
Jantung Alina hampir melompat menuju tenggorokkannya, saat nama yang memanggil pada handphonenya adalah Pambudi. Dia melirik ke arah ruangan Sang Redaktur, dan membayangkan bila yang dikatakan bosnya itu menjadi kenyataan, dia orang pertama yang menang lotre dua kali berturut turut.
Ini kesempatan emas, Pambudi mengajaknya bertemu jika masih ada berita yang akan dilengkapi Alina tentang dirinya, karena dia akan keluar negeri dalam waktu yang akan sedikit lama.
"Tentu. saya senang sekali Mas menelepon saya... saya memanglah masih membutuhkan beberapa keterangan untuk edisi ketiga tentang Mas, baik.. baik.. terima kasih sampai bertemu kembali. " Alina merasa akan melompat saking kegirangan. Terbayang di depan matanya bonus yang akan diterimanya dari edisi terakahir tentang Pambudi sudah mendekati kenyataan, jumlah bonus itu dapat menambah modal usaha ibunya, membeli mesin cuci baru, yang lama selalu ngadat sehingga kadang harus mencuci secara manual.
Sore itu Alina sudah kembali ke rumah dan membuka lemari pakaian dari kayu, sudah usang tapi masih terawat dengan baik. Didalamnya tergantung beberapa pakaian dan sebagian jarang digunakannya.
"Apakah aku harus merubah penampilanku? "..Alina membatin.. tapi tidak ada gaun yang pantas disini, semuanya lama dan warnanya memudar disana sini seperti jeans belelnya.
Alina terduduk lesu, dan mengetuk kepalanya sendiri.
"Aku ini diundang untuk wawancara eksklusif, bukan makan malam ,kenapa mengkhawatirkan penampilanku?" Alina kembali membatin tapi kali ini dengan semangat. Terdengar suara ibu yang manggil dan sedang menuju ke kamarnya.
" Makan dulu Nak, ibu sudah siapkan di meja" pinta ibu, suara ibu yang selalu lembut adalah obat bagi segala resah, capek dan kesusahannya.
"Saya sudah makan di kantor tadi Bu, ini juga mau wawancara tapi sambil makan malam... kebetulan tokoh ini hanya punya waktu jam 7 nanti malam.
Alina menghampiri ibu, dan memeluk tubuh kurus dan layu itu, dimakan usia dan kerasnya kehidupan. Alina membawa ibunya duduk di tepi tempat tidur. Dan seperti biasa dia akan duduk bersimpuh di Kaki sang ibu dan memulai memijat kaki dan tangan ibunya.
"Nggak usah Alin, kamu sendiri pasti capek.. ibu nggak apa apa.. kok..."Tapi Alin menepis halus tangan ibu dan terus memijatnya. Ini momen Alina bermanja dengan ibunya, dia sibuk belakangan ini, jika ada waktu seperti ini maka Alina tidak akan melewatkannya.
Tiba tiba sang ibu terlonjak kaget, Alina ikut ikutan kaget.
"Ya Ampun, Alin ibu sampai lupa.. itu tadi ada yang ngantar paket, katanya untuk kamu.. "Ibunya langsung meninggalkan Alin menuju ruang tengah dan mencari paket yang dimaksud di antara bungkusan laundry.
"Dari Siapa Bu? " Tanya Alin setelah menerima sebuah kotak dari tangan ibunya, lumayan besar dan sedikit berat.
"Kamu istirahat saja dulu, ibu buatkan teh ya" Ibunya segera menghilang ke dapur meninggalkan Alina yang sedikit bingung dengan bingkisan di tangannya. Tidak ada nama pengirim, dan dia tidak pernah memesan barang secara online. Tapi tulisan yang tercetak indah di cover bingkisan itu memang namanya dan nama kantor berita online tempatnya bekerja.
Perlahan dibukanya pengikat bingkisan itu, dan di dalamnya masih ada bungkusan kertas lain juga kartu nama :
"Pambudi.... Mohon diterima dan jangan sungkan"
Disitu ada gaun atasan lengan panjang brokat dan bawah tule selutut berwarna merah maroon, dan high hells berwarna senada.
