Interlude

Interlude
Permintaan Aneh


__ADS_3

Kepergian Aira dari rumah sakit akan terkabar heboh..jika saja Pambudi tidak segera menelepon Dr Nurhadi untuk menyampaikan jika Aira aman dan sehat bersamanya. Dan tentu saja menyelesaikan tagihan perawatan pasien Nona Manis menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari Pambudi.


Aira telah lama terbangun, dan merasa lebih baik. Setelah mandi dan sedikit merapikan diri. Dia berjalan menuju pintu kamar. Hampir saja ia terpekik..ketukan pada pintu kamar menyadarkanya kalau dia tidak sendirian saja di rumah itu. Ingatanya masih belum teratur. Dia membuka pintu..dan wajah Tn Pambudi yang pagi itu lebih jelas bagi Aira. Pria ini setidaknya pertengahan empat puluhan, tapi wajahnya terkesan lebih muda. Rambut halus yang menutupi sebagian pipi dan dagunya menegaskan wibawa dan kharisma tidak terbantahkan. Laki-laki ini dapat menaklukan hati wanita mana saja yang dikehendakinya. Aira merasa dadanya berdesir saat mendapati mata Pambudi menyapu seluruh wajahnya tanpa berkedip.


"Selamat pagi.".Aira menyapa dengan gugup. Dan tanganya sibuk menarik gaun selutut motif bunga kecil yang dihiasi renda pada tepinya. Satu dari dua gaun yang di temukan di dalam lemari kamar tidurnya.


Pambudi terkesima atas pemandangan di hadapannya. Siapa yang akan menyangka jika pagi itu dia akan disambut keindahan yang menggetarkan dadanya. Gadis ini sempurna, tubuh yang langsing dengan tinggi hampir 1,6 M dan kulitnya yang ternyata sawo matang cerah. Sangat indah dipagi itu. Dan gaun yang dikenakannya sangat pas membalut tubuh Aira yang sedikit kurus.


" ehhmm...maaf ayo kita sarapan pagi." Pambudi akhirnya berhasil mendapatkan apa yang akan diucapkannya.


" Anda sangat cantik, Nona Aira.." Pambudi tidak dapat menahan diri untuk tidak melontarkan pujian. Perangai Aira yang malu dan menunduk benar benar membuatnya jatuh hati.


Jika saja dia bukan saksi kunci..Pambudi tentu akan memperlakukannya seperti seorang ratu. Tapi gadis ini bisa saja mengambil posisi berseberangan dengan dirinya. Penjelasan penyebab kebocoran sistem spy and security digital service milik perusahaannya terletak pada keberadaan gadis ini. Pambudi harus berhati-hati, dan tidak boleh lengah sedikitpun. Melihat dari canggihnya teknologi yang berhasil diterobosnya, maka dapat dipastikan bahwa gadis ini bukan orang sembarangan. Bisa saja dia seorang mata mata yang berbahaya dan mematikan.


" Hhmm sial.." Pambudi membatin sambil mengunyah sarapan pagi ..omelet daging cincang dan Salad buah tropis dari olahan koki rumahnya.


Aira makan dengan diam dan lebih dulu selesai dari Pambudi. Kepalanya sibuk menyusun cerita tentang dirinya yang akan dia sesuaikan dengan keterangan yang akan diperolehnya dari laki-laki gagah yang mengunyah omelet dengan perlahan di hadapannya, sebentar lagi.


Selanjutnya mereka menaiki tangga menuju lantai dua ..ke ruang kerja Pambudi di ruang utama. Ruangan itu cukup luas dengan perabotan modern minimalis tapu tetap memancarkan pembawaan pribadi sang pemilik ruang. warna coklat tua kayu oak memenuhi dinding yang hanya digantungi replika lukisan pelukis dunia. Pambudi tidak berinvestasi pada barang antik. Dia percaya pada masa depan yang hanya akanndimiliki oleh penguasa teknologi. Jadi dia tidak membutuhkan lukisan berharga miliaran dirumahnya.


