
Seorang gadis melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Dia mendapat telepon dari orang rumah, yang mengabarkan jika Ibunya di bawa ke rumah sakit.
Defina, adalah nama gadis tersebut. Dia hidup berdua dengan sang Ibu yang sudah sering sakit-sakitan karena termakan usia.
Dia lahir dari seorang Ibu yang sangat cantik bernama Monica. Dan Ayahnya, yang bernama Edrick mewariskan kekayaan yang sangat banyak kepadanya.
Selain harta, Edrick juga memiliki banyak anak buah yang selalu melindungi keluarganya dari serangan lawan bisnisnya.
Bisa di bilang, Edrick mendapatkan hartanya tidak dengan cara bersih saja. Dia juga sering memperjual-belikan senjata api secara ilegal, dan sering juga membantu relasinya melakukan hal-hal kotor yang lainnya.
Beberapa kekayaan Edrick yang Defina kelola sekarang, ada judi kasino di beberapa daerah. Klub malam, bar, hotel, dan beberapa perusahaan yang bergerak dalam bidang informasi.
Nama keluarga Edrick sudah sangat terkenal, bahkan Defina saja, saat ini sering wara-wiri di undang televisi untuk, di wawancarai tentang kesuksesannya dalam mengelola bisnis menggantikan Ayahnya Edrick yang telah wafat.
"Awas!" Defina menginjak rem secara reflek karena ada seorang pengendara motor yang berhenti mendadak di tengah jalan.
"Hey, kau! Minggir!" teriak Defina sambil membunyikan klakson berkali-kali.
"Maaf, Mbak!" ucap si pengendara itu sopan lalu mendorong sepeda motor bututnya ke tepi jalan.
"Huh, dasar!" cibir Defina sambil menyalakan mesin mobilnya kembali.
"Tania! Anakku!"
Setelah mobil Defina pergi, seorang Ibu muda berlari menghampiri si pengendara motor.
"Ini Putrinya, Ibu?" tanya si pengendara motor sambil mengelus puncak rambut anak perempuan yang saat ini sedang duduk di motornya.
Ternyata, alasan si pengendara motor ini berhenti di tengah jalan, karena ada seorang anak perempuan yang berlari-lari di jalanan.
Dia berhenti, karena ingin menyelamatkan anak perempuan tersebut.
Sangat berbahaya sekali, jika seorang anak kecil berlari tanpa pengawasan di jalanan. Apalagi, dia berdaya di tengah-tengah jalan raya.
"Iya, Mas. Makasih ya, sudah mau menyelamatkan Putri saya Mas." ucap si Ibu dengan mata berembun.
"Iya Bu, sama-sama! Lain kali, jangan biarkan Putrinya main di jalan Bu, bahaya!" tegur si pengendara motor.
"Iya, Mas. Sekali lagi, terima kasih!" ucap si Ibu lalu pergi sambil membawa Putrinya.
Daniel, adalah nama pengendara motor butut tersebut. Dia hidup bersama Ayahnya, yang bernama Antonio.
__ADS_1
Ibunya Daniel, pergi entah kemana ketika Daniel masih berumur tujuh tahun. Dan Antonio-lah, yang berjuang keras membesarkan Daniel sendirian.
Kembali kepada Defina, yang saat ini sudah sampai di pelataran rumah sakit tempat Ibunya di rawat.
"Fin, kamu kemana saja dari tadi? Ibumu dari tadi tak henti-hentinya, manggil nama kamu." ucap Rio yang saat ini menyambut kedatangannya Defina.
"Kamu itu 'kan seorang dokter, harusnya bisa dong nenangin pasiennya." balas Defina sambil berjalan buru-buru menuju ruangan Ibunya.
"Memang aku itu dokter, tapi gak semua hal bisa aku lakuin, Fin!" tegas Rio hingga membuat Defina memutar matanya dengan malas.
Setelah sampai di ruangan sang Ibu, Defina langsung menerobos masuk dan meninggalkan Rio di depan pintu dengan ekspresi muka kesal.
"Defina ...," panggil Monica lemah ketika melihat Putrinya mendekat.
"Defina di sini Bu ...."
Defina menggenggam lembut tangan Monica, dan sesekali menciumnya penuh kasih sayang.
"Fin, dari mana saja? Ibu nungguin kamu dari tadi. Ibu takut, kamu kenapa-napa di jalan, Nak!" ucap Monica dengan beruraian airmata.
"Ibu jangan bicara seperti itu, Defina baik-baik saja. Ibu bisa lihat sendiri 'kan?" ucap Defina sambil mengelus puncak rambut sang Ibu.
