Istri Lima Ratus Juta (S1) :Terpaksa Menikah

Istri Lima Ratus Juta (S1) :Terpaksa Menikah
#13


__ADS_3

Beban pikiran yang terlalu berat membuat Indira tidak dapat berpikir jernih lagi. Yang ada di dalam pikiran nya kini adalah bagaimana cara nya agar dia gagal menikah dengan laki- laki yang telah membeli nya seharga lima ratus juta rupiah itu. Indira sungguh tidak ingin menjadi istri kedua laki- laki itu walau setampan dan sekaya apapun laki- laki itu. Indira tetap tidak ingin!!


Itu lah mengapa akhir nya Indira memutuskan untuk kabur! Yuspp benar sekali! Setelah habis semua stok air mata yang ia punya di dalam sana, Indira memilih lari. Lari sejauh- jauhnya. Lari dari semua nya. Dia berencana menjadi Dikta dan lari dengan Dikta.


Tapi permasalahan nya, Indira tidak tahu kalau ternyata sang kekasih sedang berada di rumah bang Ridwan dan kak Ipeh tadi.


Yang dia tahu hanya lah, begitu ada kesempatan untuk kabur maka dia harus kabur sebelum sebelum ada orang yang menyadari kalau dia tidak ada lagi di dalam kamar itu.


Indira terus berlari dan berlari dengan kaki ayam dan dengan langkah yang tertatih- tatih. Namun mungkin karena Indira berlari dalam rasa takut seakan- akan ada orang yang mengejarnya hingga tanpa sadar indira melintas bersamaan dengan sebuah kendaraan yang sedang melaju kencang.


Bruuuuuuk! Tubuh Indira terserempet mobil itu namun tidak terlalui fatal karena sebuah tangan sudah keburu menarik tubuh Indira. Namun mungkin karena Indira shock, Indira pun jatuh pingsan.


Di ruangan yang serba putih gadis itu terlihat baru siuman. Bola mata nya bergerak kesana kemari di balik kelopak mata nya yang masih tertutup. Seperti nya dia belum sepenuhnya sadar.


Tangan si gadis pun terlihat sedikit bergerak-gerak. Perlahan dia mencoba membuka mata nya. Namun satu- satu nya hal yang dia rasa kan saat itu hanya kepalanya yang terasa sangat sakit.


Setelah kesadaran sedikit membaik, bau obat-obatan mulai menampar- nampar hidungnya.


Dan akhirnya, Indira pun membuka mata nya perlahan.


Hal pertama yang Indira lihat adalah seorang wanita yang tak dia kenal, sedang duduk menunggu nya di ruangan yang sama.


"Kamu sudah sadar??” Tanya wanita itu pada indira yang masih mengumpulkan semua nyawa nya yang bertebaran entah kemana dua hari ini. Ya! Dua hari sudah Indira tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Wanita itu melihat Indira lamban merespon pertanyaan nya, jadi dia berniat keluar untuk memanggil dokter..."


Hanya saja di saat wanita itu belum jauh melangkah. Indira malahmenahannya.


"Di-di-di mana a-aku?" tanya Indira dengan terbata.


Wanita itu tak menjawab dan malah melepas tangan Indira kemudian keluar mencari dokter.


Tidak perlu menunggu lama, wanita yang Inidira yakini adalah seorang perawat itu, kembali dengan seorang dokter dan juga seorang pria dan seorang wanita, yang meski pandangan Indira masih melemah dan Indira masih belum mengumpulkan seluruh nyawa nya yang masih terbang kesana kemari, tapi ia dapat menebak siapa yang datang.


"K-kalian????"


"Kenapa?"


"Apa kau adalah orang yang telah menyelamatkanku?" tanya Indira yang di jawab dengan sebuah anggukan oleh Anggara.


"Seharusnya aku membiarkanmu mati," Seru Indira sambil membuang muka nya ke arah lain.


“Aku tidak bisa membiarkan mu mati, karena aku telah membayar kepada ibu mu sebesar lima ratus juga rupiah. Kau harus menikah dengan ku dan memberikan anak.” Ucap pria yang bernama Anggara Sucipto itu dengan lugas dan jelas.


"Aku tidak sudi menjadi istri mu! Aku ini bukan pabrik untuk anak- anak mu!!” sentak Indira dengan nada lebih tinggi.


“Plaaaaaaaak!” Sebuah tamparan keras mendarat indah di pipinya. Indira meringis pelan. Sambil menatap tajam wanita berwajah anggun yang ada disamping Anggara.

__ADS_1


"Jadi ini, perempuan yang kamu inginkan jadi maduku? Perempuan yang tak tahu balas budi. Setelah kita membantu pabrik ayah nya! Setelah kita angkat derajat keluarnya, ternyata mash saja inigin mengakhiri hidup nya! Dasar perempuan hina tidak tahu diri.”


"Apa kata mu? Aku tidak tahu diri? Suami mu lah yang tidak tahu diri. Dia sudah memiliki istri tapi masih saja ingin menikah lagi! Atau apa jangan- jangan pelayanan ranjang mu sangat buruk sehingga suami mu memutuskan untuk menikah lagi!!” Sembur Indira.


“Berani nya kau!!” bang Anggara menahan tangan isti nya yang hendak menampar Indira.


Wanita itu kemudian menangis sambil memeluk suami nya. "Seharusnya kamu bersyukur karena kamu kami pilih! Diluar sana masih banyak orang yang bersedia untuk posisi mu saat ini.” Cecar wanita itu kemudian tangis nya semakin pecah.


Di dalam isak wanita itu, Indira sempat mendengar Obrolan kedua pasangan ini.


""Aku merasa dia tidak pantas menjadi wanita yang akan melahirkan anak- anak kita? Aku tidak ingin perempuan yang tak menghargai nyawa nya sendiri menjadi ibu dari anak- anak kita Anggara!!”


“Kalau begitu, batalkan saja rencana penikahan ini. Bukan kah aku sudah katakan aku tidak ingin menikah lagi! Apalagi karena pernikahan ku, seseorang harus kehilangan nyawa nya. Aku tidak mau terbeban oleh hal itu.” Ujar Anggara.


Indira nampak terdiam. la bingung. Mengapa semua jadi begini? Mengapa kondisi seakan terbalik? Siapa yang seharusnya menangis? Siapa yang menjadi korban di sini? Mengapa malah diri nya yang kini terpojok.


Namun masih dalam kebingungan yang sulit untuk di ekstrak oleh otak Indira, tiba- tiba Silvia bersujud di depan Indira sambil memegang erat tangan Indira. Dengan air mata yang mengalir di pipi nya dia memohon pada Indira untuk menikah dengan Anggara karena diri nya tidak bisa memiliki seorang anak.


Alasan mengapa Indira yang dipilih sebagai istri kedua Anggara karena wajah Indira mirip dengan mantan Anggara sebelum Anggara menikah dengan Silvia. Dan hal itu yang membuat Anggara bersedia untuk menikah lagi.


Silvia mengatakan bahwa sebenarnya Anggara menolak ide untuk berpoligami ini. Tapi pihak keluar Anggara memaksa karena Silvia tidak bisa memberikan keturunan.


Silvia sebagai istri yang berbakti, mau tidak mau juga terpaksa menyetujui hal ini walau di dalam hati nya ia merasa sangat berat. Hingga detik ini pergolakan batin masih saja kerap terjadi.

__ADS_1


Itu lah mengapa tempramen Silvia kerap berubah- ubah.


__ADS_2