Interlude

Interlude
Ruang Hampa


__ADS_3

Andy dan Bowo


Andy menarik napas lega dan senyum sumringah seperti biasa. saat telah berhasil menata rapi kamera, lensa dan pernik pengambilan gambar lainnya di atas meja nakas... dia sangat paham akan tugasnya juga sangat teliti.


Dahinya berkerut saat menyadari jika tas mini yang berisi baterai A3 cadangan tidak bisa dia temukan di dalam setiap tas yang dibukanya.


Bowo keluar kamar mandi dengan tampilan segar, membuat Andy bergegas masuk menggantikan Bowo, lagi pula dia sudah ingin buang air sejak tadi. Sambil berpakaian Bowo mengamati sekeliling Cabin dari arah jendela kamarnya di lantai dua. Di sisi utara ini pandangan di batasi oleh pagar tembok yg dibuat tinggi.. sekitar 3 meter. rupanya dibuat untuk membatasi lahan tanah Cabin dengan lahan tetangga sebelah. Sedikit aneh juga dalam benak Bowo..jika di desa yg cukup terpencil dan rumah yang berdekatan di setiap dusun harus membangun tembok pembatas setinggi itu.


Bowo merasa sedang berada di balik benteng pertahanan. Lucu bercampur perasaan ganjil. Kembali hadir saat Bowo merasa melihat sosok melintas di bawah jendela kamarnya.. dan sempat menatap ke atas.tepatnya. ke arahnya. Bowo terdiam seketika dan saat mencoba tersenyum.. sosok itu telah berlalu. Dia seorang laki laki paruh baya berambut tipis dan putih, dengan pakaian serupa piyama bergaris.


Lamunan Bowo patah saat Andy keluar kamar mandi dan bersiul. Dia juga sesegar Bowo dan menunjuk ke arah peralatan pengambil gambar yang sudah tertata rapi.


"baterai A3 cadangan.. mungkin ada di tas Wina atau Chika atau mungkin juga Mas Seno.. saya tidak menemukannya di dalam tas kita." ujarnya sambil menarik handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah


"di perjalanan kemarin.. aku masih melihatnya di tasmu.. bahkan aku menyimpannya kembali saat kamu menjatuhkan di jok mobil tadi.. " Bowo mengernyit dan menghampiri tas peralatan


"udah.. ga ada .. aku malah mencari di tas ransel ku dan ransel mu tadi.., mungkin di tas Wina atau chika.. nanti kita tanyakan".. Andy merapikan kembali tas peralatan yang di buka Bowo.


Wina dan Chika


Chika masih mengamati Wina yg terlelap dibawah angin sepoi sepoi yang berasal dari jendela kamar mereka. Mengarah kan pandangan ke selatan bias cahaya matahari menjelang jam makan siang terlihat meneduhkan. Dia sudah berganti baju.. kaos bergaris hijau tua dengan celana kain warna senada dan tentu jilbab plisket abu muda yang menutupi kepala dan membalut leher jenjangnya.


Jika menuruti kata hati, tak ingin dia membangunkan Wina, wajah Wina yang tirus dengan paduan eksotis khas timur terlihat damai dalam tidurnya. Tapi mereka harus makan siang dan terlebih briefing awal adalah penentu aktivitas mereka selama lima hari ke depan. Chika sedikit menggeleng tegas bila ingat wajah datar Mas Seno saat mereka bekerja tidak sesuai jadwal.


"Win.. bangun.. mandi.. makan.. briefing.. mas Seno.. "


Hanya itu ucapan Chika yang dapat dicerna Wina. Karena terbangun kaget dan refleks menarik handuk selanjutnya berlalu ke kamar mandi.


Hampir lima belas menit berlalu, Wina keluar dengan handuk yg melilit pinggang dan atasan hanya bra, dia memang tidak terlalu peduli pada tampilan tubuhnya, lagi pula dia lupa membawa baju ganti tadi k kamar mandi.


Chika melotot dengan bibir monyong ke arah Wina yang nyengir cuek.


