
Cinta seumpama sebutir benih. Hanya akan tumbuh dan bersemi pada tanah yang tepat. Dengan nutrisi dan air yang sesuai.akan tumbuh menjadi sebuah pohon dengan akar yang kokoh menghujam ke bumi. Tinggi menjulang dengan rimbun dahan dan ranting yang meneduhkan.
Lalu akan ada semilir angin, kecipak riuh burung yang hinggap diranting dan beberapa serangga dan binatang melata membuat sarang padanya. Saat hujan membasahi bumi menjadi pelindung bagi kehidupan yang bersamanya, bahkan yang hanya sekedar berteduh dari terpaan gigil dingin. Saat kemarau tiba, pohon cinta menyesuaikan dirinya, melepas beberapa daun kering agar kehidupan yang bersamanya dapat tetap bertahan. Dan ketika badai menerjang, seluruh sendi cinta bahu membahu menguatkan diri, berusaha tetap tegak walau hantaman angin mengelilingi seperti sebuah pusaran.
Akar akan berusaha mencengkeram semakin dalam ke bumi, bahkan akar sekecil dan serapuh sekalipun akan mengeluarkan kemampuanya untuk tetap melekat ke tanah. Dahan akan berusaha mengikuti tarian bayu yang mengintarinya seperti siap mematahkan pokoknya. Dan kadang tidak mengapa merelakan sebagian dahannya patah jika itu dapat memuaskan amukan sang angin.
Itulah Cinta... seharusnya demikianlah Cinta
Cabin Gunung Batu
Mini truck dengan handle ganda meraung ringan menapaki jalan mendaki,sedikit terjal dan berbatu. Didalamnya ada Lima penumpang dengan usia sepantaran. dan seorang sopir yang mengemudikan truck seperti sedang mengamati pembuluh darah yang ditangannya, dia terlahir untuk itu.
Perempuan setengah baya itu melajukan truck mini yang tangguh sambil sesekali bersenandung.dan tersenyum kecil. Diantara riuh percakapan acak dari lima penumpang yang tidak berhenti takjub dengan pemandangan di sepanjang jalan.
" Mba itu curuk di depan.. boleh berhenti disana" suara agak serak dari Jok belakang menyeruak. Sekitar tiga puluh meter di depan terlihat ada curuk dengan rimbun pohon dan ada tempat untuk parkir disana.
Amira menyalakan lampu sen kiri meminta jalan untuk menepi, walaupun itu tidak diperlukan. Tidak ada kendaraan lain di sana ataupun orang lain. Tapi itu kebiasaan dan prosedur biasa, siapa yang bisa menahan reflek sebuah kebiasaan yang benar, meski terkadang itu sedikit konyol.
Setelah menepi dan berhenti sempurna, Amira memutar anak kunci tetap pada posisi On. sehingga lampu stop tetap menyala. Dia hanya tersenyum sambil memperbaiki posisi jilbab yang menutupi kepala dan lehernya. Itu sebuah syal dengan motif unik.. dari bahu ke bawah dia mengenakan pakaian resmi kantor kecilnya.. Jaket jins yang menutup kaos longgar lengan panjang dan celana jins belel dengan ujung kaki meringkuk dalam sepatu boot seangkle warna coklat kusam tapi sedikit sangar. Tentu saja itu penampilan luar biasa dan eksentrik dari seorang wanita pertengahan empat puluhan. Penampilannya yang nyaman membuat tidak seorangpun sudi melewatkan pandangan padanya. Juga tidak dengan kelima penumpangnya saat ini.
Si suara serak buru buru melompat keluar dari mobil, dan segera berlari menuju curuk terus ke belakang rimbunan semak dan pohon. Yang lain tertawa. Bowo kebelet pipis.
Andi menyusul.. "ketularan.. " ujarnya Sebelum hilang di balik semak rimbun di arah yang berbeda
Curuk itu dua puluh tahun yang lalu masih di aliri air dari ketinggian hampir tiga puluh meter.. berundak dengan batu cadas yang memutih. Air terjun yang menyeruak di antara pohon besar yang menjulang dan beradu dengan kicauan burung dan serangga hutan. Sekarang menyisakan rembesan air dan kerak lumut hijau disana sini,juga kesunyian yang sedikit mengganggu.
