Islands: Zombie Apocalypse (Gacha)

Islands: Zombie Apocalypse (Gacha)
episode 15: Markas


__ADS_3

"GAAH!! "


Roni bangun di sebuah tempat tidur yang terlihat seperti ranjang rumah sakit dan di sebuah ruangan yang dipenuhi dengan lemari. Ia melihat sekitar sambil mencoba untuk mengingat apa yang terjadi sebelum ia pingsan. Roni mengingat ia jatuh dari jembatan dan kena sebagian tubuhnya sehingga terluka lalu kena kepalanya dan ia langsung pingsan setelah itu.


Roni meraba-raba kepalanya dan terasa ada perban di kepalanya. Ia masih bingung ia ada dimana dan bagaimana ia bisa sampai di tempat itu. Tiba-tiba suara pintu ruangan tersebut terbuka dan masuk seorang wanita yang memakai kaos putih dengan celana militer. " kau sudah sadar ternyata " kata wanita tersebut menaruh sesuatu di meja di depan Roni. " kau siapa? dan dimana tempat ini? " tanya Roni kebingungan.


" aku Vanessa... Dan ini markas kami, markas bagi orang yang selamat. Kita menemukan kamu kemarin malam di hutan, terluka dan pingsan. " jelas Vanessa sambil membuat sebuah teh untuk Roni dan memberikan teh tersebut pada Roni." terima kasih... " kata Roni menerima teh tersebut dan meminumnya. Roni sadar pisau dan pistolnya tidak ada di dirinya sehingga ia bertanya pada Vanessa


Roni: senjata aku ada dimana?


Vanessa: oh! Pedang dan pistol AK-47 kau ya? itu kami simpan... Tenang aja kami tidak ngapa-ngapain kok


Roni: baiklah...


Vanessa: kan aku sudah perkenalkan diriku... Sekarang kau, siapa namamu? Berapa umurmu?


Roni: Roni... Aku 17 tahun


Vanessa: wah! Kau masih muda ternyata... Aku pikir kau sudah 20-an seperti 21-22 tahun.


Roni: heh... ( seringai ) kau umurnya 20-an ya?


Vanessa: iyep! Aku 21 tahun... Tidak kusangka kau bisa selamat sampai sekarang


Roni: sejujurnya... Aku barusan datang ke kota ini beberapa hari yang lalu, sekitar 4 hari yang lalu


Vanessa: oh benarkah? aku merasa kasihan untukmu... Kau pasti datang untuk berkuliah ya atau cari pekerjaan


Roni: uhm... Tidak juga, aku sudah tahu di kota ini ada wabah zombie


Vanessa: lalu kenapa kau malah datang ke kota ini?


Roni menjelaskan tentang sedikit kehidupannya sebelum wabah ini yang dimana ia merupakan seorang pemimpin dari orang-orang pulau yang tidak tahu apa-apa tentang ilmu pengetahuan.


Roni: aku tak tahu harus kemana selain ke kota... Kota satu-satunya tempat yang memiliki peluang untuk selamat walaupun ada banyak zombie

__ADS_1


Vanessa: untuk seseorang yang berumur 17 tahun... Kau tidak berpikir dan bertindak seperti anak 17 tahun


Roni: aku tahu itu... Tidak mungkin aku bersikap seperti anak 17 tahun di tengah-tengah wabah ini apalagi aku memimpin satu kelompok


Vanessa: benar itu...


Roni: kamu disini sendirian?


Vanessa: tidak, aku bareng 3 temanku yang lain


Roni: kalau kalian tidak keberatan... Apa kalian bisa cek di sekitar tempat aku jatuh, di jembatan atas tempat aku jatuh? Aku yakin orang-orangku lagi di sana...


Vanessa: oh... hmm, boleh sih. Yaudah aku suruh salah satu temanku untuk mengecek jembatan yang kau maksud itu


Roni: terima kasih!


Setelah beberapa jam berlalu, Roni disambut dengan ramah oleh 2 teman Vanessa yang lain. Mereka memberi Roni makanan ringan dan minuman karena Roni belum makan dari kemarin, mereka duduk bersama sambil mengobrol untuk mengenal satu sama lain.


Vanessa: nih... Makanlah


Roni: terima kasih


Roni: hai Karin... ( berjabat tangan Karina )


Aileen: dan aku Aileen ( tersenyum )


Roni: halo Aileen


Karina: jadi... aku dengar dari Vanessa kau tidak sendiri dan kau pemimpin ya dari kelompokmu?


Roni mengangguk


Karina: ada berapa orang yang masih selamat?


