Istriku Seorang Boss Mafia

Istriku Seorang Boss Mafia
10. Menentukan hari pernikahan.


__ADS_3

"Kamu bisa saja, Fin! Justru kamu yang paling terkenal waktu di kampus." dalih Deva.


Defina tersenyum getir, dia lalu mempersilahkan tamunya untuk duduk.


"Fer!" panggil Defina.


Ferdinand maju, lalu menyodorkan beberapa dokumen tentang perjanjian kerjasama.


Deva meraih dokumen tersebut, lalu mempelajarinya dengan seksama.


"Hem, sangat menarik sekali!" gumam Deva Digjaya sambil kembali menutup dokumen yang di berikan Ferdinand.


"Bagaimana? Apa anda tertarik, bekerja sama dengan perusahaan kami?" tanya Defina dengan nada bicara formal.


Deva Digjaya tertawa, lalu mengulurkan tangan ke arah Defina. "Tentu saja, saya tertarik! Bagaimana saya bisa menolak tawaran dari perusahaan anda, jika pemilik perusahannya saja secantik bidadari."


Defina tersenyum smirk, dia merasa kurang suka dengan ucapan Deva Digjaya yang seakan sedang menggodanya.


Namun, kesepakatan sudah terjalin. Saat ini, Deva Digjaya adalah investor di perusahaannya. Defina harus bisa mengesampingkan masalah pribadi, yang nanti akan bisa merusak reputasi perusahannya sendiri. Terkecuali, jika Deva Digjaya berbuat kecurangan, batu dia bisa bertindak.


"Selamat datang di perusahaan kami!" ucap Defina saat berjabat tangan dengan Deva Digjaya.


Setelah acara meeting selesai, Defina dengan segera ingin meninggalkan ruangan.


Namun gerakannya tertahan, karena Deva dengan senagaja menarik tangannya.


"Maaf, anda tidak boleh melakukannya, Pak!" tegur Ferdinand dengan keras.


Deva Digjaya tersenyum menghina menatap ke arah Ferdinand dari bawah hingga ke atas kepalanya.


"Ferdinand, si kutu buku sekolah. Ternyata, kau sangat beruntung bisa bekerja di perusahaan sebesar ini ya." cibir Deva sarkas.


Defina mendengus kasar, dia tidak terima jika sahabatnya Ferdinand, di hina sedemikian rupa di hadapannya saat ini.


"Jaga mulut anda, Tuan Deva Digjaya!" tegur Defina.


Aura ketegasan memancar dari tubuh Defina, hingga membuat Deva Digjaya sedikit terkejut mendapati reaksi seperti itu dari wanita yang dia anggap lemah lembut tersebut.


"Maaf, De ...,"


"Ibu Defina! Di kantor ini, tidak di perbolehkan ada hubungan pribadi di piara. Kita adalah relasi bisnis, jadi sebaiknya, anda memanggil saya dengan sebutan itu saja." tegas Defina tanpa berekspresi.


Setelah mengatakan hal tersebut, Defina langsung mengajak Ferdinand untuk segera pergi dari ruangan meeting meninggalkan Deva Digjaya yang menatapnya dengan tatapan tajam.


"Ferdinand sialan!" rutuk Deva geram.

__ADS_1


Niat hati ingin menjatuhkan harga diri Ferdinand dan mendapatkan simpati dari Defina, justru dirinyalah yang sekarang berada di dalam kubangan lumpur.


Tidak terasa sakit, hanya malu. Malu yang tak berujung!


"Fin, kamu serius ingin bekerja sama dengan orang seperti Deva?" tanya Ferdinand cemas.


"Kita lihat saja nanti, Fer! Jika dia berani macam-macam, maka jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu kepada perusahaannya."


Ferdinand tersenyum puas dengan jawaban Defina. Dari gerak-geriknya saja, sudah kelihatan jika Deva seperti memiliki niat tersembunyi.


Namun untuk saat ini, Ferdinand lebih memilih untuk mempercayakan semua keputusan kepada Defina. Dia yakin, Defina tidak akan pernah membiarkan Deva untuk berbuat macam-macam.


Bip ... Bip ...


Ponsel Ferdinand berbunyi, dan menampilkan nama Monica di atas layar.


"Fin, Ibu kamu telpon!" ucap Ferdinand sambil menggeser tombol hijau.


"Nak Fer, Defina di mana? Tante sekarang sudah di rumah, suruh dia datang menemui Tante, ya."


"Baik, Tante. Kami akan segera kesana! Kebetulan juga Defina sedang bersama saya, Tante. Baru selesai meeting dengan klien." jawab Ferdinand dengan sopan.


Setelah sambungan telpon terputus, Ferdinand langsung mengajak Defina untuk bergegas pulang ke rumah menemui Monica.


