
Antonio menatap Putranya dengan sangat dalam, namun dia tidak berusaha memotong, ataupun menghentikan Putranya untuk bercerita.
"Malam itu, pas Daniel pulang dari rumah singgah, Putrinya Tante Monica sedang lari dari kejaran orang-orang berbaju hitam. Gadis itu tidak sengaja menabrak Daniel, dan karena merasa kasihan, Daniel 'pun membantunya untuk bersembunyi."
Deg!
Jantung Defina serasa berhenti ketika mendengar cerita orang yang dia ikuti.
Ingatannya kembali ke malam di mana dia di selamatkan oleh seorang pria dari kejaran anak buahnya Albert.
Jadi, dia itu orangnya! Orang yang menolongku dari kejaran anak buah si Albert sialan! batin Defina.
Namun, karena masih merasa penasaran akan kelanjutan cerita Daniel, Defina 'pun, tidak berusaha beranjak dari tempatnya.
"Lalu apa, yang terjadi setelahnya?" Antonio akhirnya membuka suara dan bertanya kepada sang Putra.
"Daniel gak tahu, Yah. Karena setelah orang-orang yang mengejar pergi, Putrinya Tante Monica di jemput oleh orang-orang yang turun dari mobil mewah. Dan Ayah tahu, orang yang menjemput Putrinya Tante Monica, semuanya membawa senjata api di balik pakaiannya." jawab Daniel hingga mampu membuat Antonio terbelalak.
"Kamu jangan mengada-ada, Daniel. Tidak mungkin Putrinya Monica terlibat, dengan orang-orang yang membawa senjata api." ucap Antonio berusaha menyangkal tuduhan Daniel kepada Putri temannya.
"Terserah Ayah, mau percaya Daniel atau tidak. Daniel hanya berusaha menceritakan apa yang Daniel tahu, tentang Putrinya Tante Monica. Masalah perjodohan, Daniel akan memikirkannya dulu, Yah. Daniel tidak mau, jika nanti Daniel harus menikah dengan gadis yang terlibat dengan sebuah kelompok yang menganut kekerasan. Daniel masih punya tanggung jawab untuk mengurus Ayah, Daniel juga punya tanggung jawab mengurus anak-anak di rumah singgah. Daniel tidak mau ambil resiko itu, Yah. Daniel tidak suka dengan kekerasan." tutur Daniel yang entah kenapa membuat hati Defina sedikit sedih ketika mendengarnya.
Jika memang itu adalah kemauanmu, baiklah,aku sendiri yang akan mengajukan perjodohan kita. Dan mari kita lihat! Apa kau masih bisa menghindariku, atau tidak? batin Defina.
Defina memutuskan untuk pergi, setelah mengetahui semua percakapan Daniel dan Ayahnya.
Dia pergi dengan membawa tekad, untuk mendapatkan Daniel, orang yang pernah menyelamatkan hidupnya beberapa tahun yang lalu.
Sesampainya di kantor, Defina langsung memanggil Ferdinand untuk datang ke dalam ruangannya.
"Ada masalah apa, Fin?" tanya Ferdinand yang melihat Defina memasang wajah serius.
"Aku sudah menemukan orang itu hari ini, Fer." jawab Defina dengan senyuman manis terpampang di wajahnya.
"Siapa orang yang kamu maksud?" tanya Ferdinand penasaran.
Defina memainkan penutup gelas di hadapannya, lalu melirik ke arah Ferdinand dengan tatapan malas.
__ADS_1
"Siapa lagi, kalau bukan orang yang pernah menyelamatkanku dari kejaran anak buah Albert!"
"Hah?! Serius, Fin?!"
Ferdinand terkejut, dan hampir saja, berkas sengaja dia bawa terlepas dari genggaman tangannya. Untung saja dia langsung reflek, dan langsung menangkap semua berkas sebelum jatuh berantakan di lantai. Jika tidak, Defina pasti akan memarahinya karena telah membuat ruangan pribadinya menjadi berantakan.
Defina mempunyai kelainan, dia menderita OCD sejak kecil. Defina tidak bisa melihat sesuatu yang berantakan, ataupun sesuatu yang kotor di dekatnya.
Semua harus kelihatan rapi, dan juga bersih. Titik!
"Kamu pasti lebih terkejut dari ini, jika tahu siapa orangnya yang telah menyelamatkanku, Fer." ucap Defina dengan wajah girang.
