
Di suatu tempat, terlihat seorang pemuda sedang termenung sambil mengetik sesuatu di laptop nya. Sekilas pemuda itu terlihat serius dengan apa yang sedang ia kerjakan tapi sesaat kemudian..
"Sial," umpatnya sendiri di sebuah kamar.
Mata nya terpejam dan kilasan wanita yang telah memporak poranda kan hidup dan cinta nya selama enam bulan ini kembali hadir.
Beberapa waktu yang lalu, tanpa sengaja Dikta melihat Indira di cafe tempat nya bekerja dulu. Maksud hati datang ke sana untuk bersilahturahmi dengan sepupu nya yang belakangan baru dia ketahui kalau istri sepupu nya itu meninggal.
Dia yang memilih pergi ke Inggris selama enam bulan ini memang menutup diri nya dari semua komunikasi dengan orang – orang yang pernah dekat dengan nya.
Satu- satu nya orang dia hubungi hanya lah ibu nya. Itu pun karena Dikta memerlukan uang untuk meninggalkan semua yang ada di negara ini. Tapi sampai dia pulang dari Inggris pun dia masih belum mengetahui siapa suami Indira.
#Flash Back on
"Indira," gumam nya pelan saat melihat gadis yang sangat ia cintai itu.
Tapi ada hal lain yang mengusik Dikta saat itu. Dikta melihat ada yang berbeda dari tatapan sepupu nya itu ke Indira.
Sebagai pria, Dikta dapat melihat dengan jelas sekali bahwa ada kontak cinta di sana.
Hali ni membuat Dikta terpukul untuk kedua kali nya. Dia semakin tak kuasa rasa sedih dan kecewa nya.
Dari jauh dia melihat kedekatan Indira dengan Bang Ridwan. Melihat apa yang ada di dalam sirat mata Bang Ridwan saat meremas jemari Indira.
__ADS_1
Sementara gadis itu diam saja.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa suami Indira sebenarnya? Apa jangan- jangan suami Inidra-??”
Pertanyaan demi pertanyaan terus menyerang hati dan pikiran Dikta.
#Flash back off
Mata Dikta kembali terpejam.. kilasan saat- saat dia melihat Indira kembali membuat luka lama nya terkoyak.
"Aaaaaarrgghh..." teriaknya keras sembari melempar laptop nya ke lantai.
"Munafik, kalian munafik tau gak?" umpatnya sekali lagi.
Siapa sebenarnya menghancurkan cinta nya dengan Indira pun dia sudah tidak peduli. Satu yang pasti, Dikta telah menetapkan hati untuk kembali ke keluarga nya, keluarga Sucipto.
Hari itu Dikta sengaja datang ke toko buku langganan nya untuk mencari beberapa buku untuk di jadikan koleksi baru nya. Sudah lama Dikta tidak membeli buku tentang bisnis. Bila ingin ambil andil dalam usaha keluarga maka Dikta harus memperdalam pengetahuan bisnis nya.
Namun disaat bersamaan, ternyata Indira juga sedang berada di toko buku itu. Sebuah pertemua yang tiba- tiba pun terjadi pada saat Indira ingin menarik sebuah buku yang tanpa sengaja juda di tarik oleh Dikta dari belakang tubuh Indira.
Merasa kalau dirinya yang terlebih dahulu melihat buku itu, refleks Indira mempertahankan buku itu dalam genggamannya.
Untuk beberapa saat mereka pun saling tarik menarik namun tanpa saling mengeluarkan kata.
__ADS_1
Setiap Indira makin kuat untuk mempertahankan buku itu maka makin kuat juga yang di seberang sana menarik nyna.
Akhirnya, memang orang itu yang menang. Indira melenguh kecewa. Dari belakangnya terdengar sebuah suara yang sangat tak asing baginya.
"Maaf, kalau kau memang mengingingkan nya, silahkan..” katanya pelan lalu terdiam. Indira juga terdiam, ia tetap dalam posisinya. Sama sekali tak ingin berbalik. la ingin memastikan diri, apa benar pendengarannya tak salah?
"Hmm kalau memang sepenting itu maka ambil lah" ujar Dikta. Ia menyodorkan buku itu sambil menanti gadis memberikan jawaban. Dia merasa tidak enak berebutan dengan seorang gadis.
"A-Dikta?" ucap Indira ketika berbalik.
Untuk sesaat waktu terasa berhenti berputar. Semua kilas balik kenangan datang berhamburan ke hadapan mereka.
Baik Indira maupun Dikta sama-sama diam membisu. Berselang menit-menit kemudian, keheningan semakin kekal berkuasa.
"Apa..." ucap mereka bersamaan. Lalu kemudian sama-sama melempar senyum kaku.
"Apa kabarmu?" tanya Indira memulai lebih dulu.
"Aku baik, kamu?" balas Dikta.
"Aku juga."
Entah mengapa percakapan mereka tiba-tiba menjadi begitu kaku. Indira maupun Dikta terlihat sangat canggung untuk melanjutkan percakapan.
__ADS_1