"kaos aku ketinggalan tadi.. kamu sihh ngagetin"..ucap Wina sambil memulai ritual berpakaiannya. deodorant dilanjutkan hand and body lotion lalu spray cologne andalannya. Dan berakhir pada baju oblong warna abu muda dan Jins belel biru tua dengan sobekan modis pada lutut dan sedikit di atas paha kanan.. Wina sangat jarang menggunakan make up walaupun tipis.. dia hanya mengoleskan sun screen dan lipglos pada bibir tipisnya dan kehitaman karena asap tembakau.


Wina perokok walau dia kadang melakukanya dengan sembunyi sembunyi di ruang kerjanya.. menurutnya begitulah cara dia bertenggang rasa pada orang lain yang masih beranggapan merokok bagi perempuan itu tidak pantas.


Saat mereka bergegas akan keluar, Chika berbalik untuk menutup jendela kamar. Sebuah tindakan yang merupakan kebiasaan dengan alasan keamanan. walaupun sebenarnya itu tidak perlu, mereka berada di lantai dua cabin dan kamar mereka tanpa koneksi apapun dari arah jendela, kecuali koridor depan pintu. Seketika Chika terkesiap, matanya bertatapan langsung dengan mata laki laki setengah baya dengan rambut tipis yang sedang menatap ke arahnya dari bawah jendela. Sesegera mungkin Chika mengunci jendela dan merapatkan kain penutupnya, sebelum berlalu dengan sigap menyusul Wina. Pintu kamar terkunci elektrik dan kartunya ada padanya.


"kamu kenapa sihh.. seperti habis melihat hantu.. " Wina mengernyit ke arah Chika yang masih tertegun dan terlihat berpikir keras.


"nantilah.. kita makan dulu.. lapar nihh" Chika menggamit tangan Wina segera setelah berhasil menguasai dirinya kembali. Mereka segera berlalu ke ujung koridor dan selanjutnya mereka menuruni tangga kokoh dari kayu yang dibuat sangat mengagumkan.


Mas Seno

__ADS_1


"ganjil.. ganjil.. " gumam Seno.. karena di kamarnya hanya dia seorang, maka itu di tujukan untuk dirinya sendiri.


Kamarnya lebih lapang dari yang lain, di sana ada set sofa untuk santai dan akan digunakan untuk briefing. Dia memesan kamar dengan kebutuhan khusus seperti itu dan ternyata kabin itu menyediakannya.


Sebagai seorang fotografer berpengalaman, setiap angel dan sudut pengambilan gambar selalu menarik perhatiannya. Jika ditangan orang lain itu hanya terlihat sangat biasa saja. Tapi jika itu dalam pengelolaan Seno akan menjadi luar biasa dengan tampilan yang menggugah, tidak di sangka dan bernilai artistik tinggi.


Gambar kamar tidur ukuran suit adalah salah satu yang harus tampil dalam ulasan mereka. Sehingga dia telah mengambil beberapa gambar interior kamarnya, bahkan sebelum membersihkan diri.


Seno bukan penggila kerja, dia hanya tidak sanggup membiarkan moment terlewat begitu saja tanpa di abadikan. Bagi yang melihatnya akan beranggapan sama saja, workaholic. Baginya dia merasa itu suatu tuntutan dan terjadi begitu saja. Entah mana yang sebenarnya terjadi. Tidak ada yang sungguh sungguh ingin mencari tahu, selama hasil kerjanya memuaskan.


Ini kedua kalinya dia memeriksa hasil gambar pada layar kameranya dan perasaan ganjil itu semakin menyeruak. Perhatiannya teralih pada ketukan di pintu kamarnya. Seno menyetel posisi kamera pada switch off dan bergegas ke arah pintu.


"Pak Seno Maaf.. sudah ditunggu untuk makan siang di lantai bawah" di sana berdiri pramu tama Deni yang ternyata ditugaskan untuk mengingatkan makan siang. Di sana memang tidak ada fasilitas telefon dalam kamar.


Seno mengangguk sebagai isyarat akan segera turun dan kembali menutup pintu.