"Apa apaan ini.. " Alina semakin bingung dan sedikit gusar. Kenapa Pambudi mengirimnya gaun dan sepatu cantik itu. Apa maksud dari pengusaha muda itu. Mereka hanya sekali bertemu dan Alina sangat yakin jika Pambudi pasti sudah lupa dengan pertemuan mereka. Refleks tangannya menjangkau handhpne dan mulai menghubungi Pambudi untuk bertanya. Tapi nomor Pambudi sibuk tidak bisa dihubungi.
__ADS_1
Alina menyerah menelepon Pambudi dan kembali menatap gaun dan sepatu yang tergeletak di atas tempat tidurnya.
Aku tidak pernah memakai sepatu seperti ini, juga tidak tahu berjalan di atasnya. Kakinya hampir terkilir karena mencoba mengenakan sepatu itu.
"Maaf mas Pambudi, gaunnya mungkin akan kugunakan itupun kalau tidak terasa gatal, tapi sepatu itu tidak, Aku biasa menggunakan sneaker, lebih baik kan daripada selop ibu"
Alina merebahkan badannya yang tipis mencoba tidur, Untuk pertama kalinya wajah Pambudi membayang diingatannya.
****
Pambudi menutup pembicaraan setelah mendapat laporan jika sopirnya sudah mengantar paket ke rumah Alina. Tapi dia masih punya satu kejutan untuk gadis itu. Dalam hati Pambudi berdoa agar Alina tidak salah paham atau merasa tersinggung.
Pambudi tahu Alina bukan tipe gadis yang mudah di rayu dia terlihat sedih dan lelah dengan tekad sekeras batu. Jadi kejutan yang diberikannya bisa saja tidak berarti apa apa baginya. Gadis itu memiliki tujuan yang pasti, dia hidup dan berjuang untuk itu, Bukan sedang menikmati hidup. Jadi dia tidak akan mudah tergoyahkan, bahkan jika itu adalah makan malam dengan seorang pengusaha muda, tajir, ganteng dan ramah..yang menjadi impian para gadis dan wanita sosialita.
Reservasi telah lama tuntas, pambudi merapikan dasi dan membuka kancing jasnya.. dia merasa sedikit gerah.. apakah karena akan bertemu Alina. Gadis yang telah mengganggu tidurnya sejak pertama bertemu. Apakah Alina akan mengenakan gaun yang dikirimnya? Ahh.. gadis itu pasti akan terlihat seperti seorang putri. Pambudi berjalan bolak balik dalam ruang kerjanya menunggu waktu yang tepat untuk berangkat dan menjemput Alina.. ini kejutannya yang lain.
Untunglah gang tempat rumah Alina tidak begitu sempit, walaupun rumah sangat bersedempet,bahkan sebagian berbagi dinding rumah. Suasana menjelang maghrib, matahari sudah lama tenggelam, semburat jingganya sudah tertutup kelabu malam dan samar samar cahaya bulan menyeruak dibalik awan nimbus yang masih sporadis. Sudah diakhir kemarau. langit mulai menampakkan awan abu abu eluruh kelembaban tertarik menuju langit , udara menjadi hangat dan lengket. Para tetua telah kembali dari surau dan anak anak yang mengaji silih berganti meninggalkan surau dengan riuh.
Tesla itu pasti mencolok mata jika terparkir di depan loby hotel hotel berbintang. tapi digang itu mereka melihatnya seperti sebuah angkutan taksi online. Orang orang disini tidak perduli dengan aneka benda roda empat. Alur dan drama hidup mereka lebih dari cukup untuk membuat mereka sibuk hingga lelah dan sedikit terlelap menyapa di gelap malam.
Alina sibuk merapikan gaun yang begitu pas ditubuhnya, dan sungguh dia tidak merasa gatal. sangat berbeda dari gaun yang dipakainya saat menerima raport kelas 6 Sd, entah dari mana ibunya pulang membawa gaun itu, sebagai hadiah karena berhasil menjadi peringkat teratas di sekolahnya. Badan Alina gatal dan harus dibalur minyak gosok untuk menghilangkan ruam merah yang menyiksa.
Alina melotot ke arah adiknya dan tersenyum kecut ke arah Pambudi untuk menyembunyikan salah tingkahnya. Untungnlah Pambudi segera maklum dan setelah pamit ke ibunya, dia memberikan isyarat agar Alina segera mengikutinya menuju mobil.
