Interlude

Interlude
Sepuluh Purnama di Gunung Batu Bulan


__ADS_3

Episode jutaan tahun yang tidak terelakan terulang. . Bagaimana kehidupan dan keabadian berakhir dan berawal dengan jutaan hipotesis tanpa kesimpulan yang jelas bahkan bagi para penghuni tiga kerajaan terakhir di jagat raya.


Banyak teori yang disimpulkan berdasarkan pengamatan para arkeolog dari kerajaan bumi dan laut. Bahwa ketiga kerajaan ini memasuki zaman beku kelima yang dimulai sejak 70 ribu tahun. Apa yang terjadi pada empat zaman beku terdahulu.? Dan kehidupan ini bagaimana bisa melewati lima zaman beku. Darimana dan bagaimana zaman beku itu bermula lalu berakhir dan beralih ke zaman beku berikutnya. Bahkan para penghuni abadi tidak ingin mengetahuinya. mereka hidup di jaman beku kelima ini dan mulai tidak tertahankan. Pertempuran demi pertempuran yang jumlahnya mengikuti tahun keabadian. Kekalahan, kemenangan silih berganti. Pelarian, pengejaran, penangkapan, dan pembinasaan. menjadi aliran nafas dalam keabadian mereka.


Sangia sang prajurit legenda dari Kerajaan Langit telah berjaga dicakrawala Gunung Batu Bulan. Sayapnya yang membentang sejauh dari timur ke barat bagaikan radar yang siap mendeteksi pergerakan musuh sekecil apapun itu. Dia menunggu perintah pamungkas dari langit. Perintah yang menentukan nasib keturunan terakhir penguasa Gunung Batu Bulan..Gadis Berambut Perak.. Nasib dari Vrom dan Verna dua prajurit laut yang tidak tertandingi dedikasinya dalam menjalankan setiap tugasnya. Mereka adalah prajurit impian bagi setiap panglima kerajaan. Juga Nasib Watu Ute.. prajurit bumi yang sangat memahami kerajaan bumi, laut bahkan kerajaan langit.. pemahaman yang selalu memposisikan dirinya dalam situasi beruntung dan melatih kelicikan pikirannya untuk memanfaatkan setiap momen demi kepentingannya.


Purnama telah bergerak sesuai siklusnya.. badai angkasa tidak dapat menghalau posisi purnama untuk mensejajarkan dirinya dengan puncak Gunung Batu Bulan. Belum ada tanda kehadiran dari Gadis Berambut Perak, Vrom, Verna dan Watu Ute. Sementara di Instana Langit ribuan prajurit telah disiagakan menunggu perintah untuk menggagalkan usaha terakhir Gadis Berambut Perak. Sebuah usaha pencegahan dan persiapan pemenangan yang jarang terjadi dalam sejarah kerajaan langit. Bahkan Sangia tidak dapat mengelakan sebuah ambigu dalam benaknya.


Mengapa kerajaan Langit berusaha menunjukkan powernya pada kejadian semesta yang jika dipikirkan tergolong biasa saja. Usaha Gadis Berambut Perak mempertahankan kelanjutan klannya di jagat raya itu wajar saja. Justru yang menjadi sedikit aneh dan menjadi tanda tanya ialah persiapan Kerajaan Langit yang luar biasa hanya untuk menghadapi empat makhluk abadi. Siapapun tidak menyangsikan jika Sangia dapat dengan mudah mengalahkan mereka. Bahkan Sangia belum dapat menemukan jawaban hingga signalnya menunjukkan kalau dia tidak sendiri lagi di puncak Gunung Batu Bulan.


Ingatan Sangia kini tertuju pada Watu Ute.. dia harus bicara dengan gadis itu. Gadis licik dan licin itu pasti mengetahui sesuatu yang disimpannya sendiri sampai saat saat terakhir. Dan berharap apa yang disembunyikan otak liarnya bisa menyelamatkannya dari apapun itu. Sangia dapat mengenali siapa saja yang kini hadir bersamanya di puncak Gunung Batu Bulan. Dia mengenali mereka dari panjang gelombang yang berbeda. Kecuali seorang yang baru.. auranya menunjukan kalau orang baru itu adalah laki-laki. Kabut yang diciptakan Vrom telah menghalanginya untuk melakukan identifikasi lebih jauh. Ahh dia dapat melakukannya nanti. Pengenalannya yang terlatih memberikan data bila pendatang baru bukan ancaman yang berarti baginya.


