Istri Lima Ratus Juta (S1) :Terpaksa Menikah

Istri Lima Ratus Juta (S1) :Terpaksa Menikah
#25


__ADS_3

"Indira tidak bermaksud apa-apa, Bang. Indira hanya ingin tahu kabar Dikta saja. Indira ingin minta maaf atas semua yang telah terjadi pada DIkta. Karena bagaimana pun, apa yang Dikta rasakan saat ini adalah kesalahan Indira." Ujar Indira dengan wajah memelas pada bang Ridwan.


Bang Ridwan menghela napas. Di tatap nya Indira dalam – dalam .


Andaikan saja dia bisa mengatakan alasan mengapa dia sulit untuk memberitahu Indira tentang keberadaan Dikta, maka mungkin beban di dalam hati nya akan sedikit berkurang.


“Bagaimana mungkin aku memberitahukan keberadaan Dikta pada mu yang sekarang ini sudah mengganggu mimpi- mimpii malam ku, Indira?" Seru banget Ridwan dalam hati.


"Namun apa pula hak ku menghalangi mu untuk mengetahui kabar Dikta? Kau adalah istri Bang Anggara dan aku tak punya hak apa pun atas Indira. Yang aku miliki hanyalah rasa yang terlarang dan tak mungkin menjadi nyata.” Ucap batin bang Ridwan sambil menatap wajah ayu Indira.


"Indira, tidak kah kau ingin mencoba hubungan yang lebih baik dengan bang Anggara? Tidak adalah tempat di hati mu yang bisa oleh nya? Aku merasa bang Anggara itu mencintai mu Dira. Mungkin cara nya masih salah. Tapi bukan berarti apa yang di rasa itu salah. Beri dia waktu. Aku yakin ada hal yang belum terucap dari nya."


Bang Ridwan kemudian diam.


Indira pun ikut terdiam. Tak ada satu kata pun yang ia ucapkan. Ditatapnya Bang Ridwan, seolah ia ingin mencari sesuatu yang bisa ia jadikan jawaban.


"Aku sudah mencoba semampu ku bang! Tapi bang Anggara- "


"Mungkin kamu belum berusaha sepenuhnya. Cobalah buka hatimu dan lupakan Dikta." potong Bang Ridwan cepat.


Indira tertegun mendengar ucapan Bang Ridwan.


Apa benar dia tidak pernah bersungguh-sungguh untuk membuka hatinya untuk Bang Anggara.


Indira mendesah. Ada sesak yang masih ia rasakan hingga kini.


Mungkin benar apa yang dikatakan Bang Ridwan, Mungkin kesungguhan nya masih belum menyentuh hati bang Anggara. Ini bulan ke sekian pernikahannya dengan Bang Anggara. Dan tidak terlihat kalau bang Anggara akan menceraikan nya.

__ADS_1


Anak yang di nanti- nanti kan pun tidak kunjung datang. Mungkin karena Indira stress maka nya Indira jadi sulit hamil pada hal gempuran dari bang Anggara tidak pakai waktu break.


Untuk mengusir semua keinginan terhadap Dikta, Indira memilih untuk menyibukkan diri nya. itu lah mengapa Indira sering datang ke cafe.


Dia ingin mengikis habis kisah Indira yang penuh duka dan kembali menjadi Indira yang ceria. Dengan harapan setelah bang Anggara pulang dia ingin menata kehidupannya bersama Bang Anggara; walau tak sepenuhnya ia yakin bisa melakukannya.


Di sisi lain, kehadiran Indira ke cafe tidak hanya mempermudah kerjaan Bang Ridwan yang di titipkan Indira oleh bang Anggara. Tapi menjadi penyemangat bagi Bang Ridwan dalam menjalani kesibukannya.


Bang Ridwan dapat memandang wajah Indira berlama-lama walau itu ia lakukan dengan sembunyi-sembunyi.


Hanya saja efek samping nya rasa terlarang itu semakin memenuhi ruang hatinya.


Namun kali ini Bang Ridwan mencoba untuk menjadi sosok yang egois. Dia tak peduli lagi pada rasa yang terlarang ini.


Dalam hati nya bang Ridwan berkata kalau Indira tak perlu tahu akan rasa ini. Biarlah dia menyukai Indira dalam diam asal dia bisa melihat Indira setiap saat.


"Waktunya makan siang. Ayo kita makan dulu," sapa Indira pada semua staff cafe Itu.


Inilah awal di mana ia harus memulai semuanya dengan lembaran baru.


Hanya saja bentuk perubahan positif Indira ini malah membuat bang Ridwan menjadi salah paham. Bang Ridwan merasa Indira begitu memperhatikannya. Di pandangnya wajah Indira yang sedang sibuk mengambil makanan untuknya.


"Ayo, Bang. Jangan bengong aja. Makan dulu nih," celetuk Indira pada Bang Ridwan yang memperhatikannya sedari tadi.


Bang Ridwan tersenyum malu. Wajahnya tersipu ketika Indira menangkap basah dirinya sedang memperhatikannya.


"Makasih ya, Ra. Kamu ini memang istri idalamn" ledeknya.

__ADS_1


"Tuh, kan, Bang Ridwan mulai lagi deh?" sewot Indira.


"He he he.. ga boleh marah? aku kan cuma bercanda?" Tawa bang Ridwan.


Indira dan Bang Ridwan tersenyum. Ini pertama kalinya Bang Ridwan melihat senyum Indira yang begitu lepas.


Sejak menikah dengan Bang Anggara, Indira jarang sekali terlihat tersenyum bahkan tidak pernah.


Yang dilihatnya dari Indira adalah wajah murungnya dan kesedihan yang menutupi wajah cantiknya.


Bang Ridwan bahagia sekali dengan perubahan Indira.


Ini berarti Indira mulai melupakan masa lalunya dan mencoba membuka hatinya untuk yang lain.


Namun pertanyaan nya, untuk Siapa? Bang Ridwan bertanya dalam hati.


Apakah Indira mulai menerima Bang Anggara sebagai suaminya? Benarkah itu? Lalu bagaimana dengan perasaannya?


Selesai makan, Indira menghampiri Bang Ridwan yang duduk termenung di ruang depan cafe. la menangkap basah kalau bang Ridwan saat ini sedang melamun. Dihampirinya Bang Ridwan yang tak menyadari kehadiran Indira di depannya.


"Hayooo?!! melamun apa?" tanya Indira membuyarkan lamunan Bang Ridwan. Lelaki itu tergagap melihat Indira yang sudah duduk di hadapannya.


"Ng.. gak apa-apa kok, Ra. Aku hanya..." jawab bang Ridwan tergagap.


"Ingat Kak Ipeh?" sambung Indira cepat.


Bang Ridwan menatap Indira. la seperti mencari ruang rindu yang masih kosong di mata milik Indira.

__ADS_1


Indira yang menyadari tatapan yang tidak biasa itu auto tertunduk, la tak mengerti arti tatapan Bang Ridwan yang terasa begitu dalam.


"Ra,salahkah kalau aku membuka hati untuk wanita lain? Apa waktunya begitu cepat, maksudku bukan aku ingin melupakan Ipeh begitu aja, tapi..." bang Ridwan tidak menyelesaikan perkataan nya. Dia hanya diam dan menatap dalam mata Indira.


__ADS_2