
Ini pasti malam hari...pemuda 26 tahun itu membatin. Dia berada dalam kegelapan disebuah ruang. bahkan matanya yang membuka lebar tak mampu melihat jari jarinya sendiri. Seluruh tubuhnya terasa nyeri sangat. Dia tentu tak dapat melihat, tapi perih di beberapa bagian punggung,,paha dan dadanya pasti akibat luka yang menganga. Dia hafal betul rasa sakit itu. Dia sungguh berharap ada sedikit saja cahaya untuk menghibur matanya yang tersiksa oleh kegelapan buta itu.
ini pasti malam..setidaknya suara burung hantu yang berburu mangsa terdengar sayup dikejauhan. Pemuda itu berbadan tegap dengan otot yang terbentuk dibalik balutan kaos oblong dan jaket jins lusuh yang penuh bercak darah. Jika ada cahaya ..siapapun tidak akan memungkiri wajah tampannya meskipun tertutup memar dan rambut menjuntai basah oleh keringat yang menutupi dahi dan sebagian wajahnya. Rahangnya mengatup melawan sakit dan kekesalan yang memuncak.
Gadis itu telah mengalahkanya dengan telak..bukan saja memiliki beberapa jurus perkelahian baru tapi juga mematikan Pergerakannya.Gadis itu sungguh memanfaatkan waktunya dengan baik. siapa yang menyangka kalau meningkatkan ilmu kedigdayaan akan dilakukanya. Tapi terbukti itu berguna. buktinya dia dapat meninggalkanya terkurung di kotak hitam ini tanpa ampun.
Kekesalan si pemuda sekarang lebih kuat dari rasa sakit yang menderanya.
"Aku pasti akan membalasmu ..aku pasti akan mengalahkanmu .."
Pemuda itu membatin sambil meninju keras ke udara. gerakan yang membuatnya merasakan jika pergelangan bahunya terkilir.
"aahhgh...sial betul"
sumpah serapahnya berganti sinar putih yang menyilaukan menyakitkan bola matanya seperti kegelapan sebelumnya. Pintu besi yang didepanya terkuak tiba- tiba, menghamburkan cahaya lampu yang menyinari tanpa ampun keseluruh ruang hitam itu.
Suara tawa cekikikan yang mengejek ..menyakitkan telinganya..tapi semua itu lebih baik dari kegelapan yang melingkupi sebelumnya.
"Aku sudah memperingatknmu..tapi dasarnya kamu keras kepala..hhhhh"
"Rasakan akibatnya..." ledek gadis itu masih dengan tawa cekikikan yang menjengkelkan.
Pemuda itu Vrom prajurit andalan kerajaan laut dia adalah keturunan ketiga dari klan keluarganya yang diasingkan dari pulau mereka dan kemudian diselamatkan oleh kerajaan laut.yang selanjutnya ditahbiskan menjadi prajurit abadi, untuk mengabdi demi kepentingan kerajaan laut. Sedang gadis yang berhasil menjatuhkannya dalam duel sengit dan melelahkan adalah Sangia prajurit wanita terbaik kerajaan langit mereka abadi lebih dari ribuan tahun bahkan sebelum kerajaan laut dan bumi ada. Dan gadis yang sedang mencomoohnya adalah Watuute juga salah satu prajurit terbaik kerajaan bumi. Dia mendapat hidup abadi karena kesalahan sebuah eksprerimen gila yang mencoba membuat manusia dapat hidup selamanya. Jasadnya tersimpan dalam museum mumi yang berusia empat ratus tahun. Tapi ruhnya melayang layang antara langit dan bumi. Kerajaan langit tak sudi menerimanya, dia dianggap terlalu rendah untuk level kerajaan langit..jadi kerajaan bumi mengadopsinya dengan tujuan melaksanan keinginan rendah kerajaan bumi yang selalu tamak akan kekuasaan.
Vrom sadar kalau dia berada dalam tawanan prajurit langit. Dan dia juga sadar kalau rekannya prajurit kerajaan laut Verna sudah tidak bersamanya. Semua ini perbuatan Sangia. Vrom bertekad akan mengalahkan Sangia bagaimanapun caranya dalam duel mereka selanjutnya.
__ADS_1
WatuUte cekikikan sambil melempar bungkusan kecil ke arah Vrom yang belum bisa berdiri tegak.
" Kunyah itu, untuk mengembalikan tenagamu"
" Kamu berutang padaku untuk ini, dan aku akan menagihnya suatu saat nanti.
Vrom menatap jijik kearah Watuute. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Untuk kembali melanjutkan misinya dia butuh tenaganya pulih. Menyintas ruang dan waktu yang jaraknya ratusan bahkan ribuan tahun dibutuhkan setengah dari energi normalnya.
