Istri Lima Ratus Juta (S1) :Terpaksa Menikah

Istri Lima Ratus Juta (S1) :Terpaksa Menikah
#21


__ADS_3

BAB 18


Cuaca yang mendung sepanjang bulan ini bagai menggambarkan suasana hati Indira yang selalu di rundung oleh rasa pilu.


Hari - hari yang di jalani seorang diri membuat nya kerap merasa kesepian.


Seperti hal nya hari ini, Indira duduk sendiri di ruang TV karena bang Anggara pergi ke Jakarta menemui istri pertama nya.


Tangan Indra terus membolak- balik majalah yang ada di pangkuannya. Dia bingung harus berbuat apa. Tidak ada yang bisa dia kerjakan di rumah ini karena bang Anggara telah membayar seorang untuk bekerja di rumah itu untuk membantu Indira.


Rasa bosan terus menghinggapi hati nya hingga sebuah coklat sampai di atas pangkuan nya.


"Coklat?!! " seru Indira terpana melihat sebuah coklat yang nangkring cantik di pangkuan.

__ADS_1


"Dikta?" Seru nya spontan sambil melihat ke belakang. Mungkin rasa rindu yang menggunung di hati nya membuat semua kenangan masa lalu nya dan Dikta hadir kala itu. Karena dahulu Dikta lah yang kerap melakukan hal itu. Yang selalu tiba- tiba saja meletakan sebuah coklat di pangkuan nya.


"Astaga!! apa di dalam hati dan pikiran mu hanya ada Dikta seorang, Indira??!!!" Bang Ridwan menghempaskan diri nya ke samping Indira.


"Kamu toh bang Ridwan! Aku pikir-?"Indira kembali melemah. Bodoh nya dia berharapan akan sesuatu yang jelas- jelas tidak mungkin terjadi.


"Kamu pikir Dikta? memang nya kalau bukan Dikta apa tidak ada orang lain yang bisa melakukan hal itu? Kamu ini ada - ada saja. Sudah jangan bersedih! Ayo coklat nya di makan! Abang sengaja membawa ini karena abang liat postingan kamu di Ig." ujar Bang Ridwan.


"Makasih, Bang. Pakai di bawain segala!!!"


Tapi siapa sangka, kata- kata bang Ridwan malam membuat wajah Indira semakin muram.Sebuah kesedihan terlukis jelas disana.


Bang Ridwan menyesal dengan kata- kata nya yang tadi nya berniat untuk menghibur Inidra. Tapi siapa sangka malah...

__ADS_1


"Ada apa, Ra?" tanya Bang Ridwan dengan nada suara penuh simpatik.


Indira merebahkan tubuhnya di pundak Bang Ridwan. Air matanya pun mulai menetes. Semakin lama semakin terisak.


"Aku nggak sanggup lagi Bang," jawabnya lirih.


"Sabar ya Ra?. Kamu pasti mampu melewati semuanya ini dengan baik." Bang Ridwant terus menyemangati Indira.


Indira menunduk dan air mata menitik ke pipi nya. "Aku ini hanya manusia biasa Bang!! Manusia biasa yang gak selalu bisa menempatkan kesabaran di atas kesedihanku. dunia ini, tidak ada yang bisa mengerti diri ku bang!! Tidak ada yang mengerti kesedihan ku! Luka yang aku rasa kan! Tidak ada!!  Aku sendirian, Bang." Suara terisak dan lirih itu terasa sedang menularkan rasa sakit nya pada orang yang mendengarkan nya.


"Ra! Kamu masih punya abang!!" Bang Ridwan memandang lekat mata Indira. Diusapnya kembali wajah yang berlinang air mata itu. Ada satu rasa yang terselip di hatinya. Rasa yang tak harusnya ada dalam hati. Bang Ridwan tak mengerti kapan rasa itu hadir. Tapi yang pasti rasa itu semakin subur bersemi di hatinya.


Berjuta cara telah dia lakukan untuk mengusir rasa yang mulai tumbuh itu. Tapi tetap tidak ada yang berhasil. Bang Ridwan pun bingung kenapa rasa itu bisa hadir untuk wanita yang merupakan istri sepupu nya? Ini sebuah rasa yang terlarang dan bang Ridwan tahu akan hal itu.

__ADS_1


 Suasana hening yang menenangkan jiwa membuat Indira merasa sangat nyaman menyandarkan kepala nya di bahu bang Ridwan.  Namun sayang nya, hal yang serupa tidak di rasakan oleh bang Ridwan.  Degup jantung Bang Ridwan mulai tak beraturan. Ada sentuhan yang ia rasakan tak biasa. Aliran itu menyengat dalam tubuhnya. Bang Ridwan masih bergelut dengan rasa yang terlarang. Andai ia bisa memutar waktu, maka ia ingin terlahir sebagai Bang Anggara dan mencintai Indira dengan sepenuh hati. Atau menjadi Dikta yang tidak akan pernah pergi membiarkan Indira menjadi milik orang lain.


__ADS_2