Interlude

Interlude
Tugas Baru


__ADS_3

Setelah berjalan jauh, melihat banyak hal dan terlibat dalam banyak peristiwa, maka berhenti sejenak atau melambat adalah kebutuhan.


Interlude sungguh diperlukan, secara sadar atau tidak. jeda ini dapat mengantar ke fase berikutnya atau menjadikan perhentian itu sebagai rumah terakhir.


Vrom telah mengalami ribuan interlude. Dan dia sangat menyukai sebagian dari interlude itu. Dalam perjalanan kembali ke Istana Kerajaan Laut setelah menyelesaikan tugas dia menganggap ini adalah salah satu jeda. Kali ini dia bersama Sangia, tidak sendiri menatapi bulan dan menghalau matahari dari atas karang lautan.


Sangia hanya berjalan tanpa suara, dan terus memandang ke depan. Vrom bisa tahu kalau perempuan itu sedang tenggelam dalam alamnya sendiri. Mereka tidak sedang dikejar waktu, jadi berjalan adalah yang paling tepat. Saat ini waktu bersama mereka jadi tidak masalah bermain dengannya. Perjalanan menuju istana kerajaan laut bukan perkara mudah apalagi bila belum pernah melewatinya. Sangia butuh Vrom untuk itu, dan Vrom pasti tahu jalan yang paling mudah.


"Apa yang akan kamu lakukan.. "sedikit ragu Vrom berujar lirih. Paling tidak dia punya sedikit informasi untuk mengambil tindakan yang diperlukan. Kalau kalau saja keadaan berada diluar kendali. Vrom merasa kalau Sangia adalah bom waktu yang siap meledak dan meluluh lantakkan sekelilingnya bahkan mungkin jagat raya. Vrom tidak bisa mengambil resiko yang akibatnya bisa vatal, bahkan jika itu berarti Sangia....


"Apa kamu cemas aku akan melakukan sesuatu yang buruk.. "Sangia menghentikan langkah dan kali ini mendatangi Vrom. Sangia memang susah diprediksi.


"Kamu telah sangat meremehkanku.. apa bagimu aku hanya simbol angkara, mesin penghancur tanpa akal,?.. Sangia mencecar Vrom.. Hingg Vrom hanya dapat melihat ke kejauhan di horison pantai yg tidak bertepi.


"Jangan salah sangka... aku tahu kamu tidak sepicik itu.. tapi yang telah kamu lalui dan kita semua alami.. adalah suatu anomali yang bisa saja memicu kejadian yang tidak terbayangkan.. "Vrom akhirnya buka suara setelah terdiam beberapa saat


"Aku hanya mengkhawatirkanmu Sangia, bolehkan aku melakukannya.. "Vrom berpaling dari wajah Sangia, jelas jelas jika dia telah mengungkapkan rahasia hatinya yang terdalam, bibir Sangia yang hangat dan lembut masih terasa melekat dibibirnya.


Sangia terlalu kalut untuk memahami perhatian itu, sel sel kecil di kepalanya berusaha meredam pengaruh ucapan Vrom barusan. Tapi desir hangat dan sensasi bahagia tak urung membuat pipinya memanas. Dia teringat ciuman menenangkan dari Vrom.. satu satunya laki laki yang pernah melakukan itu padanya dalam lima jaman beku.


"Baiklah.. aku bisa melanjutkan pertanyaanku.. tapi kita tidak akan membuat kemajuan. Aku tetap .menantikan jawaban atas pertanyaan pertanyaanku tadi.


Sangia mengalah.. saat ini prioritas utamanya, mengetahui dan membuktikan rahasia hitam Istana Langit tentang dirinya yang diketahuinya dari Watu Ute.


Sekelam apapun rahasia itu akan diterimanya.. Dia telah menjelajah lima jaman beku.. tidak adalagi yang bisa membuatnya terjatuh. kecuali saat dia terasing dalam luasnya jagat raya. Dan tidak punya tempat untuk kembali. Dia kehilangan rumah.. setidaknya yang dikiranya adalah rumah.. Semua lenyap seperti tidak pernah ada. Menyisakan lubang hitam di sisi hatinya, menggerogoti sisi hatinya yang lain perlahan namun pasti.