"Sayang, akhirnya kamu datang juga. Sini Nak, duduk di dekat Ibu." ucap Monica sambil menepuk tempat duduk kosong di sebelahnya.


Defina berjalan, lalu duduk persis di tempat yang di sediakan oleh Ibunya.


"Jadi gini, Sayang. Mungpung kamu sudah datang, Ibu mau langsung bicara saja, ya." ucap Monica mengawali pembicaraan.


Setelah Monica diam sejenak, dia 'pun lalu kembali melanjutkan pembicaraan.


"Berhubung kita semua kumpul di sini, Ibu mau membicarakan perihal acara perjodohan kamu dengan Daniel."


"Uhuk! Uhuk!" Antonio langsung terbatuk begitu mendengar ucapan Monica.


Dia lalu menoleh ke arah Defina. Seketika, wajah bengis Defina sedang berkelahi di cafe terbayang di pelupuk mata Antonio.


"Antonio, kamu ada apa? Sakit?" tanya Monica dengan cemas.


"Tidak! Aku tidak apa-apa, Mon!" jawab Antonio gugup.


Defina melirik ke arah Ferdinand, dan orang yang di lirik hanya menggelengkan kepalanya.


Defina merasa janggal dengan sikap Antonio hari ini, seperti ada ketakutan yang tersirat di wajahnya.

__ADS_1


"Ah, syukurlah! Aku takut kau sedang sakit!" ucap Monica dengan perasaan lega.


"Tenang Mon, aku tidak apa-apa! Hanya saja, tentang perjodohan Putra-Putri kita, apa tidak sebaiknya di pikirkan terlebih dahulu dengan lebih matang?" ucap Antonio yang membuat Antonio tertegun.


"Maksudnya kamu?! Di tunda?!" seru Monica.


Defina menatap lekat ke arah Antonio yang sedang berbicara. Hatinya merasa yakin, ada sesuatu yang membuat Antonio merubah keputusannya.


Tapi apa? Apa yang membuat teman Ibunya tersebut berubah pikiran?


"Jangan salah paham dulu, Mon. Aku hanya tidak ingin, Putra-Putri kita merasa terpaksa. Itu saja!" dalih Antonio.


Monica merasa lega, dia pikir Antonio akan membatalkan kesepakatan mereka untuk menjodohkan Defina dengan Daniel. Tapi ternyata, Antonio hanya tidak ingin Putra-Putri mereka merasa tertekan dan merasa terpaksa menerima perjodohan yang di atur oleh dirinya.


"Jangan khawatirkan masalah itu! Defina bahkan sudah setuju menikah dengan Daniel. Ya 'kan, Fin?" ucap Monica yang di balas anggukkan patuh Defina.


"Tuh, lihat 'kan? Defina sudah setuju!" ucap Monica dengan girang.


Antonio melirik ke arah Putranya, dia merasa bersalah karena mengambil keputusan yang terlalu gegabah dulu. Melihat kejadian waktu itu, Antonio jadi takut jika Putranya akan menjadi korban kebengisan Putri Monica selanjutnya.


"Ayah menyerahkan semua keputusan kepadamu, Nak!" ucap Antonio dengan perasaan khawatir.


"Nak Daniel, kamu tidak lupa 'kan dengan janji di rumah sakit kemarin?" tanya Monica penuh harap.


"Itu ...," Daniel menjadi serba salah.


Antonio menatap Putranya dengan lekat, meskipun seorang pemuda, Putranya itu memiliki hati yang sangat lembut melebihi seorang perempuan.


Jangankan berbuat jahat atau berkelahi, Putranya bahkan belum pernah berkata kasar sekalipun.


Sangat jelek nasib Putranya, karena harus di jodohkan dengan gadis kasar seperti Putri Defina.


Namun Antonio tidak bisa mengatakannya terus terang kepada Monica, dia takut jika sahabatnya tersebut akan drop dan kembali masuk ke rumah sakit karena dirinya.


"Nak Daniel ...," mata Monica menatap penuh harap.


Daniel akhirnya mengangguk, dia merasa tidak tega melihat Monica tampak bersedih saat ini.


"Sudah di putuskan, kalian akan langsung menikah Minggu depan!" ucap Monica setengah berteriak setelah Daniel menyetujui perjodohan.


Antonio menghela nafas berat, dia tidak bisa mundur lagi sekarang. Putranya akan segera menjadi menantu dari sahabatnya. Namun, yang membuat Antonio menjadi sedih. Dia takut, jika Daniel akan menderita setelah menikah dan hidup bersama Defina.


Selama ini, Antonio merawat Putranya seorang diri dengan penuh kasih sayang. Dan sekarang, Daniel malah ingin menikah dengan seorang gadis berandalan seperti Defina.


Dalam hati, Antonio merasa tidak rela.

__ADS_1


__ADS_2