
Kepergian Dikta menyisakan kenangan yang memilukan. Tak henti-hentinya Bang Ridwan menyesali keadaan. Tapi takdir telah berkata lain, andai saja kepergian Dikta tak ada sangkut pautnya dengan Anggara, mungkin masalahnya tak akan serumit ini. Bang Ridwan mengerti benar parasaan Dikta. Bagaimana mungkin sepupu nya itu dapat bertahan bila tahu pria yang telah menghancurkan cinta nya adalah orang yang dengan orang yang menghancurkan cinta nya dahulu.
Dua kali kehilangan cinta oleh orang yang sama. Andaikan kisah Dikta ini di angkat menjadi sebuah sinetro, maka akan aada sejuta emak- emak yang akan pro Dikta. Nama Dikta akan terkenal di kalangan para emak- emak. Bahkan akan ada emak- emak fanatik yang mungkin saja memberikan anak gadis nya ke Dikta untuk Dikta jadikan istri.
Tapi ingat! Ada Dikta yang terluka, nun jauh disana ada Indira yang sampai detik ini masih dengan beban hidup yang sama.
Indira memainkan ujung rambut nya. Angin yang terus menerpa wajahnya tidak lagi dia hiraukan. Mata nya sesekali menutup saat air bening itu kembali mengalir dari sudut matanya.
Kini bak sungai yang telah melewati masa kemarau nya, buliran itu terus mengalir hingga menetes membasahi kedua pipi nya. Sesak yang memenuhi ruang batinnya tak jua hilang walau kini ia berada di rumah mewah yang milik keluarga Sucipto.
Ya, Indira tinggal bersama papi dan mami nya Anggara beserta istri pertama Anggara. Kurang komplit apa coba hidup nya.
Namun walaupun rumah ini bagaikan sebuah istanah, tapi ini bukan yang Indira cari. Andaikan dia memiliki kekuatan untuk memilih maka ia akan lebih bahagia menjalani hidup di bawah kolong jembatan asalkan itu bersama orang yang dicintainya, yaitu Dikta.
Indira menangkup wajah nya sebab hingga saat ini jujur saja sesalnya pun tak kunjung padam. Tapi bukan kah dia sudah berusaha untuk lari kala itu? Namun takdir menarik nya ke Anggara!
Dia pun telah menguatkan tekad nya untuk menolak pernikahan itu, tapi air mata sang ayah menahan tindakan nya.
Kurang apa lagi? Kurang apa lagi usaha nya! Tapi memang diri nya bagaikan terikat sebua benang takdir yang tidak bisa dia lepas dengan kekuatan yang dia miliki.
Di akhir titik tangis nya hari ini, India kembali mencoba menutup luka di hati nya dengan berkata mungkin pengorbanannya lah yang dapat membayar semua jasa ayah dan ibu nya pada nya. Ibu yang telah melahirkan nya dan ayah yang telah membesarkan nya dengan jerih payah. Kata- kata itu lah yang kini menjadi penguat Indira menjalani pernikahan yang bagaikan neraka ini.
__ADS_1
Indira menyeka bulir bening itu. Matanya terlihat sembab karena tak mampu menahan air matanya. Entah sudah berapa lama ia tak pernah lagi bertemu pemuda yang dicintainya itu. Pertemuan mereka di cafe waktu menjadi kali terakhir Indira dapat melihat wajah tampan sang kekasih.
"Dikta...," Lirih nya pedih sambil disandarkannya tubuh yang lemah itu pada sofa mewah berwarna marron yang ada di dalam kamar nya.
"Indira, malam ini kau dan bang Anggara akan melakukan malam pertama kalian. Bersiap- siap lah. “ Ucap Silvia dengan wajah tidak ikhlas yang sangat tidak dapat di sembunyikan.
"Maaf kak Silvia, aku lagi nggak enak badan," tolak Indira
“Kau tidak bisa terus- terus menolak hal ini Indira. Ini memang sudah seharusnya terjadi. Ingat Indira, bukan hanya kau yang keberatan dengan hal ini! Tapi aku dan juga bang Anggara! Tidak ada satu pun dari kita yang ingin ini terjadi. Tapi apa mungkin kau hamil anak bang Anggara tanpa disentuh oleh bang Anggara! Sudah lah Indira, jangan memperpanjang perdebatan ini. Lakukan tugas mu sebagai istri lalu kandung anak bang Anggara di dalam rahim mu. Setelah itu biar aku yang membesarkan anak itu. Kau tidak akan di repot kan sama sekali. Sesuai dengan perjanjian kita bertiga di rumah sakit, kau hanya perlu hamil anak bang Anggara dua kali. Setelah itu kalau kau meminta bang Anggara menceraikan mu, maka dia akan menceraikan mu lalu memberikan mu kekayaan yang aku dan keluarga mu ingin kan. Syukur- syukur hanya dengan sekali bermalam dengan mu, kau bisa langsung hamil. Jadi dua anak hanya akan memerlukan dua kali having se X saja.” Ucap Silvia yang seperti nya sangat ringan untuk di ucapkan tapi yakin lah itu berat bagi kedua nya.
