
Siang itu Indira terlihat sibuk. la mengepak pakaiannya ke dalam koper. Air mata Indira belum kering. Matanya masih sembab akibat menangis semalam.
Dikta.-
Nama itu terus saja mengusik pikirannya. Membawanya pada bulir-bulir derita yang tak kunjung usai.
Masalahnya, mengapa tiba-tiba ia harus bertemu Dikta. Lelaki yang sangat ia rindukan. Dan mengapa harus seperti itu kejadiannya.
Indira menoleh ke arah pintu. Suara bel berbunyi dari luar sana.
"Siapa yang datang?" ujar nya bertanya.
"Mbak? Dari mana..?" tanya Indira bingung melihat Mbak Silvia istri pertama suaminya sudah duduk di sofa.
"Kau tak perlu heran bagaimana aku bisa ke sini. Rumah ini adalah pemberian Bang Anggara. Tentu aku bisa saja memiliki kunci serep atas rumah ini," kata nya sombong.
Indira memilih diam. Dia cukup tahu diri pasti nya.
"Kau selingkuh dengan bang Ridwan ya Indira?" tuduh Mbak Silvia dengan tatapn tajam.
__ADS_1
"Apa maksud mbak???"
Mbak Silvia dengan tatap sinis menunjuk koper yang berada di samping Indira.
"Apa ini untuk kabur dengan Ridwan?" Seru nya yang langsung mengundang emosi Indira.
“Plaaak!” Sebuah tamparan mendarat di pipi Silvia.
Indira menatap tajam pada Silvia. Indira sudah tak tahan. Tuduhan itu benar-benar menyakitinya.
“Mbak ini apa- apaan sih mbak?? kenapa mbak bisa berpikiran seburuk itu tentang diri ku!”teriak Indira dengan nada keras.
“Mbak!!! Jelas-jelas aku hanya menganggap Bang Ridwan sudah seperti kakak ku sendiri. Mbak bisa tanya dengan bang Anggara! Dia tahu semua itu!! Dia sendiri lah yang telah menitipkan diri ku untuk dijaga oleh Bang Ridwan. Lalu dari mana tuduhan yang tidak berdasar itu mbak???” teriak Indira dengan tangan yang gemetar usai menampar madu nya itu.
"Kau?!! Berani sekali kau menampar ku!! Aku akan adukan ini pada Bang Anggara," ancam Mbak Silvia murka. Sorot yang penuh kebencian dan kecurigaan.
Sementara Indira memilih diam. Hatinya terlalu sakit karena tuduhan hina dari madu nya itu.
"Apa mbak sudah selesai? Kau sudah, tolong mbak keluar sekarang juga dari rumah ku!!!” bentak Indira meninggi. Dengan berani ia mengusir Mbak Silvia.
__ADS_1
Silvia yang di usir oleh Indira tentu saja semakin meradang.
"Oh?? Kamu benar-benar sudah berani ya sekarang?" geram Mbak Silvia dengan tatapan setajam pisau.
Indira yang sudah sampai di batas semua duka nya setelah bertemu dengan Dikta kemarin rasa nya sudah tidak ada hal di atas muka bumi ini yang dia takutkan.
Apalagi itu hanya seorang Silvia. Terutama dia dalam posisi benar! Lantas, apa yang harus ditakutkan Indira jika kebenaran ada di pihaknya?
Dalam keadaan kesal dan marah Mbak Silvia pergi meninggalkan Indira. Indira merasa dirinya sudah akan merasa lega setelah madu nya itu pergi, tapi ternyata tidak. Sebuah pesan dari bang Ridwan membuat Indira buru – buru menelpon bang Ridwan kembali.
"Kenapa abang baru memberitahu ku sekarang?” Indira terdengar marah dan kecewa.
"Aku sudah mencoba menghubungi hape mu sejak semalam. Tapi tak pernah aktif. Bahkan SMS pun kurasa baru saja kamu baca kan?" jawab bang Ridwan panik.
Indira terdiam. la ingat, memang sejak semalam hape nya tak aktif. Barulah tadi dia mengaktifkan handphone.
"Lalu apa yang terjadi?"
"Kita harus bertemu," usul Bang Ridwan lalu mematikan handphone setelah mengatakan dimana mereka akan bertemu.
__ADS_1