
Daniel tertegun dengan permintaan Monica yang menurutnya sangatlah berat.
Baru saja, dia memperingatkan dirinya sendiri untuk tidak lagi terlibat dengan urusan gadis yang dia pernah selamatkan waktu itu.
Daniel pikir, identitas si gadis tidaklah sesederhana yang terlihat.
Terbukti, dengan beberapa orang pria berbaju hitam yang datang untuk menjemputnya semasa kejadian tersebut.
"Bagaimana, Nak? Apa kamu bisa, mengabulkan keinginan Tante?" suara Monica terdengar seperti berada di kejauhan oleh Daniel yang saat ini sedang tenggelam dalam lamunannya.
"Daniel! Daniel" ucap Antonio setengah berteriak memanggil nama Putranya berkali-kali.
"Eh, maafkan aku, Tante." ucap Daniel saat dirinya tersadar.
"Tidak apa-apa, Nak. Kamu pasti membutuhkan waktu untuk berpikir, jangan buru-buru, kamu bisa menjawabnya nanti jika sudah siap." balas Monica dengan penuh kelembutan membuat Daniel menjadi merasa bersalah karena sudah mengabaikan ucapannya barusan.
Tepat pada saat itu, Rio datang bersama perawat untuk memberikan pemeriksaan secara berkala kepada Monica.
"Maaf, Tante, Sudah waktunya pemeriksaan." ucap Rio sambil berjalan menghampiri ranjangnya Monica
Monica tersenyum, lalu membiarkan Rio untuk memeriksakan keadaan tubuhnya.
"Keadaan Tante sudah jauh lebih baik sekarang. Jika seperti ini terus, kemungkinan, besok pagi juga sudah bisa pulang. Tidak apa-apa 'kan Tante, menginap di rumah sakit ini satu malam lagi?" ucap Rio sambil mengedipkan mata almond-nya kepada Monica.
"Iya, tidak apa-apa." jawab Monica yang membuat Rio menjadi merasa lega karena Monica sudah jauh lebih tenang sekarang.
Rio lalu menyuntikkan cairan ke tangan Monica, dan berpesan agar Monica lebih banyak beristirahat agar dia cepat pulih keadaannya.
Setelah itu Rio pamit meninggalkan Monica dan juga kedua orang tamunya.
"Kami berdua juga pamit pulang, Mon. Ingat kata dokter barusan, banyak-banyak istirahat, biar cepat kembali sehat." ucap Antonio sambil menyalami Monica yang terlihat enggan berpisah dengannya.
Apalagi, ketika Monica melirik ke arah Daniel. Dia sepertinya masih berharap, Daniel bisa menjawab permintaannya sekarang.
"Iya, jaga diri kalian baik-baik." jawab Monica meskipun masih merasa tidak rela jika Daniel harus pulang saat ini.
Melihat kedua tamu Ibunya keluar, giliran Defina sekarang yang masuk.
"Bu, kita harus bicara serius." ucap Defina yang di tanggapi acuh tak acuh oleh Monica.
"Bu ...," panggil Defina.
"Kata Rio, Ibu harus banyak istirahat agar besok bisa langsung pulang." jawab Monica sambil menarik selimutnya sampai menutupi dada dan langsung pura-pura memejamkan mata.
Dengan perasaan kesal, Defina langsung keluar dari kamar Ibunya.
Sasarannya kemarahannya masih tetap, Rio! Dokter, sekaligus sahabatnya yang menangani kesehatan sang Ibu.
"Fer, di mana Rio?" tanya Defina dengan suara berat.
Jelas sekali, jika dia benar-benar marah sekarang.
"Ada apa, Fin? Rio buat salah apalagi sama kamu?" tanya Ferdinand yang tiba-tiba merasa kasihan dengan nasibnya Rio yang selalu mendapat amukan dari Boss, merangkap sahabatnya.
__ADS_1
"Kamu tahu gak, Fer? Bisa-bisanya, Ibuku menolak berbicara gara-gara Rio memberitahunya untuk lebih banyak beristirahat." ucap Defina dengan geram.
Saat ini, Ferdinand tidak tahu, apa dia harus menangis, atau tertawa ketika mendengar celotehan yang keluar dari mulut Defina.
Ferdinand tidak bisa membedakan, siapa yang salah, dan siapa yang benar sekarang dalam kasusnya persoalan yang Rio hadapi dengan Defina.
Ferdinand tidak mau ikut campur, biarlah Rio yang menanggung akibat karena selalu membuat Defina selalu di pojokan oleh Ibunya.
Walaupun begitu, dia tetap merasa, jika sahabat yang berprofesi sebagai tersebut, selalu saja sial karena harus berhadapan terus dengan sahabat wanita mereka yang keras kepala, Defina.
Rio yang malang! batin Ferdinand.
Diam-diam, Ferdinand memainkan ponselnya untuk berkirim pesan kepada Rio.
'Kamu jangan dulu datang ke ruangannya, Tante Monica.'
Begitulah isi pesan yang di ketik oleh Ferdinand, yang langsung dia hapus setelah berhasil di kirimkan.
Defina berjalan mondar-mandir di depan ruangannya Monica. Namun sampai beberapa menit dia menunggu, Rio tidak muncul-muncul juga.
"Ah, sialan!" umpat Defina.
