
Hari pun telah berganti hari. Insiden di rumah sakit waktu itu telah berhasil menahan Indira untuk selama nya. Dia yang tadi nya bersikeras tidak ingin menikah dengan Anggara, akhir tidak dapat untuk mengatakan tidak lagi kala sang ayah sendiri yang memohon pada nya.
Ayah yang selalu ada bagi nya, hari ini memohon kerelaan dan keikhlasan hati nya demi kelangsungan hidup keluarga mereka.
Indira mungkin sanggup berbantah dengan ibu nya tapi tidak dengan pria tua yang ia panggil ayah itu. Indira sangat tahu seperti apa perjuangan ayah nya pagi siang malam demi keluarga mereka. Tidak akan pernah sanggup seorang Indira untuk berkata tidak apalagi saat ayah meminta nya sambil mengeluarkan air mata.
Sakit rasa nya hati Indira tapi demi sang ayah, dunia pun akan dia berikan. Hingga akhir nya pernikahan tanpa cinta dari kedua belah pihak itu pun terjadi. Istri lima ratus juta rupiah akan selalu menjadi lebel yang selama nya akan melekat pada diri Indira. Bak sebuah noda yang tak akan pernah bisa di bersihkan.
Langit biru dengan cahaya mentari yang sangat indah tersenyum manis pada janur kuning yang melambai tertiup oleh angin di rumah kediaman keluarga Sucipto, yang menjadi petanda ikatan suci antar Indira dan Anggara akan di laksanakan.
Lelehan air mata kini sudah tidak dapat mengalir lagi di mata bulat nan canti itu, karena memang tidak ada lagi air mata yang bisa Indira keluarkan sebagai wujud rasa sedih nya yang mendalam.
Hari dimana dia memberikan kehidupan pada keluarga menjadi hari dimana dia menenggelamkan kapal kehidupan nya bersam pria yang dia cintai.
Indira hanya berharap, takdir tidak akan pernah membawa nya bertemu dengan pria itu lagi. Biar lah semua nya hilang tenggelam dalam pedih hati seorang Indira.
“Sah...?”
“Saah!”
“Saah!”
“Saah!”
“Saah!”
“Saah!”
__ADS_1
Kata- kata itu menjadi kata- kata yang paling Indira benci dalam hidup nya. Dan sejak kata- kata itu di kumandangkan dengan penuh rasa bahagia bagi mereka- mereka yang tengah berbahagia, sejak itu pula Indira merasa hidup nya terpasung dalam sebuah mahligai pernikahan.
“Aku tidak akan tidur di kamar ini. Aku akan tidur di kamar Silvia.” Ucap Anggara dingin seperti biasanya.
“Hm-“ Jawab Indira sesingkat yang dia bisa. Dia sama sekali tidak sedih Anggara tidak saat Anggara tidak memperlakukan nya sebagaimana seorang istri seharus. Dia malah senang. Kalau bisa sepanjang pernikahan ini, Anggara terus memperlakukan nya seperti itu. Tapi tentu saja hal itu tidak mungkin akan terjadi karena kembali ke alasan utawam Anggara menikahi nya, yaitu untuk mendapatkan seorang anak.
Lalu bagaimana cara nya bisa mendapatkan seorang anak jika mereka tidak pernah melakukan adegan bercocok tanam.
Pasti! Pasti akan tiba saat nya hal itu akan terjadi. Hanya dalam harapan Indira jangan saat sekarang ini. Di saat hati nya masih di penuhi dengan nama seorang pria. Indira tidak mau saat dia bercinta dengan Anggara yang ada di dalam pikiran nya dan hati nya adalah Dikta.
Paling tidak beri dia waktu agar waktu dapat membawa jauh nama Dikta pergi dari hati dan pikiran nya. Itu saja yang Indira inginkan tapi tidak sanggup Indira ungkapkan karena sikap Anggara yang terlalu dingin pada nya.
Hari ini seminggu sudah setelah ijab kabul itu terjadi. Dan itu artinya seminggu sudah berlalu dari hari pernikahan Indira dan Anggara. Namun nama Dikta masih bersinggasana dd dalam hati nya.
Semua impiannya bersama Dikta tentang masa depan keluarga kecil mereka tidak akan pernah lagi ia dapatkan. Indira sadar dan sangat sadar kalau Dikta akan membenci keputusan yang dia ambil walau apapun alasan nya.
***
Dikta termenung di depan jendela beranda cafe milik bang Ridwan tempat Dikta menjadi koki lepas beberapa lama ini.
Matanya menerawang jauh ke langit biru seolah mencari satu jawaban yang tak pernah ia dapatkan. Wajahnya beku dengan rahang yang menggeretak menahan kegundahan hati yang sudah tidak terkatakan. Sungguh, Dikta sudah tidak bisa untuk menata hatinya kembali walau beribu cara ia luapkan untuk menutupi semua kegalauan itu.