Dua orang kru cewek turun dari mobil dan mencoba mengamati curuk lebih dekat. Chika yang berambut pendek, dengan tubuh kekar untuk ukuran cewek dan Wina semampai sedikit kurus dengan hijab segitiga yang ujungnya diikat di leher. Keduanya awal tiga puluhan.Dan seorang lagi yang terlihat hemat dengan suaranya. Duduk di samping Amira, dia mengamati sekeliling dengan mengeluarkan Kamera dan mulai memotret dari dalam mobil. Sepertinya adalah pemimpin kelompok kecil itu. Bang Seno mereka menyebutnya. juga saat menjabat tangan Amira. Dijari manis tangan kirinya melingkar cincin, menegaskan senioritas dan kedudukannya dalam tim itu.
"Mba Amira, kita sudah berada dimana ini..? Bang Seno memecah kesunyian yang berasal dari kekaguman mereka berlima dengan pemandangan sekeliling curuk.
"kita tinggal melewati jalan menanjak yg melingkar menuju..ke sana" Amira mengarahkan telunjuk dan pandangan ke gugus yg terlihat berwarna warni di antara hijaux pepehonan diarah pukul 03.00.
Itu pemandangan desa Rahadopi yang dijaraki lembah curam hijau penuh misteri di bawah mereka. Tempat yang mereka tuju.Seno keluar dari kabin mobil,mengambil gambar desa dari tempatnya berdiri dengan berbagai angle. Dia terlihat sangat mahir dengan kameranya.
Bowo dan Andy telah kembali dari hajat mereka,kelegaan terpancar dari raut wajah sedikit konyol mereka. Nyengir seolah berhasil menjawab sebuah teka teki rumit.Chika dan Winapun mengakhiri kekaguman mereka pada curuk yang tinggal lumut hijau dan undakan batu hitam menjulang dingin dan sedikit horor.
"Mba Amira dah lama tinggal di sini"..Wina bertanya antusias
Amira tersenyum,ingatanya kembali ke beberapa tahun ke belakang.
__ADS_1
"Sdh 6 tahun saya menetap di sini..jangan khawatir ..sesuai kontrak ..aku juga akan menjadi guide mengelilingi pulau untuk keperluan mba mba dan mas mas kemari."
"Siiip Mba Amira..itu juga harapan kami"Kali ini Bg Seno yang bicara. Amira mengangguk kecil dgn senyum untuk menegaskan janjinya.
"Maksud saya..Mba mungkin punya gambar curuk ini saat masih mengalirkan air dari puncaknya" tanya Wina
Amira sedikit merenung,
"saya kurang ingat jika punya gambarnya, tapi saya punya beberapa album foto, Mba Wina bisa melihat lihatnya, ..saya juga bisa menanyakan ke bapak kepala desa ..siapa tahu dia masih menyimpan dokumentasi saat saat itu"
Gaya bahasa Amira yang sangat rapi dan lugas ..membuat pendengarnya mengira ngira latar belakang wanita itu, dibalik penampilannya yang terkesan cuek, sepertinya dia memiliki pengetahuan yang luas. Sangat mungkin memiliki pendidikan yang cukup tinggi.
" Baiklah, jika semua sudah siap..kita dapat melanjutkan perjalanan, bagaimana?" Amira menoleh ke belakang ..melihat jempol Bowo dan Andi terangkat, tangan Wina didahi dengan hormat kecilnya dan kedua tangan Chika yang tertangkup didadanya dgn wajah memelas lucu. Terakhir k Seno..
"Siap Mba Amira"..ujar Seno sambil tersenyum geli mengamati tingkah caranya
Amira, kembali mengemudikan mini bus landrovernya
.menapaki jalan menanjak dan berbatu, berguncang guncang di sepanjang jalan. Kadang hanya menyisakan jarak satu meter dari bibir jalan ke jurang terjal di sisi kanan mereka. Tapi itu bukan pengalaman awal bagi ke lima tamu Amira. Itulah pekerjaan mereka, orang lapangan istilahnya. Mendapatkan informasi sedekat mungkin dengan sumbernya. Bahkan tidak jarang sedikit membahayakan keselamatan mereka. Tapi sejauh ini semua berakhir manis dan sukses.
