Istri Lima Ratus Juta (S1) :Terpaksa Menikah

Istri Lima Ratus Juta (S1) :Terpaksa Menikah
#30


__ADS_3

Dikta juga baru selesai berkemas. Pikirannya tidak bisa lepas dari Indira. Meski sekeras apa pun usahanya untuk melepaskan diri dari memikirkan Indira, justru malah tidak membuahkan hasil sama sekali.


Hatinya tetap tidak bisa tenang. Apalagi setelah dia tahu kalau Indira lah wanita yang dinikahi oleh abang nya.


Dikta mengamuk pada bang Ridwan tanpa tahu kalau Silvia ada di dalam cafe itu.


Silvia mendengar semuanya. Dan salah paham itu pun terjadi.


Dikta dan bang Ridwan mencoba mengejar Silvia tapi percuma wanita itu pergi dengan sangat cepat.


Kekhawatiran kalau hal yang buruk menimpa Indira pun menyusup ke hati kedua nya.


.Baik Dikta maupun bang Ridwan sama- sama takut Kalau-kalau Silvia akan mengadu macam-macam tentang Indira dan Bang Ridwan pada bang Anggara. Karena mereka tahu jelas, hal itu akan berimbas pada Indira. Wanita yang sama- sama mereka cintai.


"Kita harus segera mencari Silvia bang!! Atau kalau tidak kita harus peringati Indira!!!" Seri Cinta.


"Kalau begitu kita bagi dua saja tugas ini. Kau mencari Silvia dan aku akan mencari Indira."


Singkat cerita Dikta dan bang Ridwan pun berbagi tugas. Bang Ridwan bertugas menghubungi dan mencari Indira. Sedang kan Dikta bertugas mencari Silvia.


Hari itu Dikta sudah ada di dalam mobil menuju ke ruma Silvia. Dalam pikiran Dikta, hari ini juga kesalah pahaman harus benar-benar tuntas.


Dikta merasa bersalah karena dugaan nya yang tak berdasar itulah semua fitrnah ini muncul. Oleh karena itu dia pula yang harus menyelesaikannya.


Sementara saat ini Bang Ridwan sedang bicara dengan Indira di salah satu restoran Jepang di salah satu mall ternama. Ia menceritakan semua yang terjadi di cafe semalam hingga mengapa fitnah itu bisa muncul.


"Aku mau pulang saja Bang, aku lelah. Kalau memang Mbak Silvia mengadukan tuduhan yang tak terbukti itu pada Bang Anggara. Aku akan menerimanya. Aku akan menerima segala risiko yang ada." Indira menjawab tenang.


"Tapi Ra?"


"Lagi pula..." potong Indira, "bukan kah kemungkinan terburuk yang pasti terjadi adalah aku akan diceraikan sepupu mu itu, kan?" lanjut Indira mantap dengan tekanan suaranya pada kata diceraikan.


Bang Ridwan hanya manggut-manggut. Kemudian wajahnya berubah jadi serius. la menelan ludah lalu mengatur kalimat yang pas untuk Indira.


"Ehm, maaf kalau aku terkesan lancang, Ra." katanya sambil matanya tak lepas dari memandang teduh bola mata Indira. la membiarkan beberapa detik jeda terhening di antara ucapnya.


"Andaikan hal itu benar-benar terjadi, akankah- ?" lanjut Bang Ridwan dengan pertanyaan menggantung.


"Aku belum siap menerima kehadiran laki- laki lain Bang, maafkan aku," jawab Indira gesit.

__ADS_1


la seperti mengerti kemana arah pertanyaan Bang Ridwan.


la tahu benar, ini pertanda seseorang punya perasaan terpendamnya.


"Astaga!! Ternyata benar bang Ridwan menyukai ku!! Ini tidak boleh di lanjutkan. Aku tidak ingin bang Ridwan jatuh dalam cinta terlarang ini."


Mendengar jawaban itu, Bang Ridwan jadi kehilangan muka. la begitu malu dan rasa kecewa rupanya lebih mendominasi keadaan hatinya.


"Ah, bukan itu maksudku?" ucapnya ngeles. la memalingkan wajahnya dari pandangan Indira. tapi Indira malah menatap nya tajam.


"Ah, jangan memandangku seperti itu?" ucapnya takut. Segera saja ia menyeruput jus jeruk di gelasnya. Mungkin untuk menghilangkan perasaan canggung yang ia rasakan.


"Aku pikir, Dikta ada benarnya Bang? Apa kau telah jatuh cinta pada ku bang? ?" tanya Indira berani. Membuat Bang Ridwan semakin kelabakan.