__ADS_1


Sakit itu semakin hilang termakan amarah yang semakin kuat bergolak disekujur tubuhnya.. Amarah yang sulit mengenali perhatian yang tulus dari seorang Vrom. Sangia tahu itu, dan kenyataan ini memberikan nyeri yang menusuk jantungnya. memikirkanya saja membuatnya menutup mata dan sedikit demi sedikit mulai membenci dirinya.


Sangia berpaling menatapi punggung lebar dan kokoh Vrom yang membelakanginya. Dihadapan mereka menjulang tinggi gerbang tak kasat mata, portal yang akan membawa mereka memasuki wilayah Istana Laut yang tidak bertepi. Hanya mereka yang dapat melihatnya dan hanya penghuni abadi yang dapat melewatinya. Vrom berpaling dna menjulurkan tanganya ke arah Sangia.


"Aku tahu ini tidak akan terlalu sulit bagimu.. tapi jangan berpikir untuk melakukanya, melepaskan genggamanku akan membuatmu tersesat dalam waktu yang entah berapa lama." Vrom meraih tangan Sangia menggenggam di pergelagan tanganya dan menyatukan dengan ikatan tak kasat mata yang membuat tangan mereka seperti bersatu.


"bersiaplah.. karena ini pertama bagimu..cukup bertahan.. akan terasa sangat tidak nyaman"Vrom berbicara tanpa memandang Sangia. sibuk menata hatinya yang berdesir dalam genggaman tangan mereka yang menyatu. Sangia menyentuh bahu Vrom dengan lembut. sudut bibirnya sedikit terangkat. Dia seperti merasakan "kegelisahan" Vrom.. hanya saja tidak dapat menembak penyebabnya dengan tepat.


"jangan khawatir.. aku akan baik baik saja" ucapnya Sangia lirih saat Vrom memalingkan wajahnya dan mata mereka bertemu. Vrom mengangguk tapi sorot matanya yang lembut itu.. kembali menusuk jantung Sangia dan membuatnya gelisah.


Vrom mengambil ancang ancang dan mulai membawa Sangia melayang dalam gerakan meliuk liuk yang rumit. Bagi yang melihatnya..mereka akan nampak sedang menari dan beratraksi membuat konfigurasi indah di udara. Tapi yang sebenarnya adalah mereka sedang melewati lorong terjal dan berliku dengan kecepatan ultra. Lorong itu ada ribuan jumlahnya. Dan setiap lorong akan berujung pada sesuatu yang masih misteri bahkan oleh sebagian besar penghuni Istana Laut. Konon tersesat di lorong lorong itu akan membuat mereka tidak dapat menemukan jalan kembali dan berakhir seperti tidak pernah ada awalnya. Kisah bagaimana lorong lorong itu telah mengambil banyak kehidupan, telah menjadi legenda dan momok menakutkan di Istana Laut dalam jutaan tahun.


Itulah mengapa Sangia tidak dapat mengambil resiko memasuki Istana Laut tanpa Vrom. Tanpa sadar Sangia semakin mempererat genggamanya pada pergelangan tangan Vrom yang kokoh dan hangat. Perjalanan ke Istana Laut seperti sedang menaiki rooler coster yang tiada berakhir. Vania mulai merasakan efeknya. beku dan nyeri yang begitu hebat. Sangia harus menutup mata untuk "menahan" siksaan itu. Dia adalah prajurit langit tertangguh.. tapi yang ini sangat berbeda dan dia telah melakukan prediksi yang terlalu meremehkan. Vrom sesekali menoleh ke arah Sangia untuk memastikan gadia itu baik baik saja. Hingga Sangia terkulai lemas dan kini sepenuhnya berada dalam dekapan Vrom. Tubuh mereka yang seolah menyatu kini meliuk liuk dengan sangat ceoat mengikuti alur lorong menuju Istana Laut.


