Istri Lima Ratus Juta (S1) :Terpaksa Menikah

Istri Lima Ratus Juta (S1) :Terpaksa Menikah
#24


__ADS_3

Tiga hari sudah bang Anggara pergi dari rumah nya dan Indira yang ada di Bandung sejak kejadian hari itu.


Hari ini Bang Anggara memanggil bang Ridwan untuk menemui nya di hotel tempat dia menginap selama tiga hari ini.


"Ada apa Abang memanggilku?" tanya Bang Ridwan penuh tanda tanya. Ia berpikir kalau Bang Anggara akan membahas tentang kejadian waktu itu.


"Duduklah dulu," pinta Bang Anggara yang terlihat sibuk dengan beberapa berkas yang kalau bang Ridwan perhatikan ada banyak sekali berkas yang ia rapikan di atas meja kerjanya.


"Dua pekan ini aku akan pergi ke luar kota. Aku titip Indira. Tolong kau jaga dan awasi dia. Aku tidak mau ada sesuatu yang terjadi dengan Indira selama aku pergi."


Bang Ridwan tertegun mendengar perkataan Bang Anggara.


“Sebegitu sayang kah dia dengan Indira hingga ia tak ingin terjadi sesuatu pada istrinya itu? Tapi jika benar begitu, mengapa bang Anggara sering kali kasar pada Indira?” Bang Ridwan jadi bertanya- tanya di dalam hati atas sikap sepupu nya ini.


“Kamu bisa kan Rid?” Ulang bang Anggara bertanya..


“Jangan khawatir Bang, tanpa diminta pun aku akan dengan senang hati menjaga Indira.” Jawab bang Ridwan.


Saat bang Ridwan berbicara dengan bang Anggara, pintu kamar hotel Bang Anggara diketok.


Setelah pintu itu di buka, dari balik pintu muncul wajah Indira.

__ADS_1


Bang Ridwan yang melihat Indira tentu saja kaget. Dia mengira, Indira tidak tahu kalau bang Anggara menginap di hotel ini.


"Maaf, aku mengganggu. Aku ingin pamit sama Bang Anggara. Aku ingin mampir ke rumah Ibuku dua hari ini" ungkap Indira sambil menunduk takut.


"Kenapa tidak kau telepon aku saja?" tanya Bang Anggara, ketus!


Ya! Bang Ridwan tidak salah dengar! memang kata - kata bang Anggara barusan ke Indira tidak memperlihatkan kepedulian yang sama dengan apa yang di perlihatkan pada bang Ridwan tadi.


"Aku sudah coba telepon abang tapi hape abang mati." Jawab Indira masih tidak berani menatap mata bang Anggara


Bang Anggara merogoh saku celananya. Dilihatnya hape nya. Dan ternyata benar. Hape nya memang dalam keadaan mati.


"Hm- baik lah. Nanti akan ku minta supir mengantar mu ke rumah ibu mu. " ucap nya sambil sibuk dengan dokumen nya.


"Hm- terserah abang saja.” Jawab Indira pelan tanpa ada maksud apa- apa dari ucapan nya.


“Apa maksud mu berkata begitu?” Bang Anggara tidak suka dengan respon yang Indira berikan.


Indira yang sudah hapal gelagat suami nya kalau akan marah memilih untuk segera pergi dari tempat itu.


"Maaf kan aku bang. Hm- aku pamit dulu." Ucap Indira tanpa merespon apa- apa lagi.

__ADS_1


Indira menghilang di balik pintu.


DI luar Indira memegang dada nya.


Jujur saja selama tiga hari Indira tanpa kehadiran Bang Anggara, dirinya seakan lepas dari ikatan tali yang melilit lehernya. Hidup nya tanpa rasa takut yang terus menyusup ke tulang – tulang nya.


Hari- hari pun berlalu...Dalam kesunyian nya di rumah orang tua nya, terkadang ada perasaan yang mendorong Indira untuk mengetahui keberadaan Dikta saat ini.


Tapi sekuat apa perasaan itu mendorong nya, sekuat itu pula pikiran nya menentang nya.


Otak kecil Indira terus berkata pada diri Indira. Atas dasar apa dia mencari Dikta.


Apa dia ingin di anggap sebagai Hayati dalam kisah tenggelam nya kapal kapal Van der Wijck yang terpaksa menikahi orang yang tidak dia cintai tapi hati nya masih saja mengharapkan pria yang dia cinta?


Akan selalu ada saja pandangan miring pada tokoh Hayati ini. Yang di katakan bodoh! Tidak tahu diri!! Jelas- jelas menikah dengan pria lain atas persetujuan nya ; terlepas itu atas dasar cinta atau bukan, tapi masih saja hidup dalam bayang - bayang kenangan pria yang dia cinta.


Mungkin untuk beberapa saat Indira bisa menepis semua rasa itu.


Namun siapa sih manusia yang menang dari kuasa perasaan dan hati bila mereka sudah berbicara? Demikian pula Indira. Makin dia usir keinginan terlarang itu, maka perasaan itu semakin bergelayut di dalam saraf- saraf otak nya bahkan setelah dia kembali ke Bandung dari rumah orang tua nya.


Hingga akhir nya Indira memutuskan untuk bertanya pada bang Ridwan. Pertanyaan yang seharus nya sedari awal dia tanyakan pada pria itu.

__ADS_1


Bodoh memang. Tapi begitu lah Indira yang tidak bisa berpikir cepat karena situasi yang berubah secepat kilat.


__ADS_2