Interlude

Interlude
Watu Ute dan Pengakuan


__ADS_3

Untuk sejenak Watu Ute berterima kasih bahwa keabadian masih bersamanya. Impiannya entah bagaimana menjadi kenyataan. Dia berada dalam dekapan Vrom untuk beberapa saat. Dan dia tidak ingin itu berakhir. Istana berlian itu menakjubkan. Tapi tidak ada apa apanya dibanding hangatnya perhatian Vrom padanya. Dia lupa jika jiwanya sedang terancam.. Bila Sangia tidak menghapus nama Watu Ute yang diguratnya dengan buluh dari bulu sayapnya, maka dia tidak akan bisa bertahan.


Didalam bilik tempatnya dirawat.. dipenuhi peralatan medis yang membantunya bertahan.Tapi tidak dapat menghalau indahnya kilauan batu batuan bumi yang beraneka warna, yang menyusun bangun ruang bilik itu. Wangi aroma organik flora dan batuan alam yang memenuhi ruangan. Sempurna dengan kehadiran Vrom bersamanya sepanjang waktu. Hidup ribuan tahun yang menjenuhkan di setiap erav terbayarkan saat satu satunya keinginannya terwujud.


Vrom, laki laki gagah dan berdedikasi dengan hati yang lembut itu adalah impian setiap wanita. Tertidur di sofa menungguinya. Watu Ute tidak pernah bosan memandang wajah yang tertidur pulas seperti bayi, murni dan indah. Berkali kali bibirnya tersenyum tipis. Andai pemandangan ini tidak akan pernah berakhir.. duhai masa.


"Sepertinya aku berhasil menyembuhkanmu.. " Suara Vrom yang memenuhi ruangan itu mengejutkan Watu Ute.. Dia memalingkan wajah sadar telah tertangkap basah.


"Omong kosong.. aku hanya menunggu si dewi kematian itu sadar dan mengembalikan jiwaku sepenuhnya... " Watu Ute menggumam.. Vrom bangkit dan berjalan menunggunya di ambang jendela. Terlihat jika wajahnya khawatir. Watu Ute bukan tidak tahu kalau Vrom juga memikirkan Sangia. Dia tahu laki laki itu mengagumi Sangia. Memikirkan bahwa Vrom diam diam menyukai Sangia membuat desir cemburu mengalir dalam jiwa Watu Ute.


"Aku harus bertemu Rapa Wulaa sekarang. Dan kuharap kamu tidak lagi mnyembunyikan informasi penting yang lain.. " Tatapan menusuk dari Vrom.. membuat Watu Ute merasa kembali tertangkap basah.


Dia hanya menggeleng sedih menyadari bahwa kepercayaan Vrom padanya belum pulih. Tapi Watu Ute tidak bisa menghamburkan setiap informasi yang diketahuinya tanpa memastikan kegunaan informasi itu terlebih dahulu. Akibatnya akan lebih fatal dan mungkin akan menyebabkan kerusakan yang tidak bisa diperbaiki lagi.


Vrom meninggalkan bilik Watu Ute, menuju Aula istana. Rapa Wula sedang minum dari cangkir yang terbuat dari intan bertahtahkan Zamruth pada pegangang setiap cangkir.. meja minum teh dari saphire dan kursi dari emerald.. Keindahan yang hanya ada di kerjaan kerajaan bumi. Dimana warna dibiaskan dalam ribuan spectrum dan panjang gelombang yang sangat random. Menimbulkan efek jutaan warna pada bumi.


Pada salah satu jendela yang hampir tidak bertepi.. berdiri Sangia membelakangi mereka. Memandang jauh ke bibir pantai dan batas cakrawala. Dia prajurit langit tanpa tanding. Setidaknya dia dulu adalah Sangia Sang Legenda. Dan kini dia berada sangat jauh dari tempat semua kenangannya berawal dan berakhir. Dia tidak bisa melupakan lima zaman beku di Kerajaan Langit. Tetapi kerajaan itu sekarang telah menghapus dirinya dari sejarah langit. Dia tidak pernah ada lagi disana sejak zaman beku dimulai.