Roni: seharusnya 9... Tapi satu sudah kegigit jadi tinggal 8, aku tidak tahu keadaan mereka sekarang makanya aku minta tolong mengecek mereka

__ADS_1


Aileen: kau khawatir banget sama orangmu...


Roni: mereka bukan orang biasa


Vanessa: kata Roni... Mereka berasal dari sebuah pulau jadi mereka tidak tahu apa-apa tentang kehidupan kota. Roni lah satu-satunya orang dari kota di kelompok mereka


Roni: iya... Tapi sebenarnya ada satu orang lagi yang aku ketemu saat di kota ini, dia juga dari kota dan lebih tua dariku...


Karina: ooh... Kalau gitu harusnya kelompok kau amanlah


Roni: iya harusnya, kalau mereka mau mempercayai dia... Susah bagi mereka untuk mempercayai orang lain selain aku


Aileen: kita sudah suruh Carol kesana... Kebetulan dia lagi berpatroli


Roni: syukurlah...


Karina: Vane! Apa kita harus memberitahu dia


keadaan hening sementara


Roni: beritahu aku apa? ( wajah kebingungan )


Di sisi Elisha dengan yang lain, mereka sedang berjalan turun dari jembatan dipimpin oleh Carol di depan. Elisha dan Carol sedang mengobrol berdua sementara yang lain menjauh dari kedua orang itu. Mereka sama sekali tidak mempercayai mereka berdua karena Elisha dan Carol adalah orang yang baru mereka kenal baru-baru ini. " apa yang harus kita lakukan nih, Daniel? " tanya Erick berbisik di kuping Daniel


" kalau mereka menculik kita bagaimana? " lanjut Erick. " aku tidak tahu, Erick... Kita ikuti saja dulu, kalau Roni masih tidak ada baru kita kabur... " kata Daniel tidak yakin dengan jawabannya sendiri. Setelah beberapa menit berjalan, mereka sampai di sebuah tempat sepi di kelilingi pohon di sekitarnya. Terdapat sebuah gedung yang cukup besar dan terlihat sudah ditinggalkan beberapa tahun yang lalu karena gedung tersebut telah berkarat.


gedung tersebut dilindungi oleh sebuah gerbang yang cukup tinggi dan ketika mereka masuk terlihat ada banyak jebakan yang terletak di lantai sehingga mereka tidak boleh jalan asal-asalan. " ikuti setiap langkahku... Satu langkah kaki yang salah, kita semua bisa mati disini. " Carol memperingati. awalnya mereka semua selain Elisha tidak mau mengikuti Carol tapi saat Carol bilang mereka akan mati jika salah langkah mereka pun nurut.


Akhirnya mereka semua berhasil sampai di dalam gedung yang terlihat seperti rumah biasa yang hanya sedikit kotor. " wah... Tempat ini rapi dan bagus ya " puji Elisha ramah, Carol tersenyum dan menundukkan kepalanya sedikit. Carol membawa mereka semua pergi ke ruang tamu dimana terdapat 3 sofa yang mengelilingi 1 meja kopi terbuat dari kaca. Di meja terdapat makanan ringan dan minuman teh yang hangat.


Di ruangan itu, terdapat 4 orang yang sedang duduk di sofa. 3 perempuan dan 1 laki-laki. Mereka semua seperti sedang mengobrol sesuatu yang menarik karena mereka tetap lanjut walaupun Carol dan yang lain telah memasuki ruangan. Mata Daniel, Erick dan Lily langsung tertuju pada laki-laki yang menghadap para perempuan namun hanya melihat bagian belakang laki-laki itu saja, mereka seperti mengenalnya.


Rambut laki-laki itu hitam dan pendek, serta memakai sebuah pakaian yang berwarna biru tua seperti Roni. " Roni...? " kata Lily dengan pelan, tidak yakin apakah lelaki itu Roni atau bukan. Mendengar namanya dipanggil, Roni langsung berbalik badan dan terkejut melihat mereka semua berada di belakangnya. Lily yang melihat Roni langsung berlari dan memeluk Roni dengan erat diikuti dengan anak-anak. " jangan kau tiba-tiba jatuh begitu lagi!! Kita semua khawatir tahu tidak!! " teriak Lily terlihat seperti ingin menangis


Roni mengelus rambut Lily dengan lembut dan menghelakan nafasnya. " iya... Tidak akan begitu lagi... Aku janji " kata Roni. Mereka semua pun bertenang saat telah menemukan Roni. " wow... Hubungan mereka pasti sangat dekat ya? " Kata Vanessa. " iya... Mereka tidak bisa hidup tanpa satu sama lain " jawab Elisha.

__ADS_1


...- Bersambung -...


__ADS_2