Dia menatap kameranya juga layar laptop yang masih menyala. Ya sudahlah itu bisa dikerjakan nanti, niatnya dalam hati dan berlalu menutup kamar menuju lantai bawah.


Briefing dan hal tidak biasa


Makan siang mereka sungguh diluar dugaan. Sayuran segar dengan berbagai jenis menu dan hasil laut seperti ikan panggang juga udang lobsters tersaji memenuhi meja dihadapan mereka.


Sebelum rasa takjub mereka memuncak. ketukan hak sandal Mba Ambar pemilik sekaligus manajer kabin membuat perhatian mereka tersita


Rupa nya hidangan makan siang itu adalah ungkapan selamat datang kepada tim mereka, sebagai salah satu cara menunjukkan Terima kasih dan dukungan agar mereka bisa menghasilkan liputan yang benar benar diperlukan kabin itu, sebagai salah satu fasilitas di destinasi wisata setempat.


Setelah puas menyantap hidangan makan siang, tanpa buang waktu lagi mereka bergegas ke kamar Mas Seno. Dan tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Mbak Ambar juga para pelayan.


Benar saja ke khawatiran Andy dan Bowo terjawab. Tidak ada dari Chika, Wina ataupun Mas Seno yang lain yang menyimpan tas kecil berisi baterai cadangan itu.


Setengah gusar Andy memasukkan dalam daftar inventaris barang tercecer dan membuat nota pemesanan. Semuanya harus tercatat, walaupun aktivitas itu dilakukan oleh mereka sendiri.


Mas Seno menceritakan pemikirannya dan perasaan ganjil yang dijumpainya dari hasil foto yang sudah dipindahkan ke memori laptop. Satu satu mereka mengamati. Membandingkan apa yang mereka lihat di dalam kamar itu dan apa yang terekam dalam bidikan lensa kamera super HD milik Mas Seno.


Kesimpulannya mereka sependapat bahwa ada perbedaan yang cukup signifikan dari kedua image. Dalam hasil foto ruangan terlihat lebih kecil dari yang mereka liat secara kasat mata. Perbedaan itu sebenarnya tidak akan disadari jika pengamat tidak benar benar berusaha membandingkan pada saat yang bersamaan. Tapi mereka bukan pengamat biasa, mereka profesional dengan insting yang bekerja lebih ekstra dari orang umum nya, jika itu mengenai bidang pekerjaan mereka.


Bowo dan Andy menuju bagian yang memberikan efek perbedaan ukuran yang menonjol. Pada bagian dinding yang membatasi antar kamar dan sisi yang menjadi bagian sudut ruang kamar. Mendorong pelan dengan telapak tangan, mengetuk juga sedikit menekan pada bagian bawah dinding yang semuanya terbuat dari kayu jati kokoh dengan motif yang begitu alami. Entah apa yang mereka harapkan, terlalu naif jika mengira mereka akan menemukan tombol tersembunyi. atau tuas unik yang tiba tiba memberikan mereka jawaban. Tapi tidak ada salahnya mencoba kan?


Lampu tiba tiba padam, satu satunya sumber cahaya dari dua jendela kamar. Wina bergegas ke lain jendela dan menariknya agar terbuka. Dan dia terpekik seketika. reflek mundur dan mencengkeram lengan Mas Seno


".. mass Seno.. " ucapnya lirih setelah berhasil mengatur napas.. Chika juga merapat karena terkejut. Demikian juga Andy dan Bowo. mereka berdua bergegas menuju jendela yang kainnya sudah setengah terbuka.


"Itu Mass.. saya melihat bayangan sosok orang saat buka kain jendela tadi." Jelas Wina yang masih sedikit kesulitan mengatur napas

__ADS_1


"aahh masa sih Win.. disitu kan sdh bagian dinding terluar.. bahkan sama sekali tidak ada pijakan untuk seseorang berdiri di depan jendela." Mas Seno menimpali sambil membawa Wina ke sofa agar bisa lebih tenang.