"Ibu tetap saja khawatir, Nak. Hidup Ibu sudah tidak lama lagi, Ibu takut kamu kesepian, dan tidak akan ada orang yang menjaga kamu kalau Ibu sudah tidak ada nanti." Monica mengucapkan kata demi kata dengan airmata yang mulai membasahi pipinya.
Sejujurnya, Defina tidak kuasa menahan kesedihan yang di rasakan karena harus menerima kenyataan bahwa ucapan Monica itu benar adanya.
Dokter sudah memvonis, kalau usianya Monica hanya mampu bertahan sampai dua bulan.
Dan itu adalah sebuah pukulan terbesar, bagi kehidupan Defina.
"Fin, apa boleh Ibu minta sesuatu dari kamu?" tanya Monica dengan suara lemah.
"Boleh! Apapun yang Ibu minta, pasti Defina kabulkan." jawab Defina lembut.
"Kamu janji, Fin?"
Defina mengangguk, lalu mengecup keningnya Monica penuh kelembutan.
"Ibu mau, kamu menikah dengan Putranya teman kuliah Ibu. Dia seorang pemuda yang baik, dan Ibu yakin, dia pasti bisa menjaga kamu menggantikan Ibu nanti." tutur Monica yang membuat Defina terkejut dengan permintaannya.
"Menikah?"
Monica mengangguk. "Iya, menikah! Kamu mau 'kan, Nak?"
__ADS_1
Defina merasa frustasi dengan permintaan sang Ibu. Dia ingin menolak, tapi sudah terlanjur berjanji kepada Ibunya tadi.
Lagipula, tidak baik jika dia membuat Ibunya merasa kesal saat kondisinya sedang lemah seperti sekarang ini.
Tidak ada cara lain lagi, selain Defina mengiyakan permintaan sang Ibu, dan menikah dengan pemuda yang tak pernah dia kenal sama sekali.
"Baik Bu, jika itu bisa membuat Ibu senang, Defina mau menikah dengan pemuda yang Ibu sebutkan."
Sungguh keputusan yang sangat besar yang di ambil Defina saat ini. Bukan hanya tentang hidupnya yang akan berubah, hidup pemuda yang akan menikah dengan Defina juga akan mengalami perubahan yang sangat besar.
"Terima kasih ya, Fin. Hari ini, Ibu akan meminta Rio untuk menghubungi teman kuliahnya Ibu. Lalu lusa, kalian berdua akan menikah secara sederhana di sini." ucap Monica dengan sebuah senyuman di bibirnya.
Rio! Jadi dia sudah tahu tentang hal ini? Kenapa dia tidak memberitahuku tadi? batin Defina.
"Sekarang, Ibu istirahat dulu ya. Defina mau ke kantin, nyari makanan." ucap Defina beralasan, padahal tujuan aslinya bukan itu.
Dia ingin mencari Rio, dan meminta penjelasan tentang permintaan Ibunya.
"Rio!" panggil Defina keras kepada sahabatnya yang saat ini sedang berbicara dengan keluarga pasien lain.
"Iya Fin, ada apa?" tanya Rio dengan senyum tersungging di wajahnya.
"Halah, kamu jangan pura-pura baik ya!"
Defina langsung memaki Rio setelah mereka berdua berjalan menjauhi kerumunan pasien.
"Kamu kenapa? kok langsung marah-marah gitu, Fin?" tanya Rio dengan heran.
"Sudahlah, jangan pura-pura gitu Rio. Kamu 'kan, yang menghasut Ibu buat nikahin aku?" tanya Defina terang-terangan.
"Aku? Big No! Itu kemauan Ibu kamu sendiri, Fin! Jangan nyalahin aku! Kalau kamu tidak mau, tolak saja, gampang 'kan?" bantah Rio keras.
"Tolak? Kamu becanda ya? Dalam kondisi seperti itu, aku nolak? Otak kamu di mana, Rio?" Defina semakin emosi dengan jawaban sahabatnya.
Rio menjadi jengah dengan makian dan ucapan kasar yang sahabatnya ucapkan saat ini.
Oleh karena itu, Rio berniat pergi meninggalkan Defina yang saat ini terus mengoceh menyudutkan dirinya.
"Kamu mau kemana? Aku belum selesai, Rio!" teriak Defina saat Rio menjauh darinya.
"Ngobrol saja sama tembok! Aku capek!" jawab Rio tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Dasar!" gerutu Defina.
__ADS_1