"Kamu sedikit terluka dipelipis.. " Suara lembut Vrom sepenuhnya membawanya keluar dari fatamorgana mimpinya yang tidak berwujud. Refleks Sangia bangkit dan menjauh dari tubuh Vrom yang sedang membungkuk di atas tempatnya terlentang. Tapi sigap Vrom menahannya untuk tetap berbaring.


"istirahatlah.. kita punya banyak waktu. " Vrom mengakhiri kegiatannya mengoleskan cream ke atas luka gores dipelipis Sangia. Sangia tidak ingat bagaimana dia mendapatkan luka itu. Ingatanya terakhir adalah semua tiba tiba gelap dan dia merasa seringan bulu.


Luka dipelipis Sangia dengan cepat pulih meninggalkan goresan samar yang tertutup anak rambutnya yang lembut dan ringan. Vrom menghilang dari sana dan kembali dengan sebuah cawan yang lebih menyerupai kerang. Setelah membuka kerang itu Vrom menyodorkan sebuah biji mutiara perak ke pada Sangia.


Sangia menerima dengan pandangan bertanya, sekilas dia ingat bagaimana selama jutaan tahun manusia melakukan itu untuk melamar sang kekasih hati atau sekedar mengungkapakan perasaannya.Tawa kecil Sangia hampir meledak saat memikirkannya. Dan menyumpahi dirinya saat melihat gerakan tangan Vrom menuju mulutnha sendiri.


Secepatnya Sangia memasukkan butir Mutiara perak yang indah ke dalam mulut yang langsung meluncur seperti sepotong jelly ke dalam tenggorokkannya. Menelan semua lelucon aneh dalam benaknya dan kembali membawa misi utamanya ke permukaan. Wajah Sangia seketika kembali kaku dan matanya bersinar kemerahan. Kemarahan dan kesakitan yang menyatu seperti kobaran api yang terus menjalar memakan semua yang dilewatinya.. dan rasa indah dan getaran hangat saat berada di dekat Vrom juga terancam.


Setelah tertidur entah berapa saat. Sangia terbangun dengan tubuh yang telah kembali seperti sedia kala. Iya meraba bekas luka di pelipisnya, sudah tidak ada lagi. Vrom memasuki kamar tempat Sangia tertidur. Ditangannya terhapar seperangkat pakaian baru berwarna kebiruan dengan jubah perak. Vrom meletakkan pakaian itu di samping Vania.

__ADS_1


"Pakailah itu. kita akan menghadap Tetua Istana.. hanya mereka satu-satunya harapan kita saat ini.."Vrom berjalan meninggalkan Sangia dan kembali menoleh sebelum benar benar berlalu dari sana.


"Kamu tidak boleh membawa trisulamu.. di sana tidak diperbolehkan jenis senjata apapun" Vrom secepatnya berlalu saat wajah Sangia menegang. Senjata adalah separuh dari diri seorang pejuang. Dia seolah berawal bersama dan akan berakhir bersama. Para pejuang tidak memilih senjatanya.. tetapi senjata itu yang telah memilih mereka dan setia bersama mereka hingga akhir. Tidak mungkin Sangia akan meninggalkan senjatany. Itu sama saja meninggalkan separuh jiwa dan raganya.


"Vrom pasti sudah tidak waras... mana mungkin aku meninggalkan Trisulaku.." Sangia membatin sambil menggati baju dan jubahnya.. semuanya pas.. sekarang dia sudah seperti putri dari Istana Laut.. kecuali tentu saja mata Sangia yang sering berubah warna sesuai suasana hatinya. Karena hatinya sedang gundah dan sedikit kesal matanya berwarna abu abu yang kelam seperti batu meteorit dan sinar matanya begitu menusuk. Dia tentu saja tidak dapat berpisah dengan Trisula Batu Langitnya. "Lihat saja nanti.. " Sangia membatin dan beranjak untuk menunggu Vrom menjemputnya. Trisula kokoh dalam genggamannya.