Jalan semakin melebar dan mulai beraspal. walaupun suhu mulai terasa dingin, tapi terpaan sinar matahari menjelang siang cukup menghangatkan. Jika sepanjang jalan mereka dinaungi rimbunan daun pepohonan besar, saat itu mereka merasa memasuki sebuah denyut nadi kehidupan juga suara suara aktivitas sehari hari penduduk. Ya..mereka telah tiba di gerbang desa. Seno memberikan isyarat agar Amira menepi sebentar..lalu mulai mengambil gambar gerbang desa dari beberapa sudut, termasuk mengambilnya dari dalam mobil. Bowo menyetel camcoder mininya yang ternyata tidak berhenti merekam perjalanan mereka. Andi membantunya mengganti baterei camcoder dan memastikan baterei cadangan selalu tersedia.
"Selamat datang di Desa Rahadopi" Sapa Amira sambil menunjuk ke tulisan yang sama di gerbang desa yang megah dengan rancangan yang unik.
sedari awal.di.jemput Amira di.pelabuhan,dia sudah rewel ingin rebahan..perjalanan dengan kapal laut semalam ..tidak menyenangkannya..dia satu satunya crew yang sering mabuk perjalanan laut. Tapi tidak menghentikannya untuk tetap berpetualang bersama anggota tim andalan media wisata tempatnya bekerja hampir 8 tahun. Lagipula ulasannya lumayan menggigit juga menggoda minat pembacanya, untuk berkunjung ke tempat atau situs yang telah mereka tayangkan secara eksklusif. Foto foto artistik yang memanjakan mata dan liputan video online yang membuat pemirsa tak sabar lagi atau segera merencanakan kunjungannya kesana.
Memasuki desa sekitar 500 meter dari gerbang..suatu pemandangan yang unik dan luar biasa. Bagaimana tidak..wangi bunga cengkeh yang dijemur warga sepanjang jalan benar benar membuat mereka merasa berada di surga rempah.
Cengkeh adalah komoditas andalan di desa itu,selain hasil perkebunan lain seperti jambu mete,kelapa dan cacao. Cengkeh sendiri adalah bahan unik di setiap industri makanan,parfume bahkan rokok dan pabrik obat juga herbal. Dapat mencium aroma cengkeh segar secara langsung adalah even wisata yang ditawarkan dari desa ini,dibulan april hingga september.
Amira melambatkan laju kendaraan agar tak melindas hamparan terpal yang dipenuhi bunga cengkeh di sepanjang jalan. Berbelok ke kanan memasuki pelataran sebuah rumah panggung dengan eksterior yang memukau.
"Kita sampai..Silakan " Amira menghentikan mobil di garasi terbuka salah satu sisi bangunan ..di sana terpakir dua mobil lain,pick up ford double cabin silver metalik,juga bus mini honda freed berwarna hitam.
Bowo dan Andy melompat keluar setelah pintu belakang mobil dibuka..mereka juga lega sekaligus exciting..jiwa petualang mereka segera tergelitik. Dan akan dimulai dari eksterior kabin yang begitu unik.
Wina dan Chika menampakan ke tertarikan yang sama..berendam dalam air hangat..wooww. Tak membuang banyak waktu mereka menghambur ke tangga yang akan membawa mereka ke ruang utama kabin..meja resepsionis dan kursi tunggu chozy mengajak rebahan dalam damai..
Seno kembali sibuk dengan kameranya..dia tidak akan melewatkan momen apapun..termasuk mengambil potret laki laki tua di atas kursi roda di sudut taman hijau dan rimbun di samping kabin. Laki laki tua itu nampak sedang menikmati matahari, sambil sesekali memperhatikan mereka dari kejauhan.
__ADS_1
Amira menghilang di balik pintu samping lantai bawah Kabin. Diganti kehadiran pria muda awal 20 an yang tergesa menghampiri Seno.
"Saya Deni Pak, mari saya antar ke atas, barang lain akan ada yg membawa ke atas..mari Pak" Keramahan Deni yg diselingi senyum di wajah mudanya yang coklat..menenangkan dan bersahabat.