Dengan sekali kibasan sayapnya.. kabut itu hilang.. dan mereka di terangi cahaya bulan yang terasa seperti siang terik dengan balutan malam kelam langit. Kibasan sayap sangia sekali lagi telah memperjelas kehadiran si pendatang baru. Dia laki-laki yang menjabat vice president sebuah perusahaan perangkat elektronik data dan spy. Laki-laki yang dengan ingatan uniknya telah mengembalikan Verna ke wujud aslinya. Dan mementahkan salah satu trik Sangia dalam upaya menggagalkan misi Vrom dan Verna membantu Gadis Berambut Perak.


"Sial.. " Sangia menggeram bersama dengan guruh langit dan muntahan asteroid yang menyambar. Dia tidak mendapati Watu Ute disana. Kemana gadis licin itu. Ini pasti bagian dari rencana hitamnya.


"Watu Ute.. dimana dia" Sangia menggelegar seolah dia bertanya pada apa saja yang ada dihadapannya.

__ADS_1


"Untuk apa mencarinya.. Ayo hadapi aku.. Bukankah Aku tidak diinginkan ada disini malam ini? Pekik Gadis Berambut Perak disusul amukan ombak dilaut serta guruh gunung berapi yang bersahutan.


ini pertarungan epik zaman beku ke lima yang mungkin saja akan mengakhirinya. Membawa keabadian yang tersisa ke zaman beku berikutnya. Jika itu memang masih tersisa. Sabuk debu asteroid semakin lebar dan pekat. Memuat keabadian yang telah berakhir di lima zaman beku yang telah berlangsung ribuan juta tahun.


Sangia berdiri dengan melayang tepat dikawah gunung. Menghalau siapa saja yang mendekati pusat kawah. Purnama sebentar lagi sempurna. Dan tidak ada yang sanggup melawan amukan sayap Sangia yang tidak berhenti mengibas bagaikan tarian perang yang diiringi alunan ledakan asteroid dan percikan cahaya yang keluar setiap asteroid itu bertabrakan dan hancur. Sangia berhenti Mengibaskan sayap raksasanya. Purnama telah sempurna. Dan tidak satupun dari mereka yang mencoba mendekatinya apalagi mencoba melawannya. Mengapa??? Apa yang terjadi, Apa yang sebenarnya telah berlaku???


Dia mencari Gadis Berambut Perak.. seharusnya Gadis itu sudah lebur Bersama debu asteroid yang bertabrakan. Gadis itu dan leluhurnya seharusnya berakhir di zaman beku kelima ini. itu perintah kerajaan langit untuknya. Dan Sangia tidak percaya jika tugas itu diselesaikannya dengan sangat mudah. Bahkan tanpa perlawanan. Benarkah demikian.??? Tapi Gadis itu....Gadis itu masih disana..Dan sekarang rambutnya telah berwarna keemasan... bersinar seperti cahaya bulan. Sangia terkesima.. kini dia mulai menyadari kalau skenario di puncak Gunung Batu Bulan tidak lagi berjalan seperti rencananya. Mungkin sejak awal dia hanya pemeran dalam skenario makhluk abadi yang lain. Vrom menghindari pandangan marah Sangia. Dia sedikit kasihan dengan gadis perkasa itu. Usaha gadis itu telah berakhir dengan kekalahan dan itu yang pertama baginya.


"Tidak selamanya kamu memenangkan setiap pertandingan Sangia" Ucapan Vrom yang seperti tiupan badai besar ditengah laut..menusuk seperti berjatuhannya pecahan gletser didinding gunung es. menggulung dan menghujam ke permukaan laut. Satu tamparan sayap Sangia menerbangkan Vrom, Verna dan Pambudi. Susah payah mereka menolong Pambudi untuk mendarat dengan aman di atas cadasnya puncak Gunung Batu Bulan.