Tapi Wina bukan perempuan yang gampang takut, malah sebenarnya dia terkenal lebih gigih jika sedang menghadapi situasi sulit di lapangan.


Angin dingin nerobos masuk lewat jendela yang terbuka, meniup kain penutup jendela. Bowo dan Andy terpaksa menutup jendela dan juga kainnya. Suasana kamar benar benar gelap dan dingin, cahaya hanya mereka dapatkan dari pantulan benda benda putih yang ada di kamar., seperti lampu tidur yang terbuat dari porselen.


Pintu kamar terkunci otomatis saat lampu padam, sehingga mereka tidak dapat meninggalkan kamar.


"Baik lah kita tunggu beberapa saat, biasanya ada generator cadangan. " Seperti biasa suara Seno yang terdengar tenang namun tegas, sedikit mencairkan suasana.


Seno berjalan pelan menuju tas peralatannya, disana dia menyimpan lampu fluorescent untuk keadaan darurat. Dia tidak berharap menggunakannya, kecuali terpaksa. Karena semua hand phone mereka sedang mode charger.


"setelah mengaduk beberapa saat, dia menemukan stick sepanjang 30 cm masih terselubung kain pelindung. Berhasil mendapatkan tombol setelah meraba pada satu sisi.


Dan cahaya berpendar biru segera menyilaukan mata mereka. Sudah lewat 10 menit dan belum ada tanda tanda lampu akan menyala. mereka hanya mendengar suara kaki berlarian sepanjang koridor juga suara bersahut sahutan. Mungkin para petugas yang sedang mencoba mengatasi situasi lampu yang padam.


Mereka berlima duduk di sofa dengan lampu fluorescent yang tergeletak pasrah di atas meja.


'Gimana nihh Mas Seno.. "Chika setengah berbisik, sebenarnya dia sedikit fobia dengan suasana gelap. Tanganya mulai mengeluarkan keringat berlebih, ganda stress sudah melandanya.


" Kita tunggu sebentar lagi. " jawab Mas Seno.


Bowo dan Andy setuju, toh ini biasanya tidak berlangsung lama.


Lampu belum juga menyala dan suara berlarian juga bersahutan di koridor belum juga berakhir. Sepertinya ada kejadian arus pendek yang menyebabkan lampu padam. Mas Seno berjalan ke arah pintu dengan lampu fluorescent ditanganya. Bowo dan Andy memeriksa handphone mereka, apa dayanya sudah bisa digunakan untuk menerangi ruang, dan tentu saja akan menghubungi resepsionis untuk bertanya.


Kali ini mereka di kejutkan oleh sentakan suara Mas Seno yang berseru dengan agak lantang.


Refleks mereka berempat menghambur ke arah Mas Seno , yang mematung dengan lampu fluorescent terpaku menyinari pintu kamar yang tertutup.


Pemandangan dihadapan mereka benar benar membuat mereka tidak dapat berpikir jernih. Dan hanya dapat terpaku dalam suasana yang sangat suram.


Pintu itu dipenuhi guratan panjang di sana sini seperti kuku yang menancap berulang ulang untuk mencakar dan meninggalkan bekas yang menyeramkan. Noda darah di sela sela guratan guratan itu begitu nampak dengan lampu fluorescent. Seketika mereka mundur dan sama sama bersuara tercekik sesaat ketika tiba tiba lampu menyala menyilaukan.


Untuk beberapa saat mereka terdiam di depan pemandangan horor dengan pikiran beku. Hingga ketukan pada pintu menyadarkan mereka.


Seno memberikan isyarat agar mereka kembali ke sofa dan bersikap tenang, sementara dia menyimpan lampu fluorescent setelah dipadamkan ke dalam tasnya.


Selanjutnya mereka terbangun di sebuah ruang kosong tanpa perabot, dengan tubuh terbaring lemas di lantai yang dingin, yang ada hanya tulisan kabur pada salah satu dinding


Ruang Hampa


Dan dengung lembut penyejuk ruangan yang terpasang sentral memenuhi udara.

__ADS_1


__ADS_2