"Sabarlah, Dit. Semua akan ada hikmahnya," ujar Bang Ridwan sambil menepuk halus bahu Dikta. Ingin sekali Ridwan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada Dikta tapi saat Dikta menarik napas dalam, Ridwan dapat melihat dengan jelas sekali guratan kekecewaan tergambar di wajah nan tampan itu.
Dikta menghela nafas nya dengan sangat berat. "Aku mau resign Bang, sudah gak ada guna nya aku disini." Ucap Dikta sambil masih menatap biru nya langit. Rahang nya yang mengeras hingga bergemeretak semakin jelas terdengar. Sangat jelas memperlihatkan ada geram yang terus membuncah dalam diri Dikta.
"Dik!! Jangan begitu, dong. Kamu harus professional." Ridwan sebisa mungkin menahan Dikta sekaligus berusaha untuk menguatkan Dikta. Ridwan tahu hal ini pasti tidak lah mudah bagi Dikta tapi semua telah terjadi, Indira tidak akan pernah Dikta dapatkan kembali.
__ADS_1
"Bang! Aku gak bisa tetap disini! Terlalu banyak kenangan ku bersama Indira disini bang! Aku bisa gila bisa setiap aku melihat sudut cafe ini memori di dalam otak ini yang memang penuh dengan nya berputar dengan sendiri nya tanpa ku minta! Aku gak bisa bang! Aku gak kuat?!! Maaf kan aku yang tidak profesional ini." Suara Dikta memecah keheningan di cafe. Ada beberapa wajah yang sempat terhentak menengok ke arah Dikta dan bang Ridwan di luar dapur cafe.
"Aku mengerti, Dik.” Ucap Bang Ridwan sungguh bersimpatik dengan apa yang Dikta rasakan. Dia terus melangkah mendekati Dikta. Di tepuknya sekali lagi bahu Dikta. Dan tatapan mata Dikta dengan kantong mata yang semakin hitam membuat bang Ridwan bisa merasakan segala kehancuran yang di alami Dikta.
"Nggak ada yang perlu dimaafkan Bang. Andai aja aku mampu menyediakan uang sejumlah yang diinginkan Ibu nya Indira, pasti semua ini nggak akan terjadi. Aaaarrgh.. betapa bodohnya aku!!" teriak Dikta dengan kepalan tangan yang meninju tiang jendela.
Dikta yang datang ke rumah Indira untuk mencari Indira memang di beritahu oleh ibu nya Indira kalau Indira telah menikah dengan seorang pria kaya. Hanya saja ibu nya Indira tidak mengatakan pada Dikta kalau pria yang menikahi Indira adalah Anggara Sucipto.
Andaikan Dikta mengetahui hal itu sudah pasti Dikta akan langsung mencari kakak nya yang brengsek itu.
Dikta mengemasi barang-barang miliknya di cafe itu. Tak dihiraukannya Bang Ridwan yang terus mencoba menahan nya sedari tadi. Barang – barag Dikta memang tidak banyak namun Dikra tetap membereskan nya seteliti mungkin, karean dia tak ingin menyisakan apa pun milik nya di cafe ini. Seolah dia ingin menghapus jejak seorang Dikta Sucipto di cafe tersebut.
Bang Ridwan hanya diam terpaku. Habis sudah usaha yang bisa dia lakukan. Dia tetap tidak bisa menahan kepergian Dikta. Luka Dikta memang tidak terlihat, namun andaikan lula tersebut di rawat, sejuta dokter pun tidak akan pernah bisa mengobati nya. Bagiakan sebuah penyakit cancer yang dengan cepat mengakar di sekujur tubuh Dikta, menghentikan sebagian detak jantungnya serta membekukan separuh hatinya.
"Bang! Terima kasih! Semua sudah selesai. Aku rasa gak ada lagi barang milikku di sini!” Dikta memeluk Ridwan erat. Satu – satu nya sepupu nya yang menurut nya tidak ada di pihak Anggara.
"DiK....?!" panggil Bang Ridwan hendak mengatakan sesuatu tapi tertahan.
“Dikta menatap lekat Bang Ridwan. la tahu betul apa arti panggilan Bang Ridwan barusan.
"Udahlah Bang. Semua udah berakhir di tempat ini. Karirku, impianku bahkan masa depanku udah sirna semua. Tak ada lagi yang tertinggal kecuali segala yang menyakitkan. Indira membawa segala nya bersama nya." Ucap nya dengan sejuta rasa pedih.
Dikta merangkul Bang Ridwan begitu erat. Ada sesak yang kian memenuhi ruang napasnya.
Suaranya pun bergetar saat mengucapkan selamat tinggal pada rekan-rekan sekerjanya di cafe itu.
Sepergi nya Dikta, Bang Ridwan yang menatap langit. Sungguh tak tega rasa nya melihat kepergian Dikta yang melangkah gontai meninggalkan cafe untuk selamanya. Tapi apalah yang bisa dia lakukan.
__ADS_1