunci pintu otomatis terbuka dan mereka semua turun dari mobil. Pambudi menghentikan langkahnya dan berbaliki memandangi Alina yang berdiri mematung.
"Saya sudah janji tidak akan mengganggu Mas.. saya disini saja " Alina menjelaskan sambil tersenyum lebar, semangatnya seolah mendapat kekuatan dua kali, dan rasa laparnya sudah hilang sama sekali.
"Jangan mencoba mempermalukan saya.. "Ujar Pambudi dengan kesal sambil berjalan dan menggenggam lengan Alina "menyeretnya" meninggalkan areal parkir.
"Gadis ini, sudah mengalihkan perhatiannya mau sok malu lagi pasang harga diri segalai. Dia sendiri juga tadi sudah bilang kalau dia belum makan" Pambudi menggerutu dalan hati.
Alina tidak berkutik, lagi pula genggaman tangan Pambudi pada lengannya sangat erat, tidak dapat dilepaskan. Dia menurut dan berlari kecil mengikuti langkah kaki panjang Pambudi yang tinggi badannya mencapai 188 cm. Badanya erkesan agak tipis tapi lumayan tegap. Sementara badan Alina yang hanya setinggi 156 cm dan kurus kekurangan gizi hanya mampu melangkah kecil setengah berlari disamping Pambudi.
Pambudi baru melepaskan tangan Alina setelah memasuki loby samping ..di sana ada pintu khusus yang tidak setiap orang bisa menggunakannya. Di sana Si Sopir sudah menekan tombol lift terbuka. Mereka masuk dan Alina melirik saat si Sopir kembali menekan angka 6 pada tombol lantai.
Alina menahan nafas, eksiting sekaligus menebak dan memikirkan apa yang akan terjadi berikutnya. Tanpa sadar dia menggeleng gelengkan kepalanya mengenyahkan semua dugaannya yang mengganggu. Dia harus menyelamatkan pantatnya untuk tetap duduk sebagai wartawan di tempatnya magang saat ini, hanya itu tujuan utama dan terpenting baginya saat ini.
Mata bulat Alina membesar saat melihat penampilannya dalamnpantulan cermin lift. Jeans belel dan sepatu kets lusuhnya, kaos dan balutan jaket jins yang hampir selusuh bawahanya. Dan Tuhan rambutnya acak acakan dikuncir bun di atas kepalanya, dan anak anak rambut yang berseliweran di wajahnya. Refleks dia melangkah mundur dan berusaha menyembunyikan bayangan tubuhnya di belakang si Sopir. Pambudi yang sejak tadi memperhatikan tingkah gadis itu diam diam tersenyum kecil melihat wajah gadis itu berubah merah menahan malu.
Itu ruang makan khusus VIP disekat menjadi sebuah ruang yang di dalamnya tertata interior sesuai keinginan para tamu. Ruang Sakura dengan interior meja makan ala jepang, Ruang Jeju dengan interior musim semi di Jeju.. persis yang biasa dilihat Alina dalam iklan iklan wisata ke luar negeri.
Mereka memasuki ruang Malioboro.. lesehan.. hhmm Alina tersenyum girang dan bersyukur dalam hati. Dia tidak dapat membayangkan duduk dan makan dengan menggunakan sumpit di dua ruang sebelumnya. Si Sopir meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan. Alina berusaha mengalihkan pandanganya dari wajah Pambudi yang dia tahu sudah mengamatinya sejak masuk tadi
"Hmm saya ke .."Alina ijin ke tolet dan segera menghilang dibalik pintu.. tanpa menunggu persetujuan Pambudi.
