Istri Lima Ratus Juta (S1) :Terpaksa Menikah

Istri Lima Ratus Juta (S1) :Terpaksa Menikah
#23


__ADS_3

"Kita sudah bercinta sore ini tapi kau malah bertanya kapan aku pulang! Kau ini ada- ada saja Indira." Seru Anggara yang kemudian bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri nya pasca bercinta dengan Indira.


Indira tertegun! Dan segera menyibak seimut nya.  Dan dia merasa sangat kesal! Ternyata saat dia bermimpi bercinta dengan Dikta tadi, rupa nya dia bercinta dengan bang Anggara.


Indira tersandar lemah ke header tempat tidur nya. Sambil memijit- mijit kepala nya Indira berpikir apa yang salah dengan diri nya. Kenapa dia masih saja memikirkan DIkta! Padahal pria itu adalah masa lalu nya. Mungkin kah itu semua karena rasa bersalah nya yang meninggalkan Dikta tanpa kabar?


Lalu Indira menatap pintu kamar mandi, dimana bang Anggara kini sedang mandi di dalam nya.


Andaikan bang Anggara tidak melukis kelam di malam pertama mereka dan andaikan sikap bang Angara tidak terus berubah- ubah; sebentar lembut tapi sebentar Bang Anggara bisa berubah menjadi srigala yang siap memangsa nya dengan segala ucapan kasar nya, mungkin Indira bisa mulai bernegosiasi kembali dengan hati nya. Tapi sayang nya bukan seperti itu keadaan nya.


Kehidupan rumah tangga yang bagaikan neraka lah setiap hari ia rasakan bila Anggara berada di rumah ini. Seringkali Indira menerima perlakuan dan penghinaan yang menyakitkan dari Bang Anggara jika ada yang tidak sesuai dengan keinginan bang Anggara. Tamparan pun kerap mendarat di wajahnya.


"Kau sedang melamun rupanya?" tanya Bang Anggara yangrupa nya telah selesai mandi dan memperhatikan Indira sedang melamun di tempat tidur.


"Tidak ada bang. Aku hanya kangen dengan keluarga ku." Indira selalu saja menggunakan alasan templet itu setiap kali dia kepergok melamun oleh bang Anggara.


"Keluarga yang telah menjual muu seharga lima ratus juta pada ku?" cemoohnya sambil mengelap rambut nya yang basah.


Indira pun hanya bisa menelan saliva mendengar kata- kata kejam itu dari mulut Anggara. Walaupun itu bukan phrasa baru, tadi ternyata sakit nya tetap saja sama. Sama- sama menusuk hingga ke hulu hati nya.


Indira tidak menghiraukan kata- kata suami nya itu. Di ambil nya komono nya untuk menutupi tubuh polos nya. Kini Indira menuju lemari baju untuk mengambil baju yang akan Bang Anggara pakai.


"Tidak perlu!" Ujar bang Anggara saat Indira akan mengambilkan baju untuk nya.

__ADS_1


Indira melemparkan pandangan ke tempat tidur, sofa dan juga meja hias. Tapi dia tidak melihat kalau pakaian bang Anggara tersedia disana.


"Tapi Indira tidak melihat pakaian abang dimana pun." Ujar Indira takut kalau - kalau bang Anggara lupa kalau baju ganti nya belum terletak di luar lemari.


"Aku tidak membutuhkan itu karena aku ingin kembali melakukan nya dengan mu." ucap Anggara sambil memeluk tubuh mungil Indira dari belakang dan mulai menciumi leher Indira.


"Bang, bukan kah kita baru saja melakukan nya? kenapa abang- " Indira tidak bisa menyelesaikan kata- kata nya karena dia merasa risih tangan bang Anggara yang mulai bergerilya di da da nya. Serta ciuman- ciuman kecil yang mendarat di leher nya. Sungguh dia merasa risih.


"ya! Memang kita baru saja melakukan nya. Tapi aku sudah dua minggu ini tidak pulang ke Bandung Indira. Aku rindu bercinta dengan mu. Apa kau tidak rindu bercinta dengan ku?" Bisik bang Anggara membuat semua bulu kuduk Indira berdiri.