"Kau tahu dimana menemukan aku" ucap Vrom sinis setelah menelan kunyahan yang seperti berasal dari kubangan mayat hidup. Dia kemudian lenyap seperti kilatan cahaya meninggalkan WatuUte yang tersenyum licik.
Watu ute tahu apa tujuan Vrom selanjutnya. Tentu saja dia akan segera mencari dimana Verna. Verna lebih dulu dikalahkan Sangia sebelum berduel dengan Vrom. Dan hanya Sangia yang tahu dimana atau apa yang terjadi dengan Verna saat ini. Vrom tidak akan bisa menemukan Verna tanpa bantuan Sangia. Watuute mengangkat bahu dan tersenyum licik sebelum berlari seperti hembusan angin malam yang dingin menembus pepohonan rimbun yang gelap.
***
"yaahh..nama..aku harus punya nama..dipanggil nona manis terlalu menyolok dan terkesan menyedihkan." gadis itu berpikir dan membatin bergantian.
Sepertinya Aira bagus juga. dan cukup biasa untuk sebuah nama..dan bagaimana alamatnya..ahh..itu bisa nanti saja. Yang terpenting saat ini dia harus menyusun cerita yang meyakinkan tentang dirinya, bukan hanya untuk orang lain tapi untuk dirinya sendiri . Ini terjadi karena dia kehilangan ingatan jangka panjangnya. Dan Gadis itu belum menyadari betapa berbahayanya posisinya saat ini. Dia bahkan bisa kehilangan nyawa bila tidak segera mengembalikan ingatanya.
Hembusan angin dingin yang gigil menyadarkan Aira bahwa mungkin saja dia tidak sendiri di ruangan itu. Tapi matanya tidak melihat siapapun. Dia belum sadar kalau kewaspadaan yang dirasakannya saat itu adalah instingnya yang terlatih dalam tempaan ruang dan waktu.
Dia mengenal seluruh benda yang menempel di tubuhnya...ini kejadian berulang..dan Aira merasa kalau dia pernah disituasi yang sama entah kapan dan dimana itu..tapi dia sungguh yakin jika itu pernah terjadi padanya. Aira melirik ke desk perawat jaga..tidak ada seorangpun di sana saat ini. Perlahan dia bangkit dan mematikan tombol yang memantau denyut jantung dan tekanan darahnya, sebelum mencabut kabel kabel indikator dibadannya. Dingin lantai membuatnya terkejut, sambil berjalan gontai menuju meja konsol disudut ruanganya. Selain vas bunga dengan rangkaian bunga lily di dalamnya..juga ada sebuah tas karton sedang di sana. Itu adalah pakaian..baju kain dan celana kain yang lebar. Sepertinya itu bajunya walaupun Aira tidak ingat kalau pernah memakainya.
"Aku tidak bisa berada disini lebih lama.." Aira membatin dan berniat untuk meninggalkan rumah sakit itu...tapi kemana dia akan mencari jawaban dari pertanyaan dikepalanya yang terus muncul dan membuat kepalanya pening.
Aira teringat laki-laki yang menolongnya. Setelah berganti pakaian tanganya reflek merogoh saku di rok celananya..dan tanganya menyentuh secarik kertas keras. Perlahan dia mengeluarkannya dan itu adalah sebuah kartu nama. Pambudi dengan deretan gelar dan jabatan serta nomor yang bisa dIhubungi.
__ADS_1
Dengan berjingkat Aira meninggalkan ruangannya dan berjalan menuju desk perawat. Ada seorang perawat pria yang duduk di kursi jaga dan tertidur pulas..ruang ICU itu mmg sedang hanya ada dua pasien sehingga para perawat tidak terlalu sibuk dan tertidur. Reflek tangan Aira menjangkau sebuah handphone lipat kecil yang tergeletak di desk jaga. Dan tanpa menunggu lagi dia berlari kecil meninggalkan ruang Icu menuju koridor antar ruang yang mengarah ke lift. Tak lupa dia mengambil sandal ruang yang tersimpan di setiap pintu masuk ruang jaga perawat. Dia harus segera bicara dengan Tn Pambudi.
Tn Pambudi tidak dapat memejamkan mata sedikitpun. Kejadian lima hari ini telah menyita seluruh perhatianya. Bahkan dia telah menyuruh sekertarisnya untuk mengalihkan semua janji dan meetingnya sampai akhir minggu ini. Sudah hampir jam dua malam. Lamunan Pambudi yang tidak berarah pecah saat handphonenya berdering. Dan nomor disana tidak dikenalnya.
" Anda harus keluar..saya di depan gerbang rumah anda." Suara perempuan yang terdengar cemas..dan tanpa berpikir panjang Pambudi menuruni tangga menuju lantai dasar dan berjalan ke pintu utama. Dia menekan tombol kamera yang menghubungkan dengan cctv di depan gerbang rumahx...Disana seorang wanita dengan rambut hitam lebat sepunggung sedang berdiri disamping taxi dengan lampu yang masih menyala.