Di dalam toilet Alina tak henti menyesali penampilannya. Dia bukan tidak punya hem atau straight pants, tapi dia nyaman dengan jeans dan kaos oblongnya. Tapi makan siang dengan seorang pengusaha muda yang terkenal , profilnya menghiasi media cetak dan elektronik, dan tentu saja menjadi idola setiap wanita, bukan bicara tentang penampilan yang nyaman. Tapi bagaimana penampilan yang pantas dan tidak memalukan. Dia membuka kuncir dan merapikan rambutnya yang berantakan. Rambutnya hitam dan sedikit bergelombang, darah ambon dari ayahnya memberinya itu. dan wajahnya yang kuning langsat dengan alis rapat dan bulu mata lentik alami yang menaungi bola mata kecoklatan yang berbinar cerdas seperti kerlip bintang. Dia tidak biasa menggunakan bedak apalagi skin care yang harganya diluar jangakauanya. Ahh sudahlah.. setelah ini dia tidak akan pernah lagi berjumpa dengan Laki laki itu. Dan tentu saja dia akan dengan mudah dilupakan. Alina berdoa dalam hati agar Pambudi segera melupakannya utamanya penampilannya sore itu.
Alina kembali ke ruang malioboro.. disana sudah tersedia hidangan ala lesehan ..gudeg jogja, peyek dan es degan.. juga salad buah adan beberapa hidangan lain menggugah selera. Alina jadi ingat jika seharian itu dia hanya minum air botol.
"Maaf, saya sudah memesan beberapa menu lebih dulu,silahkan memesan kalau ada menu lain yang kamu inginkan. " Pambudi mempersilahkannya dududk sambil menunjukkan buku menu di hadapan Alina.
Alina menggeleng.. hidangan ini sudah lebih dari yang diinginkannya.
"Tidak perlu, ini cukup.. sangat bagus'" Alina menggeleng cepat, rambutnya yang kini tergerai sedikit di bawah bahunya, bergerak menutupi sebagian wajahnya.
__ADS_1
Pambudi menyadari kalau gadis itu berusaha tampil lebih baik untuk menghargainya.
'Ayo kita makan.. saya yakin kamu tadi bilang juga belum makan seharian..berarti kita sama. " Pambudi berusaha mencairkan suasana dan mengurangi ketegangan dari Alina yang begitu kentara.
Pambudi merasa yakin jika membaca penampilan gadis itu. ini makan malam pertamanya dengan orang yang baru dijumpainya.
Mereka makan dengan diam, sambil sesekali melirik ke arah layar teve yang sedang menyiarkan berita prime time.. Meskipun agak kikuk tapi Alina cukup menikmati makananya.. ibunya asli Jogja jadi gudeg jogja adalah masakan favorite mereka di rumah.
"Saya masih punya waktu setengah jam sebelum ke tempat meeting. silahkan tanyakan yang masih perlu .." Pambudi laki laki efisien dan sangat tepat waktu. Walaupun ini juga kali pertama dia makan bersama gadis yang baru dijumpainya, tapi dia cukup menikmati makan malamnya kali itu. sehingga dia mau memberikan waktu berharganya yang tersisa sebelum waktu meetingnya tiba.
Waktu setengah jam tidak terasa berlalu dengan cepat, Alina masih perlu mengkonformasi beberapa hal terkait data tentang Pambudi yang sudah lama dikumpulkannya. Pambudi kali ini memberikan kartu namanya dan memintanya menghubunginya dua hari kedepan bila masih ada yang penting untuk diklarifikasi oleh Alina. Dia tidak perlu mengatakannya, tapi dari penjelasan Pambudi yang gamblang mengenai aktifitas bisnis dan kesehariannya, Alina tahu kalau dia tidak ingin tampak buruk di media.
Seketika Alina merasa sangat bersyukur telah berhasil mewawancarai laki laki terkenal yang ternyata sangat baik hati itu. Dia bertekad untuk menurunkan artikel terbaik dan eksklusif tentang Pambudi. sebagai ucapan terima kasihnya telah menyelamatkan dirinya dari pemutusan kontrak kerja di media tempatnya magang.