Dia berduka dengan caranya sendiri.. pupil matanya berubah menjadi merah.. dan siapa saja yang beradu dengan mata itu akan menguap seperti udara. Semua harus berakhir seperti dirinya.. tanpa bekas. Setidaknya begitulah yang akan terjadi selanjutnya. Sayapnya berganti tangan yang memegang trisula dari batu meteorit. Dan Rambutnya yang biasa dikuncir.. telah terurai dengan warna yang mencerminkan suasana hatinya.


Sangia menyadari kehadiran Vrom juga Vania dan Pambudi.. tapi dia ingin menemui Watu Ute.


"Kamu harus mengembalikan jiwanya Sangia.. " Suara Rapa Wulaa memecah keheningan.


"Saat ini dia tidak punya cukup energi, keabadianya terancam, kembalikan jiwanya sebelum terlambat" Vrom menyela...


Sangia melayangkan trisula yang melesat melewati ruang aula, terus menuju ke halaman istana dan mendarat disebuah batu yang tergurat simbol bumi. Jiwa Watu Ute terpatri di batus cadas itu. Tombak trisula yang terbuat dari batu meteorit kryptonite menghancurkan batu itu menjadi debu. Dan kembali ke tangan Sangia dalam sekejap.


Watu Ute berjalan terhuyung menuju aula Istana Gunung Batu Bulan. Dia tahu kalau dirinyalah yang sedang ditunggu semua orang diruangan itu. Pengakuanya.


"Jangan berpikir kalau urusan ini sudah selesai.. kamu beruntung dengan cerita hitam mu itu.. jika tidak.. kamu tahu dimana sepantasnya kamu berada saat ini. " Sangia berdesis seperti seekor ular yang siap menelan mangsanya hidup hidup.


Watu Ute mengangkat sebelah tanganya meminta waktu untuk bicara. Sementara isi kepalanya sibuk memikirkan akan memulai pengakuanya dari mana. Kisah para makhluk abadi selalu seperti dongeng, bisa menjadi pengantar tidur. atau kisah horor yang menghantui pendengarnya.

__ADS_1


" Aku selalu berada pada situasi yang tidak menguntungkan.. "


"Mana aku tahu kalau penjelajahanku di lubang hitam membawaku pada ruang dan waktu awal jaman beku kelima ini. "


Watu Ute menunggu reaksi Sangia.. tapi perempuan perkasa itu tidak bergeming.. bersidiri seperti patung mengarah ke batas cakrawala.


"Apa yang kamu temukan disana? " Verna tak sabar bertanya.. Bagaimanapun dia hampir tidak dapat kembali kewujud aslinya karena persengkokolan antara Watu Ute dan Sangia. Jika bukan karena ingatan unik Pambudi, pasti saat ini jiwanya terpenjara di dasar Kerajaan Laut dan tidak ada yang bisa membebaskannya, selain ketidak abadian.


"Kamu selalu menayakan pertanyaan yang salah" Watu Ute mencomooh Verna, Dan terkekeh mengetahui bagaimana gadis itu hampir lupa dengan dirinya sendiri.Verna melotot.. matanya berwana biru seperti lautan.. berpendar Indah.. .


Pambudi masih saja terlihat kebingungan , seperti tertidur dalam waktu yang lama dan terbangun di negeri antah berantah. Tapi itu pertanda bagus.. menunjukkan akal sehatnya masih waras.


Watu Ute telah sepenuhnya pulih.. tetapi jiwanya telah terluka. Menorehkan bekas yang akan selalu mengingatkannya pada tragedi yang tak akan terlupakan baginya di jaman beku lima ini. Jaman yang hampir saja menandai ketidak abadiannya. Dia mencuri pandang ke arah Sangia. Bahkan dari belakang ..Kemarahan Sangia masih terlihat dengan jelas. Watu Ute memandang satu per satu mereka yang hadir diruangan menakjubkan itu. Dia mengenal mereka, seperti mengenal dirinya sendiri. Hal yang tidak terelakan dari keabadian adalah perasaan benci, suka, marah, sedih dan bahagia hanya seperti rangkain bunga yang tersimpan indah dalam wadah setiap jiwa abadi. Monumen yang akan selalu bersama mereka, meniti jaman beku yang tidak berkesudahan.


