
Defina tidak menjawab, matanya tajam menatap ke arah Rio yang sekarang panik karena tatapannya itu.
Aduh, gawat! Bisa-bisanya aku malah terlibat urusan defina sama Tante Monica, batin Rio.
Rio semakin salah tingkah di tatap sedemikian rupa oleh sahabatnya, Defina.
Dia menyesal, karena terlalu ikut campur dengan urusan jodoh Defina yang membawanya ke dalam situasi yang serba salah seperti sekarang.
"Rio, aku butuh bantuanmu!"
"Eh, bantuan?! Bantuan apa?" Rio terkejut sekaligus merasa lega karena Defina tidak jadi memarahinya.
Rio pikir, Defina pasti akan mengamuk. Tapi ternyata, pikirannya itu salah, Defina malah meminta bantuan yang Rio tidak tahu bantuan seperti apa yang akan dia lakukan untuk Defina, sahabat pemarahnya itu.
"Kamu pasti tahu 'kan, masalah tentang perjodohan yang Ibu bicarakan?" Defina langsung menanyakan inti permasalahannya langsung kepada Rio.
Emh, pasti bakalan kena masalah lagi! Kasih tahu, jangan, ya? Kalau di kasih tahu, nanti Tante Monica marah! Gak di kasih tahu, si Defina pasti ngamuk lagi! Jadi pusing! batin Rio.
"Aku gak ada hubungannya sama masalah perjodohan kamu, Fin!" dalih Rio.
Jujur saja, sebenarnya Rio merasa serba salah menghadapi kedua Ibu dan Anak ini.
Di satu sisi, Rio sangat menghormati Monica yang sudah dia anggap seperti Ibu kandungnya juga.
Di satu sisinya lagi, Rio tidak ingin Defina salah paham dengan dirinya karena telah sengaja menutupi masalah perjodohan yang di rencanakan Ibunya Defina.
Seperti kata pepatah, 'Maju kena, mundur kena' itu yang di rasakan Rio sekarang.
"Kamu tidak bohong, 'kan?" tanya Defina curiga.
Rio tersenyum smirk, dia sudah menduga jika Defina tidak akan mempercayai dirinya.
"Maaf Dokter, pasien di ruangan nomor dua membutuhkan bantuan anda."
Biasanya, jika ada panggilan tugas dadakan seperti itu, Rio kadang suka merasa malas.
Namun sekarang, Rio malah merasa senang, dan juga sangat bersemangat.
"Kamu belum bisa pergi, Rio! Urusan kita belum selesai!" Defina berusaha mencegah kepergian Rio dari hadapannya.
__ADS_1
Ferdinand, yang dari tadi hanya bisa berdoa untuk keselamatan Rio, sahabatnya. Akhirnya mulai bertindak setelah memiliki kesempatan.
Dia tidak boleh membiarkan Rio terlalu lama berada di dekatnya Defina yang saat ini masih merasa kesal dengan keputusan Ibunya.
"Sudahlah, Fin! Rio sedang bertugas sekarang, kalau ada apa-apa dengan pasiennya, bagaimana?" dalih Ferdinand sambil menahan tangan Defina yang ingin menarik Rio.
"Tuh, dengarkan Ferdinand, Fin!" ucap Rio sebelum pergi ke ruang pasien hingga membuat Defina semakin geram padanya.
Dasar si Rio! Giliran di tanya, gak mau ngomong. Giliran mau pergi aja, berani! batin Ferdinand.
Sedangkan di dalam kamar, Antonio kini sedang berbicara dengan Monica yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Bagaimana keadaan kamu, Mon?" tanya Antonio dengan raut muka cemas.
"Sudah lumayan baik ...," jawan Monica sambil tersenyum lembut ke arah Antonio dan Daniel.
"Syukurlah, Mon! Aku sangat khawatir, saat mendengar kamu masuk rumah sakit. Tadinya, aku ingin langsung datang, dan menemani kamu di sini. Tapi Daniel, tadi pagi sedang ada urusan. Jadi aku baru bisa datang sekarang, maaf ya!" ucap Antonio penuh rasa penyesalan.
"Untuk apa minta maaf, kamu tidak salah sama sekali. Justru aku, yang seharusnya minta maaf karena sudah merepotkan kalian." ucap Monica sambil menepuk punggung lengan Antonio.