"Kau pasti sudah salah paham Indira" ungkap Bang Ridwan semakin kikuk. la berusaha menyembunyikan perubahan ekspresinya yang berubah tiba-tiba.


"Wajahmu tak bisa membohongiku, Bang?"


"Memangnya apa yang dikatakan wajahku, Indira?"


"Sudahlah Bang, aku tak ingin memperpanjang ini. Kurasa sudah waktunya aku pergi," kata Indira menghindari tatapan balik Bang Ridwan.


Bang Ridwan yang baru menyadari kalau Indira pergi setelah beberapa saat semenjak suara Indira tidak lagi terdengar.


"Shittt..." cetusnya, meski sedikit terlambat.


Secepatnya Bang Ridwan berlari ke tempat parkir. Segera menghidupkan mobil nya guna mencari jejak Indira. Gadis itu tak mungkin menghilang begitu cepat.


Dengan gelisah, Bang Ridwan mencari-cari Indira.


Hatinya bertambah cemas karena Indira tak juga ditemukannya.


Namun tiba-tiba matanya menangkap sesosok gadis dengan postur tubuh yang sama dengan Indira. Gadis itu juga membawa koper. Bang Ridwan menemukan sosok Indira sedang duduk di halte sambil menanti mobil angkutan.


Bang Ridwan bernapas lega. la mematikan mesin sepeda motornya lalu mendekati Indira yang duduk sendiri. Karena ia tak mungkin membawa motornya melawan arus jalur.


Setelah beberapa hitungan, ia menarik napasnya pelan. Lalu bergegas menghampiri Indira.


Tapi tiba- tiba saja langkahnya terhenti karena bang Anggara ada di sana menghentikan mobil tepat di hadapan Indira.

__ADS_1


Bang Ridwan meneguk ludah. Terlambat. Kenapa tiba-tiba bisa ada Bang Anggara di sana?


Apa dia sudah pulang? Kenapa tidak mengabari nya lebih dulu?


Lagi-lagi, dia kalah cepat oleh sepupu nya itu


Tak perlu menunggu lama, Bang Anggara sudah keluar dan membukakan pintu mobil untuk Indira. Gadis itu pun segera masuk. Bang Ridwan memandang kepergian mereka dengan kecewa.


Sepeninggal Indira dan Bang Anggara, Bang Ridwan kembali ke mobil nya. Wajahnya terlihat kuyu sekali, sambil tersenyum hambar. la mulai melajukan mobil nya meninggalkan tempat itu.


"Apa yang ingin kamu lakukan dengan koper itu Indira?" tanya Bang Anggara tanpa menoleh. la terus memandang ke depan. Fokus pada kemudi mobil yang disetirnya.


Sementara itu, Indira tak berani bicara. Bang Anggara menggeleng, dibiarkannya saja istri keduanya itu tak bicara.


“Apa kau benar-benar tak ingin bicara denganku?" tanya Bang Anggara. Terdengar intonasi sedikit naik. Indira malah tetap diam. Tidak ada satu kalimat pun yang berhasil terdeteksi dari bibir Indira yang terus terkatup.


Sampai mereka tiba kembali di depan rumah Indira. Kemudian mobil memasuk bagasi terbuka di sisi kanan halaman.


"Jangan terlalu pikirkan apa yang dikatakan Silvia padamu ya?" ucap Bang Anggara dengan nada merendah. Kali ini suaranya begitu lembut terdengar di telinga Indira.


Sekilas Indira memandang wajah suaminya. Terselip tanya di sana. Tapi, Indira tak perlu bertanya kenapa? Sebab, Bang Anggara sudah tahu apa yang akan ia jawab.


Bang Anggara meraih tangan Indira, meletakkannya dalam genggamannya. Indira terkejut, pasalnya, baru kali ini Bang Anggara memperlakukannya seperti ini.


"Apa pun itu, sepertinya aku mencintai mu. Aku benar- benar telah jatuh cinta pada mu. " aku Bang Anggara akhirnya, membuat benak Indira melahirkan tanda tanya besar. Terlebih ketika Bang Anggara secara tiba- tiba menarik tubuh Indira dalam dekapannya.


Untuk sesaat, Indira dapat merasakan kesejukan yang berbeda. Indah dan terasa begitu nyaman.


🍀🍀🍀


Hai semua... season satu sudah selesai ya.. kita lanjut season dua. Gak pakai tunggu lama...


langsung cek profil kak Upe. judul nya


True love.


Jangan pakai banyak protes napa pakai season... yang sering nonton neflix dan drakor pasti paham mah ini... Kak Upe tunggu di buku Indira S. 2.


__ADS_1


__ADS_2