Dia mempersilahkan Aira duduk pada sofa yang menghadap pada jendela besar yang menampakkan view taman dan kolam renang yang dibatasi pemandangan laut lepas. Keindahan yang eksotis , tapi baik Aira dan Pambudibtenggelam dalam pikiran masing-masing.


" sebelum memulai pertanyaan saya..bisakah anda memperkenalkan diri anda lebih dulu?


Pambudi langsung ke pokok pembicaraan, dia tidak berniat buang buang waktu lagi.


Aira menelan ludah sebelum menceritakan skenario hidup yang disusunya sejak di meja makan tadi.


Dia memiliki saudara laki-laki , mereka berpindah pindah panti asuhan setelah kehilangan orang tua karena kecelakaan tragis saat usianya tiga tahun dan kakaknya lima tahun. saat berumur belasan tahun mereka diadopsi seorang wanita separuh baya yang kaya raya tetapi memilih hidup menyendiri. Wanita itu memperlakukan mereka seperti anaknya, menyekolahkan sampai mereka sarjana. Sayangnya wanita baik hati itu meninggal lima bulan yang lalu karena kanker usus yang sudah terminal. Dan seluruh harta kekayaannya di donasikan ke beberapa organisasi amal dan sosial. Termasuk rumah yang mereka tinggali. Wanita itu hanya menyisakan cukup uang untuk Kakak dan dirinya. Jumlah yang cukup untuk memulai usaha sendiri. Dan berpesan agar mereka meninggalkan kota itu secepatnya.


Setelah mengamankan warisan mereka di Bank dia berpisah dengan Kakaknya yang hendak memulai usaha di kota sebelah Utara, sedangkan dirinya akan memulai dari Kota bagian barat.

__ADS_1


"Kakakku memang sedikit berubah dan keras hati dengan niatanya, sampai dia setuju saja jika aku pergi sendiri ke arah barat." Aira bertutur dengan wajah yang cukup sedih mencoba membayangkan sosok kakak yang hilang dalam ingatanya.


Jika saja tidak bertekad lebih dulu, Pambudi pasti telah jatuh iba dan mungkin merangkul bahu ramping dan indah itu kedalam pelukannya.


" Bagaimana kamu bisa berada di depan kantorku? " Pambudi melontarkan pertanyaan utamanya..bila dia mendapatkan jawaban yang benar, maka masalahnya akan tetpecahkan. Tapi semudah itukah


Mata Aira yang bola dan indah...mengerjap bingung. bagaimana diamenjawab itu..dia sendiri tidak tahu kenapa terdampar di wilayah ini..ini sama sekali bukan Barat tapi lebih mengarah ke selatan. Jadi navigasinya tentu berubah.


" Aku hanya mengingat terakhir sedang mengendarai mobil menuju arah barat ..dan selanjutnya terbangun di ruang ICU rumah sakit kota ini yang berada dibarah selatan. Penjelasan Aira masih sama samarnya dan sama sekali tidak ada titik terang yang mengarah pada jawaban dari pertanyaan Pambudi.


Baiklah..dia masih lupa ingatan. Kalau mereka bersabar mungkin saja ingatan itu akan kembali dalam beberapa hari atau beberapa minggu..mungkin saja..Pambudi membatin optimis. Paling tidak gadis ini sudah berada dalam pengawasanya dan tampaknya gadis ini mempercayainya. Kalau saja dia tahu bagaimana aku memperlakukan wanita wanita yang mendekatiku selama ini, pasti dia tidak akan berlama-lama berada di dekatku. Wanita wanita itu adalah sebuah permainan untukku..membuat mereka terlena lalu menjebak mereka hingga tidak bisa lari dari perangkapnya. Dan bersedia melakukan apa saja untuknya.


Tapi gadis ini berbeda ..dia tidak mengenalku dan aku juga tidak mengenalnya..dia hadir sebagai ancaman terselubung untuk ku


Pambudi bermain dengan pikirannya sendiri. Gadis ini harus dibuat mengingat apa yang dilupakannya. Dan biarkan waktu yang menentukan kapan itu akan terjadi


Putusan Pambudi ..dan siang itu dia membawa Aira berbelanja pakaian dan sepatu juga kebutuhan perempuan lain..mengingat gadis itu hanya datang dengan baju dibadan dan tentu saja tidak boleh lepas dari pengawasan Pambudi.