Pambudi hampir terlonjak gembira..harapannya akan sebuah titik terang kembali dalam dirinya. Tanpa pikir panjang lagi di berjalan kearah gerbang yang lumayan jauh. Piyamanya yang terbuka dibagian dada dikaitan asal mencegah hembusan dingin angin malam yang gigil. Setelah memberikan pembayaran pada taksi. Mereka berdua berjalan dalam diam menuju pintu rumah yang masih terbuka.
Pambudi mempersilahkan Aira duduk disalah satu sofa yang ada diruang tengah...dan berjalan ke ruang dapur untuk membuat minuman hangat.
" Kamu tidak terkejut melihat saya.." suara lirih Aira memecahkan keheningan mereka. Pambudi merubah posisi duduknya lebih santai, dan memberikan senyum terbaiknya, seperti sebuah senyum kemenangan. Tapi Aira tidak memperhatikan itu. Kepalanya sibuk mencerna apa yang berlaku padanya saat itu.
" Saya sudah menduga...kamu pasti butuh keterangan tentang yang terjadi..sayangnya kamu selalu hilang kesadaran saat berada dirumah sakit." ada nada sedikit senang dalam suara Pambudi. Dia yakin saat menyelipkan kartu nama di saku rok gadis itu, gadis itu akan datang mencarinya saat sudah siuman. Dan betul..gadis itu sekarang berada dirumahnya pada jam 2 tengah malam.
Aira memandang lurus ke arah Pambudi, dia merasa aneh dengan nada ceria dalam suara Pambudi. Dan mata mereka beradu. Pambudi sedang mengamatinya dengan seksama. dan tidak dapat menyembunyikan kekaguman atas kesempurnaan kecantikan dari gadis yang sedang salah tingkah didepannya.
" Saya Aira...setidaknya itu namaku.." Aira memperkenalkan diri sambil membuang wajahnya yang memerah kearah lain. Walau tidak begitu suka dengan cara Pambudi menatapnya barusan..tak urung wajahnya memerah menahan malu. Aira merasa kalau situasi itu juga pernah terjadi sebelumnya. Dan wajahnya juga memerah waktu itu..kapan dan dimana dia lupa..tapi Aira sangat yakin jika itu pernah terjadi sebelumnya.
" Maaf, saya tuan rumah yang kurang sopan..mari aku tunjukan kamarmu untuk beristirahat.. kita dapat berbincang besok pagi ..saat kamu lebih segar.." Pambudi berucap gugup dan berjalan menuju deretan kamar tamu di sayap kanan rumah. Aira mengekor dari belakang. Sambil mengamati punggung Pambudi. Tinggi dan lebar..punggung itu bahkan menghalangi hampir semua pandanganya ke depan. Entah mengapa Aira merasa sedikit lega dan aman bersama pria itu. Kharisma Pambudi menenangkanya ..sesuatu yang jarang dirasakannya saat dekat dengan seorang pria.
Pambudi meninggalkannya dengan pesan agar jangan ragu menghubunginya saat memerlukan apapun. Aira membalas jika dia sudah merasa cukup saat itu.
Pambudi tidak mau mengambil resiko...dia memilih tidur di sofa yang menghadap langsung ke kamar Aira. Gadis itu tiba tiba tergeletak pingsan di depan pintu ruang kantornya. Dia bisa saja pergi meninggalkan rumah Pambudi tanpa sepengetahuannya. Sebenarnya dia tidak bisa tidur hingga pagi. Matanya terus menatap kearah pintu kamar Aira..sampai cahaya terang menyeruak dari celah gorden jendela.
Aira mengganti baju dengan piayama tidur yang tersedia dikamar itu. kamar tamu itu memang disiapkan untuk siapa saja yang berniat menginap disana. semua sudah ada. seperti di kamar hotel bintang lima. dengan pelayanan luxury. Aira merebahkan badannya di ranjang dan sangat berbeda rasanya dengan bed rumah sakit. Tanpa berpikir lagi dia jatuh tertidur, angin dingin menyibakkan tirai dari jendela yang sedikit terbuka. Walau merasa dia tidak sendiri di kamar itu, Aira mencoba mengabaikannya...semua bisa menunggu besok. Sementara diluar kamar Pambudi tidak dapat memincingkan mata sekejap pun. Bayangan sosok Aira yang diam diam memukaunya..dan harapan atas kunci jawaban dari teka teki bobolnya tingkat keamanan kantornya silih berganti melintas dibenaknya. Malam itu terasa sangat lama. Seperti Aira, Pambudi merasakan gigil yang tidak biasa. Gerakan angin yang menyibak tirai jendela tidak juga mengalihkan perhatiannya dari pemikiran atas Aira ..siapa gadis itu? Dan mengapa Pambudi tidak merasa asing dengannya?
__ADS_1