Seno membalas dengan anggukan dan berjalan di belakang Deni, langkahnya di ikuti Bowo dan Andi. Sementara Chika dan Wina sudah duluan ke atas dan telah rebahan pada sofa sofa empuk di bawah jendela yang terbuka. Sinar matahari menerpa wajah mereka yang dingin oleh suhu, aroma cengkeh yang dibawa angin menyeruak k bibir jendela membuai mereka untuk memejamkan mata.
Di belakang meja resepsionis.seorang.gadis yang juga awal 20 an sudah menyambut mereka mereka dengan senyum.
"Selamat datang..Saya Rima..saya akan membantu keperluan Bapak ibu disini" Suaranya lirih tapi jelas, penampilannya senada dengan Deni, hem lengan panjang kotak dgn dalaman kaos putih. Lengan baju yg digulung se siku dan celana jins. Kesan sporty dan praktis tersampaikan dengan jelas..membuat pengunjung merasa santai dan relaks.
Dina menyodorkan formulir yang harus di isi Seno..juga meminta tanda pengenal mereka. Setelah menscan tanda pengenal juga mengotorisasi formulir yang sudah di isi. Dina memberikan tiga kunci kamar, sesuai yang telah mereka pesan secara online dan bayarkan untuk waktu 5 malam.
Deni mengawal mereka dan membukakan pintu kamar masing masing. Deni segera berlalu setelah mengucapkan selamat beristirahat sekaligus menyampaikan jika makan siang sudah akan tersedia sejam lagi di lantai bawah.
1 kamar king bed untuk ditempati Seno sekaligus ruang rapat kerja mereka, dua kamar dengan twins bed masing masing untuk Wina dan Chika serta Bowo dan Andi.
Di kamar Bowo dan Andi
"Bowo..ini benar benar mengejutkan..saat mendengar kata kabin..kupikir seperti sebuah rumah mungil dengan ruang tamu dan dapur yang bersatu serta kantong tidur untuk kita."
"Aku juga berpikir demikian, apalagi jika dibandingkan dengan harga diskon yg kita dapat, aku dah siap aja k kondisi yg terburuk. Bahkan jika harus buang hajat di hutan seperti perjalan kita dua bulan yang lalu."
Bowo mengisyaratkan akan menggunakan kamar mandi dulu..Dan Andi menunjuk tas peralatan..dia memang memiliki kebiasaan untuk menyiapkan peralatan saat tiba,dan memastikan semua siap kapanpun akan di gunakan
Dikamar Chika dan Wina
Chika langsung menghambur k kamar mandi, dan berseru riang saat mendapati keran air panas bukan hanya pajangan, tetapi benar benar mengeluarkan air panas ke bathtub.
Wina adalah pengamat,dia tidak akan melewatkan satu detilpun dalam pengamatannya. Termasuk kekaguman yang bercampur heran saat mengamati bahwa di setiap sudut ruang di Kabin itu terlihat kamera CCTV yang aktif dgn lampu berkedip dan rentang angle 180 derajat.
Wina memikirkan detil lain , aroma manis dan khas cengkeh semerbak melewati jendela kamar yang terbuka membuainya dalam lelap.
Dikamar Seno
Seno..memilih berdiri di depan jendela dengan tirai tipis yang menutup. Aroma cengkeh yang segar memenuhi penciumannya. Kamarnya mengarah ke taman samping Kabin..kecil tapi tertata dengan apik. Saat meraba dinging kayu berpelitur rapi, Seno sadar jika itu bukan imitasi tapi merupakan kayu jati asli. Kepadatan dan tekstur kayu tidak dapat mengelabui pengamat seperti Seno,dia fotografer sejati. Bukan sekedar mengambil gambar yang estetik dan bernilai ekonomi tinggi pada suatu obyek. Tapi juga dia mempelajari latar belakang dan sejarah dari setiap momen yang ditangkapnya.
Diam diam dia menaksir nilai cabin itu..dan memikirkan jika mereka satu satunya tamu berkelompok di Cabin itu.
😱😱😱😱😱
__ADS_1
.
.