Vrom tengah sibuk mencari cara agar Sangia mematuhi peraturan menghadap para Tetua Istana Kerajaan Laut. Sangia sudah di hadapan dengan Trisula Batu Langit melekat dalam genggamannya yang kokoh. Sangia segera tahu maksud pandangan Vrom yang tertuju pada Trisula dalam genggamannya.


"Aku bersamanya sejak jaman beku berawal.. dan terus bersamanya hingga Kerajaan Langit melupakanku seperti aku tidak pernah ada... tidak Vrom" Sangia menggeleng dan bagi Vrom itu adalah putusan akhir tidak bisa ditawar lagi.


"Baiklah.. tapi bersiaplah.. aku sendiri tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi disana nanti" Vrom sudah menerima putusan Sangia dan bersiap dengan konsekwensi yang akan mereka hadapi nanti. apapun itu. Sekilas Vrom memandangi siluet Sangia yang berjalan disampingnya.. Dalam hati ia membatin..


"Aku tidak ingin menjalani jaman beku ini tanpa dirinya.. bukan.. tepatnya.. aku lebih baik berakhir bersamanya..jaman beku dan kehidupan ini hanya siksaan abadi bila tanpa dirinya.. "


Dengan ketetapan hatinya Vrom melaju dan meraih tangan Sangia menggenggam erat menuju Ruang para Tetua Istana Kerajaan Laut.. dalam hitungan waktu penghuni fana bumi perjalanan itu akan mencapai puluhan tahun. Tapi Waktu bagi para penghuni Abadi berbeda.. mereka telah menjalani lima jaman beku jutaan tahun tak terperi tetapi itu hanya seperti menjalani masa remaja mereka. Dimana semua masih terpatri segar dalam memory dan tidak pernah tahu kapan akhirnya untuk mereka.


Sangia tidak dapat melupakan hangat dan eratnya genggaman Vrom.. juga ketika genggaman itu semakin menguat. Seketika dia tahu Vrom akan melakukan apa saja untuk membantunya... juga melindunginya dari bahaya apapun. Mata Sangia membiru lembut.. dia tidak pernah menyangka bahwa memiliki seorang seperti Vrom membuatnya tidak menyesali apa yang dialaminya. Vrom ada bersamanya dan seluruh dirinya entah mengapa tidak melakukan penolakan... tetapi menerima Vrom seperti sebuah sponge yang meresap genangan air. Dia kini balik menggenggam erat tangan Vrom.


Vrom kini tahu.. hidupnya untuk apa dan untuk siapa. Dia menjelajahi lima jaman beku untuk menemukan belahan jiwa abadi. Bahkan jika saat itu dia berubah menjadi debu kosmik di galaksi bersama mereka yang telah berakhir dari keabadian, Vrom tidak akan setitikpun menyesalinya. Sangia bersamanya dan itu lebih dari yang dibutuhkannya. Tidak ada yang membuatnya merenung atau cemas lagi. Mendapati arti hidupnya lebih dari pengorbanan dan perjuangan yang pernah dilakukannya.


Gerbang Ruang Tetua Istana Laut telah menjulang sangar dihadapan mereka. Vrom menarik Sangia lebih merapat kepadanya.


"Jangan pikirkan hal lain.. Biarkan aku menyelesaikan ini..untukmu.. cukup percaya padaku"


Bisikan Vrom yang lebih seperti lagu mantra penyejuk jiwa bagi Sangia, memberikan bilur kehangatan yang mengaliri relung jantung Sangia dan menjalari wajahnya yang indah. Tanpa sadar mereka bertatapan.. mata biru Vrom yang tajam dan memukau dan mata biru Sangia yang melembut. Jutaan untaian kata yang syahdu terurai disana. Jagat raya menjadi saksi abadi.. saat tugas baru menanti mereka. Menjalani keabadian bersama hingga keabadian itu menjadi tidak abadi.

__ADS_1


__ADS_2