
"Ndira eh rupanya kamu di sini. Aku mencarimu ke sana-ke sini," tukas Bang Ridwan. la belum melihat Dikta yang berdiri membelakanginya.
"Pulang yuk? Lagi nyari buku apa sih?" lanjut Bang Ridwan sambil tangannya melingkar di sebidang bahu Indira. Melihat itu, jelas membuat Dikta kesal.
“Sebenarnya apa hubungan mereka?” Dikta semakin bertanya- tanya dalam hati.
Suasana toko buku itu kian ramai, terlihat Bang Ridwan makin merapatkan tubuhnya mendekat pada Indira. la belum sadar dengan keberadaan Dikta disana.
Dikta memperhatikan mereka dengan perasaan tak enak. Panas terik mentari di luar sana tidak mampu mengalahkan rasa panas di dalam hati Dikta saat ini.
"Bang," Panggil Indira menoleh ke bang Ridwan.
"Kenapa? Ada apaa?" tanya Bang Ridwan keheranan la menatap lurus ke arah pijaran pandangan Indira, Gadis itu terlihat kikuk dan kaku. Begitu juga dengan Bang Ridwan. la tak kalah kakunya dengan Indira saat dia melihat sosok Dikta yang melihat nya tatapan marah.
"Dikta? Sejak kapan kamu kembali-?" ucap nya terputus karena untuk pertama kali nya di dalam hidup bang Ridwan dia melihat Dikta begitu marah.
Wajahnya Dikta memerah dengan napas memburu.
Rahangnya mulai mengeras dengan geraham yang terkatup rapat.
__ADS_1
Sorot mata nya begitu dingin dan tajam.
Dikta kemudian melemparkan begitu saja novel yang ada di tangannya ke wajah Indira. Membuat Indira seolah tak berharga sama sekali di hadapan Dikta.
“Muarahan!” Maki nya lalu pergi meninggalkan Indira yang sama sekali tidak menghindar dari buku yang Dikta lempar.
"Dik, kamu salah paham. Aku bisa jelaskan semua ini Dik?" Bang Ridwan berlari mengejar Dikta sambil terus memanggil nama Dikta.
Tapi Dikta yang telah di penuhi emosi tidak menggubris. Di telinganya, kata-kata Bang Ridwan hanya sebuah alasan belaka.
Sedangkan Indira, dia mulai terisak. Dia tidak menyangka pertemuan yang telah lama dia bayangkan akan menjadi seperti ini.
Agak lama Indira terdiam membeku melihat Bang Ridwan mengejar Dikta. Ia masih kukuh di sana.
Setelah beberapa saat baru lah bang Ridwan kembali.
"Maafkan aku Indira," sesal Bang Ridwan namun Indira tak menjawab. Kekecewaan terlihat jelas di wajah nya yang sedang menahan air mata yang bersiap untuk tumpah ke pipi nya.
*******
__ADS_1
Hari terus berganti, namun Dikta masih di rundung rasa benci, marah dan kecewa yang tak berkesudahan.
Hari ini Dikta kembali menghempaskan diri di sofa samping ranjangnya. Rasa kesal dan marah memburu seluruh pikirannya. Membuat badannya terasa lelah belakangan ini.
Ingatannya tentang Indira dan Bang Ridwan terus saja berkelebat mengganggu pikirannya.
“Kamu kenapa Dikta?” tanya sang ibu pada nya.
“Gak kenapa- napa kok Ma.” Ujar nya berbohong,
“Jangan bohong dengan mama. Kalau kamu ada masalah, kamu cerita dong Dikta. Dulu kamu ada masalah dan berbuntut panjang kan dengan abang mu. Mama gak mau ada hal yang kayak gitu- gitu lagi.” Sebut ibu nya Dikta.
“Dikta bertemu dengan mantan pacar Dikta yang Dikta cerita pada mama waktu Dikta minta bantuan mama ke Inggris. Tapi kali ini Dikta jumpa dia dengan bang Ridwan Ma! Padahal Dikta yakin dia itu tidak menikah dengan bang Ridwan. Secara kan bang Ridwan waktu mantan pacar Dikta itu di paksa menikah, bang Ridwan masih punya kak Ipeh. Tapi dua kali Dikta melihat mereka maka dua kali pula Dikta menangkap kesan bahwa ada sesuatu antara mereka ma! Atau jangan- jangan mereka selama ini memang selingkuh di belakang Dikta dan sengaja merekayasa semua nya untuk membuat hubungan Dikta dan mantan Dikta berakhir?”
“Dari pada kamu terus menebak- nebak Dikta, lebih baik kau tanyakan langsung pada bang Ridwan apa yang sebenarnya terjadi. Jangan sampai salah paham yang terjadi antara kamu dan abang mu Anggara terulang lagi kali. Dan ingat saat bang Anggara pulang kamu harus jelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan tunangan kakak mu waktu itu. Mama yang mau lihat anak- anak mama renggang hubungan nya karena sebuah kesalahpahaman.”
"Mama benar! Ini harus diluruskan," Ujar nya
“Loh kamu mau kemana malam- malam begini?” tanya ibu nya Dikta saat melihat Dikta berlari ke luar.
__ADS_1
“Mau ke cafe bang Ridwan ma!”Jawab nya sambil menyambar kunci mobil nya.