Tak jauh dari sana, Rio sedang memperhatikan gerak-gerik Defina di lorong yang menghubungkan ruangan nomor satu, dengan ruangan Monica.
"Kapan pulangnya si Defina? Dari tadi, mondar-mandir terus mirip setrikaan." gumam Rio perlahan.
Rio lalu mengeluarkan ponsel, lalu menghubungi nomor Ferdinand.
'Ada apa?'
"Kapan kamu ajak Defina pulang? Aku masih banyak pasien yang harus di periksa." ucap Rio sambil memperhatikan sekelilingnya.
Dia takut, Defina tiba-tiba berdiri di belakangnya, dan memergoki Rio sengaja bersembunyi dari amukannya.
'Iya, sebentar. Aku coba dulu!'
Sambungan telepon 'pun terputus karena Ferdinand yang mematikan ponselnya.
"Fin, barusan dari kantor telepon, katanya, ada berkas yang harus kamu tanda tangani." ucap Ferdinand dengan raut wajah serius.
"Suruh Siska saja, aku sedang sibuk." tolak Defina dengan tegas.
Ferdinand tidak bergeming, dia tetap berusaha meyakinkan Defina agar ikut dengannya pulang ke kantor.
Karena terus mencoba, akhirnya, hati Defina luluh juga. Dia setuju untuk ikut bersama Ferdinand kembali ke kantor, tempat di mana dia menjalankan bisnis peninggalan Ayahnya.
Hati Rio merasa jauh lebih lega, setelah melihat Defina meninggalkan rumah sakit tempatnya bekerja.
Masih banyak daftar pasien harus Rio kunjungi sekarang, yang sempat tertunda karena berusaha menghindar dari kemarahan sahabatnya, Defina.
Terkadang Rio ingin mengeluh dengan tingkah laku sahabatnya tersebut. Dia selalu saja menjadi target kemarahan, padahal tidak pernah melakukan kesalahan yang fatal, ucap Rio dalam hati.
Setelah di rasa sudah aman, Rio 'pun segera pergi ke tempat di mana para pasien menunggunya untuk menjalani pemeriksaan.
__ADS_1
Di dalam sebuah mobil...
"Fin, aku pikir-pikir, kasihan juga si Rio."
"Memangnya kenapa? Kamu mau bela dia?" tanya Defina dengan nada tinggi.
"Bukan gitu, Fin." bantah Ferdinand yang tak mau Defina marah berkelanjutan.
Defina terdiam, dia tak mau berdebat dengan siapapun sekarang. Apalagi dengan Ferdinand.
Tiba-tiba, sudut mata Defina menangkap sosok Daniel dan Antonio yang sedang duduk di sebuah kedai kopi yang di lewatinya.
"Stop!" teriak Defina meminta Ferdinand menghentikan laju mobil yang di kendarainya.
"Kenapa, Fin?" tanya Ferdinand heran.
"Aku turun di sini!" jawab Defina sambil membuka tali sabuk pengamannya.
"Tapi kenapa? Kantor kita masih jauh." ucap Ferdinand berusaha mencegah Defina.
"Aku bilang, aku mau turun di sini! Kamu lanjut saja ke kantor, aku bisa kesana naik taxi." ucap Defina sambil bergegas turun dari mobilnya Ferdinand.
"Fin! Jangan gitu, Fin!" teriak-teriak Ferdinand sambil menurunkan kaca mobilnya.
Tot! Tot!
Mobil yang berada di belakang terus-terusan membunyikan klakson dengan kencang.
Terpaksa, Ferdinand 'pun melajukan kembali mobilnya agar tidak menimbulkan kemacetan, dan meninggalkan Defina di jalan sendirian.
Di sebuah meja pelanggan, Defina berada sekarang. Defina sengaja, memilih meja yang berdekatan dengan tempat Daniel agar dia bisa menguping pembicaraan dua orang yang datang bertamu kepada Ibunya di rumah sakit.
Dia merasa curiga, dengan kedua orang berbeda usia tersebut. Dia menduga, jika kedua orang ini, sengaja ingin memanfaatkan Ibunya untuk masuk ke dalam keluarganya.
"Kamu kenapa, tidak langsung saja memberi jawaban kepada Monica, Daniel?" tanya Antonio sambil menyesap kopi hitam miliknya.
"Daniel bingung!"
"Bingung? Bingung kenapa? Jika kamu tidak mau, tinggal bilang saja. 'kan gampang, Niel!" balas Antonio dengan tenang.
Daniel menghela nafas panjang sebelum kembali melanjutkan pembicaraannya dengan sang Ayah.
"Ayah masih ingat, dengan gadis yang menghentikan kita di pintu ruangannya, Tante Monica?" ucap Daniel sambil pandangannya menatap lurus ke jalan raya.
"Tentu saja Ayah ingat! Putrinya Monica, 'kan?" jawab Antonio.
Defina semakin menajamkan pendengaran, saat nama Ibunya di sebutkan.
Apa yang sebenarnya mereka inginkan? batin Defina.
"Daniel kenal gadis itu, Yah! Daniel pernah, bertemu dengannya beberapa tahun yang lalu!" ucap Daniel yang membuat Defina merasa terkejut di tempat duduknya.
Bertemu denganku? kapan? Dan di mana? batin Defina.
__ADS_1
Namun Defina berusaha tetap tenang, dan kembali mendengarkan pembicaraan Ayah dan Anak tersebut.