"Bukan itu masalah nya bang. Kita kan baru saja selesai bercinta. Alangkah lebih baik kita rehat sejenak baru setelah itu kita- Aaaaaaaaaaa!" Tubuh Indira di lempar dengan kasar ke atas tempat tidur oleh bang Anggara.


"Dasar perempuan bodoh! Kamu terus memancing amarahku. Aaaaarrgh!!" teriak Bang Anggara sambil tangannya mengangkat ke atas hendak memukul istrinya. Indira berteriak ketakutan. Tapi tiba-tiba saja ada satu tangan yang menahan Bang Anggara untuk memukul Indira.


"Bang Anggara!!" teriak Bang Ridwan. "Hentikan, bang!" teriaknya lagi sambil mendorong Bang Anggara. Indira tertunduk ketakutan. Wajahnya terlihat pucat dengan tubuh yang gemetar. Entah sejak kapan Bang Ridwan ada di rumah nya dan ada di sekitar kamar nya.


"Apa yang kau lakukan disini Ridwan??? Dan untuk apa kau ikut campur urusan ku dengan nya?!! tanya Bang Anggara sambilmmenunjuk Indira dengan tangan kiri nya.


"Aku datang untuk mengantar kan ini bang! Bukan kah abang yang menyuruh ku untuk mengantarkan berkas yang di paketkan dari Surabaya ini ke rumah abang karena mereka mengirimkan ini ke alamat rumah ku." Bang Ridwan mengankat dokumen yang di pegangn nya.


"Dan ku tidak bermaksud ikut campur urusan rumah tangga abang dan Indira. Hanya saja.."Kata- kata bang Ridwan tertahan. Dia merasa tidak lah pantas diri nya untuk menggurui abang sepupu nya itu dalam hal ini.


"Kamu tahu, perempuan ini adalah istriku tapi dia sudah berani menolakku? Hanya dengan cara kekerasan dia baru mau melayaniku dengan suka rela!"

__ADS_1


"Tapi bukan begitu caranya, Bang? Abang bisa memintanya dengan cara yang baik bukan dengan paksaan apalagi dengan kekerasan!"


"Aaaaaargh!!! Kalau kau mampu, kau saja yang ajari wanita ini bagaimana caranya melayani suami dengan baik!" teriak Bang Anggara sambil mengambil pakaian di lemari dan setelah itu dia berlalu dari hadapan Indira dan Bang Ridwan.


Dan tidak lama setelah itu terdengar suara mobil Bang Anggara menderum keras. Bang Anggara pergi dari rumah dengan kejengkelan yang luar biasa.


Indira menarik selimut untuk menutupi dirinya yang hampir setengah telan jang.


Indira menunduk dengan air mata yang masih berlinang. Bang Ridwan mencoba menenangkan Indira. Ditatapnya wajah Indira dalam- dalam. Sungguh ia tidak tega melihat kesedihan Indira.


"Sudahlah,  Ra Jangan menangis lagi."


"Makasih, Abang sudah menyelamatkan aku dari Bang Anggara." kata Indira lirih.


"Kalau aku bisa, aku ingin selalu melindungimu." Ucap bang Ridwan begitu ambigu.


Indira menatap Bang Ridwan mencoba mencerna kalimatnya.


"Hmm..maksudku, aku tidak suka dan tidak setuju dengan perlakuan kasar Bang Anggara apa pun itu alasannya." Bang Ridwan segera mengklarifikasi maksud perkataan nya.


"Begitulah Bang Anggara seperti yang sering kali aku ceritakan sama Abang. Aku tersiksa, Bang. Aku sungguh tidak bahagia menjadi istri nya. Bahka tersenyum pun aku sulit di depan nya!"Air mata Indira menitik lagi.


Hanya itu yang bisa ia lakukan. Menangis dan menangis lagi.

__ADS_1


Bang Ridwan yang melihat kejadian ini secara langsung, tidak lagi sekedar cerita Indira belaka merasa tidak kuat rasanya menahan hasrat untuk mendekap erat tubuh Indira.


Hasrat yang terlarang yang kian merajai di setiap aliran darah nya. IRasa nya, bang Ridwan ingin membawa Indira pergi jauh dari Bang Anggara. Andai saja itu bisa dia lakukan tanpa menodai norma yang ada, mungkin telah lama dia lakukan.


__ADS_2