Bagi Sangia.. menang adalah kewajiban dan perintah. Dia hanya ada untuk menang. Seketika ingatanya kembali kepada Watu Ute. Gadis sialan itu pasti mengatur semua ini secara licik. Sangia mengutuk dirinya telah bersekutu dengan gadis yang kini mengkhianati kepercayaannya itu. Dia membiarkan gadis itu membujuknya untuk membebaskan Vrom hanya untuk mengetahui rencana Vrom dalam membantu misi Gadis Berambut Perak. Dan semua kini terjadi diluar dugaannya. Sangia mencabut sehelai bulu dari sayapnya. Tidak ada jiwa hidup yang dapat lolos dari pencariannya bila namanya diukir dengan ujung bulu dari sayap putihnya. O iya. dia juga tercipta untuk itu.


"Apa yang kamu lakukan makhluk licik.." Sangia memandang penuh kebencian bercampur jijik kepada Watu Ute.. lagipula dia memang tidak pernah menaruh penghargaan sedikitpun pada gadis itu. Dan mencemoohnya karena perasaan sukanya kepada Vrom yang tidak bisa disembunyikan gadis itu.. membuat pergolakan dalam jiwa Sangia


Watu Ute berusaha berdiri dengan menopang tubuhnya pada sebatang kayu hitam yang selalu bersamanya. Dia terkekeh nyaring hingga tanah dibawah kakinya retak membentuk celah celah sempit yang dalam dan gelap menuju inti bumi. Watu Ute adalah bagian Kerajaan Bumi dan Bumi akan bersamanya. Vrom dan Verna kembali menyelamatkan Pambudi dari terjatuh ke dalam himpitan celah bumi. Sementara Gadis yang kini Berambut Emas tetap diam dipuncak Gunung Batu Bulan. tenggelam dalam semedinya.


"Bagaimana kamu bisa abadi dalam ketidak tahuan, Apa yang kamu ketahui.. apa kau tahu kalau kamu tidak tahu apa apa? " Suara Watu Ute berubah dalan dan menggeram dia berubah menjadi sosok manusia batu yang tinggi dan besar seperti gunung. Itu adalah bentuk abadi yang sebenarnya dari Watu Ute. Perwujudan itu tidak akan pernah muncul hingga Watu Ute merasa jiwanya terancam berakhir dari keabadian. Dia sadar jika Sangia tidak bermain main.. Keabadianya bisa saja berakhir hanya dengan hentakkan sayap Sangia saat ini.

__ADS_1


"Simpan omong kosongmu itu.. Lakukan sesuatu agar aku punya alasan untuk menunda ketidak abadiamu saat ini. Sangia telah menarik seluruh tenaganya dan memusatkan pada ujung kedua sayapnya.. siap menghancurkan Watu Ute yang berujud manusia batu menjadi serpihan debu asteroid diangkasa.


"Saya tidak akan mengemis keabadian darimu.. lagipula keabadian ini telah terlalu membosankan.. menjalani lima jaman beku.. membuatku ingin mengakhiri keabadianku sendiri. sudahlah.. jika kamu begitu bernafsu silahkan saja.. tapi kamu akan menjalani jaman beku terakhir tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi hari ini.. sepuluh purnama di gunung batu bulan. akan menjadi lelucon istana langit untukmu dan leluhurmu." Watu Ute meludahkan lahar cair dari mulutnya. lahar itu meleleh bak gumpalan darah dari sudut sudut bibirnya yang setebal tebing batu.


Sangia terdiam mematung. sementara Watu Ute kembali ke wujudnya sebagai seorang gadis gotik dengan tubuh penuh luka berdarah. Vrom berhasil menopang tubuhnya sebelum terjatuh ke atas hamparan batu cadas. Verna membawa Pambudi dan bergabung dengan Vrom. Sementara itu Gadis Berambut Perak yang telah berubah menjadi berambut emas telah mengakhiri semedinya. Rambutnya yang menjuntai menyentuh bebatuan di bawah kakinya.. berkilauan dan bergelombang indah diterpa cahaya bulan.