"Perjalananku dalam lorong hitam. telah membawaku melintasi ruang dan waktu yang tidak kuharapkan. Aku berada di awal jaman beku kedua. Dan sungguh aku tidak suka disana. Tidak akan ada yang bertahan dijaman itu.. suhu jagat raya.. membekukan apa saja yang dilewatinya. Aku berada di Istana Langit dan tidak bertemu siapapun disana. Tapi aku penghuni abadi kerajaan bumi. Kami mendengar apa saja. Seluruh yang ada dibumi dapat mendengar.. kami memantulkan sekecil apapun gelombang yang kami terima. itulah sebabnya batu, pasir, pohon,daun daun, tanah dan dinding dibumi bertelinga. Tidak ada rahasia yang aman dibumi. ..Atau tepatnya jangan pernah menyimpan rahasiamu di bumi... Hiihiihiiii


Watu Ute tertawa dan memuntahkan darah bergantian. Hitam dan berbau busuk.. Membuat mereka semua merasa ingin mengeluarkan isi perut mereka. Itu bagus bagi Watu Ute.. tubuhnya sedang memulihkan diri. Dan dengan cueknya dia pindah duduk tanpa merasa bersalah. Si Empu Istana puncak Gunung Batu Bulan..Rapa Wuulaa mengibaskan tangannya dan sekejab muntahan Watu Ute hilang dalam udara.


"Itu suara leluhurmu Sangia.. Kamu harus tahu.. jika kamu bukan keturunan murni penghuni abadi Kerajaan Langit. Tapi dalam keabadianmu terpatri tiga keabadian, Bumi, Laut dan Langit. Itu membuat dirimu tidak terkalahkan, sekaligus ancaman terbesar bagi Kepemimpinan Klan Penguasa Kerajaan Langit. Keturunan dari Klanmu tidak boleh bertahan.. harus musnah."


"Tugas yang terakhir diberikan padamu adalah jebakan. Tidak ada yang akan terjadi pada tiang istana kerajaan langit, Jika Nona Rapa Wulaa berhasil menaburkan abu leluhurnya di puncak gunung Batu Bulan pada sepuluh purnama kemarin. Yang terjadi dirimu akan kehilangan kekuatan bila terkena abu itu. Dan tugasmu akan dinyatakan gagal.


"Kamu sendiri tahu bahwa kegagalan bagi yang abadi seperti kita sama saja dengan hukuman mati. " lanjut watu Ute dengan sedih


"Mereka menghukum dirimu dengan menganggap keabadianmu telah berakhir. "Kali ini penjelasan Watu Ute ditujukan hanya kepada Sangia. Dan hanya Sangia sendiri yang dapat mendengarnya.


Sangia menoleh ke arah Watu Ute.. bara dimatanya telah padam.. yang nampak adalah hitam yang tidak bertepi. Bukan hanya Watu Ute yang terhenyak.. tetapi semua yang hadir ditempat itu.


"Dan mengapa ini baru kau sampaikan padaku sekarang? " Pertanyaan Sangia yang lebih seperti geraman.. pertanyaan yang dicemaskan Watu Ute. Sangia mempertanyakan akal sehat, niatnya dan kredibilitasnya sebagai sesama makhluk abadi.


" Apa pikirmu mudah bagiku mencerna informasi itu? "


"Apa kamu pikir aku tidak terkejut mendengar rencana para penguasa klan langit? "

__ADS_1


Watu Ute menceritakan yang sebenarnya.


"Aku bahkan tidak tahu bagaimana menyampaikan itu padamu, kamu tidak akan percaya dan kamu memang tidak pernah percaya padaku. Aku tidak punya cara lain.. Selain mengikuti alur cerita yang telah disusun oleh para Klan Penguasa Langit. Lagi pula aku tidak punya cara untuk meyakini bahwa apa yang kudengar itu adalah kebenaran. Selain mengikuti skenario mereka. "


"Maaf saja.. aku juga tidak dapat memberitahumu jika mereka telah mempermainkanmu sejak awal... "


"Semua itu harus terjadi,karena situasi ini memang tidak bisa dipercaya"


Sangia berjalan mendekati Watu Ute.. dan refleks Watu Ute bergerak menjauh.. bagaimanapun dengan kondisi Sangia saat ini.. tidak ada yang dapat menduga apa saja yang akan dilakukannya.