"Ibu jangan cemas, nanti saya cerita ya"bisiknya sambil pamitan
"awas ya kalian.. "ujarnya dengan ancaman yang penuh canda ke arah Anisa dan Adit yang tertawa cekikikan melihat mata Alina yang kembali melotot
Pambudi sudah duduk menunggunya di jok belakang. Alina merasa semuanya berjalan seperti sihir, sekejap dan tanpa sadar dia telah menjelma menjadi seorang putri dari antah berantah yang berkendara kereta kencana meninggalkan hutan belantara hidupnya dibelakang menuju istana bersama seorang pangeran tampan. Lidahnya kelu.. biasanya dia akan segera mengajukan pertanyaan sebagai jurnalis. Tapi Alina mematung dengan tatapan lurus ke jalan. Pambudi menyadari kekakuan yang terjadi. Dia meraih tas yang tergeletak di lantai mobil.
"kamu mungkin akan suka ini" ujarnya perlahan sambil meletakkan tas itu di samping Alina. Alina mulai merasa mual dan terpaksa menahan diri, mencari kata yang tepat untuk diucapkan.
Ini sudah keterlaluan.. untuk apa semua ini, mereka tidak mengenal dengan baik, dan Alina tidak butuh perhatian selain berita yang akan memperpanjang kontrak dan menambah pundi pundi bonusnya. Pambudi.. apa yang dilakukannya sudah tidak bisa dicerna akal sehat Alina. Jika bukan karena berita yang menjadi dead linenya, Alina sudah berlari menjauhi Pambudi yang dianggapnya sudah bertindak melewati batas etika antar nara sumber dan pewarta.
"Saya tidak ingin merusak suasana Mas, tapi tolong hentikan semua ini, barang barang ini, saya tidak mengerti dan sungguh anda tidak perlu melakukannya. Tolong Mas, saya hanya mencari makan dengan mencari berita. Saya juga tidak menghasilkan berita yang hebat sehingga Mas perlu melakukan ini semua. Mohon saya tidak bisa menerima apa apa lagi dari Mas, semua ini berlebihan untuk saya bahkan mungkin saya tidak pantas untuk semua ini. "
Alina kaget setengah mati, dia pikir itu hanya ada di kepalanya, kenyataanya semuanya terlontar seperti peluru yang ditembakkan tanpa henti. Alina menutup mulutnya dengan kaget, matanya mengerjap panik dan menatap putus asa ke arah Pambudi yang juga sedang menatapnya lekat tepatnya terpesona kearah Alina. Jika masih ada keajaiban yang tersisa Alina memohon untuk lenyap dari hadapan Pambudi saat itu juga. Dia telah merusak berita episode ketiga dan menguapkan bonusnya ke udara. Juga makan malam impian setiap gadis itu hanyalah impian.
__ADS_1
Mereka telah berhenti ditempat parkir di dalam gedung. Alina membisu, dia tidk ingin berpikir apa apa lagi, semua sudah rusak dan tidak bisa lagi diperbaiki baginya. Pikirannya ternyata terucap. Dia sangat bisa memahami bila Pambudi akan membatalkan pertemuan mereka malam itu, dan mwngirimnya kembali ke 'hutan belantara' disana memang tempatnya, bukan di istana mimpi. Jika ini adalah mimpi, meskipun ini sangatlah indah, Alina harus terbangun dan kembali ke realita. setidaknya akal warasnya bekerja di realita hidupnya.
Pambudi seolah tidak tetpengaruh sedikitpun dengan ucapan Alina. Dia meraih tas dan membuka tas kotak di dalamnya. sebuah sneaker baru yang hanya bisa dimiliki Alina dalam kota mimpi.
"ini akan membuat kakimu lebih nyaman"
ujarnya sambil mengajukan sepatu sneaker merah marun dengan strip putih di sisi dalam dan luarnya.
" Ayolah.. demi aku.. sungguh ini bukan apa apa.. jangan cemas. "
Alina mengalah ,apalagi dia sudah mengatakan yang harus dikatakannya, dia meraih sepatu itu dan mengenakannya. Selanjutnya serasa berpijak di atas kapas, lembut, nyaman dan ringan. sneaker lamanya sama sekali jauh bandingnya. Alina melangkah dan mensejajarkan dirinya dengan Pambudi memasuki hall restoran dan disambut seorang pria setengah baya dengan setelan jas lengkap. Dia manajer restoran itu, menyalami Pambudi dan dirinya dengan sangat sopan dan menunjukkan arah jalan menuju meja mereka.