Pambudi menawarkan mengantar Alina sampai ke rumah atau ke kantornya, tapi Alina menolak dengan halus, baginya sudah cukup kebaikan yang diterimanya hari itu. Dan perkara pulang ada Mas Dodo rekan kerja yang selalu siap menjemput dan mengantarnya kemana saja.
****
Ahhaa.. gadis ini berbeda. Bahkan dia tidak menggunakan bedak. Tapi kulitnya yang halus alami adalah kecantikan murni yang dimilikinya. Pambudi bahkan mengalami kegelisahan setiap mengingat wajah Alina yang memerah di dalam lift atau yang merona saat makan malam mereka.
Dia tidak pernah mengharapkan telefon dari gadis dan perempuan yang selalu menemaninya. Ajakan mereka untuk dugem atau pergi berlibur dengan kapal nya membuatnya sibuk dan kerepotan mencari cara untuk menghindar, semua karena padatnya jadwal meeting dan kegiatannya.
Tapi dia mengharapkan telefon dari Alina, Pambudi berharap masih ada yang gadis itu ingin ketahui tentang dirinya, dan menelepon untuk membuat janji dengannya. Jika hal itu terjadi maka Pambudi akan mengosongkan jadwalnya seharian untuk Alina. Janji Pambudi dalam hati.
****
Alina menurunkan tulisannya dalam tiga episode, membuat rating koranya meningkat dalam sehari setelah episode pertama diterbitkan, Pambudi menjadi judul ketiga terbanyak dicari oleh netizen. Dan episode berikutnya menaikan rating pembaca mereka dua ratus persen. Alina menandatangani kontrak dua tahun dengan bonus minimal dan terbesar yang diterima dalam bulan itu. Banyak yang mengulas profi Pambudi.. tapi cara pengungkapan yang dilakukan Alina berbeda, bahasanya yang langsung, terkesan seolah dia sangat mengenal Pambudi. Beberapa netizen bahkan menduga kalau sipenulis berita memiliki hubungan yang spesial dengan Pambudi. Mereka metwitt langsung ke laman komentar.
Alina akhirnya bisa membayar kontrakan rumah mereka untuk dua tahun kedepan, membelikan sepeda untuk adiknya yang membantu ibunya mengantarkan bahan laundry yang menjadi usaha ibu dan adiknya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari hari. Tak jarang bila sedang sepi job Alina mengantar dan menjemput bahan laundry dari kompleks perumahan langganan mereka.
Tapi dia masih punya episode ke tiga, dan diharapkan menjadi episode pamungkas. Sang Editor memintanya untuk mengulik sedikit rahasia pribadi dari Pambudi yang belum pernah diberitakan media manapun. Ini memang menarik dan sangat menjanjikan untuk kenaikan rating koran digital mereka. Sekaligus hal yang kemungkinannya kecil bisa terwujud.
__ADS_1
Alina baru pertama bertemu Pambudi dan itupun disebutnya suatu keberuntungan atau dia sedang hoky saat itu. Tapi mengulik kehidupan pribadi seseorang apalagi publik figur suatu hal yang hampir tidak mungkin. Kalau tidak melakukannya dengan tepat salah salah bisa berhadapan dengan tuntutan hukum karena pencemaran nama baik.
Sang Editor bersikukuh untuk tetap menurunkan kehidupan pribadi Pambudi apalagi tidak banyak yang diketahui orang.
"Ayolah Alina, kamu harus yakin, kamu pernah berhasil sekali, tentu berikutnya tidak akan lebih sulit. " Sang Editor menyemangati Alina
"O come on Pak Bos.. aku hanya berutung saja waktu itu. ..Pak Bos tahukan tidak ada orang yang menang lotre dua kali berturut turut." Alina mencoba membujuk Sang Editor untuk menggunakan materi ulasan tentang Pambudi yang sudah disetorkannya. Tidak sedikitpun menyinggung masalah pribadi yang diinginkan sang editor.