Dia 'terbuang" dan sekarang praktis sedang "kehilangan jati diri". Faktanya Sangia hanya memiliki mereka, kawan sekaligus lawan abadi.


"Ini belum selesai.. sebaiknya kau lebih bijaksana dengan apa yang kau dengar.. kali lain kamu tidak akan seberuntung saat ini.. " Sangia menegaskan posisi Watu Ute dalam pandangannya. dan tidak ada yang meragukan jika Sangia akan melakukan apa yang dikatakanya. Watu Ute terkesiap pasrah, baginya ultimatum Sangia adalah peringatan terakhir baginya.


"Aku akan menuju Istana Laut, ada yang akan bersamaku? " ajak Sangia canggung.. ini tentu saja dia tujukan pada Vrom. Rapa Wulaa menghalau Verna yang bergerak maju. Dia terlambat mencerna situasi.


"Pergilah.. Istana ini dan kami akan disini jika diperlukan" Rapa Wuulaa mengangguk ke arah Sangia sebelum perempuan itu hilang dalam kabut di susul Vrom yang mengikutinya.


Mereka yang kini tinggal di istana puncak Gunung Batu Bulan seketika dapat bernafas dengan lega. Mereka telah merasakan ketegangan yang mencekam dan melelahkan saat Sangia berada dalam kemarahan dan berada didekat mereka.


Rapa Wuulaa.. diam diam mengamati Watu Ute.. gadis yang memilih lpenampilan gotik itu tampak sedih atau tepatnya kesal.


"Apa yang kau pikirkan" Sapa Verna sambil mendorongkan ujung tongkat bermata tombak dua ke bahu Watu Ute. Bagaimanapun Verna masih kesal terhadap Sangia dan Watu Ute. Dia tidak dapat berbuat apa apa terhadap Sangia. tapi Watu Ute akan menerimall pembalasan kecilnya suatu waktu nanti.


Watu Ute.. melirik kesal ke arah Verna.. dia tahu Verna tidak akan tinggal diam.


"Baiklah kalau kau begitu ingin membaca pikiranku.. aku memikirkan kalau laki laki itu tidak bisa mengingatmu.. maka kamu saat ini seharusnya berada dalam penjara Kerajaan Laut.. hihihi"


"Kamu benar benar menyebalkan.. " Verna memekik kesal dan membuka serangan. Watu Ute bersiap. Mereka memang perlu melonggarkan syaraf yang kaku dalam ketegangan yang susul menyusul. Melakukan "pergerakan" sedikit akan membuat mereka relaks.


Rapa Wula dan Pambudi tertawa tawa mengamati serangan mereka yang silih berganti untuk menjahili satu sama lain. Watu Ute yang lebih sering menjambak rambut indah Verna dan Verna yang selalu mengicar bokong Watu Ute yang terlihat sangat penuh dan menggumpal seperti bantalan busa.


Untuk sementara.. langit kembali biru dan lautan tenang hanya sesekali gelombang memuncak.. kabut tebal yang selalu menutupi Gunung Batu Bulan telah tersingkap, Menghamburkan kilauan dinding batu yang ditimpa cahaya matahari dari sisi timur. Kehidupan para makhluk yang berdiam di akhir jaman beku lima kembali merayap menembus waktu dan ruang disekeliling mereka.

__ADS_1


Watu Ute telah meninggalkan istana Gunung Batu Bulan, dia telah bertekad untuk kembali menjadi pendengar jagat raya dan akan menggunakan informasi yang diperolehnya untuk kepentingan Sangia. Verna mengantar Pambudi kembali ke ruang kantornya yang luks dan tanpa cela dalan rupa Aira. Dan menghibur Pambudi bahwa tidak ada yang salah dengan perangkat data dan spy digitalnya.. kehadiran Verna yang tiba tiba di depan pintu kantor Pambudi... adalah diluar kemampuan tercanggih yang dapat dicapai semua perangkat itu dalam mendeteksi setiap fenomena.


Tentu saja.. dunia fana sangat berbeda dengan dunia abadi, walaupun mereka bisa berada pada frekuensi yang sama, sesekali. Tapi kedua dunia ini sangat jauh berbeda. Jika Pambudi masih dan akan selalu takjub, maka sekali lagi itu pertanda baik, bahwa akal sehatnya masih waras.


__ADS_2