"Ah, merepotkan apa? Kita itu berteman sudah sejak lama, tidak ada kata istilah merepotkan di kamus kita berdua." ucap Antonio sambil menyodorkan segelas air putih kepada Monica.
Daniel yang duduk di sudut ruangan, tersenyum melihat perlakuan Ayahnya kepada Monica.
Bukan hanya peduli kepada anaknya, Antonio juga seorang pria yang penyayang kepada pasangannya.
Daniel masih ingat, sewaktu dia masih hidup bersama dengan keluarga yang lengkap. Ayahnya, jika pulang bekerja, sering pulang dengan membawa berbagai macam hadiah dan juga makanan.
Bukan hanya untuk Daniel saja, tapi untuk Ibunya juga, Antonio pasti bawakan.
Sangat baik, bukan?
Tapi sayang, sang Ibu malah menyia-nyiakan kebaikan sang Ayah dengan cara pergi bersama pria lain yang memiliki lebih banyak harta.
Dan hingga sekarang, Daniel tidak tahu di mana keberadaan Ibu kandungnya.
Daniel juga tidak mau tahu, tentang Ibunya di mana, masih hidup atau tidak, Daniel tidak peduli.
Yang terpenting, Ayahnya, Antonio, bisa hidup dengan bahagia. Dengan, ataupun tanpa Ibunya.
__ADS_1
"Daniel, kenapa duduk di sana? Sini, duduknya di dekat Tante!" kata Monica sambil menunjuk sebuah kursi di samping tempat tidurnya.
Tanpa banyak bicara, Daniel 'pun bangkit, dan berjalan menuju kursi yang di tunjuk Monica.
"Apa kabar, Nak?" tanya Monica lembut.
"Kabar Daniel baik, Tante. Terima kasih!" balas Daniel dengan sopan.
Sejak pertama kali mengenal sosok Daniel, Monica sudah sangat senang dengan kesopanan yang Daniel tunjukkan padanya.
Monica juga sering, memergoki Daniel sedang membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongannya.
Entah itu, menolong Ibu-Ibu menyeberang di jalan raya. Membantu membawakan belanjaan orang lain, menolong anak kecil yang jatuh. Monica sering, melihat Daniel melakukan hal tersebut.
Itulah sebabnya, Monica ingin menjodohkan Daniel dengan Putrinya, Defina.
Kondisinya yang sering sakit-sakitan, tak ayal membuat Monica sering merasa takut.
Takut jika dia nanti meninggal, Putrinya akan merasakan kesepian karena tidak akan ada lagi orang yang menemani dan mengingatkan dia ketika berbuat kesalahan. Defina butuh sosok Suami yang baik, yang bisa membimbingnya ke jalan yang benar.
Jika Monica, dapat menikahkan Defina sebelum ajal menjemputnya. Maka Defina, tidak akan lagi merasakan hal tersebut.
"Tante senang mendengarnya." ucap Monica sambil tersenyum penuh kelembutan.
Daniel 'pun membalas tersenyum ke arah perempuan yang sudah sejak lama memperlakukannya seperti Putranya sendiri.
"Daniel, Tante ingin meminta sesuatu darimu. Apa boleh?" ucap Monica dengan mata yang berkaca-kaca.
Hati Daniel menjadi luluh, dia tidak bisa membiarkan seseorang meneteskan airmata di hadapannya. Apalagi, jika orang tersebut adalah Monica yang selalu memperlakukan dia dan Ayahnya dengan baik
"Boleh, Tante. Daniel akan melakukan apa saja demi Tante, selama Daniel bisa melakukannya." jawab Daniel yang membuat hati Monica merasa lega.
"Terima kasih, Nak. Kamu memang pemuda yang baik!" ucap Monica sambil menggenggam erta tangan Daniel.
Sepintas, orang akan menyangka jika hubungan mereka berdua adalah Ibu dan Anak.
Keakraban dan kasih sayang mereka nampak nyata, dan nampak tulus terlihat dari mata keduanya.
"Kalau boleh tahu, apa yang harus Daniel lakukan untuk Tante?" tanya Daniel penasaran.
__ADS_1
Monica tersenyum, dan semakin mengeratkan genggamannya di tangan Daniel.
"Tante ingin, kamu menikah dengan Putrinya Tante, Defina!"