Ferdinand menautkan alisnya, dia merasa semakin penasaran dengan sosok orang yang mampu membuat Defina, tampak bersemangat ketika membicarakannya.
Ferdinand juga merasa heran, sahabatnya yang keras kepala dan juga tegas itu, kini terlihat begitu senang. Tidak seperti biasanya yang akan selalu tampak acuh ketika Ferdinand mengajaknya untuk membahas tentang orang lain.
"Siapa Fin?" tanya Ferdinand dengan perasaan tidak sabar.
"Jangan tegang begitu, Fer. Rileks!" ucap Defina sambil tertawa pelan.
"Cepat kasih tahu, Fin. Penasaran!" ucap Ferdinand yang membuat Defina semakin tergelak melihat tingkah dan raut wajahnya yang tampak serius.
"Sabar, sabar! Nanti juga, kamu pasti akan tahu orangnya, Fer." balas Defina yang membuat Ferdinand menjadi murung.
"Sudahlah, jangan murung begitu. Sekarang, cepat siapkan mobil dan antar aku ke rumah sakit!" ucap Defina yang membuat Ferdinand menjadi heran.
"Lagi?" tanyanya dengan kebingungan.
Defina memelototkan mata, dan langsung memarahi Ferdinand karena tidak menuruti kata-katanya.
Beberapa jam kemudian, mobil yang di kendarai oleh Ferdinand akhirnya sampai di halaman rumah sakit tempat Monica di rawat.
"Fin, kamu tidak sedang mengincar Rio, 'kan?" tanya Ferdinand yang mulai cemas.
"Maksudnya?" tanya Defina dengan heran.
Pasalnya, dia sudah lupa dengan kemarahannya terhadap Rio beberapa jam yang lalu. Jadi, ketika Ferdinand menanyakan tentang hal ini lagi, Defina menjadi kebingungan karena tidak tahu dengan apa yang Ferdinand bicarakan.
__ADS_1
"Ah, tidak, tidak, aku hanya asal bicara saja." jawab Ferdinand dengan perasaan lega.
Setidaknya, sahabat dia yang satunya lagi sedang dalam keadaan aman sekarang. Tidak terancam seperti waktu sebelumnya.
Defina melangkahkan kaki dengan mantap menuju ke ruangan tempat di mana Ibunya di rawat, bersama Ferdinand yang berjalan di belakangnya.
Ekspresi wajahnya tampak tenang, tidak seperti pertama kali datang ke rumah sakit. Galak!
"Selamat malam, Bu!" ucap Defina ketika membuka pintu kamar.
kebetulan juga, Rio juga sedang berada di sana untuk memberikan pemeriksaan rutin kepada Monica, yang memang adalah pasiennya.
"Selamat malam juga, Sayang!" balas Monica dengan penuh kelembutan.
Rio mundur beberapa langkah setelah Defina berada di dekat ranjangnya Monica.
Dia sengaja melakukan hal itu, agar bisa mendekat ke arah Ferdinand.
"Fer, kamu kenapa datang bersama Defina, enggak ngabarin aku dulu?" bisik Rio dengan hati-hati karena takut Defina mendengar suaranya.
"Sorry, bro. Dadakan!" balas Ferdinand yang sontak membuat Rio merasa kesal.
"Kamu tumben, datang malam-malam kesini?" tanya Monica kepada Putrinya yang saat ini sedang memainkan ujung selimut miliknya.
"Defina sengaja, Bu." jawabnya dengan singkat.
"Oh, Ibu ngerti sekarang. Kamu pasti mau nemenin Ibu tidur di sini, iya 'kan?" tanya Monica yang langsung di jawab dengan gelengan kepala.
"Bukan karena itu maksud kedatangan Defina kesini sekarang, Bu!" bantah Defina yang membuat Monica mengerutkan dahinya.
Defina lalu menarik sebuah kursi, dan langsung duduk di samping ranjang Ibunya.
"Bu! Defina terima tawaran Ibu, untuk menikah dengan Putranya Om Antonio!"
Jangankan Monica, Ferdinand yang baru menutup pintu kamar saja, langsung merasa terkejut dengan perkataan yang baru saja di ucapkan oleh Defina.
"Kamu serius 'kan, Sayang?" tanya Monica yang masih berusaha bersikap tenang.
__ADS_1