Berat bagi Silvia dan juga berat bagi Indira.
Dada Indira kembali bergemuruh. Rasa nya setelah mendengar kata – kata istri pertama suami nya itu, Indira merasa diri nya benar- benar bagaikan seorang pe lacur! Beda nya hanya terletak pada haram dan halal nya saja. Itu pun kalau pernikahan Indira termasuk halal.
“Apa ini?” tanya Indira yang memang tidak pernah tahu apa benda yang sedang ia pegang.
“Gaun tidur.” Jawab Silvia lalu pergi dari kamar Indira.
Silvia menutup kamar Indira dengan sejuta himpitaan batu gunung di dalam dada nya. Betapa sesak nya hati nya saat ini tidak dapat dia katakan. Sakiiiiiit! Sakit! Dan sangat sakit ! tapi tetap harus dia lakukan.
Lingerie pemberian ibu mertua nya tetap harus di beriakan pada Indira. Jangan kita hati Silvia tidak terluka. Tapi apalah daya nya, sebagai perempuan yang tidak mungkin memiliki anak namun masih sangat mencintai suami nya, tidak ada yang bisa Silvia lakukan selain bertahan. Bertahan hingga dua anak lahir dari rahim Indira. Setelah itu dia tidak perlu berakhing sebagai perempuan yang tegar lagi.
__ADS_1
Malam pun tiba. Dalam kegelapan kamar, Indira duduk dengan melipat lutut nya di atas tempat tidur. Rasa takut sudah mulai ada di dalam diri nya sejak jam di dinding menunjukan pukul delapan malam.
“Cekleeeek!”
Pintu kamar Indira terbuka dan langkap tegap seorang pria terdengar satu satu di lantai kamar nya. Dan tidak lama setelah itu, denting suara gesper yang beradu di atas lantai pun membuat perasaan takut semakin merayap keseluruh tubuh Indira yang mendingin karena gaun tipis yang dia kenakan.
“Aku sengaja tidak menghidupkan lampu kamar ini.” Ucap bang Anggara yang kini telah sampai di tepian tempat tidur dan mulai merangkak naik.
Indira diam. Dia tidak menyahut sama sekali sementara Anggara terus merangkak dan merangkak hingga akhir nya Anggara berada tepat di depan wajah Indira.
“Bau apa ini? Kenapa ini mirip mau minuman keras? Apa dia minum dulu sebelum masuk ke kamar ku?” batin Indira.
Untuk sesaat Indira sadar kalau bukan hanya diri nya dalam pernikahan ini yang tertekan. Anggara pun sama.
Jakun Indira naik turun karena saking takut nya saaat sebuah kecupannya mendarat di kening nya. Indira tidak sanggup untuk membuka mata nya. Dia diam dan sama sekali tidak bereaksi apa -apa. Indira benar- benar diam mematung di hadapan Anggara.
Sekelebat tangan Anggara sudah menurunkan satu tali lingerie yang dipakai oleh Indira. Lalu dipeluknya Indira dan sesaat kemudian bibir Anggara sudah menghujani leher Indira dengan ciuman.
"M-maaf Bang, a-aku? A-ku?," katanya terbata- bata sambil mengelak dari serangan ciuman Anggara.
Tapi Anggara seolah tidak peduli. Sekali lagi dia berusaha mencium bibir Indira tapi cepat Indira mengelak dengan membuang wajahnya.
__ADS_1
Anggara menghela nafas. Dia kehabisan kesabaran nya. Jujur walaupun dia juga tidak ingin melakuakn nya, Ia merasa tersinggung dengan sikap Indira yang tidak profesional. Bukan kah mereka telah sepakat mengenai hal ini. Dan malam ini Anggara telah menguatkan hati dan tekad nya untuk meniduri Indira agar kontrak ini cepat berakhir tapi Indira malah membuat nya bagaikan pria yang haus selang kangan dengan terus menerus menerkam Indira.