Malam itu hanyalah awal dari sebuah keajaiban dalam hidup Alina, dan tekat Pambudi untuk meluluhkan hatinya. Tidak ada keajaiban yang bisa dijabarkan dengan akal. Dia seperti kegilaan yang indah dalam ruang akal Alina.
Bagi Pambudi kegandrungannya kepada Alina adalah candu, Seperti seekor burung yang membutuhkan sayap yang utuh untuk dapat melayang bebas dan tinggi di udara. Alina adalah sayap hatinya yang membuat dirinya utuh. Alina adalah sayap cintanya yang hilang dan kembali melengkapi dirinya.
Episode demi episode mereka lewati. Pambudi dengan Cintanya yang teramat besar dan Alina dengan kemurnian jiwa dalam mengabdikan dirinya dan akhirnya hatinya pada lautan cinta Pambudi.
Hingga mereka berada dalam interlude sebelum sebuah tragedi terjadi dan sayap itu teramputasi tanpa ampun.
Pernikahan mereka yang baru berjalan dua tahun semakin terlengkapi dengan kehamilan Alina. Sayangnya kehamilan Alina menghadapi banyak masalah. Janin yang dikandungnya bermasalah dengan rhesus darah yang dimiliki Alina, tubuh Alina seolah menolak janin tersebut. Sehingga janin tidak bertahan dan akhirnya gugur. Alina mengalami depresi. membenci dirinya karena merasa telah membunuh anaknya sendiri. Kehamilan berikutnya lebih buruk lagi. dan Alina kembali terjatuh dalam depresi.. kali ini lebih dalam. Pambudi memutuskan untuk menunda program memiliki anak sampai kondisi psikis Alina stabil.
Tahun tahun selanjutnya mereka semakin jarang berkomunikasi. Alina dengan pikirannya sendiri dan beberapa kali ingin mengakhiri hidup. Dan Pambudi menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Dia masih memiliki sayap cinta abadinya, tetapi sayap itu tidak membawanya kemana mana. Dia memilih diam di sarang emasnya, menunggu sayapnya akan memiliki kekuatan untuk membantunya mengangkasa kembali.
Hingga suatu sore dia sangat merindukan Alina. Sudah dua hari Alina tidak ingin ditemui siapa siapa, bahkan menolak bertemu dengannya. Dia tahu ada yang tidak benar, tetapi suara Alina yang memohon dari balik pintu menahan keinginannya memandang wajah manis dan kuyu itu pagi tadi.
"Tolong Mas.. saya benar benar tidak ingin bertemu siapapun saat ini"
"Alina, aku hanya ingin melihat keadaanmu.. kamu tidak makan apapun tadi malam" Pambudi benar benar gusar
"Mana tanganmu Mas..." pintu terkuak dan tangan kurus dan pucat milik Alina menjulur dari balik pintu. menggapai tangan Pammbudi.
Pambudi merindukan sikap lugu dan lucu dari Alina, dia terlahir dengan itu. Hatinya yang putih dan rapuh bahkan masih mencoba menghiburnya dari balik pintu.
"Alina kamu bisa menggapaiku seluruhnya, biarkan aku masuk. "Bisik Pambudi dengan mata berkaca. Dia tidak dapat membayangkan penderitaan yang dirasakan oleh Alina, sehingga memaksa cintanya itu hidup dalam kesengsaraan hati.
Masih dirasakannya genggaman tangan lemah dan dingin dari Alina. Dan perlahan Alina melepaskan tangannya dan menutup pintu.
__ADS_1
Sore itu, tangan itu telah diam dalam beku. Wajah tirus itu tidak lagi tersenyum dan mata Alina mengatup rapat. Alina memilih meninggalkannya, membawa sayapnya pergi dalam keabadian. Pambudi tahu kalau dia tidak akan pernah mengangkasa lagi. Sayap cinta abadinya telah pergi. Dia hanya harus menunggu kapan waktu baginya untuk menyusul.