"Alina.. kamu orang pertama yang menang lotre dua kali.. "Sang Editor berkata dengan suara dalam smabil tersenyum... menepuk bahunya dan berlalu.
Alina membanting tubuhnya pada sofa thingker.. sofa yang biasa mereka gunakan untuk tiduran saat kehabisan ide. Dia memandang putus asa pada kartu nama Pambudi, mudah saja menelepon Pambudi saat itu, bagian tersulitnya membicarakan tujuannya. Alina menyadari kebalikan dari ucapan yang sering di ulang ulang ibunya saat mereka dalam keadaan sempit. "Alina bersama kesulitan akan datang kemudahan, yakin itu Nak" dia ingin menelepon ibunya untuk menyampaikan "Ibu ..bersama keberutungan akan datang kesulitan yang besar.. ".Alina menutup wajah dengan kedua tanganya, dan berharapa saat membuka mata dia akan melihat jalan terang.
****
"Ahh.. gadis itu. sangat mengganggu.."Pambudi membatin saat siraman air hangat dari shower menimpa tubuhnya yang masih basah oleh keringat setelah joging di halaman rumahnya pagi itu. Dia kembali berjanji akan menelepon gadis itu hari ini. Kemarin dia sudah berniat melakukannya tapi jadwalnya yang padat membuatnya terlupa hingga malam menjelang.
Pambudi sarapan sendiri, selalu begitu sejak ayahnya menetap di luar negeri untuk menjalani pengobatan rutin dari kanker getah bening yang di deritanya. Pak Man koki rumah yang telah bersama mereka sejak Pambudi belum lagi lahir, mengangkat piring hidangan pencuci mulut dan menggantinya dengan segelas susu.
"Tolong makan yang teratur Tuan, Tuan terlihat agak kurus dan tidak pernah lagi makan malam dirumah. " Pak Man sudah seperti paman bagi Pambudi, dia menasehati dan menemani Pambudi saat Tuannya itu membutuhkan teman sekedar ngobrol di rumah. Tapi itu sudah jarang terjadi. Tuan mudanya itu menjadi lebih sibuk dan tidak punya waktu lagi untuk ngobrol sejak tuan besar menetap di luar negeri.
"Iya Pak Man,.. ini jadwal padat terus, ayah masih belum bisa kembali ke tanah air.. "
Pambudi menjawab sambil mengamati kegiatan Pak Man yang membersihkan meja makan dan kembali menata piring, gelas dan sendok pada tempatnya.
"Sempatkan makan malam dirumah Tuan, hubungi Pak Man, saya akan buatkan makanan kesukaan tuan. Nggak usah bawa makanan dari luar. Selarut apapun itu. "
"Iya Pak Man, ingin juga bisa makan malam dirumah. apalagi kalau ada ayah.. pasti rame. "
Pambudi berlalu dan menepuk bahu Pak Man sebagai ucapan terima kasihnya. Dulu saat masih kecil Pak Man biasa menggendongnya bila ia rindu pada ayahnya yang lama bepergian untuk urusan pekerjaan.
Kekhawatiran Pak Man sebenarnya adalah ke khawatiran ayah Pambudi yang menitip pesan ke Pak Man untuk selalu mengingatkan pola makan Pambudi. Secara reguler Pak Man akan ditelepon Tuan Besar untuk menanyakan keadaan Pambudi dan rumah, selama Tuan Besar berada di luar negeri.
__ADS_1
Dikamarnya Pambudi berpakaian dan menatap kartu nama Alina, dia akan menelepon gadis itu. Tapi harus ada alasan untuk memintanya di wawancara lagi. Pambudi tidak ingin menimbulkan kesan bahwa pertemuannya dengan Alina berikutnya sangat diinginkannya. Dia tidak tahu reaksi gadis itu, juga masih mencari tahu reaksinya sendiri nanti. Ahh mengapa sangat mudah baginya jika menelepon Seza, Rania, Mitha atau Wulan. Tapi dengan gadis Alina ini terasa rumit.