
Al meninggalkan Ara begitu saja Ara terlihat sangat bersalah menanya kan hal itu sampai malam Al dan Ara hanya diam diam an, Ara memutuskan tidur duluan tidak mau mengambil resiko. Wajah lesu nya sangat terlihat ia tutupi dengan selimut yang menjadi penghangat untuk tubuh nya.
"Ra maaf in saya! buka selimut kamu saya ceritain semua nya"
"Kalau kamu belum siap gak usah al aku takut kamu marah".
"Ara saya tidak marah sini!". Ara menuruti Al ia bangun menatap mata al dengan mata sayu nya.
"Sebenar nya mama pergi meninggalkan keluarga kami dengan memilih laki laki lain, sekarang saya tidak tahu dimana keberadaan mama dari kecil saya di asuh bibi dia yang merawat saya".
"Kamu gak mau nyari?".
"Tidak perlu, biarkan sekarang sudah ada kamu ra hidup saya jauh lebih baik". Al merebahkan tubuh nya menatap langit langit kamar.
"Al boleh aku panggil kamu dengan sebutan mas?".
"Boleh".
"Hug me ra". Ara tersenyum memeluk suami nya itu dan mengecup singkat pipi Al.
"Main sambar aja ya, izin dulu ra". Gemas Al
"Biarin wle". Ara mengerat kan pelukan nya ia tidur di atas lengan Al, tanpa malu Ara menelusup di dada bidang Al.
"Sudah tidur, jangan nakal". Ara yang tak kuasa menahan gemas nya ia mengigit jari Al, sampai Ara tertawa lepas. Hingga akhir nya mereka terlelap sampai pagi.
Pagi nya Ara seperti biasa ibu rumah tangga yang harus menyiapkan kebutuhan sang suami, Al yang masih tidur pulas sengaja tidak ia bangun kan dulu, pasti kemarin sangat capek. Ara membuka jendela kamar nya agar sinar matahari menembus kamar nya.
"Kenapa di buka?". Tanya Al, Ara menatap Al yang masih segan untuk bangun.
__ADS_1
"Sudah pagi". Singkat Ara, Al berdiri mengikuti Ara yang berdiri di depan jendela.
"Kenapa berjemur?".
"Biar sehat, sekali kali lihat matahari".
"Matahari nya masih istirahat ra".
"Kenapa?".
"Sinar nya di gantikan oleh mata mu". Ara tersenyum jahil.
"Gitu ya sekarang dulu cuek sekarang sudah ada yang mulai bucin". lirik Ara
"Kenapa kamu istri saya?".
"Iya istri kamu siapa bilang istri nya pak tono". ledek Ara, Pak tono adalah sopir rumah.
"Emang kenapa ngak boleh ya? kalau aku nikah sama pak Tono?". Ara masih bertahan dengan sifat jahil nya membuat marah Al.
"Pikir sendiri".
"Yah, cemburu ya kamu? iya kan?".
"Ambil kan handuk saya".
"Hih kalau cemburu tu bilang mas takut meledak". Al menghembuskan nafas kasar nya
"Ra!".
__ADS_1
"Iya".
Selesai Al mandi, Ara ingin keluar membantu bibi tetapi tangan Ara lebih dulu ditarik Al.
"Mau kemana?".
"Bantu bibi".
"Gak usah, Pakai kan dasi saya dulu".
"Mas kan bisa sendiri".
"Tinggal nurut ra".
"Iya".
"Ra sebelum berangkat kiss morning dulu".
"Ngomong apa?". Tidak menunggu lama Al sudah mengecup kening istri nya.
"Ra boleh saya minta hak dari kamu?".
"Ha?".
"Boleh?". Tanya nya kembali
"Kamu mimpi ya Al?".
"Bilang Apa?".
__ADS_1
"Saya tidak mimpi hanya saja ingin hak saya".
"Sudah jangan di pikirkan saya bergurau, sebelum kamu mau saya tidak akan melakukan apa pun". Al mengambil tas nya ia pergi keluar dengan perasaan kecewa, ya Al sangat bergantung ia pria normal lima bulan lebih tinggal bersama, pria normal mana yang tahan dengan diri nya.