Pambudi menyewa seorang detective swasta yang jasanya biasa dia gunakan. Pria usia 56 tahun itu bernama Pak Toro Santoso tapi lebih suka dipanggil Bang Toro. Jangan terkecoh dengan tampilannya. Terlihat lamban dengan mimik wajah masa bodoh kalau tidak bisa dibilang susah mikir. Santai dan paling bisa untuk dijadikan pesuruh atau tukang parkir.


Jika kamu berpikir begitu tentang Bang Toro, berarti Pria pensiunan polisi, yang pernah menjabat kasat reskrim saat berdinas aktif telah berhasil mengecohmu. Dia memegang sabuk hitam Judo, ahli dalam membuat deduksi dan telah membuat banyak praktek kejahatan terungkap. Jangan tanya kemampuanya menggunakan senjata api. Bang Toro telah lima kali berturut turut menggondol medali emas dalam kejuaraan tingkat nasional. Intinya Bang Toro adalah yang terbaik dalam profesinya saat ini. Dan Pambudi butuh yang terbaik untuk mengawasi Aira..sambil mengumpulkan bukti dari cerita tentang latar belakang yang diuraikan Aira kepadanya.


Pambudi menolak percaya begitu saja, menurutnya segala yang berhubungan tentang gadis itu perlu diselidiki dengan seksama. Dia tidak ingin kecolongan seperti kebobolan keamanan yang terjadi di kantornya.


Hari itu Aira hanya berkeliling dalam rumah, menghabiskan waktu sorenya di pantai dan kembali ke rumah sebelum waktu makan malam. Pambudi menutup handphone setelah membaca pesan singkat dari Bang Toro.


Dia ingin menunjukkan kesan baik dan tulus kepada Aira..dia tidak ingin membuat gadis itu tegang. Jadi malam ini dia akan mengajak gadis itu nonton film di bioskop yang baru di buka di kota itu.


" Saya tidak bisa menemanimu makan malam karena masih ada pekerjaan..tapi kita bisa menonton film jam 9 malam di bioskop jika kamu suka"


Pambudi merasakan pedar bahagia saat mendengar gadis itu memekik tertahan kegirangan atas ajakannya nonton malam itu. Ya tentu saja dia sangat ingin keluar, menghirup udara malam setelah seharian di rumah. Mang Diman menjemput Aira dan mengantarnya ke Bioskop , di sana Pambudi sudah menunggu dengan dua tiket ditangannya.

__ADS_1


Aura kecantikan dan keceriaan wanita muda terpancar jelas dari penampilan Aira malam itu. Pambudi mencoba mengimbangi tampilan Aira dengan bergaya pria metro dalam balutan casual yang nyaman.Sekilas orang akan menduga jika mereka adalah pasangan yang serasi. Dan membuat iri pria dan wanita lain dari kejauhan.


"Ciss.." Seorang gadis dengan dandanan gotik membuang ludah dengan kesal. Lalu berjalan melewati kerumunan riuh remaja yang saling menyoraki.


" Untuk apa aku melihat semua omong kosong ini" gadis gotik berbicara di handphone di depan kasir, sambil mengeluarkan lembar pecahan seratus ribu untuk membayar harga tiket nonton.


" oke..baik Nek..siap siap.." dia menutup telepon tanpa memperdulikan si penelepon yang protes dipanggil nenek. " Kamu memang tertua dari semua ..apa salahnya aku memanggilmu nenek" Gadis Gotik itu menggerutu dan berjalan melewati bebarapa antrian. Dia tidak perduli dengan protes dari beberapa pasang muda mudi yang merasa diserobot antriannya. langkahnya tehenti tepat di belakang antrian Pambudi.