"Kamu tidak bisa lagi kembali ke Istana Langit, Sangia. Ribuan Prajurit yang bersiaga di Istana Langit adalah untuk mencegahmu kembali kesana. " Penjelasan Gadis berambut emas membuat kemurkaan Sangia pecah. Duel diantara mereka tidak terelakkan. Sangia berada pada puncak kemarahannya.. serangannya ditujukan bukan sekedar melumpuhkan tetapi membinasakan. Susah payah Gadis Berambut Emas mengimbangi Sangia. Pertempuran semakin sengit serangan Sangia yang mematikan mulai memojokan Gadis Berambut Emas. Verna turut membantu dan disusul Vrom. Tapi Sangia bukan lawan mereka dia terlalu tangguh. Dengan anggukan sekilas Gadis Berambut Emas mengambil abu leluhurnya dari balik lengan jubahnya.. dan menaburkan ke arah Sangia. Dan seketika Sangia merasakan kehilangan tenaga dan tubuhnya melayang tanpa bobot. Dia kehilangan kemampuan bertempurnya dalam sekejap. Gadis Berambut Emas Berhasil menangkap tubuhnya sebelun jatuh berkeping di atas batu cadas puncak Gunung Batu Bulan.


"Maaf, tapi kamu akan berakhir tanpa siapa siapa jika kamu berkeras mengakhiri keabadian kami. tempatmu disini.. bersamaku.. Istana langit telah menghapusmu dari klan mereka. Kamu dan leluhurmu telah menjadi duri dalam daging bagi Istana Langit. "


Kemarahan dalam mata Sangia begitu menyala.. seolah membakar jiwa yang memandangnya. Tapi api itu berubah menjadi bara yang menyakitkan. Sangia menutup mata, berharap dia sedang bermimpi. Gadis Berambut Emas yang kemudian menyebutkan dirinya RapaWuula.. Menatap kearah purnama yang mulai bergeser dari puncak Gunung Batu Bulan dan membentuk bayangan..lalu menjentikkan tangan ke arah hamparan luas batu berwarna putih dan berkilau. Seketika suatu menyerupai selubung terbuka dan luruh.. bersama dengan munculnya sebuah bangunan mirip istana yang semua dindingnya memancarkan cahaya berkilau.


"ini Istana yang dibangun dari batu berlian.. hanya makhluk yang dikendaki yang dapat melihat dan masuk ke dalamnya. Mari ikuti saya ke dalam dan pertikaian ini harus dihentikan.


Mereka semua masuk ke istana dan seolah hilang dalam udara. Sangia melayang di ujung telunjuk Rapa Wuula. Saat semua mereka hilang dalam bayangan.. perlahan semesta kembali sejenak pada rutinitasnya. Kecuali Kerajaan Langit .yang para pemimpin klan kembali mengadakan pertemuan. Dan dibekas kediaman Sangia.. terjadi pembersihan oleh anggota intelijen kerajaan langit. Semua data dan sejarah Sangia dimusnahkan. Dalam sekejap Sangia seakan tidak pernah ada di Kerajaan Langit. Tidak ada yang mengetahui tentangnya dan leluhurnya bahkan tidak ada yang pernah melihatnya.


Lamoa Api membuka data pemberian penghargaan untuk prajurit teladan. Nama Sangia telah hilang dari sana berikut preatasinya. Lamoa Api terduduk lemas. Gadis itu salah satu alasan dia bertahan melewati lima jaman beku,bukan sekali dua kali Sangia menyelamatkannya dari kebinasaan. Lamoa Api memuja Sangia sepanjang keabadianya. Dan kini alasannya untuk abadi telah lenyap tidak berbekas sama sekali. Mengapa gadis itu tidak mendapat pengampunan. Dia membuka laci meja dan meraih sebuah kotak kayu persegi. Disana tersimpan sebuah senjata kebanggan leluhurnya. Menjadi simbol keperkasaan sebagai kepala prajurit Kerajaan Langit. Tapi semua itu tidak ada artinya lagi bagi Lamoa Api.

__ADS_1


Sangia.. oh.. Sangia.


Dia mengeluarkan senjata itu dari kotaknya.. suatu yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya sedikit pun. Jangankan mengeluarkan,bahkan menyentuh senjata itu sulit baginya. Senjata itu lambang keluarganya, kebanggaan leluhurnya. Tapi itu harus dilakukannya demi memandang wajah Sangia disebuah foto yang disimpannya rapat rapat dalam kotak senjata. Satu satunya bukti yang tersisa di Kerajaan Langit tentang keberadaan Sangia. Yang seharusnya dimusnahkan Lamoa Api. Tapi sekarang itu lebih berharga dari senjata leluhurnya. Karena hanya dengan memandang wajah Sangia, Lamoa Api dapat bertahan dikeabadian ini.


__ADS_2