AC dalam ruang bioskop memang cukup dingin, tapi Aira merasa menggigil bukan karena itu. Tanpa sadar dia merapatkan badannya ke arah Pambudi. Dan sesekali melirik gadis gotik yang duduk disebelahnya sambil menutup mata.


" Untuk apa ke bioskop kalau hanya akan tidur.." Aira membatin dan terkejut saat sadar gadis Gotik itu sedang melotot tajam kearahnya. Cahaya memang redup, tapi tidak dapat membendung sinar tajam yang solah menusuk dari mata gadis gotik. Melihat Aira tidak bereaksi selain terkejut..gadis gotik itu menyeringai dan kembali menutup mata.


Sementara dalam dada Pambudi bergolak saat Aira merapatkan badan kedadanya. Tapi dia segera mengenyahkan perasaan anehnya saat gadis itu berbisik dengan suara bergetar


" saya kedinginan..maaf" dan sungguh kulit gadis itu berubah seperti serpihan es..dingin dan basah oleh keringat.


" Apa kamu mau keluar ?...tidak apa apa kok" tawar Pambudi setelah sadar apa yang terjadi sebenarnya. Gadis itu mengangguk sedih. Melintasi beberapa kursi pengunjung lain dalam pelukan erat Pambudi. Selang beberapa detik gadis gotik itupun berdiri dan melewati beberapa kursi pengunjung tanpa permisi. Gerutuan orang orang yang dilewatinya dibalas dengan tatapan mengancam dari gadis gotik.


Pambudi merasa aneh ..sepanjang jalan Aira hanya terdiam setelah meminta maaf karena merusak acara nonton mereka yang seharusnya menyenangkan. Tentu saja bukan hal besar, mereka bisa menonton lain waktu. Dan menyarankan Aira untuk langsung tidur sesampai di rumah.


Sebelun hilang dibalik pintu Aira menatap Pambudi lekat dan dalam


" Dengar..aku ingin kamu berjanji merapatkan semua jendela dirumah ini...mungkin kamu tidak tahu jika ada beberapa jendela terbuka dan tidak terkunci di rumah ini." Ucap Aira dengan nada beraungguh sungguh. Pambudi bingung..tidak mungkin jika jendela ada yang terbuka..alarm rumah pasti akan menunjukan indikator itu.


" Tolong percayalah...kamu bisa memeriksanya sendiri." Sekali lagi Aira menatapnya..kali ini hampir bermohon. Seketika Pambudi merasa cemas jika yang dikatakan gadis itu benar. bagaimana teknologi tercanggih yang terpsang dirumahnya tidak bekerja sebagaimana harusnya. Mengapa gadis ini justru dapat mengetahuinya.


"oke baik..itu mudah saya pasti akan memeriksanya." Janji Pambudi untuk menenangkan Aira. Dan dia segera memeriksa setiap jendela setelah Aira menutup pintu kamar.


Pambudi hanya bisa menahan geram, saat menemukan bahwa apa yang dikatakan Aira adalah benar. Beberapa jendela terkuak kecil. Tapi alarm menunjukkan kalau disana tidak ada masalah.


Siapa sebenarnya gadis ini..apakah dia dikirim oleh perusahaan kompetitor untuk memata matai perusahaannya. Mengapa Bang Toro tidak mengetahui jika gadis ini memeriksa setiap jendela dirumah ini. Jika tidak bagaimana dia bisa tahu jendela jendela itu telah terkuak tanpa terdeteksi. Dia sudah memberitahu petugas pembersih rumah agar tidak membuka jendela sekecil apapun karena akan mengaktifkan alarm. Jadi itu tidak mungkin kelakuan mereka.

__ADS_1


Malam itu kembali Pambudi tidak dapat menutup mata, kecemasannya bertambah ..apalagi permintaan gadis itu sangat aneh baginya. Apakah ini kebocoran kedua dalan siatem keamanan digital mereka yang telah dipatenkan itu?. Dia tidak sanggup memikirkannya lebih jauh. Dan berharap itu hanya permainan sel sel otaknya saja.


__ADS_2